Wednesday, November 01, 2006

KEMATIAN TIBO (TERNYATA) SIA-SIA BELAKA

Entah mengapa setelah peristiwa eksekusi mati Fabianus Tibo, Dominggus da Silva dan Marinus Riwu yang kontroversial itu benar-benar dilaksanakan pada Jumat dini hari tanggal 22 September 2006, aku jadi lebih banyak menyimak berita-berita tentang kota Poso. Mau dari mana berita itu dilansir, entah televisi, koran, radio atau media internet, semua kucermati perkembangannya. Harus kuakui bahwa meskipun berita-berita yang dilansir itu belum tentu sedetil peristiwa yang sebenarnya tetapi paling tidak flot-flot lelakon perang saudara ini masih bisa kusambung-sambung hingga menjadi sebuah cerita kelabu untuk anak-anakku kelak.

Ibarat drama berseri, aku benar-benar ingin mengetahui jalan cerita berikutnya pasca eksekusi mati Tibo cs. Setidaknya apakah lelakon itu mampu mendukung putusan vonis mati sebuah pengadilan Indonesia yang salus populi suprema lex atau malah Summum isu summa inuria.

Pasca eksekusi mati itu, Poso menjadi tidak karu-karuan, katanya pelaku utamanya sudah disingkirkan tetapi kenapa tidak juga berubah. Lalu siapa sebenarnya biang kerok ini semua? Kalau aku jadi presiden, aku akan berpikir ulang untuk menolak grasi atas putusan mati Tibo sebab semua jelas-jelas seperti drama berseri yang entah siapa sutradara dan actor utamanya sehingga pintar membuat ‘blur’ warna-warna yang membuat kita sulit mencerna jalan cerita ini.

Katakanlah bahwa hukum akan memberikan atau menimbulkan efek jera. Namun efek jera yang diharapkan saja tidak mampu membungkam sulutan kelompok masyarakat tertentu untuk tetap membuat pesta kembang api. Poso malah jadi ‘bancaan’ konflik kepentingan. Wilayah konflik yang semula pecah masyarakat vs masyakat kini berubah menjadi masyarakat vs aparat (Negara). Yang menggila lagi adalah ancaman sekelompok masyarakat tertentu yang akan melumpuhkan perekonomian Poso jika aparat tidak ditarik mundur.

Poso, entah sampai kapan kamu bisa tidur nyenyak tanpa ada suara bising yang sumbang, tanpa pesta kembang api yang berdarah-darah.

Aku jadi termenung dengan peristiwa ini. Kematian sia-sia Tibo cs tidak menimbulkan dampak positif sedikitpun terhadap perdamaian Poso. Ini berarti kematian sia-sia Tibo adalah kesia-siaan mutu hukum Indonesia yang ‘katanya’ adil itu. Semoga hukum di negeri ini tidak mengulangi lagi kesia-siaan yang konyol - Summum isu summa inuria

0 komentar: