Monday, August 25, 2008

MURID KRISTUS ATAU BUKAN ?

Masih ingat dengan ayat Mat 28:19 yang berbunyi : “…Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,…”

Kita sudah dibaptis dan menjadi seorang Katolik. Baptis memang menandai seseorang menjadi orang Kristen Tidak mungkin seseorang menjadi Katolik tetapi tidak dibaptis secara Katolik. Sesungguhnya ketika kita dibaptis, kita ini sudah menjadi murid Kristus karena seharusnya menjadi murid dahulu baru dibaptis. Namun kadang perjalanan iman seseorang tidaklah mulus. Ibarat murid di sekolah, ada murid yang setia, ada murid yang tidak setia bahkan ada juga murid yang berkhianat kepada gurunya.

Mari sekarang kita mengenali diri kita itu murid atau bukan murid.
1. Ada banyak orang yang mempelajari Kitab Suci dan mendalami kehidupan sebagai seorang murid hingga menjadi ahli Kitab tetapi dia belum dapat disebut murid karena belum mengalami kehidupan sebagai murid itu sendiri.
2. Ada pula orang yang percaya kepada Gereja tetapi masih juga percaya dan mengandalkan hidupnya kepada yang lain dengan melakukan praktek hidup yang tidak kristiani. Meskipun dia melakukan kewajiban pergi misa setiap minggu, menerima sakramen dan berdoa setiap hari namun mereka bukanlah seorang murid karena Yesus bukan menjadi satu-satunya pusat hidupnya.
3. Ada pula orang yang hanya melulu sebagai anggota Gereja. Dia memang memenuhi kewajiban di parokinya, membayar iuran amplop merah atau kolekte tetapi ia juga menuntut paroki agar memperhatikan setiap kebutuhan-nya, minta baptis anaknya sesudah itu selesai karena sudah impas. Mereka memandangnya sebagai sebuah transaksi dagang ketika dia memberi kepada Gereja, maka Gereja wajib memperhatikan kebutuhannya. Orang ini hanya melulu sebagai anggota Gereja tetapi bukan sebagai murid karena Yesus belum menjadi pusat hidupnya.
4. Ada orang yang menjadi anggota Gereja dan aktif di organisasi. Dia masuk Gereja karena tertarik pada ideology orang Katolik, namun tidak menghendaki ideology itu mencampuri urusan pribadinya. Dia hanya bermaksud mencari keuntungan dari ideology itu. Dia tidak bermaksud menjadikan Yesus sebagai pusat hidupnya, maka dia bukanlah murid.
5. Ada orang yang menjadi anggota Gereja karena mau meniru sikap hidup Yesus; karena Yesus mencintai orang-orang miskin, maka dia juga akan memberikan seluruh hidupnya untuk orang-orang miskin. Lalu ia melakukan berbagai aktivitas dalam mana seluruh perhatiannya ditujukan kepada kaum miskin, tetapi Yesus tida ada di dalamnya. Orang seperti ini bukanlah murid. Mengapa? Karena ia hanya mau seperti Yesus, tetapi tidak mau menjadi Yesus. Menjadi seperti Yesus berbeda dengan menjadi Yesus.
6. Ada pula kelompok orang yang disebut pelaku-pelaku Katolik. Mereka rajin melakukan aksi-aksi sosial dan menolong banyak orang terlantar. Perbuatannya memang baik, namun apakah itu dikerjakan demi Yesus atau demi kepuasan batinnya sendiri? Dia adalah pelaku-pelaku yang baik tetapi bukanlah seorang murid.

Dengan contoh-contoh di atas, kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri,” Termasuk kelompok manakah saya ini?” Jika demikian, siapakah yang disebut murid?

Murid adalah orang yang mengikuti pimpinannya, yaitu Yesus. Mengikuti Yesus berarti mengikuti jejakNya sebagai Sang Guru. Mengikuti jejak Yesus di sini tidak boleh diartikan secara harafiah, bukan juga berarti menjadi seperti Yesus karena ini berarti menjadi imitasi Yesus.

Menjadi murid berarti menjadi Yesus dalam arti pandangannya adalah pandangan Yesus, pikirannya adalah pikiran Yesus, hatinya adalah hati Yesus. Seorang murid yang memiliki pikiran Yesus berarti ia hidup dalam Yesus, hidup melalui Yesus, hidup dengan Yesus, dan hidup untuk Yesus. Yesus adalah pusat hidupnya. Dan karena itu ia mempunyai pikiran Yesus.

Bagaimanakah pikiran kita bisa menjadi pikiran Yesus? Rasul Paulus mengatakan bahwa Yesus telah memberikan segala-galanya. Ia memberikan ke-AllahanNya untuk menjadi manusia. Dan ia memberikan kemanusiaanNya dengan membiarkan orang-orang membunuhNya. Ia memberikan diri dan mengosongkan diriNya. Itulah pikiran Yesus yang harus dimiliki oleh seorang murid. Pikiran itu tidak berhenti sebatas ide tetapi nyata dalam perbuatan. Seorang murid melakukan segala sesuatu di dalam Yesus, lewat Yesus, dengan Yesus, dan untuk Yesus. Inilah pola hidup seorang murid yang harus nampak dan dapat dilihat oleh orang lain.

Sumber : PEMURIDAN (Sr. Eligia, CB) dengan penyesuaian seperlunya.

Tuesday, August 19, 2008

KAISAR MEMAKAN PAJAK KITA

Injil tentang membayar pajak kepada Kaisar sering dikutip pada setiap perayaan 17 Agustusan. Orang kagum pada kejelian Yesus menghindarkan diri dari jebakan kaum Farisi. Jika Ia menjawab bahwa kepada kaisar orang boleh membayar pajak, maka Ia dianggap melawan hukum Taurat yang mengajarkan bahwa hanya kepada Allah orang boleh menjalankan kewajibannya. Tetapi jika Ia mengatakan tidak boleh membayar pajak kepada kaisar maka Ia berhadapan dengan penguasa Romawi. Karena itu Yesus secara diplomatis menjawab, ”berikan kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.”

Jika merenung lebih jauh, kita akan menemukan betapa ironisnya pemisahan kekuasaan yang tidak berimbang itu. Berapa sih kekuasaan seorang kaisar? Dan apakah kewajiban kita terhadap kaisar sama pentingnya dengan kewajiban kita kepada Allah? Seorang kaisar membuat mata uang dengan gambar dirinya sebagai penguasa wilayah di mana uang itu berlaku. Suatu keterbatasan teritorial yang langsung menunjukkan betapa kecilnya kekuasaan seorang penguasa dunia. Kaisar bisa membeli kekuasaan tetapi tidak sanggup membayar kehormatan. Sebaliknya kekuasaan Allah melampaui segalanya dan dihormati di mana-mana. Dan Allah tidak perlu membeli semuanya itu.

Maka, perayaan 17 Agustusan menjadi moment untuk meletakkan kekuasaan Allah pada tempatnya. Dewasa ini manusia merasa lebih berkuasa dari Tuhan. Kewajiban-kewajiban kita terhadap Tuhan menjadi longgar. Kita lebih takut pada atasan yang menjadi kaisar atas hidup kita, yang kita diamkan tindakan korupsinya karena takut kehilangan pekerjaan. Kita lupa bahwa utang budi kita pada Allah jauh lebih besar melebihi pimpinan di kantor. Pajak hutang budi kita menumpuk-numpuk, karena kita lupa membayarnya. Lupa membayar rekening udara, matahari, hujan, musim, dan hal-hal baik lain yang kita alami dari Tuhan.

Mungkin kita berpikir bahwa Allah Mahabaik tak pernah menuntut balas jasa. Tapi apakah kita tidak tersinggung ketika orang mengatakan bahwa kita adalah orang yang tak tahu berterima kasih? Cara kita berterima kasih kepada Allah adalah dengan mengurus tanah air kita secara baik-baik. Kita tidak ingin merusaknya dengan eksploitasi yang tidak ”berperikemanusiaan, tidak berperi kebinatangan, tidak berperikelingkungan”. Namun dari hasil yang kita lihat, tanah air kita semakin merana. Ini bukanlah karena rakyatnya tidak pernah membayar pajak kepada kaisar tetapi karena kaisar telah memakan uang pajak rakyatnya.

Bukti bahwa kaisar telah memakan uang pajak dapat kita lihat dari maraknya pejabat yang korup dan merosotnya tingkat kemakmuran rakyat. Bencana datang silih berganti. Kita telah memberi kuasa penuh kepada para pimpinan negara ini, tetapi tak ada yang becus mengurus rakyatnya. Kita menjadi seperti anak ayam yang mati di lumbung padi.
(SVD Jakarta)

Wednesday, August 06, 2008

HANYA ALKITAB-KAH SUMBER IMAN KITA?

-Tradisi dan Alkitab -
Sering ditanyakan oleh orang-orang kristen fundamentalis: "Mengapa Gereja Katolik percaya kepada kenaikkan Maria ke surga, kepada Maria yang mengandung tanpa noda?", dan sebagainya. Kesukaran yang mereka ajukan ialah: "Bukanlah semuanya itu tidak tertulis dalam Alkitab?" Jadi, banyak hal yang menurut mereka tidak tertulis secara jelas dalam Alkitab tidak dapat dibenarkan atau bahkan bertentangan dengan Alkitab. Bagaimana jawaban Gereja Katolik?

Hanya Alkitabkah sumber iman kita?
Kadang-kadang kaum fundamentalis mengutip dua ayat berikut ini sebagai "bukti" untuk menunjukkan kekeliruan Gereja Katolik yang mengajarkan bahwa selain Alkitab ada juga tradisi yang dihormati sebagai sumber imannya:
1. Yoh 5 :39 yang berbunyi : "Kamu menyelidiki Kitab Suci …"
2. Kis 17:11 yang berbunyi: "Mereka itu orang-orang Yahudi di Berea menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian."

Bagaimana jawaban kita?
Pertama, Yoh5:39 dikutip lepas dari konteksnya. Di situ Yesus mengecam orang-orang Yahudi yang mau menyelidiki Kitab Suci untuk mendapatkan kehidupan, tetapi nyatanya mereka tidak mampu percaya kepada Yesus, yang adalah "Jalan, Kebenaran dan Kehidupan." Jadi ayat itu tidak bermaksud mengatakan bahwa segala ajaran kristen harus diselidiki kebenarannya dalam Alkitab. Sekali lagi, konteks Yoh 5:39 harus diperhatikan.

Kedua, Sepintas lalu ayat Kis 17:11 nampaknya segera membenarkan paham bahwa satu-satunya pedoman iman kita adalah Kitab Suci, sebab di situ dikatakan bahwa firman (atau kebenaran agama kristen) yang diterima oleh orang-orang Berea diteliti kebenarannya dengan menyelidiki Kitab Suci. Namun, benarkah bahwa ayat itu bermaksud mengatakan bahwa setiap dan semua pengajaran iman kristen harus dapat dibuktikan dari Kitab Suci? Seandainya memang demikian, itu berarti bahwa agama Yesus Kristus tidak mempunyai kelebihan apapun dibandingkan agama Israel lama. Mengapa kita dapat berkesimpulan demikian? Sebab kalau Perjanjian Baru sendiri berbicara tentang tulisan suci atau kitab suci, maka yang dimaksud di situ adalah kitab Perjanjian Lama (sebab tulisan-tulisan Perjanjian Baru sendiri waktu itu praktis belum ada). Jadi kalau orang mengatakan bahwa Kis 17:11 merupakan bukti bahwa semua kebenaran kristen harus dapat dibuktikan dalam Kitab Suci (yang - perhatikan sekali lagi - sama dengan Perjanjian Lama saja), maka itu berarti bahwa semua ajaran Kristen harus dapat dikukuhkan oleh Perjanjian Lama. Jadi, Perjanjian Baru sendiri tidak perlu atau hanya penjabaran belaka dari Perjanjian Lama, tidak lebih dari itu. Jelas hal ini tidak dapat kita terima. Perjanjian Baru jelas mengandung ajaran-ajaran yang tidak termuat dalam Perjanjian Lama. Bukankah Perjanjian Baru juga mengkoreksi dan melengkapi Perjanjian Lama? (bdk Mat 6:21 dst). Dengan keberatan sangat serius ini maka Kis 17:11 tidak dapat kita pakai sebagai bukti bahwa sumber iman kita hanyalah Alkitab. Dari Kis 17:11 kita hanya dapat mengetahui bahwa kebenaran-kebenaran agama kristen yang diterima oleh orang-orang Yahudi di Berea terbukti sesuai dengan Perjanjian Lama, dan bukan bahwa semua kebenaran agama kristen harus dapat dibuktikan dalam Perjanjian Lama.

Ayat-ayat yang mengandung gagasan tradisi
Untuk mendukung ajaran Katolik megenai pentingnya Tradisi, biasanya di kemukakan ayat-ayat berikut ini:
1. Kis 2:42 dimana dikatakan bahwa jemaah Kristen perdana bertekun dalam pengajaran para rasul, jauh sebelum tulisan-tulisan Perjanjian Baru sendiri lahir. Jadi kehidupan iman gereja tidak terbatas pada buku saja, tatapi juga pada ajaran lisan para pemimpin suci yang ditetapkan oleh Tuhan.
2. 1 Kor 15:3 dimana dikatakan oleh Paulus bahwa kebenaran tentang Yesus Kristus dia terima sendiri (jelas secara lisan).
3. 2 Tes 2:15 dimana Paulus menasehati umatnya: "Berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan maupun secara tertulis." Ajaran-ajaran yang tidak tertulis semacam itulah yang kita sebut tradisi.
4. Yoh 21:25 yang berbunyi: "masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat Yesus, tetapi jikalau semua itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak memuat semua kitab yang harus di tulis itu." Ayat ini menunjukan bahwa tujuan penulisan injilnya bukanlah untuk mendaftar semua ajaran Kristen atau membuat daftar lengkap dari ucapan dan perbuatan Yesus. Yang dia tulis hanyalah hal- hal yang paling mendasar untuk keselamatan manusia. Hal yang sama kiranya berlaku untuk kitab- kitab Perjanjian Baru lainnya.

Tradisi dan Alkitab
Salah satu hal yang menbedakan Gereja Katolik dari Gereja Protestan adalah paham mengenai wahyu Allah dissimpan dan diteruskan kepada umat manusia disegala tempat dan jaman. Menurut Gereja Katolik: melalui Tradisi dan Alkitab! Apakah Tradisi itu? Bagaimana hubungannya dengan Alkitab? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu kita bahas ajaran Gereja Katolik mengenai terjadinya Alkitab.

Pertama-tama, ada Allah yang mewahyukan Diri-Nya melalui para nabi, utusan-Nya. Para nabi itulah yang mewartakan Sabda-sabda Allah. Tetapi Allah bersabda juga melalui karya-karya-Nya yang agung dan melalui peristiwa-peristiwa hidup. Jadi dengan kata dan perbuatan Allah mewahyukan Diri-Nya, artinya Ia memperkenalkan siapakah Diri-Nya dan apakah rencana-Nya untuk keselamatan manusia. Dengan wahyu illahi ini Allah menyapa kita sebagai sahabat-Nya (Konstitusi Dei Verbum paragrap 2), mengadakan kontak batin dengan kita dan ingin bersatu dengan kita. Wahyu Allah inilah yang diterima oleh sekelompok umat manusia yang kita sebut gereja (baik dalam bentuk permulannya, yakni bangsa Israel, maupun dalam bentuk yang sudah tetap, yakni Gereja Yesus Kristus). Wahyu Allah itu bergema dan dihayati oleh Gereja dalam ibarat, ajaran dan seluruh kehidupan mereka. Inilah yang disebut Tradisi. Tradisi adalah Sabda Allah sejauh diterima dan dihayati Gereja dalam hidupnya, ajarannya dan ibaratnya. Atau dapat dikatakan juga bahwa Tradisi adalah iman Gereja terhadap Wahyu Allah/Sabda Allah.

Lama kelamaan, ketika para rasul Yesus mulai wafat satu persatu, timbul kebutuhan untuk menuliskan ajaran-ajaran yang mereka wariskan secara lisan itu, agar Gereja mempunyai pegangan. Untuk tujuan ini Roh Allah mengilihami orang-orang tertentu dalam Gereja untuk menuliskan apa yang dihayati dalam Tradisi itu dalam Alkitab. Jadi, dalam arti tertentu, Alkitab itu adalah bagian dari Tradisi atau bentuk tertulis dari Tradisi. Tetapi berkat ilham Roh Kudus, Alkitab mempunyai nilai istimewa sebab Allah sungguh-sungguh berkenan bersabda melalui kata-kata manusia dalam Alkitab.

Dari uraian diatas nampak betapa eratnya hubungan Tradisi dan Alkitab. Oleh karena itu Alkitab harus ditafsirkan dalam konteks dan dalam kesatuan dengan Tradisi. Sulit membayangkan penafsiran Alkitab lepas dari Tradisi, sebab sebelum Alkitab ditulis, Sabda Allah itu sudah lebih dahulu dihayati dalam Tradisi. Sebaliknya, karena penulisan Alkitab itu ada dibawah pengaruh Roh Kudus sendiri, maka Tradisi yang dihayati Gereja disegala jaman itu harus dikontrol dalam terang Alkitab.

Untuk sedikit mempermudah pemahaman kita tetang proses penulisan Alkitab dan kaitannya dengan Tradisi, baiklah kita ambil contoh kongkrit ini. Bagaimana garis besar terjadinya ayat-ayat Perjanjian Baru yang mewartakan bahwa Yesus Kristus adalah penyelamat dunia ? Pertama-tama Allah mewahyukan bahwa Yesus Kristus adalah juru selamat umat manusia; lalu Gereja menerima wahyu tersebut dalam iman dan menghayatinya dalam ibadat-ibadatnya, dalam ajaran-ajarannya dan dalam seluruh kehidupannya. Inilah Tradisi. Akhirnya, berkat ilham Roh Kudus iman itu dirumuskan secara tertulis dalam ayat-ayat Alkitab. Sebagai konsekuensinya, ayat-ayat semacam itu akan dapat dipahami sepenuhnya bila ditafsirkan dalam terang Tradisi.

Dengan uraian singkat diatas kita dapat memahami dengan lebih mudah apa yang diajarkan oleh Konsili Vatikan II mengenai hubungan Tradisi dan Alkitab berikut ini:
"Jadi Tradisi Suci dan kitab Suci erat hubungannya satu sama lain dan saling berkomunikasi. Sebab keduanya, yang berasal dari sumber illahi yang sama, bagaimanapun bergabung menjadi satu dan mengarah ke tujuan yang sama. Karena kitab Suci adalah penuturan Allah sejauh dituangkan kedalam tulisan dengan ilham Roh Illahi; sedangkan Tradisi Suci, meneruskan secara utuh Sabda Allah, yang dipercayakan Kristus kepada para Rasul dan para pengganti mereka, agar dipelihara dengan setia, dijelaskan dan disebarluaskan didalam pewartaan mereka sampai diterangi Roh Kebenaran. Maka Gereja menimba kepastiannya mengenai segala sesuatu yang diwahyukan tidak hanya dari Kitab Suci. Oleh karena itu kedua-duanya harus diterima dan dijunjung tinggi dengan perasaan saleh dan hormat yang sama."

Tradisi (yang lisan itu) ada sebelum Alkitab. Kemudian Tradisi lisan itu dituangkan dalam bentuk tertulis oleh penulis-penulis suci yang adalah anggota Gereja. Kemudian Gereja (melalui pimpinan suci yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri) meneguhkan mana yang adalah bagian Alkitab dan mana yang bukan. Jadi, sejauh mengenai penulisan Alkitab sendiri, Gereja ada sebelum Alkitab. Dalam arti inilah Alkitab kita sebut juga buku Gereja. Namun ini bukan berarti bahwa Gereja mengatasi atau lebih tinggi daripada Alkitab. TIDAK! Gereja tetap harus mendengarkan dan menaati Sabda Allah dalam Alkitab. Akan tetapi, seperti sudah diterangkan didepan, Gereja Yesus Kristuslah yang mendapat wewenang untuk mengajar kita bahwa kitab-kitab tertentu adalah benar-benar Sabda Allah. Dan wewenang untuk mengajar soal-soal iman dan susila ada ditangan para uskup sebagai pewaris sah para rasul dengan Paus sebagai pemimpin, yakni peringgati Petrus. Nah, Gereja yang sama itulah yang megajar kita juga bahwa Tradisi itu harus dihormati dengan "perasaan saleh dan hormat yang sama."

Auto-kritik
Akhir-akhir ini banyak disebarluaskan di Indonesia terjemahan buku atau artikel yang menyerang Gereja Katolik. Banyak kelompok fundamentalis yang tidak segan-segan menuduh Gereja Katolik sebagai Gereja Iblis, ilmu tenung, dan sebagainya. Mereka begitu yakin bahwa orang-orang Katolik pasti masuk neraka sebab Gereja Katolik itu begitu sesat.

Setelah kita melihat bagaimana terjadinya Alkitab dalam sejarah, dan bagaimana perasaan Gereja dalam penentuan kanon Alkitab, maka mengkritik Gereja Katolik sebagai Gereja yang begitu rapuh dan mudah sesat berarti mengkritik diri sendiri (auto-kritik). Mengapa? Sebab Alkitab yang mereka pakai sebagai senjata untuk menyerang Gereja Katolik adalah Alkitab yang hampir seluruhnya sama dengan Alkitab yang dahulu ditetapkan sebagai Sabda Allah oleh Gereja Katolik, yakni Gereja yang mempunyai struktur pimpinan yang sama dari dulu hingga sekarang. Bagaimanapun juga kaum fundamentalis yang merupakan sekte-sekte Kristen itu sudah mengambil-bagian dalam iman dasar Gereja Katolik, yakni bahwa minimum 39 kitab Perjanjian Lama dan ke-27 kitab Perjanjian Baru itu adalah Sabda Allah. Jadi kalau kaum fundamentalis itu percaya bahwa Gereja Katolik itu Gereja yang begitu rapuh, yang sesat dan sebagainya, maka bagaimana mungkin mereka menerima juga Alkitab yang diwariskan oleh Gereja yang begitu rapuh semacam itu? Tidakkah Alkitab yang diwariskan oleh Gereja semacam itu tidak bisa dipercaya juga? Pohon yang tidak baik tidak bisa menghasilkan buah yang baik. (Tetapi harap pepatah ini diartikan dengan tepat! Bukan berarti Alkitab adalah Sabda Gereja). Tidak bisa disangkal bahwa kanon Alkitab kaum fundamentalis sebelum ditetapkan oleh Gereja Reformasi sudah lebih dahulu ditetapkan sebagai Sabda Allah oleh Gereja Katolik.

Perbedaan antara Tradisi dan tradisi-tradisi:
Tradisi (dengan huruf T besar) harus dibedakan dari tradisi (dengan huruf t kecil) atau dari tradisi-tradisi. Kita percaya bahwa Tradisi itu berasal dari para rasul dan merupakan wahyu Tuhan. Sedangkan tradisi-tradisi berarti kebiasaan-kebiasaan Gereja yang manusiawi, dan karenanya tidaklah hakiki, artinya bisa diganti dengan kebiasaan lain yang sesuai dengan tuntutan jaman dan kebudayaan. Penggunaan organ dalam ibadat, penggunaan lonceng dan sebagainya adalah tradisi Gereja yang manusiawi, jadi boleh dihapuskan dan diganti dengan hal lain. Tetapi penggunaan roti dan anggur sebagai bahan untuk Misa, misalnya, adalah bagian dari Tradisi yang tidak bisa diubah.

Monday, July 07, 2008

SONTOLOYO

Memasuki usia uzur bangsa ini tak ada satupun warisan yang bisa diteruskan ke anak cucu selain sejarah patriotik dan hutang. Dulu masih ada nilai ekonomis bangsa yang patut diacungi jempol sebagai lumbung padi asia tapi kini sudah tidak lagi mempunyai lumbung setelah 'pengerat' berambut hitam dan berdasi itu mulai sedikit demi sedikit mencurinya sebagai pemilik lumbung.

Rakyat terus saja dijadikan kambing hitam ketika pengerat mulai satu-satu hilang atau tertangkap dengan mengatakan : "Jadilah anak bangsa yang bisa membawa nama baik negara di tingkat dunia!!!" Nyatanya, mereka hanya selalu dituntut tapi tidak pernah diperdayakan.

Pejabat boleh saja bicara ini itu untuk mencari pembelaan diri.
Membela diri dihadapan rakyat???

"SONTOLOYO!!

Hanya kata-kata itu yang kami mampu dengar setelah semua orang mulai bosan mendengar keluh kesah. Sontoloyo, inilah bukti pembelaan negara karena tak mampu lagi mendengar suara hati rakyat.

Thursday, June 12, 2008

APAKAH ENGKAU TANAH AIRKU, INDONESIA

"...Indonesia tanah airku..."
Sepenggal kalimat dari lagu Indonesia Raya ini tentu tak akan pernah lupa jika kita menyanyikannya. Jika di negeri orang dan kita mendengar lagu ini, spontan bibir kita akan mengucap kalimat demi kalimat dalam bait-bait lagu tersebut. Terkadang jika penghayatan lagu ini sudah sampai pada titik patriotik yang tinggi, jangan salahkan lagunya jika air mata mengalir karena rasa haru. Siapa yang tidak bangga menjadi putra pertiwi tatkala lagu itu terdengar nun jauh di sana di tempat di mana kita jauh dari ibu pertiwi.

Aku mencoba memaknai kalimat ini lebih dalam lagi dalam sanubariku dan tentunya dengan caraku sendiri. Rasanya ada yang salah dengan kalimat itu tapi entah apanya yang salah.

Jauh memandang negeri ini dari ujung Sabang hingga batas Merauke, Indonesia memang sungguh kaya dan luas. Dulu konon kata orang tua kita, bangsa Indonesia itu terkenal dengan keramahtamahannya dan halus tutur bahasanya. Konon pula, kata orang yang sama, Indonesia itu negara maritim yang mampu menjajah bangsa lain hingga tepi timur Afrika (Madagaskar), Asia Tenggara, Campa, hingga Papua.

Dibandingkan dengan kerajaan Malaysia waktu itu, Indonesia masih terlalu kuat hingga Malaysia bisa digagahi selangkangannya lewat pendudukan Majapahit pada abad 15M. Kalau hanya sekedar ingin 'mengencingi' Malaysia pada jaman Sukarno di tahun 1960an, pada jaman Majapahit malah sudah 'berak' di Malaysia tanpa mampu menghapus bekas tahinya.

Itu dulu yang cuma tinggal sejarah. Indonesia rupanya bukan Majapahit meski semua simbol Majapahit numpuk digunakan untuk membangun rasa patriotik Indonesia. Masih ingat dengan pepatah : "Gemah ripah Loh jinawi"?. Saat ini, di tahun 2008 ini, ketika semua anak bangsa kehilangan identitas diri, pepatah itu bisa akan menjadi :"Gemah Ripah Kokh Mateni". Yuk kita lihat bedanya dengan jaman dulu :
1. Bangsa ini sudah tidak ramah lagi ketika inkulturasi budaya asing, entah barat entah timur tengah, mulai mengikis keramahtamahan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
2. Welas asih yang jadi ciri masyarakat Indonesia sudah hilang dengan besarnya Ego dan tak peduli dengan orang lain
3. Manusia Indonesia sudah tidak saling menghargai satu sama lain hingga atas nama SARA boleh menghancurkan yang lemah.
4. Masih banyak
5. Terlalu banyak.

