Thursday, August 23, 2007
Suatu ketika di sebuah chat room ada sebuah percakapan. Ini aku copy paste dari aslinya
My friend : kamu paroki mana?
Jeng : Paroki St. Mikael..njenengan?
My friend : aku di St. Anna
Jeng : kalo misa yang jam berapa pak
My friend : aku mah jarang misa, biasanya diwakili anak istri
Jeng : kenapa? Minggu, kerja juga?
My friend : udahlah...biar gereja ga sesak
Jeng : gak sesak juga kok. Yang sesak itu malah mall je, pak
My friend : heheheh sibuk n capek
Jeng : nyari duit..gak cape..nyari Tuhan kog cape ya..
My friend : @#$!%!
Ini mungkin saja merupakan percakapan yang sangat biasa atau karena sudah menjadi kebiasaan maka akhirnya jadi biasa-biasa saja. Dan bukan tidak mungkin itu juga terjadi pada kita yang setiap hari dari Senin hingga Jumat kerja keras selama 8 jam lebih hanya demi uang yang akan kita dapat begitu angka 25 dalam tiap bulan sudah dipenghujung hari. Lalu terbayang betapa enaknya Sabtu dan Minggu bisa istirahat di rumah.
Konon katanya Tuhan memang sudah tidak bekerja lagi dalam arti mencipta ketika penciptaan dunia sudah terjadi. Entahlah jika Dia masih juga bekerja setiap hari hingga kini karena Dia bertanggung jawab terhadap ciptaanNya maka Dia bekerja untuk memeliharanya tanpa istirahat. Bahkan Dia tidak merasa lelah menunggu kita untuk hadir menjumpainya di mezbahNya dalam suasana yang penuh ceria penuh bakti.
Kenapa kita merasa capek pergi ke rumahNya sementara Dia tidak pernah lelah menunggu kita di mezbahNya, di rumahNya yang kudus. Contributor : Jeng Diana (Sunter)
Tuesday, August 21, 2007
DISKUSI RINGAN
Mengulas diskusi
KPKP-Jakarta dengan Romo Sandyawan Sumardi, SJ
MAKNA “MENGGEREJA”
Jika mendengar kata ‘menggereja’ umumnya kita berpikir bahwa aktivitas ini tidak jauh dari seputar altar. Menurut buku katekismus modern Gereja Katolik, hidup menggereja adalah hidup dalam persekutuan dengan sesama orang beriman sehingga terdapat saling menolong, mendukung dan mengisi. Dalam hal ini Gereja adalah umat beriman kepada Allah melalui Yesus Kristus dalam bimbingan Roh Kudus yang didirikan supaya mewujudkan Kerajaan Allah di dunia.
Setiap orang bisa saja mengartikan kata menggereja itu berdasarkan sudut pandangannya masing-masing tetapi tentu tidak menghilangkan kata kuncinya yaitu mewujudkan “Kerajaan Allah di dunia” karena memang ini yang menjadi tujuan utamanya.
Sandyawan Sumardi, seorang klerus dari Jesuit yang juga aktivis kemanusiaan di Indonesia, dalam diskusinya dengan KPKP-Jakarta, mengutarakan makna lain dari kata menggereja ini. Beliau mengatakan bahwa menggereja itu berarti mengaktualisasikan kehadiran Kristus di dunia. Bahkan dilontarkan pula makna menggereja ini secara lebih luas yaitu membuka komunikasi iman seluas mungkin agar semua orang bisa menjadi partner kita untuk bekerja sama dalam memperjuangkan Kerajaan Allah di dunia seperti yang diwartakan oleh Kristus. Sangat luas karena memberikan ruang yang tidak dibatasi oleh iman yang sama.
AKTIVITAS MENGGEREJA PADA UMUMNYA
Kegiatan menggereja umumnya dilandasi oleh 3 hal yaitu pewartaan, pengudusan dan pelayanan. Dan dalam sejarah Gereja, termasuk Gereja di Indonesia, ketiga hal ini tidak pernah lepas dalam setiap tugas Gereja dan dilakukan secara bersamaan. Maka tidak mengherankan jika Gereja mempunyai ‘trade mark’ sebagai pioneer sampai saat ini dan itu cukup diakui oleh pihak diluar Gereja. Yang namanya pelayanan apapun jenisnya jika berada di bawah pengawasan Gereja mendapat penilaian lebih di kalangan masyarakat.
