Injil tentang membayar pajak kepada Kaisar sering dikutip pada setiap perayaan 17 Agustusan. Orang kagum pada kejelian Yesus menghindarkan diri dari jebakan kaum Farisi. Jika Ia menjawab bahwa kepada kaisar orang boleh membayar pajak, maka Ia dianggap melawan hukum Taurat yang mengajarkan bahwa hanya kepada Allah orang boleh menjalankan kewajibannya. Tetapi jika Ia mengatakan tidak boleh membayar pajak kepada kaisar maka Ia berhadapan dengan penguasa Romawi. Karena itu Yesus secara diplomatis menjawab, ”berikan kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.”
Jika merenung lebih jauh, kita akan menemukan betapa ironisnya pemisahan kekuasaan yang tidak berimbang itu. Berapa sih kekuasaan seorang kaisar? Dan apakah kewajiban kita terhadap kaisar sama pentingnya dengan kewajiban kita kepada Allah? Seorang kaisar membuat mata uang dengan gambar dirinya sebagai penguasa wilayah di mana uang itu berlaku. Suatu keterbatasan teritorial yang langsung menunjukkan betapa kecilnya kekuasaan seorang penguasa dunia. Kaisar bisa membeli kekuasaan tetapi tidak sanggup membayar kehormatan. Sebaliknya kekuasaan Allah melampaui segalanya dan dihormati di mana-mana. Dan Allah tidak perlu membeli semuanya itu.
Maka, perayaan 17 Agustusan menjadi moment untuk meletakkan kekuasaan Allah pada tempatnya. Dewasa ini manusia merasa lebih berkuasa dari Tuhan. Kewajiban-kewajiban kita terhadap Tuhan menjadi longgar. Kita lebih takut pada atasan yang menjadi kaisar atas hidup kita, yang kita diamkan tindakan korupsinya karena takut kehilangan pekerjaan. Kita lupa bahwa utang budi kita pada Allah jauh lebih besar melebihi pimpinan di kantor. Pajak hutang budi kita menumpuk-numpuk, karena kita lupa membayarnya. Lupa membayar rekening udara, matahari, hujan, musim, dan hal-hal baik lain yang kita alami dari Tuhan.
Mungkin kita berpikir bahwa Allah Mahabaik tak pernah menuntut balas jasa. Tapi apakah kita tidak tersinggung ketika orang mengatakan bahwa kita adalah orang yang tak tahu berterima kasih? Cara kita berterima kasih kepada Allah adalah dengan mengurus tanah air kita secara baik-baik. Kita tidak ingin merusaknya dengan eksploitasi yang tidak ”berperikemanusiaan, tidak berperi kebinatangan, tidak berperikelingkungan”. Namun dari hasil yang kita lihat, tanah air kita semakin merana. Ini bukanlah karena rakyatnya tidak pernah membayar pajak kepada kaisar tetapi karena kaisar telah memakan uang pajak rakyatnya.
Bukti bahwa kaisar telah memakan uang pajak dapat kita lihat dari maraknya pejabat yang korup dan merosotnya tingkat kemakmuran rakyat. Bencana datang silih berganti. Kita telah memberi kuasa penuh kepada para pimpinan negara ini, tetapi tak ada yang becus mengurus rakyatnya. Kita menjadi seperti anak ayam yang mati di lumbung padi.
(SVD Jakarta)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 komentar:
Post a Comment