Anehnya, negara tidak melihat itu sebagai indikasi akan hilangnya jati diri bangsa dengan membiarkan semuanya terjadi.

Aneh.... aku yang ada dalam kelompok kecil dan minoritas ini terus mengkaji ulang akan makna "Indonesia Tanah Airku".
Apakah engkau sungguh-sungguh tanah airku, Indonesia??
Apakah engkau bisa menjadi tanah airku, Indonesia??
Apakah engkau memang Indonesia bagiku???

Monday, June 09, 2008

YESUS JANGAN TURUN-TURUN DULU YACH

Memandang salib corpus Yesus yang 'ngglantungan' di setiap dinding tembok property-nya orang Katolik mengingatkan aku akan kisah dua penjahat Dismas dan Gesmas. Gesmas ini benar-benar 100% penjahat tulen yang sampai mampus aja masih bangga jadi penjahat. Berbeda dengan Dismas yang kapok setengah mati di ujung salibnya. Dia tobat jadi penjahat karena dia pikir, udah usaha ke sana ke sini jadi penjahat tetap aja nasibnya jelek terus maka daripada nasib paling akhirnya juga jelek mending tobat aja dech. Duduk di emperan surga mungkin lebih baik daripada masuk neraka, pikirnya.

Terus apanya yang bisa diingat dari kisah itu???
Dismas dan Gesmas adalah gambaran manusia di dunia yang serba hitam dan putih, dosa dan suci, salah dan benar, kafir dan agamis, dsb. Bos besarnya sudah jelas, Lucifer di sisi hitam dan Tuhan di sisi putih. Terserah mau ditafsirkan seperti apa. Kenyataannya adalah dua geng ini sudah ada sejak penciptaan dunia. Tinggal kita-kita ini mau pilih geng mana??? Semua pilihan akan mendapat rewardnya.

Hitam - putih dan dosa - suci ibarat sebuah pertandingan dalam pemilu. Sayangnya kita ngga bisa menghitung berapa hasil sementara hingga umur bumi ini sudah uzur. Kalau nanti pengikut Lucifer mendominasi perolehan suara maka akan dipastikan terjadi perluasan area neraka karena daya tampung neraka sangat minim sementara surga akan kosong melompong. Di pihak lain Tuhan juga ngga mau kalah. Dia harus menang donk. Dia tidak ingin kerajaanNya kosong dengan rakyat yang sedikit.

Kalau posisi perolehan masih bisa dimenangkan Tuhan, maka Yesus ngga perlu turun dulu. Tapi kalau Lucifer bisa menyusul di tingkungan dengan akal bulusnya sehingga posisinya hampir menyamai perolehan suara Tuhan maka saat itulah Yesus bersiap-siap terjun payung dan inilah akhir dunia itu.

Jika demikian, apakah saat ini dunia sedang akan dihancurkan karena posisi orang berdosa semakin meningkat hampir menyamai jumlah penghuni surga? Jika ini adalah tanda-tandanya sebaiknya kita cepat-cepat ganti surat suara dan memilih Tuhan biar Yesus ngga turun-turun dulu. Kalaupun sudah terlanjur diterjunkan setidaknya kita masih bisa duduk diemperan surga nemenin Dismas.

Wednesday, May 28, 2008

AIR DI JAKARTA


Sehari-harinya, Jakarta selalu kekurangan air di musim kemarau dan banjir di musim penghujan. Dalam lima tahun terakhir, Jakarta dilanda banjir besar sebanyak dua kali yaitu tahun 2002 dan 2007

Baik kekurangan air maupun banjir dianggap masalah air. Solusi yang dicari juga terbatas pada penanganan masalah air, seperti membuat bendungan dan banjir kanal. Padahal masalah air hanyalah sebuah gejala dalam sindrom terlampauinya daya dukung lingkungan hidup.

Untuk hidupnya, makhluk hidup membutuhkan air, udara, pangan dan ruang hidup. Bagi manusia, air tidak hanya untuk minum, melainkan juga untuk mandi, mencuci, dan produksi pangan, kertas, pakaian, dll. Makin “modern” seseorang, makin besar kebutuhan airnya.



Di Jakarta air PAM tidak mencukupi. Airpun pompa dari dalam tanah. Dan Jakarta mengalami keamblesan tanah. Kelebihan air di musim hujan makin sulit untuk dibuang ke laut. Jakarta yang landai dan sebagian wilayahnya terletak di bawah permukaan laut, makin rentan terhadap banjir. Kemablesan tanah merusak riul Jakarta. Terjadilah pencemaran air tanah. Air PAM pun tercemar.

Penggunaan air telah melampaui daya dukung
Ruang hidup diperlukan oleh semua makhluk hidup. Jakarta mengalami pertumbuhan eksponensial. Jakarta menjadi penuh sesak. Bantaran sungai dipenuhi perumahan. Sungai menyempit. Ruang Hijau Terbuka (RTH) makin berkurang. Produksi sampah meningkat. Sungai di Jakarta tersumbat sampah dan eceng gondok yang tumbuh subur. Banjir meningkat. Limbah MCK juga merupakan sumber penyakit muntah berak.

Rumah-rumah tangga di Jakarta berusaha memperluas rumahnya akibat kebutuhan ruang tinggal yang semakin besar karena semakin banyaknya penghuni. Maka halaman rumah dikorbankan, menciut sampai minimal, bahkan habis sama sekali. Kalau toh masih ada, biasanya diperkeras dengan semen atau beton sehingga tanah terbuka hilang. Yang tersisa pelataran semen tak ubahnya bangunan tanpa atap. Muncullah problem besar yaitu berkurangnya (dan hilangnya) lahan untuk peresapan air hujan.

Maka banjir menjadi tak terelakkan karena semua air hujan dialirkan (tidak sengaja) ke tempat-tempat yang lebih rendah, bukan diresapkan ke dalam tanah. Air hujan berkumpul membentuk genangan besar yang perlu waktu untuk pergi menuju badan-badan air yang alamiah (sungai, danau, laut) maupun buatan (banjir kanal, waduk buatan). Genangan besar yang tidak pada tempatnya, itulah banjir. Tidak perlu dikatakan lagi seberapa merugikannya banjir yang melanda kota kita. Ikut diterjang banjir atau tidak, seluruh warga kota merasakan penderitaan dalam berbagai bentuk. Tidak terkecuali, bahkan Presidenpun terlihat kerepotan dalam suatu perjalanan menembus banjir menuju istana kepresidenan.

Tertutupnya lahan untuk resapan air hujan tidak hanya itu. Jakarta defisit (kekurangan/tekor) air tanah. Itulah yang terjadi, karena jumlah air yang diresapkan ke dalam tanah begitu sedikit dibandingkan dengan jumlah air yang terus menerus disedot dari dalam tanah melalui pompa air/pompa bor/ sumur. Ibarat rekening kita di bank yang tidak pernah diisi melalui setoran, tapi dananya ditarik terus, dikurang terus. Tidak mengherankan jika suatu hari ketika menarik dana di ATM, yang muncul dilayar ATM : ”Maaf dana anda tidak mencukupi untuk penarikan ini”

Kebutuhan akan air bersih untuk berbagai kehidupan kota Jakarta yang dipenuhi oleh PDAM hanya sekitar 50% saja. Sisanya disedot masyarakat langsung dari perut bumi. Kurangnya pasokan air hujan yang meresap ke dalam tanah, membuat masyarakat harus menggali sumurnya lebih dalam lagi setiap musim kemarau. Dari rata-rata belasan meter kedalaman sumur pada tahun 1970an, sekarang sudah mencapai rata-rata 40an meter untuk memperoleh air bersih. Artinya diperlukan pompa yang lebih besar, lebihmahalm dengan daya listrik yang lebih tinggi. Itulah sebabnya biaya hidup di Jakarta semakin terasa mencekik karena untuk mendapatkan air yang begitu vital untuk kehidupan kita, harus dikeluarkan ongkos yang kian hari kian mahal saja.

Kurangnya air dalam tanah meninggalkan banyak jalur dan rongga melompong dalam tanah. Kekosongan ini mengundang masukknya air laut (interusi) yang asin dalam tanah kita. Maka sumur menjadi berair asin padahal sebelumnya tawar. Kecuali itu, rongga-rongga mengeroposkan kekuatan tanah dalam mendukung struktur tanah dan abngunan di atasnya. Di semua tempat di Jakarta terjadilah keamblesan tanah dengan berbagai kedalaman. Dari tahun 1983 tercatat 40cm s/d 180cm tanah yang ambles (data Dinas Pertambangan DKI Jakarta). Sudah barang tentu keamblesan merusakkan bangunan, menambah resiko ambruknya bangunan berikut instalasi yang tertanam dalam tanah. (Berita terbaru adalah amblesannya Gedung Sarinah, Jakarta)

Air menjadi masalah serius di Jakarta. Bagaimana mengatasinya? Dapatkah masyarakat turut ambil bagian di dalam mengatasi malasah air di Jakarta ini? Jawabnya singkat : “Masyarakat dapat dan harus melakukan langkah nyata untuk menyelamatkan Jakarta dari masalah air ini” Mengharapkan hanya pada penanganan oleh Pemda DKI sungguh sikap yang tidak bijaksana bahkan sikap yang salah, karena kemampuan pemerintah daerah sangat terbatas untuk menangani penduduk yang berjumlah 10 juta orang.


Berikut langkah-langkah nyata yang harus dilakukan masyarakat setiap rumah :

1. Buat saluran resapan sebanyak mungkin.
Lubang Resapan Biopori dapat dibuat untuk memulai pembuatan saluran resapan ke dalam tanah jika sulit untuk membangun sumur resapan.

2. Terapkan prinsip 4 R pengelolaan air
- REDUCE (hemat air). Gunakan air sehemat mungkin. Cegah kebocoran saluran air.
- REUSE (gunakan air) Air bekas mandi dapat dikumpulkan untuk mengelontor WC. Tampung air hujan dalam sumur tendon, gunakan sebagai cadangan air di musim kemarau.
- RECYCLE (daur ulang air) Air bekas mandi dengan pengolahan sederhan dapat digunakan untuk menyiram tanaman, mencuci mobil, dsb. Gunakan filter untuk menyaring atau tumbuhan/ikan untuk memperbaiki kondisi kandungan biologis atau kimiawi air.
- RECHARGE (resapkan air hujan ke dalam tanah). Air hujan yang melalui talang langsung dialirkan ke dalam sumur resapan. Dan tanam pohon sebanyak-banyaknya karena pohon dengan sendirinya memperbaiki lingkungan (air, tanah, udara) , termasuk menambah cadangan air di permukaan.

Demikianlah catatan ringkas mengenai situasi di Jakarta yang sangat memprihatinkan, dan yang lebih penting, cara yang dapat kita lakukan untuk mengatasinya. Mari mengubah cara pandang kita kepada air. CEgah kekurangan air dan cegah banjir, melalui satu cara yang sama : RESAPKAN AIR KE DALAM TANAH SEBANYAK MUNGKIN

Nara Sumber :
- Workshop Gerakan Habitus Bersih dan Sehat : “Mengubah Sampah jadi rupiah” Paroki St. Aloysius Gonzaga Cijantung - oleh Bintang A. Nugroho (Ketua Pepulih – Perkumpulan Pemerhati dan Peduli Lingkungan Hidup), 20 April 2008
- Air Jakarta : Sebuah sindrom terlampauinya daya dukung – oleh Prof Otto Sumarwoto, 2007

Friday, May 09, 2008

NICODEMUS, ORANG KUDUS DARI KAUM YAHUDI

Santo Nicodemus adalah orang Yahudi dari golongan Farisi yang tinggal dan hidup di kota Yerusalem pada abad pertama. Ia juga adalah anggota Sanhedrin yaitu lembaga Mahkamah Agama Yahudi, yang sangat terkemuka pada masa Kristus. Dalam kapasitasnya di Sanhedrin, ia adalah pemimpin Yahudi. Dalam kitab Injil, ia hanya disebut dalam Injil Yohanes saja. Encyclopedia Yahudi dan beberapa sejarawan Injil memperkirakan bahwa ia bernama lengkap Nicodemus ben Gurion di mana dalam kitab Talmud dikisahkan sebagai orang kudus yang populer dan kaya yang dianggap mempunyai kuasa-kuasa yang ajaib.

Tidak ada sumber informasi yang jelas tentang Nicodemus ini di luar Injil Yohanes, namun Josephus Flavius, sejarahwan Yahudi, mencatat bahwa Nicodemus ternyata seorang yang kaya dan merupakan figur orang terhormat. Ia dikenal karena kedermawanan dan kekudusannya. Josephus Flavius juga mencatat bahwa Nicodemus pernah menjadi duta besar yang dikirim Aristobulus ke Pompey. Hal ini diduga karena format nama Ibrani dari Nicodemus yaitu Naqdimon, ditemukan dalam Kitab Talmud Yahudi.

Dunia politik yang digeluti semenjak menjadi anggota Sanhedrin dari faksi Farisi terbilang cukup meyakinkan. Ia adalah musuh orang Zealot, yaitu kaum Yahudi fanatik, dan pemberontak melawan kekaisaran Roma yang akhirnya mendorong pada penghancuran Jerusalem.

Ketika Vespasianus menjadi kaisar Roma, Nicodemus berdamai dengan Titus, putra kaisar, yang melaksanakan peperangan itu. Ia justru menghasut terhadap tuntutan perang orang Zealots. Dalam suatu pembalasan, Nicodemus dan teman-temannya membinasakan gudang perbekalan di mana mereka dikumpulkan untuk dikubur.