Namun demikian, dalam situasi tertentu nampaknya kita cukup terlena dengan trade mark ini sehingga tugas menggereja, misalnya saja dalam hal pelayanan kemanusiaan, sayangnya tidak lagi mampu menyentuh essensial tugas kemanusiannya, di mana seharusnya manusia, dalam kesatuan dan keutuhan jiwa dan raganya, dengan hati serta nuraninya, dengan budi dan kehendaknya adalah poros segala kegiatan Gereja. Umumnya yang banyak terjadi saat ini adalah bahwa aktivitas pelayanan kemanusiaan muncul hanya karena sebatas legalitas saja. Banyak umat Kristen yang [sebenarnya] tahu mengenai kewajiban untuk saling menolong dengan saling menanggung beban, namun hanya menunggu sampai ada yang memulai atau ada perintah dari atas (hierarkhi). Padahal seharusnya tidaklah demikian. Terkadang unsur legalitas menjadi penghambat tindakan kemanusiaan yang semestinya menjadi bagian dari tugas Gereja.
MENGGEREJA DI DALAM DUNIA KERJA
Bagi kita, umat Katolik Indonesia yang minoritas, menggandengkan kata ‘menggereja’ dan ‘dunia kerja’ memiliki keunikannya sendiri. Mengapa demikian?
Jika menoleh kembali pada definisi menggereja seperti yang ditulis dalam katekismus modern Gereja Katolik, maka makna itu akan hilang dengan sendirinya karena persekutuan yang terjadi dalam dunia kerja kita adalah persekutuan serba majemuk/pluralis bahkan mungkin saja kita ini menjadi seorang diri di tengah mayoritas. Lalu apa maknanya menggereja di dalam dunia kerja?
Harus diakui bahwa aktivitas dunia kerja kita ini sangat menyita waktu dan tenaga sehingga kita tidak mampu lagi menyempatkan diri untuk berkumpul dengan sesama umat beriman melakukan aktivitas gereja. Namun demikian, sebagai anggota Gereja, kita mempunyai kewajiban untuk melaksanakan tugas pokok Gereja itu di tengah masyarakat dan kelompok masyarakat mana lagi yang sering kita jumpai kalau bukan masyarakat dunia kerja atau kantor. Di kelompok masyarakat inilah kita siap membajak dan di sinilah sarana alternatif itu bagi kita Bagaimana melakukan aktivitas ini?
Pertama-tama harus dipahami terlebih dahulu bahwa Gereja adalah tubuh Kristus. Kehadiran Gereja berarti mewartakan kehidupan Kristus. Itu berarti pula bahwa kehadiran kita [yang adalah anggota Gereja] harus mampu mewartakan kehidupan Kristus dengan benar di tengah masyarakat melalui aktualisasi sikap hidup Kristus dalam diri kita. Maka misi pewartaan itu sudah melekat dalam diri kita.
Menggereja di dalam dunia kerja bukan semata-mata melakukan aktivitas iman di tengah masyarakat kantor dengan motivasi agar mereka mengikuti kita melainkan melakukan karya atau tindakan atau sikap hidup yang benar yang sama seperti sikap hidup Kristus di antara mereka. Yang mungkin dilakukan adalah berkarya dengan etika kerja yang baik misalnya saja ‘tidak korupsi’, tidak mangkir, tekun bekerja, semangat kerja yang tinggi dsb. Dengan melakukan sikap kerja yang baik itu secara tidak langsung kita sudah membuka komunikasi iman.
Maka bukan tidak mungkin jika menggereja di dalam dunia kerja terlaksana justru dari perilaku kerja kita yang baik yang bisa diteladani sehingga lewat komunikasi iman ini semua orang bisa menjadi partner kita untuk bekerja sama dalam memperjuangkan Kerajaan Allah di dunia tanpa harus menjadi Katolik.
Semangat menggereja seperti ini yang sangat dikagumi oleh Gereja karena berani menyatakan imannya seorang diri dalam komunitas yang plural atau malah dalam komunitas yang mayoritas.