Ada 4 hal yang menjadi catatan khusus tentang Nicodemus ini adalah :
1. dia adalah wakil dari "penguasa bangsa Yahudi" yang belajar dari Yesus apa yang dimaksud dengan “kelahiran kembali oleh baptis", seolah-olah sebuah ajaran nabi yang sama sekali tidak diketahuinya. Beberapa penulis dan sejarahwan menduga bahwa Nicodemus ini orang yang cukup berumur, dari pertanyaannya: "Bagaimana mungkin seorang manusia dilahirkan kembali ketika ia sudah tua?". Ia muncul dalam percakapan ini sebagai orang percaya yang cerdas dan terpelajar, tetapi takut dan tidak mudah menjalankan misteri iman yang baru.
2. bagaimana ia melakukan kunjungannya kepada Yesus di waktu malam hari, supaya ia tidak dikenali sebagai salah satu murid. Kitab Suci tidak mengatakan mengapa ia pergi pada malam hari, tetapi kita mengetahui bahwa para pemimpin Yahudi marah terhadap Yesus dan mereka sedang mencari suatu cara untuk menangkap dia. Barangkali Nicodemus takut untuk pergi kepada Yesus di muka umum pada siang hari.
3. dia tampil di Sanhedrin untuk menawarkan suatu pembelaan terhadap Yesus ketika para imam berencana akan menangkap Yesus; dan kita boleh menyimpulkan dari perjalanan ini bahwa ia telah memeluk kebenaran ini secara penuh secepat yang diberitahukan kepadanya.
4. ketika ia dan Joseph Arimathea diuraikan seperti bertanggung jawab atas jenazah Yesus dalam rangka menyiapkan penguburan yang pantas. Mereka meminta jenazah Yesus kepada Pilatus untuk disemayamkan dan Pilatus menyetujuinya. Jelaslah bahwa hanya sosok orang yang memiliki keunggulan seperti itu setidaknya seorang figur yang terkenal di masyarakat Yahudi saat itu yang berani memintanya kepada Pilatus mengingat penyaliban Yesus ini menggemparkan kota Yerusalem karena dianggap musuh utama Yahudi.

Ketika Nicodemus berdiskusi dengan Yesus, ia mengatakan kepada Yesus bahwa Tuhan sungguh ada bersama dia, ia tidak akan mampu melakukan semua yang bagus yang Yesus lakukan. Kemudian Yesus mulai mengajarnya. Ia menceritakan kepada Nicodemus bahwa jika seseorang ingin melihat kerajaan Allah, ia harus dilahirkan lagi. Nicodemus hanya bisa membayangkan dirinya menjadi suatu bayi lagi. Bagaimana ini bisa? Itu nampak seperti suatu hal yang mustahil untuk seorang yang sudah besar untuk dilahirkan lagi!

Diskusinya dengan Yesus adalah sumber inspirasi dari beberapa ungkapan umum Kekristenan jaman ini, khususnya, ungkapan kata ‘dilahirkan kembali’ digunakan untuk menjelaskan pengalaman iman akan sang Penolong, dan digunakan untuk menguraikan Rencana Keselamatan Tuhan.

Ketika proses penyaliban Yesus sudah mencapai titik akhir, selain keluarga Yesus dan Yohanes, satu diantara para rasul, menyaksikan peristiwa itu, hadir juga Nicodemus dan Joseph Arimathea. Namun hanya Nicodemus dan Joseph Arimathea sebagai murid Yesus yang tersembunyi yang berani meminta jenazah Yesus kepada Pilatus dan berinisiatif untuk mengurus jenazah itu dari mengurapiNya dengan rempah-rempah, minyak mur dan minyak gaharu hingga menguburkannya di tempat yang layak.

Tak ada yang mencatat kapan saat kematian Nicodemus. Gereja Katolik Roma dan Gereja Orthodox Timur menyatakan Nicodemus sebagai orang kudus. Martyrology Gereja Katolik Roma memperingati temuan jenazahnya, bersama-sama dengan jenazah St. Stephanus, Gamaliel, dan Abibo, pada tanggal 3 Agustus sementara Gereja Orthodox merayakannya pada Minggu Myrrhbearing, yaitu minggu ketiga sesudah Paska dan juga pada tanggal 2 Agustus, di mana tradisi Gereja menyatakan saat jenazahnya telah ditemukan. Catatan Ensiklopedia orang kudus menyatakan bahwa tanggal 27 Maret adalah pesta St. Nicodemus. Kemungkinan pada tanggal itulah pesta peringatan itu dirayakan bersamaan dengan Minggu Myrrhbearing Gereja Orthodox.

Sumber :
1. situs http://en.wikipedia.org
2. situs http://www.newadvent.org
3. situs http://jewishencyclopedia.com
4. ensiklopedi orang kudus

Wednesday, September 19, 2007


KENANGAN MASA KECILKU

Saatku lihat kembali,
bunga kenangan itu...
Kenangan dari masa kecilku,
mengalir di dalam dadaku

Dengan bebas ku berlari
Melintas bukit dan lembah yang indah
Aku tak bisa kembali
ke masa itu lagi
Sedikit demi sedikit
aku telah beranjak menjadi dewasa

Sambil terus memeluk impian
yang takkan pernah pudar
Aku takkan pernah menyerah
Untuk mencapai harapanku



Ini adalah syair lagu anak-anak yang suatu ketika dinyanyikan oleh Prisca dan Keke, anak perempuanku, yang sempat kurekam dan kutuliskan syairnya.

Kalimatnya cukup sederhana, dengan bahasa yang polos untuk anak-anak. Sebenarnya bukan kalimat itu yang ingin kusentuh tetapi justru isi lagunya yang mampu menyeretku untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa masa kecil puluhan tahun yang lalu. Semua mengalir begitu saja dalam rentang waktu yang panjang dan seolah peristiwa demi peristiwa ingin kualami kembali.

Isi lagu itu benar bahwa kita memang tidak bisa kembali ke masa itu lagi. Maka ketika syair itu dilantunkan oleh anakku dengan suara khasnya tanpa alat musik satupun, aku hanya termangu.....

Aku tak bisa kembali
ke masa itu lagi
Sedikit demi sedikit
aku telah beranjak menjadi dewasa

Seperti diingatkan pada setiap peristiwa masa lalu dan seperti tak ingin beranjak dari masa itu, nyatalah bahwa lamunan memang tinggal lamunan.

Kupeluk anakku begitu erat dan kukatakan :
“Nikmatilah masa kecilmu dengan senyum dan tawa, anakku, agar suatu ketika masa kecilmu ini mudah kaukenang saat dewasa dan tetap mengalir dalam dadamu dengan senyum dan tawa”

Tuesday, September 11, 2007

SULITNYA MEMAHAMI EXTRA ECCLESIA NULLA SALUS EST
Thread mengenai Extra Ecclesia Nulla Salus Est memang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Selalu saja ada yang bertanya, menjawab dan berbeda pendapat. Itu wajar saja. Yang penting tetap konsisten saja sehingga tidak menimbulkan kekacauan berdiskusi.

Saya jadi ingat dengan tulisan Romo Dr. Petrus Maria Handoko, CM, seorang dosen dan teolog STFT Widya Sasana Malang, yang judulnya :"Beriman kepada Kristus yang sungguh Allah, sungguh manusia, di tengah umat beragama lain".

Dalam pengantarnya dijelaskan bahwa hidup dan beriman di tengah umat beragama lain, menantang kita untuk mengerti iman kita TIDAK hanya terbatas pada pengertian intern Gereja. Maka berkaitan dengan itu, ada dua hal yang menjadi pokok pembahasan thread Extra Ecclesia Nulla Salus Est ini yaitu "beriman kepada Yesus Kristus" dan "di tengah umat beragama lain"

"Beriman kepada Yesus Kristus" merupakan bagian yang berkaitan dengan apa yang diwariskan oleh para rasul dari pengalaman pertemuan mereka dengan Yesus, dan apa yang dilakukan Gereja untukmeneguhkan ajaran kebenaran yang diterima dari Yesus. Sedangkan "di tengah umat beragama lain" berkaitan dengan bagaimana isi iman itu harus dimengerti dalam kaitan dengan umat beragama lain dan pandangan Gereja tentang agama-agama lain dalam seluruh rencana keselamatan Allah.

Saya tidak ingin memberikan komentar untuk hal yang pertama, tetapi kiranya bolehlah saya mencoba mengungkapkan pengertian saya tentang hal yang kedua yaitu :"ditengah umat beragama lain" khususnya bagaimana pandangan Gereja tentang agama-agama lain yang masih mengacu kepada tulisan Romo Petrus, CM tsb.

Sejak pasca konsili Vatikan II, pandangan Gereja tentang agama-agama lain banyak mengalami perkembangan meskipun harus disadari bahwa pasti ada saja kelompok-kelompok/aliran-aliran yang muncul berkaitan dengan cara pandang Gereja tersebut. Aliran-aliran tersebut adalah : eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme.

EKSKLUSIVISME berpendapat bahwa pengakuan eksplisit tentang Kristus dan Gereja diperlukan untuk keselamatan. Maka aksioma Extra Ecclesiam Nulla Salus menjadi senjata ampuh yang mematikan artinya penganut di luar Gereja (dan Roma) dipastikan tidak bisa selamat jiwanya sampai surga. Kalau mau hitung-hitungan maka yang jelas ngga masuk surga adalah leluhur kita sebelum masuk Katolik termasuk barangkali Abraham, Musa, Elia, dst karena mereka bukan anggota Gereja Katolik.

INKLUSIVISME berusaha menggabungkan pendapat ganda Perjanjian Baru yaitu kehendak universal Allah akan keselamatan dan finalitas Yesus Kristus sebagai Penyelamat universal. Aliran ini berpendapat bahwa misteri Yesus dan RohNya hadir dan bekerja di luar batas-batas Gereja, baik dalam hidup pribadi secara perseorangan maupun dalam tradisi religius yang dipeluk dan dipraktekkan oleh orang-orang itu. Maka bagi kelompok inklusivisme, posisi Yesus Kristus adalah jalan untuk semua orang.

PLURALISME berpendapat bahwa Allah telah mewujudkan dan menyatakan diriNya dalam berbagai cara kepada bangsa-bangsa yang berbeda-beda dalam situasi masing-masing. Finalitas Yesus dalam tata keselamatan tidak diterima sebab Allah menyelamatkan setiap orang melalui tradisi masing-masing sama seperti Allah menyelamatkan orang-orang Kristiani. Bagi kelompok ini, Yesus adalah jalan orang kristiani, tetapi masing-masing tradisi memberikan jalan untuk orang lain.

Magisterium Gereja Katolik menolak ekslusivisme dan pluralisme, dan menerima inklusivisme. Maka lahirlah banyak dokumen Konsili Vatikan II yang senada dengan aliran inklusivisme dalam hubungannya dengan agama-agama lain. Ini sangat ditegaskan dalam Lumen Gentium No.16, Ad Gentes No.3.

Memang Extra Ecclesia Nulla Salus Est tidak berubah hingga kini, namun ketika berbenturan dengan agama lain maka Extra Ecclesia Nulla Salus Est menjadi godam yang membunuh dirinya sendiri jika tidak memahami kehendak universal Allah atas nilai-nilai benih sabda Allah yang disemai dalam tradisi mereka. Karena Allah sendiri yang akan menuntun mereka kepada Kristus. Lihat Ad Gentes No.7

Hal ini senada dengan Gereja Orthodox dimana hingga kini merekapun tetap memegang keyakinan Extra Ecclesia Nulla Salus Est namun itu tidak berarti bahwa Gereja Orthodox menetapkan mereka yang di luar Kristen pasti masuk neraka tanpa kecuali. Ajaran tentang Extra Ecclesia Nulla Salus Est ini haruslah diimbangi dengan pemahaman tentang LOGOS SPERMATIKOS (Kalau di Katolik namanya Benih Sabda Allah) yang mana benih-benih itu tersebar di seluruh ciptaan Allah dalam budaya dan tradisi agama. Sehingga "Gereja' yang dalam pengertiannya adalah paguyuban umat yang disatukan dalam iman kepada Kristus itu, dapat pula hadir tanpa kita sadari dalam agama-agama lain , sehingga jika ada orang yang secara lahiriah bukan Kristen, namun karena taat kepada LOGOS SPERMATIKOS ini mereka kelak diselamatkan dan menerima kemuliaan Kristus dan dalam makna tertentu telah berada di dalam Gereja dan diselamatkan oleh Kristus. Keselamatan bagi mereka selalu ada apabila mereka dengan tulus mencari dan taat pada kebenaran, namun belum sempat menemukan Kristus secara penuh dan sadar.

Karena itu dalam Gereja Katolik, jika Extra Ecclesia Nulla Salus Est dipandang sama seperti kemunculannya diawal saat St. Siprianus mengatakan demikian, memang tidak jamani. Tetapi Extra Ecclesia Nulla Salus Est itu tetap ada dan hidup jika kita juga mau memahami Benih Sabda Allah yang tersebar di seluruh ciptaan Allah dalam budaya dan tradisi bangsa lain dalam makna tetap taat dan tulus mencari Allah. Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, Gereja dipandang sebagai persiapan Injil.

Extra Ecclesiam Nulla Salus Est tetap ada dan diyakini dalam Gereja Katolik tetapi tidak bersifat eksklusivisme dengan mengatakan di luar kami kamu tidak punya apa-apa. Yang jelas kehendak universal Allah tidak bisa dibatasi oleh kemampuan berpikir manusia.

Thursday, August 23, 2007

BERJUMPA TUHAN, CAPEKKAH??

Suatu ketika di sebuah chat room ada sebuah percakapan. Ini aku copy paste dari aslinya

My friend : kamu paroki mana?
Jeng : Paroki St. Mikael..njenengan?
My friend : aku di St. Anna
Jeng : kalo misa yang jam berapa pak
My friend : aku mah jarang misa, biasanya diwakili anak istri
Jeng : kenapa? Minggu, kerja juga?
My friend : udahlah...biar gereja ga sesak
Jeng : gak sesak juga kok. Yang sesak itu malah mall je, pak
My friend : heheheh sibuk n capek
Jeng : nyari duit..gak cape..nyari Tuhan kog cape ya..
My friend : @#$!%!

Ini mungkin saja merupakan percakapan yang sangat biasa atau karena sudah menjadi kebiasaan maka akhirnya jadi biasa-biasa saja. Dan bukan tidak mungkin itu juga terjadi pada kita yang setiap hari dari Senin hingga Jumat kerja keras selama 8 jam lebih hanya demi uang yang akan kita dapat begitu angka 25 dalam tiap bulan sudah dipenghujung hari. Lalu terbayang betapa enaknya Sabtu dan Minggu bisa istirahat di rumah.

Konon katanya Tuhan memang sudah tidak bekerja lagi dalam arti mencipta ketika penciptaan dunia sudah terjadi. Entahlah jika Dia masih juga bekerja setiap hari hingga kini karena Dia bertanggung jawab terhadap ciptaanNya maka Dia bekerja untuk memeliharanya tanpa istirahat. Bahkan Dia tidak merasa lelah menunggu kita untuk hadir menjumpainya di mezbahNya dalam suasana yang penuh ceria penuh bakti.

Kenapa kita merasa capek pergi ke rumahNya sementara Dia tidak pernah lelah menunggu kita di mezbahNya, di rumahNya yang kudus. Contributor : Jeng Diana (Sunter)

Tuesday, August 21, 2007

DISKUSI RINGAN

MENGGEREJA DI DALAM DUNIA KERJA
Mengulas diskusi
KPKP-Jakarta dengan Romo Sandyawan Sumardi, SJ


MAKNA “MENGGEREJA”
Jika mendengar kata ‘menggereja’ umumnya kita berpikir bahwa aktivitas ini tidak jauh dari seputar altar. Menurut buku katekismus modern Gereja Katolik, hidup menggereja adalah hidup dalam persekutuan dengan sesama orang beriman sehingga terdapat saling menolong, mendukung dan mengisi. Dalam hal ini Gereja adalah umat beriman kepada Allah melalui Yesus Kristus dalam bimbingan Roh Kudus yang didirikan supaya mewujudkan Kerajaan Allah di dunia.

Setiap orang bisa saja mengartikan kata menggereja itu berdasarkan sudut pandangannya masing-masing tetapi tentu tidak menghilangkan kata kuncinya yaitu mewujudkan “Kerajaan Allah di dunia” karena memang ini yang menjadi tujuan utamanya.

Sandyawan Sumardi, seorang klerus dari Jesuit yang juga aktivis kemanusiaan di Indonesia, dalam diskusinya dengan KPKP-Jakarta, mengutarakan makna lain dari kata menggereja ini. Beliau mengatakan bahwa menggereja itu berarti mengaktualisasikan kehadiran Kristus di dunia. Bahkan dilontarkan pula makna menggereja ini secara lebih luas yaitu membuka komunikasi iman seluas mungkin agar semua orang bisa menjadi partner kita untuk bekerja sama dalam memperjuangkan Kerajaan Allah di dunia seperti yang diwartakan oleh Kristus. Sangat luas karena memberikan ruang yang tidak dibatasi oleh iman yang sama.

AKTIVITAS MENGGEREJA PADA UMUMNYA
Kegiatan menggereja umumnya dilandasi oleh 3 hal yaitu pewartaan, pengudusan dan pelayanan. Dan dalam sejarah Gereja, termasuk Gereja di Indonesia, ketiga hal ini tidak pernah lepas dalam setiap tugas Gereja dan dilakukan secara bersamaan. Maka tidak mengherankan jika Gereja mempunyai ‘trade mark’ sebagai pioneer sampai saat ini dan itu cukup diakui oleh pihak diluar Gereja. Yang namanya pelayanan apapun jenisnya jika berada di bawah pengawasan Gereja mendapat penilaian lebih di kalangan masyarakat.

Namun demikian, dalam situasi tertentu nampaknya kita cukup terlena dengan trade mark ini sehingga tugas menggereja, misalnya saja dalam hal pelayanan kemanusiaan, sayangnya tidak lagi mampu menyentuh essensial tugas kemanusiannya, di mana seharusnya manusia, dalam kesatuan dan keutuhan jiwa dan raganya, dengan hati serta nuraninya, dengan budi dan kehendaknya adalah poros segala kegiatan Gereja. Umumnya yang banyak terjadi saat ini adalah bahwa aktivitas pelayanan kemanusiaan muncul hanya karena sebatas legalitas saja. Banyak umat Kristen yang [sebenarnya] tahu mengenai kewajiban untuk saling menolong dengan saling menanggung beban, namun hanya menunggu sampai ada yang memulai atau ada perintah dari atas (hierarkhi). Padahal seharusnya tidaklah demikian. Terkadang unsur legalitas menjadi penghambat tindakan kemanusiaan yang semestinya menjadi bagian dari tugas Gereja.

MENGGEREJA DI DALAM DUNIA KERJA
Bagi kita, umat Katolik Indonesia yang minoritas, menggandengkan kata ‘menggereja’ dan ‘dunia kerja’ memiliki keunikannya sendiri. Mengapa demikian?

Jika menoleh kembali pada definisi menggereja seperti yang ditulis dalam katekismus modern Gereja Katolik, maka makna itu akan hilang dengan sendirinya karena persekutuan yang terjadi dalam dunia kerja kita adalah persekutuan serba majemuk/pluralis bahkan mungkin saja kita ini menjadi seorang diri di tengah mayoritas. Lalu apa maknanya menggereja di dalam dunia kerja?

Harus diakui bahwa aktivitas dunia kerja kita ini sangat menyita waktu dan tenaga sehingga kita tidak mampu lagi menyempatkan diri untuk berkumpul dengan sesama umat beriman melakukan aktivitas gereja. Namun demikian, sebagai anggota Gereja, kita mempunyai kewajiban untuk melaksanakan tugas pokok Gereja itu di tengah masyarakat dan kelompok masyarakat mana lagi yang sering kita jumpai kalau bukan masyarakat dunia kerja atau kantor. Di kelompok masyarakat inilah kita siap membajak dan di sinilah sarana alternatif itu bagi kita Bagaimana melakukan aktivitas ini?

Pertama-tama harus dipahami terlebih dahulu bahwa Gereja adalah tubuh Kristus. Kehadiran Gereja berarti mewartakan kehidupan Kristus. Itu berarti pula bahwa kehadiran kita [yang adalah anggota Gereja] harus mampu mewartakan kehidupan Kristus dengan benar di tengah masyarakat melalui aktualisasi sikap hidup Kristus dalam diri kita. Maka misi pewartaan itu sudah melekat dalam diri kita.

Menggereja di dalam dunia kerja bukan semata-mata melakukan aktivitas iman di tengah masyarakat kantor dengan motivasi agar mereka mengikuti kita melainkan melakukan karya atau tindakan atau sikap hidup yang benar yang sama seperti sikap hidup Kristus di antara mereka. Yang mungkin dilakukan adalah berkarya dengan etika kerja yang baik misalnya saja ‘tidak korupsi’, tidak mangkir, tekun bekerja, semangat kerja yang tinggi dsb. Dengan melakukan sikap kerja yang baik itu secara tidak langsung kita sudah membuka komunikasi iman.

Maka bukan tidak mungkin jika menggereja di dalam dunia kerja terlaksana justru dari perilaku kerja kita yang baik yang bisa diteladani sehingga lewat komunikasi iman ini semua orang bisa menjadi partner kita untuk bekerja sama dalam memperjuangkan Kerajaan Allah di dunia tanpa harus menjadi Katolik.

Semangat menggereja seperti ini yang sangat dikagumi oleh Gereja karena berani menyatakan imannya seorang diri dalam komunitas yang plural atau malah dalam komunitas yang mayoritas.

GEREJA WARTEG atau GEREJA SUPERMARKET
Mengkritisi keadaan gereja saat ini yang berkesan ‘sangat’ mewah bahkan ada kebanggaan tersendiri karena memiliki gereja yang mewah sehingga ini menjadi semacam batu sandungan bagi masyarakat.

Romo Sandyawan SJ membuat ilustrasi yang cukup menggelikan yaitu bahwa gereja yang baik itu sebenarnya harus seperti sebuah warteg. Gereja seperti warteg mempunyai makna bahwa kehadiran gereja harus bersifat hangat, saling menyapa, dan memiliki empati terhadap segala kesulitan. Seperti kita ketahui bahwa di warteg siapa saja bisa datang meski hanya bersandal jepit atau berbau keringat. Semua orang bisa datang tanpa melihat status dan golongan. Apalagi jika kita saling mengenal, perasaan empati bisa muncul andaikan ada permasalahan yang dibicarakan mendapatkan solusi berdasarkan pada pengalaman satu dengan yang lain tanpa disuguhi nasehat-nasehat standar etika moral yang sudah pasti tidak mereka pelajari. Solusi berdasarkan pengalaman memberikan nilai tersendiri dalam komunitas warteg.

Lain halnya jika gereja itu mirip supermarket di mana untuk memasuki supermarket saja harus mengenakan pakaian yang bagus, tidak bersandal jepit, apalagi berbau keringat. Memiliki uang yang banyak mungkin saja dibutuhkan karena yang dijualpun harganya tidaklah murah. Fasilitas yang baik biasanya dibarengi dengan biaya yang tinggi yang secara tidak langsung dibebankan oleh pengunjung supermarket itu. Tidak ada sapaan di sana apalagi cerita. Orang bisa datang dan pergi setelah semua kebutuhan terpenuhi tanpa peduli dengan orang lain. Tidak ada kehangatan di supermarket, yang ada sikap apatis. Kalau ada permasalahan di supermarket maka solusi yang ada adalah tindakan atau nasehat yang sudah memiliki standar etika moral tanpa disuguhi pengalaman. Semua berjalan dengan penuh prosedural. Akankah situasi gereja kita ini seperti supermarket?

Ilustrasi di atas bisa memberi gambaran untuk sebuah gereja dalam arti bangunan maupun komunitas. Lewat ilustrasi itu juga, kita bisa menjadikan diri kita sebagai Gereja yang mirip warteg dalam arti kehadiran kita seharusnya tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, punya kehangatan, memiliki sikap empati yang baik, dan tidak menutup diri terhadap orang lain hanya karena perbedaan status atau golongan. Pada akhirnya, semangat menggereja harus diawali dari diri kita sendiri dengan menjadikan diri kita sebagai Gereja yang menjadi saluran berkat dengan meneladani sikap hidup Kristus di tengah komunitas kita yaitu dunia kerja perkantoran sehingga tujuan akhir mewujudkan Kerajaan Allah di dunia bukan cuma mimpi belaka.
SEKILAS MENGENAL SEKTE-SEKTE YUDAISME

Dalam agama Yudaisme kita mengenal ada 4 sekte besar yang ditulis dalam Kitab Suci terutama pada masa-masa Yesus. Sebagian malahan mendominasi kursi Sanhedrin yaitu suatu lembaga tinggi atau dewan agung bangsa Yahudi. Sekte-sekte tersebut adalah sebagai berikut :

1. Sekte Saduki
Orang-orang Saduki berasal keluarga imam yang berpengaruh, keturunan Zadok yang melayani bait Allah pada masa pembuangan. Orang Saduki berasal dari suku Lewi (Yeh 44:15). Sesudah memiliki kuasa religius (sebagai imam) dan mengontrol lebih banyak kursi di Sanhedrin, mereka mendominasi juga bidang politik dengan memanfaatkan sebaik-baiknya penjajahan Romawi. Imam Agung Yusuf bin Kayafas yang melakukan persekongkolan untuk membunuh Yesus berasal dari sekte ini. Jika kita membaca cerita tentang kematian Yesus, kita akan mengerti benar betapa orang-orang Saduki ini pandai memanfaatkan situasi negeri untuk kepentingannya sendiri dengan mempengaruhi keputusan Pontius Pilatus ketika mengadili Yesus. Jadi bila kita bertanya tentang orang Yahudi mana yang paling bertanggung jawab atas rekayasa pembunuhan ini, maka jawabannya adalah orang Saduki dalam hal ini Yusuf bin Kayafas. Karena intrik-intrik politik yang dilakukannya berhasil menyeret Yesus ke tiang penyaliban.

Ajaran-ajarannya :
Keselamatan yang mereka kenal adalah keselamatan berdasarkan komunitas bangsa [Yahudi]. Mereka tidak mengenal kebangkitan orang mati, malaikat dan roh. Mereka mencurigai para nabi yang ajarannya memungkinkan terjadinya perpecahan bangsa (Kis 23:8 dan Mrk 12:18) Kuatnya mereka memegang hukum Musa karena terutama untuk menjaga privilese para imam yang mendatangkan keuntungan. Karena itulah Yesus dengan terang-terangan menyatakan bahwa mereka benar-benar sesat (Mrk 12: 24, 27)

2. Sekte Farisi
Orang-orang Farisi berasal dari orang-orang Hasidim yang memisahkan diri dan telah membaharui roh iman 150 tahun sebelumnya. Seperti kita ketahui bahwa orang-orang Hasidim adalah orang-orang yang gigih menentang kebijaksanaan penguasa Yunani yang ingin menghilangkan tradisi Yahudi dan memasukkan budaya Yunani pada masa raja Antiokhus IV. Kelompok ini menamakan dirinya Hasidim yang artinya orang-orang yang saleh. Kelompok inilah yang diceritakan dalam 1 Makabe 2 :42 bergabung ke pasukan Matatias untuk berperang.