GEREJA WARTEG atau GEREJA SUPERMARKET
Mengkritisi keadaan gereja saat ini yang berkesan ‘sangat’ mewah bahkan ada kebanggaan tersendiri karena memiliki gereja yang mewah sehingga ini menjadi semacam batu sandungan bagi masyarakat.
Romo Sandyawan SJ membuat ilustrasi yang cukup menggelikan yaitu bahwa gereja yang baik itu sebenarnya harus seperti sebuah warteg. Gereja seperti warteg mempunyai makna bahwa kehadiran gereja harus bersifat hangat, saling menyapa, dan memiliki empati terhadap segala kesulitan. Seperti kita ketahui bahwa di warteg siapa saja bisa datang meski hanya bersandal jepit atau berbau keringat. Semua orang bisa datang tanpa melihat status dan golongan. Apalagi jika kita saling mengenal, perasaan empati bisa muncul andaikan ada permasalahan yang dibicarakan mendapatkan solusi berdasarkan pada pengalaman satu dengan yang lain tanpa disuguhi nasehat-nasehat standar etika moral yang sudah pasti tidak mereka pelajari. Solusi berdasarkan pengalaman memberikan nilai tersendiri dalam komunitas warteg.
Lain halnya jika gereja itu mirip supermarket di mana untuk memasuki supermarket saja harus mengenakan pakaian yang bagus, tidak bersandal jepit, apalagi berbau keringat. Memiliki uang yang banyak mungkin saja dibutuhkan karena yang dijualpun harganya tidaklah murah. Fasilitas yang baik biasanya dibarengi dengan biaya yang tinggi yang secara tidak langsung dibebankan oleh pengunjung supermarket itu. Tidak ada sapaan di sana apalagi cerita. Orang bisa datang dan pergi setelah semua kebutuhan terpenuhi tanpa peduli dengan orang lain. Tidak ada kehangatan di supermarket, yang ada sikap apatis. Kalau ada permasalahan di supermarket maka solusi yang ada adalah tindakan atau nasehat yang sudah memiliki standar etika moral tanpa disuguhi pengalaman. Semua berjalan dengan penuh prosedural. Akankah situasi gereja kita ini seperti supermarket?
Ilustrasi di atas bisa memberi gambaran untuk sebuah gereja dalam arti bangunan maupun komunitas. Lewat ilustrasi itu juga, kita bisa menjadikan diri kita sebagai Gereja yang mirip warteg dalam arti kehadiran kita seharusnya tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, punya kehangatan, memiliki sikap empati yang baik, dan tidak menutup diri terhadap orang lain hanya karena perbedaan status atau golongan. Pada akhirnya, semangat menggereja harus diawali dari diri kita sendiri dengan menjadikan diri kita sebagai Gereja yang menjadi saluran berkat dengan meneladani sikap hidup Kristus di tengah komunitas kita yaitu dunia kerja perkantoran sehingga tujuan akhir mewujudkan Kerajaan Allah di dunia bukan cuma mimpi belaka.
Dalam agama Yudaisme kita mengenal ada 4 sekte besar yang ditulis dalam Kitab Suci terutama pada masa-masa Yesus. Sebagian malahan mendominasi kursi Sanhedrin yaitu suatu lembaga tinggi atau dewan agung bangsa Yahudi. Sekte-sekte tersebut adalah sebagai berikut :
1. Sekte Saduki
Orang-orang Saduki berasal keluarga imam yang berpengaruh, keturunan Zadok yang melayani bait Allah pada masa pembuangan. Orang Saduki berasal dari suku Lewi (Yeh 44:15). Sesudah memiliki kuasa religius (sebagai imam) dan mengontrol lebih banyak kursi di Sanhedrin, mereka mendominasi juga bidang politik dengan memanfaatkan sebaik-baiknya penjajahan Romawi. Imam Agung Yusuf bin Kayafas yang melakukan persekongkolan untuk membunuh Yesus berasal dari sekte ini. Jika kita membaca cerita tentang kematian Yesus, kita akan mengerti benar betapa orang-orang Saduki ini pandai memanfaatkan situasi negeri untuk kepentingannya sendiri dengan mempengaruhi keputusan Pontius Pilatus ketika mengadili Yesus. Jadi bila kita bertanya tentang orang Yahudi mana yang paling bertanggung jawab atas rekayasa pembunuhan ini, maka jawabannya adalah orang Saduki dalam hal ini Yusuf bin Kayafas. Karena intrik-intrik politik yang dilakukannya berhasil menyeret Yesus ke tiang penyaliban.