Mereka masuk ke dalam partai/sekte orang-orang tahir dan kebanyakan ahli hukum Taurat berasal dari sekte ini (Mrk 2:16). Lebih dari 100 tahun kelompok ini menjadi anggota Sanhedrin bersama dengan orang Saduki meskipun mereka saling memusuhi.

Sesudah tragedi perang Yahudi tahun 66, orang-orang Farisi menjadi penuntun bangsa yang tidak perlu dipersoalkan lagi. Semenjak itu, orang-orang Farisi paling giat meng-ekskomunikasi orang-orang Yahudi yang dipermandikan.

Ajaran-ajarannya :
Orang Farisi sama seperti kelompok asalnya. Orang-orang awam ini tidak terlalu mementingkan ibadah di Bait Allah tetapi lebih pada pelaksanaan Hukum. Mereka sungguh menuntut tanggung jawab individu yang diselamatkan oleh kebaikan mereka sendiri di hadapan Allah yang adil yang mengganjarinya. Mereka sangat percaya akan kebangkitan orang benar setelah mati dan mempertaruhkan segalanya untuk mempertahankan keyakinannya. Dalam Kitab Suci, Yesus amat sering mengecam orang-orang ini, sama seringnya dengan orang Saduki, karena kemunafikan mereka serta gila hormat (Mat 23 :1-36).


3. Sekte Esseni (arti kata Esseni : orang-orang saleh)
Orang-orang Esseni juga berasal dari orang Hasidim yang memisahkan diri lalu membarui semangat iman dengan cara melakukan askese secara tegas. Situasi bangsa Yahudi semasa wangsa Makabe-lah yang membuat orang-orang yang kelak dinamakan Esseni ini memisahkan diri, di mana telah terjadi pertentangan antara orang Hasidim dengan orang Makabe. Melihat situasi ini, orang-orang Esseni merasa kurang senang dengan minat duniawi yang diperlihatkan pemimpin bangsa mereka, termasuk tidak minatnya untuk duduk di kursi Sanhedrin. Untuk itu mereka menarik diri dari kehidupan bangsa sehari-hari dan membentuk komunitas monastik dan diam di dalam biara-biara dipadang gurun atau lembah. Qumran adalah salah satu tempatnya yang berada di tepi Laut Mati. Ciri khas hidup mereka adalah : selibat, meninggalkan harta milik maupun perdagangan, bertani, mempertahankan Sabat, ritual, dan novisiat. Yang unik dari kalangan mereka adalah tetap merahasiakan ajaran terhadap orang di luar Esseni. Aliran ini juga sangat menolak persembahan kurban binatang dan ibadat dalamkenisah-kenisah. Menurut penulis Yosefus Flavius, dipastikan kegiatan orang-orang Esseni pada waktu di antara tahun 150SM (jaman Makabe) dan tahun 70M (setelah perang Yahudi).

Ajaran-ajarannya :
Seperti dengan orang Farisi, orang Esseni memusatkan perhatian pada Hukum. Mereka percaya pada nasib namun tidak kepada aksi politik karena mereka berpikir bahwa Allah akan ikut campur tangan untuk meniadakan kegelapan.

Orang Esseni tidak disebutkan dalam Kitab Suci dan sulit diperkirakan apakah Yesus pernah berhubungan dengan orang-orang ini mengingat orang-orang Esseni lebih suka memencilkan dirinya dari kehidupan ramai. Karena sikap seperti inilah para penulis Injil tidak mengetahui apakah Yesus pernah saling bertemu atau tidak.

4. Sekte Zelot
Orang-orang Zelot termasuk kaum militan dan cenderung suka melakukan perlawanan bersenjata. Tidak diketahui asal-usulnya tetapi kemungkinan besar adalah generasi penerus kaum Makabe. Mereka adalah ahli waris tradisi tua sejak Pinehas, seorang imam yang disebutkan dalam Bilangan 25:7 hingga Makabe yang telah membela kehormatan Israel dan kemerdekaan bangsa. Kemudian mereka berorganisasi dan memainkan peranan yang menentukan dalam melawan orang-orang Romawi termasuk perang Yahudi tahun 66. Pemberontak-pemberontak adalah misi mereka demi menegakkan kerajaan Allah dari cengkraman Romawi. Mereka berpendapat bahwa kekuasaan Romawi hanya dapat dilawan dengan kekuatan bersenjata. Perang Yahudi pada tahun 66 boleh jadi karena usaha mereka mempertahankan Bait Allah dari penjarahan prokurator Florus. Meskipun tokh pada akhirnya mereka terpaksa dipukul mundur dari Bait Allah hingga terjadi penghancuran besar-besaran atas Bait Allah.

Orang Zelot sama fanatiknya dengan orang Esseni dan punya kemampuan bidang politik seperti orang Saduki terutama politik perang. Di lembaga Sanhedrin, orang Zelot tidak memiliki kursi. Diantara mereka terdapat juga orang-orang Esseni yang telah tiba pada suatu kesimpulan bahwa senjata lebih efektif daripada doa. Dalam Kitab Suci, nampaknya Yesus pernah bergaul dengan orang Zelot setidaknya 2 muridNya berasal dari sana yaitu Simon Zelot dan Yudas Iskariot. Kemungkinan besar sosok Barabas yang menjadi tawanan Romawi karena ulah pemberontakannya dan dibebaskan oleh Pilatus karena jasa Yesus adalah seorang Zelot juga. Mengenai sikap orang Zelot yang terlalu ekstrim dan mengandalkan kekuatan bersenjata ini ditanggapi oleh Yesus dengan sikapnya yang lemah lembut dan damai ketika memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai dan bukan kuda perang berikut senjatanya seperti harapan mereka.

Ajaran-ajarannya:
Manusia hanya dapat menikmati kebahagiaan di dalam suatu kerajaan yang dibangun oleh bangsa Yahudi. Kerajaan Romawi yang menjajah Yahudi adalah kerajaan duniawi yang jahat dan buruk yang telah rusak oleh dosa. Karenanya mereka harus memperjuangkan datangnya kerajaan Allah. Kekecewaan orang Zelot terhadap Yesus yang disebut Mesias itu adalah karena menganggap bahwa Mesias yang akan datang itu adalah seorang panglima perang dengan kebijaksanaan dan kekuatan militernya yang akan membangun kerajaan Allah di bumi ini. Untuk itulah demi mengobati kekecewaannya, Yudas Iskariot menjual Yesus dengan 30 keping perak kepada orang Kayafas.

Dahulu, Kristen adalah juga bagian dari sekte Yudaisme karena selain ajarannya banyak mengacu kepada Taurat juga perkembangan awalnya bermula dari tanah Israel. Namun berkat perkembangan dan penyebaran yang cukup signifikan pada masa misionaris St. Paulus dan juga St. Petrus ke Roma, kemudian St. Thomas ke India, akhirnya Kristen tidak saja berlaku untuk orang Yahudi melainkan non Yahudi. Maka Kristen akhirnya berhasil memisahkan diri dari jenis sekte Yudaisme dan berkembang dalam agama baru yaitu agama Kristen. Itulah sebabnya di beberapa bagian ajaran Kristen juga ada yang mirip dengan ajaran Yudaisme. Hanya saja pusat ajaran Kristen sesungguhnya adalah berada pada diri Yesus Kristus.

Thursday, August 16, 2007

BELA AGAMA ATAU IMAN??

ORANG INDONESIA LEBIH MEMBELA
AGAMA DARIPADA IMAN


Ungkapan ini menjadi keprihatinan bersama beberapa awam Katolik dalam diskusi terfokus yang diadakan Gerbang untuk melihat rencana pengkajian RUU Kerukunan Umat Beragama oleh Komisi VI DPR RI.

Tino, seorang aktivis FAMRED, mengatakan bahwa sejak lahir seorang anak justru dikenalkan pada agama lebih dahulu daripada iman itu sendiri. Akibatnya penghayatan iman dalam diri orang itu tidak ada. Maka tidak heran, jika orang Indonesia lebih membela agamanya daripada nilai iman yang dihayatinya sendiri. Pernyataan ini didukung oleh semua peserta diskusi yang melihat bahwa agama hanyalah sebuah institusi yang mengandung banyak symbol dan cara-cara dalam menghayati iman itu sendiri. Bahwa inti dari agama itu adalah iman.

Melihat penghayatan agama yang lebih daripada iman itu sendiri justru telah memungkinkan terjadinya banyak konflik yang bersumber ataupun memakai otoritas agama. Setidaknya inilah yang mendasari Order Baru menempatkan isu SARA di tempat terlarang. Termasuk di dalamnya ide pembentukan RUU Kerukunan Antar Agama yang telah diajukan sejak 1996 oleh Tarmizi Taher.

Setelah 4 tahun ide ini tidak ditanggapi oleh semua agama karena RUU ini dirasa telah menyempitkan makna kerukunan social, Komisi VI justru memunculkan kembali ide pengkajiannya setelah melihat kondisi sosial politik di Indonesia. Kerusuhan-kerusuhan yang memakai otoritas agama telah menjadi pendorong utama upaya pengkajian ini.

Namun, seperti yang telah diungkap di atas, upaya ini menjadi percuma jika tetap pemahaman iman tidak ada. “Bahkan dengan pemahaman ini, RUU Kerukunan Antar Umat Beragama justru bisa menjadi penghambat hak asasi manusia dalam beragama/beriman”, ungkap Bambang. Setidaknya hal ini terjadi di beberapa produk hukum lainnya. Ketika ada 3 bentuk hukum (positif, agama, dan adat), hukum positif inilah yang justru menjadi penentu dan penghambat hukum-hukum lain. Padahal dalam setiap komunitas, masyarakat memiliki hukumnya sendiri yang disebut hukum agama dan adat. Hendaknyalah hukum positif mengadopsi hukum-hukum tersebut agar persinggungan yang terjadi tidak keras dan tetap bertujuan membentuk masyarakat damai. Sedangkan yang terjadi justru hukum positif mengatasi kedua hukum ini. Seperti yang terjadi pada HPH (Hak Penggunaan Hutan), di mana tanah-tanah HPH secara adat diatur oleh hukum adat masyarakat setempat, namun hak masyarakat ini justru dilanggar oleh hukum positif yang dianggap lebih kuat karena produk Negara.

Jika melihat kasus di atas, maka RUU Kerukunan Antar Umat Beragama ini bisa mengakibatkan kasus yang mirip. Seperti yang sudah terjadi dengan SKB 3 mentri yang memerintahkan pembangunan rumah ibadah harus disetujui oleh masyarakat sekitar. Akibat dari peraturan ini justru makin memperlihatkan dan membedakan komunitas-komunitas antar agama. Sebagai contoh, jika RT 05 memiliki warga beragama Kristen lebih banyak daripada agama lainnya, maka gereja banyak didirikan di wilayah itu. Sementara diwilayah lain, yang terjadi sebaliknya. “Jika demikian, maka RUU Kerukunan Antar Umat Beragama tidaklah relevan mencegah atau mengatasi konflik yang mengatasnamakan agama”, jelas Eddy Juwono. Justru yang lebih relevan adalah hukum adapt atau hukum yang dibuat masyarakat bawah itu sendiri dalam mengatur kehidupan sosialnya. Secara politis akhirnya, RUU ini lebih digunakan oleh elit-elit politik untuk mengontrol masyarakat seperti yang selama ini terjadi.

Maka tentunya sekarang kita perlu bertanya lagi, perlukah RUU Kerukunan Umat Beragama jika kita sendiri sudah mampu mengimani kehidupan ke-Katolikan kita? Masih perlukah RUU Kerukunan Umat Beragama jika kita sudah mampu mengimani manusia lain, tanpa pandang bulu, sebagai penjelmaan Kristus sendiri? Tapi tentunya yang terpenting adalah, apakah kita sendiri sudah menghayati iman Kristiani itu sendiri, atau kita masih menanggap beragama tidak sama dengan beriman? (Ren)

Wednesday, August 01, 2007

TUHAN, IJINKAN AKU SELINGKUH

Intensitas pertemuan yang kelewat sering, kebanyakan sharing, cur-hat, chatting, hingga mencoba-coba adalah pemicu selingkuh. Selingkuh bisa muncul karena adanya ketidakpuasan yang disembunyikan, ketidakcocokkan yang dipaksakan, atau kepura-puraan yang sengaja dibentuk. Ini pola umum orang yang berselingkuh. Maka orang yang mau berselingkuh cenderung membuat gara-gara agar terkesan tidak ada yang cocok lagi atau kalaupun main kucing-kucingan pasti ada yang ngga beres, entah orangnya atau pikirannya.

Suatu ketika di kawasan perkantoran yang lumayan rame, di mana semua orang dari berbagai perusahaan punya kesempatan untuk saling bertemu entah di kantin, di lift, atau di mall terdekat. Nah, di sinilah aku mulai tergoda sama makhluk aneh yang namanya cewe. Mulai dari satu lift, pertemuan tanpa disengaja, mulai lirik melirik, hingga curi-curi pandang. Cuma satu ngga mau mulai dilakukan, memulai berkenalan, tukar menukar no HP, chatting, hingga janjian. Wouw! Bukan aku ngga berani, tapi ada pepatah yang bilang, orang main api akan terbakar, orang main air akan basah... lalu kalau aku mau selingkuh akan apa donk...?

Beruntunglah aku punya isteri yang tetap cantik dan setia. Masak dia yang tetap setia saja aku malah mengkhianatinya. Entah bagaimana orang lain yang tidak sebahagia aku yach...? Semoga imannya tetap kuat demi membangun kesetiaan.

Tuhan, ijinkan aku selingkuh...! Semoga bukan kata-kata seperti ini dalam doaku kelak. (Wise banget yach aku ini... seperti orang yang pinter omong tapi goblok dalam bertindak) Karena mungkin godaan itu belum datang dengan serius aja!

Friday, December 01, 2006

MALL BAIT ALLAH

Masih ingat kisah Yesus mengobrak abrik para pedagang di Bait Allah di kota Yerusalem? Kisah ini bukan isapan jempol. Ini benar-benar terjadi pada 2000 tahun yang lalu. Kisah ini merupakan babak awal menjelang masa-masa penganiayaan terhadap Yesus di mana ketika Dia memasuki kota Yerusalem, banyak umat Israel mengelu-elukan Dia dengan suara nyaring : “Hosana! Anak Daud!” sambil menggelar daun-daun palma di sepanjang jalan yang akan dilewati Yesus hingga memasuki kota Yerusalem.

Di kota inilah Dia melihat kejanggalan yang nyata-nyata terjadi di depan mataNya di mana Bait Allah, yang menurut Kitab Yesaya 56:7 sebagai rumah doa bagi bangsa-bangsa, telah berubah menjadi tempat orang berdagang. Situasi ini mungkin sangat mirip dengan pasar induk Kramat Jati atau kalau ingin agak lebih 'resikan' sedikit ya.. seperti mall-mall yang banyak muncul di Jakarta. Bisa dibayangkan betapa rumah doa yang seharusnya lebih sakral itu berubah menjadi benar-benar profan. Lalu pertanyaannya, suasana doa yang seperti apa jika rumahnya penuh hiruk pikuk tanpa sedikitpun menghormati nilai sakral yang dibangun sebagai suatu rumah doa? Maka aku setuju jika Yesus mengobrak abrik barang dagangan mereka tanpa harus mengganti uang sesenpun.

Entah kebiasaan jelek manusia itu memang dari dulu ngga bisa berubah atau karena alasan tersendiri sehingga kisah yang sama bisa terulang kembali di rumah-rumah doa hingga jaman ini. Ngga mesjid, ngga gereja, kalau letaknya memiliki nilai ekonomis, pagelaran barang-barang jualan hampir dipastikan muncul dengan sendirinya. Beruntung jika pagelaran itu tidak mengganggu jalannya ritual doa sehingga tetap exis setelah ritual doa selesai dan kemudian mulai dengan ritual yang baru yaitu tawar menawar barang dagangan.

Ada yang lebih gila lagi dan ini benar-benar terjadi di suatu gereja Katolik di pinggiran selatan Jakarta di mana orang bisa-bisanya jualan barang disela-sela ritual doa. Dengan mengatasnamakan pencarian dana untuk kegiatan Gereja, jualan di dalam saat suasana yang seharusnya sakral itu bisa-bisanya terlaksana tanpa sedikitpun merasa berdosa. Kristus benar-benar teraniaya dengan terobrak abriknya suasana sakral yang menjadi seperti pertunjukkan sebuah konser kecil. Apakah ini wujud balas dendam manusia ketika dagangannya diobrak-abrik Yesus di Bait Allah kini mereka balas mengobrak-abrik suasana sakral dengan barang-barang dagangannya. Luar biasa! Tapi aku malah ngga bisa bicara apa-apa.
“Ah... tahi kucinglah semuanya itu! Aku mau berdoa tapi bukan dengan tahi kucing seperti ini!”

Aku benar-benar masih gamang menyaksikan semua yang terjadi. Aku jadi ragu sekarang, jangan-jangan akupun pernah melakukan hal yang aku sebut tahi kucing itu tadi. Mungkin aku tidak berdagang di sana tetapi telah menjadi bagian dalam suasana pasar atau mall. Mengapa aku jadi lupa ketika misa aku memakai kaos super ketat yang menampilkan lekukan buah dada dan ujung puting yang tersamar di baliknya. Atau bisa jadi dua bulan yang lalu aku pernah pake celana ketat yang kalau berlutut celana dalam merk Amway warna merah muda terlihat dengan jelas. Pernah juga sih aku membawa keponakanku masuk dalam misa dengan membawa balon dan sebungkus chicky serta minuman aqua.

Ah kenapa harus jadi orang sok suci.
Biarkan saja itu terjadi.
Itulah mengapa aku tidak bisa bicara apa-apa ketika orang mulai berjualan saat misa berlangsung, karena akupun sering memperlakukan Bait Allah ini layaknya mall-mall yang sering aku singgahi.

Mall Bait Allah ..hm..m... nama yang bagus. Lalu ke mana aku harus mencari Tuhan jika semua tempat sudah menjadi sarang penyamun?

Tuesday, November 21, 2006

DALANG KEMATIAN YESUS ITU ADALAH YUSUF bin KAYAFAS

Siapa yang tidak kenal dengan nama Kayafas. Dia yang bernama lengkap Yusuf bin Kayafas adalah tokoh agama sekaligus provokator utama demonstrasi di depan istana Pontius Pilatus saat terjadinya pengadilan Yesus. Kitab suci mencatat bahwa berkat kelicikannya mampu memutarbalikkan fakta di depan Pontius Pilatus membuat ribuan orang Israel yang sehari sebelumnya mengelu-elukan Yesus berbalik 180% mengecamNya bahkan menuntut hukuman mati. Seseorang tanpa dibekali keahlian di bidang politik tidak akan mampu meng-hipnotis massa sedemikian hebatnya untuk mendukung rencana politiknya.

Siapa Kayafas ini?
Dari banyak nama yang muncul sekitar menjelang kematian Kristus, Kayafas, yang saat itu menjabat sebagai Imam Agung, menjadi tokoh sentralnya. Dari penangkapan hingga penyaliban Kristus, Kayafaslah otak provokator yang banyak memainkan peran strategis politik dan agama demi tujuan pribadinya.

Kayafas pertama kali disebut dalam PB terdapat dalam Injil Lukas 3:2, ketika itu Yohanes Pembaptis memulai pekerjaannya. Dalam kutipan Injil itu disebutkan bahwa Hanas dan Kayafas adalah seorang Imam Agung.

Sejarah Israel mencatat bahwa Kayafas diangkat menjadi Imam Agung oleh Prokurator Valerius Gratus pada tahun 18 – 36M.

Sayangnya Kitab Suci tidak menjelaskan siapa dan dari suku mana Kayafas ini berasal. Namun jika melihat perkembangan jabatan Imam Agung dan pengaruhnya yang kuat dalam Sanhedrin, nampaknya Kayafas berasal dari golongan orang Saduki.

Orang Saduki dalam Sanhedrin atau Mahkamah Agama pada zaman PB umumnya mempunyai pengaruh politik yang cukup kuat. Pimpinan Mahkamah Agama ini selalu berasal dari kalangan mereka. Berbeda dengan 2 golongan lain dalam Mahkamah Agama yaitu para tuan tanah dan para ahli kitab, orang Saduki ini memiliki kuasa religius dan mengontrol lebih banyak kursi di dewan.

Awal kebenciannya terhadap Yesus
Orang Saduki adalah salah satu dari empat sekte dalam Yudaisme yang memandang bahwa satu-satunya keselamatan yang mereka kenal adalah keselamatan berdasarkan komunitas bangsa. Mereka selalu mencurigai setiap nabi yang ajarannya memungkinkan perpecahan bangsa. Selain itu demi menjaga privilegi para imam yang mendatangkan keuntungan pribadi, mereka harus memegang erat Pentateukh.

Ajaran kaum Saduki ini banyak ditentang oleh Yesus, bukan karena mereka ahli agama tetapi karena pemahamannya tentang Kitab Suci sungguh menyesatkan banyak orang. Itulah kemudian mengapa orang Saduki begitu amat membenci Yesus saat Yesus benar-benar menyebut kaum Saduki ini adalah sesat (Mark 12 : 24). Ditambah lagi usaha-usaha Kaum Saduki untuk menciptakan opini public yang jelek terhadap Yesus selalu kandas (Mat 22:34) membuat mereka harus bermain kasar untuk mencundangi Yesus (Mark 14:1-2).

Siapakah yang tidak resah dengan munculnya Yesus pada zaman itu jikalau bukan Kayafas, orang yang paling bertanggung jawab terhadap kemurnian jabatan imam-imam agama manakala eksistensinya diremehkan oleh Yesus.

Karena tanggung jawab inilah maka berbagai usaha dilakukan untuk menghadang sepak terjang Yesus. Permainan politis begitu kentara dilakukan Kayafas ini dari cara halus hingga kasar. Lihatlah contoh berikut ini :

- meminta tanda dari surga agar percaya (Mat 16 : 1)
- berdebat soal ajaran agama (Mat 22:23)
- mempertanyakan kuasa Yesus (Mat 21 :23)
- usaha membunuh Yesus (Mark 14 :1-2)
- memfitnah Yesus (Mat 26 :59)
- menghasut orang Israel untuk membunuh Yesus (Mat 27:20)

Apa motivasi Kayafas membunuh Yesus?
Jabatan Imam Besar dalam agama Yudaisme memiliki peranan strategis pada jaman itu. Jabatan ini memungkinkan seseorang bisa hidup nyaman, ekonomi terjamin, dan derajat hidup lumayan terpandang. Dari unsur politis, jabatan ini juga memiliki peranan mengatur orang banyak dalam satu tradisi agama sehingga kadang pemerintahan kurator Romawi sangat mengandalkan wibawa imam agama jika situasi jajahannya tidak terkendali. Maka lengkaplah sudah bahwa jabatan imam-imam agama dalam masyarakat Yahudi saat itu sangat kental dengan nuansa politis. Siapakah yang tidak menginginkan posisi ini saat suatu bangsa sedang tercengkram oleh panjajahan Romawi?

Kehadiran Yesus dengan ajaranNya yang cukup kontroversi, menurut mereka, benar-benar mengancam posisi imam-imam agama. Terlepas apakah mereka secara murni memang benar-benar tulus mempertahankan tradisi Saduki dengan banyak melakukan pertentangan terhadap Yesus, namun berkat daya kritis Yesus terhadap perilaku mereka nampaknya sudah mengancam eksistensi imam-imam agama dari segi ekonomi. Sebab seandainya kritik-kritik Yesus yang 100% benar saat itu didiamkan saja dan orang Yahudi berbalik mengikuti Yesus, darimana lagi sumber kemakmuran yang mereka dapatkan kelak?

Inilah mengapa Kayafas mati-matian mengejar Yesus hingga ke tiang penyaliban yang sesungguhnya tidak hanya masalah perbedaan ajaran tetapi lebih kepada motif politis yang berhubungan dengan sisi ekonomi dan gengsi jabatan atau elite. Jelaslah bahwa kematian Yesus itu berlatar belakang politis.
Saya sedang tidak menggugat Tuhan atas skenario yang terjadi pada akhir perjalanan Kristus di dunia, tetapi saya hanya ingin melihat sisi lain yang terlupakan oleh kita bahwa setiap jengkal peristiwa pasti memiliki latar belakangnya. Tuhan memang sudah menggariskan setiap peristiwa dalam catatanNya dan kita hanya perlu merefleksikan prosesnya. Jadi, siapa yang bertanggung jawab atas kematian Kristus ini, yang jelas Yusuf bin Kayafas, seorang imam agung Yahudi. Mari sekarang kita refleksikan kejadian-kejadian serupa di Indonesia. Apakah kejadian-kejadian yang sering muncul di tengah masyarakat kita ini sama seperti pengalaman Yesus terhadap Kayafas? Ada dua peran yang bisa kita mainkan pada perjalanan hidup ini, menjadi Kayafas atau Yesus?

Tuesday, November 14, 2006

PIDATO 'NYLENEH' PRESIDEN AMERIKA

Ngga sengaja aku menemukan sebuah catatan pidato presiden Adidaya yang menurutku 'nyleneh' ini di salah satu miling list. Sepertinya memang 100% lelucon tetapi lumayanlah cukup bisa dijadikan alat untuk menyindir kita yang dari dulu memang ngga mau maju-maju.
Berikut petikannya :

Pidato Presiden Amerika
Sifat : Rahasia
Waktu : Rahasia
Tempat : Rahasia
Sumber : Rahasia juga he..he..he

Kepada yang terhormat Direktur CIA, FBI, Direktur Bank Dunia, ADB, IMF, CEO Haliburton, Exxon Mobil, Freeport, Bankir-bankir Internasional, dan semua yang telah membantu kami membiayai perang Irak, Afganistan, serta menyebarluaskan kakuasaan Imperium global, Direktur media dan televisi CNN, ABC, NBC, yang telah membantu propaganda kita, kami ucapkan terima kasih.

Hari ini adalah hari yang sangat penting karena pada hari ini saya akan melaporkan keadaan Indonesia, negeri yang penduduknya besar, yang dulu kita takuti itu, sekarang sama sekali tak berdaya di hadapan kita.

Pemimpin Indonesia ketika jaman Kenedy dulu sangat kita ( USA ) takuti, dengan semboyan Trisaktinya:
1) Berdaulat Secara Politik,
2) Mandiri secara Ekonomi,
3) Berkepribadian Kebangsaan & Berkebudayaan.

Semboyan itu sangat membakar semangat rakyat Indonesia kala itu. Bahkan, apabila Trisakti itu jika diteruskan di Indonesia dan menyebar kebelahan dunia dan jika itu dijalankan, wah.... kita yang menganut paham Kapitalis Liberal AKAN GULUNG TIKAR di dunia ini. Ingat, lahan kita ada di 3 Benua, Asia , Afrika, Amerika Selatan ( Latin), jadi jangan biarkan mereka bersatu.

Tapi, kini, tak ada satupun yang perlu kita takutkan dari negeri itu. Laporan Intelejen mengatakan bahwa tak ada satupun bahaya potensial yang akan menggangu kepentingan kita di Indonesia.

Kita tidak perlu takut kepada angkatan bersenjata mereka, karena senjata yang mereka gunakan adalah kiriman dari negeri kita. Lihatlah, ketika kita jatuhkan embargo senjata, tentara-tentara mereka seperti maung ompong.

Yang lebih lucu lagi kemarin Presidennya sendiri yang memelas pada kita untuk menghentikan embargo itu. Kasihan-kasihan….

Saat ini di Indonesia sesuai rencana kita yang dulu... Pemimpinnya bisa kita kemudikan...Meski kita juga glontorkan US Dolar..., yang nggak masalah, hanya beberapa ratus juta US dolar saja, dengan modal sekecil itu, kita bisa keruk semua Sumber Daya Alam Utamanya dan Pasar yang empuk bagi produk-produk kita, lewat WTO operator kita. Nota kita yang lewat IMF dipatuhi. Naikkan BBM dalam 1 tahun 2 kali, Impor Beras, Freport di Timika berhasil, Exxon Mobil di Blok Cepu, beres.

Tak perlu takut pada generasi mudanya, rupanya faham materialisme, budaya konsumtif, hedonisme, individualisme, yang kita ajarkan itu lewat iklan-iklan kita, tayangan-tanyangan televisi kita, film-film kita, propaganda-propaganda kita sudah tertanam pada hati dan pikiran sebagian besar dari mereka. Jangankan untuk memikirkan negeri atau umatnya lebih-lebih agamanya, kini mereka hanya memikirkan kesenangan diri mereka sendiri. Bayangkan saja, negara semiskin itu penduduknya menempati urutan tertinggi dalam urusan berbelanja baju ke Singapura, mengalahkan Jepang , Australia , dan Cina sekalipun.

Tak perlu takut tentang pelajar-pelajarnya, karena mahasiswa-mahasiswa terbaiknya selalu kita rekrut dan kita pekerjakan di perusahaan-perusahaan minyak atau tambang kita, dan kita menyuap mereka dengan gaji yang besarnya sama dengan loper koran di negeri kita, Bayangkan, orang-orang terbaiknya sudah kita rekrut.

Tak perlu takut kepada pemimpin politik dan pejabatnya, karena sebagian besar dari mereka adalah orang yang gila jabatan dan sangat mudah untuk disuap. Demi untuk uang dan jabatan, mereka bisa kita minta untuk melakukan apa saja sesuai keinginan kita.

Tunggu, tunggu, ada kabar yang lebih menggembirakan lagi. Menurut laporan Intelejen yang saya terima, bahwa rakyat di sana telah terkotak-kotak menjadi banyak kelompok dan golongan. Di sana banyak menjamur ormas-ormas yang berbasis golongan maupun kesukuan yang bergerak seperti milisi-milisi. Tiap-tiap kelompok menjatuhkan yang lain dan mengganggap kelompoknya yang lebih baik dari yang lain, ada bibit kebencian yang besar di antara mereka yang dapat kita manfaatkan. Sangat mudah bagi Intelejen kita yangberpengalaman untuk mengadu domba di antara mereka.

Oh ya, Indonesia juga sudah banyak yang lupa akan Pancasila. Apalagi mereka tidak gunakan Pancasila 1 Juni 1945. Generasi mudanyapun banyak yang nggak tahu, nggak hapal, apalagi roh Pancasila yang sebenarnya. Ya kita biarkan saja. Lebih lebih, operasi inteljen kita telah masuk ke intelektual Indonesia untuk mengeser Pancasila dengan Idiologi lain, idiologi yang mengatasnamakan golongan atau mayoritas tertentu. Pokoknya Inteljen kita terus bergerak dengan halus sehalus kain Sutra. Mereka itu intelektual tapi keblinger.

Mereka tidak sadar jika mengganti ideologi selain Pancasila, sebetulnya akan lebih menguntungkan kita, Amerika, dan kita akan semakin obok-obok lagi. Mereka juga tidak sadar bahwa kita mesti akui, Pancasila adalah proses galian yang memang sudah ada dari nenek Moyangnya dalam kehidupan sosial masyarakat yang beradab yang kita mesti acungkan jempol, apalagi itu bisa menyatukan Indonesia yang beragam agama, beragam suku, beragam etnis budaya, beribu-ribu pulau...

Yang perlu kita perhatikan, di Indonesia Pemerintahan Nasionalis sudah tidak memegang. Yang komitment dengan Nasionalis, ditinggal sendirian. Ada yang sebut Nasionalis tapi hanya mencatut nama, cenderung pragmatis, ya nggak apa, yang model itu yang mesti kita pelihara.

Kita mesti Ingat, dan ingat betul, Indonesia akan menjadi kuat dan kuat bila Pemerintahan dan Partai Politiknya dipegang oleh kaum Nasionalis yang notabene pasti akan menjaga dan mengamankan Pancasila habis-habisan. Intinya, bagaimana kita, negara Amerika, bisa mempengaruhi rakyatnya untuk mendukung kelompok atau partai yang berbasis golongan maupun sektarian agar kita mudah menyetirnya lagi.

Utang mereka sudah sangat besar dan hampir mustahil bisa mereka bayar. 22% APBN mereka habis untuk membayar utang kepada kita, sehingga mengurangi anggaran pendidikan mereka, kesehatan mereka, dan pelayanan sosial mereka. Sehingga di negeri itu banyak penduduknya yang kelaparan, miskin, sakit dan tak mampu berobat, ini merupakan keuntungan bagi kita. Karena semakin lama jika kondisi tidak berubah, maka akan tercipta generasi yang lemah dari negeri itu. Yang tidak akan mampu melawan kita, seperti yang selama ini kita harapkan.

Kekayaan negeri mereka hampir semuanya kita kuasai, lebih dari 96 % ladang minyak mereka telah kita miliki, tambang batu-bara, tembaga, emas, yang beroperasi di negeri itu hampir semuanya adalah milik kita. Lebih dari itu, minuman-minuman, makanan-makanan, buku-buku, walau banyak yang mengcopy, komputer-komputer, software-soffware mereka, walau banyak yang membajak, bahkan odol dan sabun yang mereka gunakan adalah produksi perusahaan-perusahaan kita.

Indonesia merupakan ladang dollar kita yang harus tetap kita pertahankan bagaimanapun caranya. 200 juta lebih penduduk negeri itu merupakan konsumen bagi produk-produk perusahaan kita. Singkat kata, Indonesia telah kalah dari kita, baik dari segi ekonomi, militer, politik, budaya, teknologi, dan lain-lain. Untuk menjaga agar kondisi ini tetap berlangsung, maka saya sarankan agar lebih mengefektifkan promosi budaya konsumtif dan hedonisme kepada mereka.

Kepada agen-agen CIA, agar memecah belah rakyat Indonesia, tebarkan kecurigaan dan fitnah di antara mereka, biar mereka terus berkelahi dan tidak punya waktu untuk melawan imperialisme kita, terus rekrut generasi muda terbaiknya agar bekerja untuk perusahaan-perusaha an kita, sehingga tidak akan banyak gerakan yang menentang kita.

Sebelum mengakhiri pidato ini, saya ucapkan terima kasih atas kerjasama yang luar biasa ini, kepada seluruh pihak yang telah ikut serta membantu usaha kita, perusahaan-perusahaan multinasional, televisi dan media massa, Bank Dunia, IMF, CGI, Negara-Negara sekutu, Economic Hit Man, Mafia Berkeley, dan yang terhormat pejabat korup Indonesia .

Sekian dan terima kasih.
President USA

Wednesday, November 01, 2006

KEMATIAN TIBO (TERNYATA) SIA-SIA BELAKA

Entah mengapa setelah peristiwa eksekusi mati Fabianus Tibo, Dominggus da Silva dan Marinus Riwu yang kontroversial itu benar-benar dilaksanakan pada Jumat dini hari tanggal 22 September 2006, aku jadi lebih banyak menyimak berita-berita tentang kota Poso. Mau dari mana berita itu dilansir, entah televisi, koran, radio atau media internet, semua kucermati perkembangannya. Harus kuakui bahwa meskipun berita-berita yang dilansir itu belum tentu sedetil peristiwa yang sebenarnya tetapi paling tidak flot-flot lelakon perang saudara ini masih bisa kusambung-sambung hingga menjadi sebuah cerita kelabu untuk anak-anakku kelak.

Ibarat drama berseri, aku benar-benar ingin mengetahui jalan cerita berikutnya pasca eksekusi mati Tibo cs. Setidaknya apakah lelakon itu mampu mendukung putusan vonis mati sebuah pengadilan Indonesia yang salus populi suprema lex atau malah Summum isu summa inuria.

Pasca eksekusi mati itu, Poso menjadi tidak karu-karuan, katanya pelaku utamanya sudah disingkirkan tetapi kenapa tidak juga berubah. Lalu siapa sebenarnya biang kerok ini semua? Kalau aku jadi presiden, aku akan berpikir ulang untuk menolak grasi atas putusan mati Tibo sebab semua jelas-jelas seperti drama berseri yang entah siapa sutradara dan actor utamanya sehingga pintar membuat ‘blur’ warna-warna yang membuat kita sulit mencerna jalan cerita ini.

Katakanlah bahwa hukum akan memberikan atau menimbulkan efek jera. Namun efek jera yang diharapkan saja tidak mampu membungkam sulutan kelompok masyarakat tertentu untuk tetap membuat pesta kembang api. Poso malah jadi ‘bancaan’ konflik kepentingan. Wilayah konflik yang semula pecah masyarakat vs masyakat kini berubah menjadi masyarakat vs aparat (Negara). Yang menggila lagi adalah ancaman sekelompok masyarakat tertentu yang akan melumpuhkan perekonomian Poso jika aparat tidak ditarik mundur.

Poso, entah sampai kapan kamu bisa tidur nyenyak tanpa ada suara bising yang sumbang, tanpa pesta kembang api yang berdarah-darah.

Aku jadi termenung dengan peristiwa ini. Kematian sia-sia Tibo cs tidak menimbulkan dampak positif sedikitpun terhadap perdamaian Poso. Ini berarti kematian sia-sia Tibo adalah kesia-siaan mutu hukum Indonesia yang ‘katanya’ adil itu. Semoga hukum di negeri ini tidak mengulangi lagi kesia-siaan yang konyol - Summum isu summa inuria

Monday, September 25, 2006

TIBO DAN KISAH SENGSARA ANAK MUDA

Lama aku memahami kisah Tibo ini. Seorang pendatang dari Flores yang mencoba mengadu nasib di tanah seberang di Poso, Sulawesi akhirnya harus menanggung mati yang bukan karena kesalahannya sendiri. Kasus yang dialaminya memang sangat kental berbau politis, sementara dirinya tidak pernah tahu mengapa perlakuan terhadapnya begitu menjadi yang utama sebagai pelaku pembantaian massa.

Pengadilan 'ecek-ecek' akhirnya membawanya ke tiang pembantaian resmi meski berbagai upaya mencari keadilan terus digemakan namun sudah tertutup. Ini benar-benar 'kartu mati' yang tidak bisa diubah sedikitpun meski itu ditangan penguasa sekalipun. 'Sandiwara' itu sudah membuat akhir cerita di mana mengharuskan pelaku mati di ujung peluru. Flot cerita boleh maju boleh juga mundur yang penting harus berakhir seperti itu.

Duh! Aku kini benar-benar kesulitan membedakan mana Tuhan dan mana manusia.

Tibo mungkin bukan orang pertama yang teraniaya karena tindakan ketidakadilan entah dari penguasa atau sesamanya. Tetapi kisah Tibo ini seakan memutar ulang kenangan pahit yang telah terjadi ribuan tahun yang lalu ketika seorang muda yang penuh bijak, dia tidak terkenal dalam dunia politik harus mati demi politik. Lagi-lagi hebatnya sinergi antara agama dengan kekuasaan mampu menciptakan bentuk ketidakadilan bagi manusia. Saat itu yang namanya konflik entah agama atau apapun bisa menjadi momok yang menakutkan bagi sekelompok orang yang sudah 'kadung' ayem diam dalam kesejukan doktrin. Merasa bahwa akan ada 'bangsat' di bangkunya maka yang ada di kepalanya adalah harus segera dilakukan pembersihan. Pengadilan rekayasapun digelar yang harus menghasilkan suatu hukuman mati. Dan anak muda yang penuh bijak, yang oleh sesamanya di bilang 'bangsat' itu dikorbankan dihadapan penguasa dan mati mengenaskan di tiang salib.

Kisah Tibo ini mau tidak mau, suka tidak suka, membentuk generalisasi berpikir bahwa sejarah suram masa lalu masih terus terulang dan terulang dari zaman ke zaman. Lepas dari orang mau bicara bahwa semuanya itu sudah menjadi garis hidup yang harus terjadi dan dijadikan oleh si pemberi hidup, tetapi kedua kisah yang berlainan zaman itu benar-benar saling mengulang kisah yang sama.

sama-sama orang kecil yang tidak terkenal,
sama-sama mengalami pengadilan 'ecek-ecek'
sama-sama korban keserakahan dan kekuasaaan,
sama-sama tak berdaya di hadapan penguasa,
sama-sama menjadi korban politik
dan sama-sama harus mati demi hukum

Bedanya ......
Anak muda berumur 33 tahun dan berjenggot itu mampu mengalahkan kematian dengan kebangkitannya dari kubur yang membuat namanya tetap dikagumi manusia sejagad ini. Tetapi Tibo, si petani tua ini, gaung-gaung setelah kematiannya semakin lama semakin hilang