Ajaran-ajarannya :
Keselamatan yang mereka kenal adalah keselamatan berdasarkan komunitas bangsa [Yahudi]. Mereka tidak mengenal kebangkitan orang mati, malaikat dan roh. Mereka mencurigai para nabi yang ajarannya memungkinkan terjadinya perpecahan bangsa (Kis 23:8 dan Mrk 12:18) Kuatnya mereka memegang hukum Musa karena terutama untuk menjaga privilese para imam yang mendatangkan keuntungan. Karena itulah Yesus dengan terang-terangan menyatakan bahwa mereka benar-benar sesat (Mrk 12: 24, 27)
2. Sekte Farisi
Orang-orang Farisi berasal dari orang-orang Hasidim yang memisahkan diri dan telah membaharui roh iman 150 tahun sebelumnya. Seperti kita ketahui bahwa orang-orang Hasidim adalah orang-orang yang gigih menentang kebijaksanaan penguasa Yunani yang ingin menghilangkan tradisi Yahudi dan memasukkan budaya Yunani pada masa raja Antiokhus IV. Kelompok ini menamakan dirinya Hasidim yang artinya orang-orang yang saleh. Kelompok inilah yang diceritakan dalam 1 Makabe 2 :42 bergabung ke pasukan Matatias untuk berperang.
Mereka masuk ke dalam partai/sekte orang-orang tahir dan kebanyakan ahli hukum Taurat berasal dari sekte ini (Mrk 2:16). Lebih dari 100 tahun kelompok ini menjadi anggota Sanhedrin bersama dengan orang Saduki meskipun mereka saling memusuhi.
Sesudah tragedi perang Yahudi tahun 66, orang-orang Farisi menjadi penuntun bangsa yang tidak perlu dipersoalkan lagi. Semenjak itu, orang-orang Farisi paling giat meng-ekskomunikasi orang-orang Yahudi yang dipermandikan.
Ajaran-ajarannya :
Orang Farisi sama seperti kelompok asalnya. Orang-orang awam ini tidak terlalu mementingkan ibadah di Bait Allah tetapi lebih pada pelaksanaan Hukum. Mereka sungguh menuntut tanggung jawab individu yang diselamatkan oleh kebaikan mereka sendiri di hadapan Allah yang adil yang mengganjarinya. Mereka sangat percaya akan kebangkitan orang benar setelah mati dan mempertaruhkan segalanya untuk mempertahankan keyakinannya. Dalam Kitab Suci, Yesus amat sering mengecam orang-orang ini, sama seringnya dengan orang Saduki, karena kemunafikan mereka serta gila hormat (Mat 23 :1-36).
3. Sekte Esseni (arti kata Esseni : orang-orang saleh)
Orang-orang Esseni juga berasal dari orang Hasidim yang memisahkan diri lalu membarui semangat iman dengan cara melakukan askese secara tegas. Situasi bangsa Yahudi semasa wangsa Makabe-lah yang membuat orang-orang yang kelak dinamakan Esseni ini memisahkan diri, di mana telah terjadi pertentangan antara orang Hasidim dengan orang Makabe. Melihat situasi ini, orang-orang Esseni merasa kurang senang dengan minat duniawi yang diperlihatkan pemimpin bangsa mereka, termasuk tidak minatnya untuk duduk di kursi Sanhedrin. Untuk itu mereka menarik diri dari kehidupan bangsa sehari-hari dan membentuk komunitas monastik dan diam di dalam biara-biara dipadang gurun atau lembah. Qumran adalah salah satu tempatnya yang berada di tepi Laut Mati. Ciri khas hidup mereka adalah : selibat, meninggalkan harta milik maupun perdagangan, bertani, mempertahankan Sabat, ritual, dan novisiat. Yang unik dari kalangan mereka adalah tetap merahasiakan ajaran terhadap orang di luar Esseni. Aliran ini juga sangat menolak persembahan kurban binatang dan ibadat dalamkenisah-kenisah. Menurut penulis Yosefus Flavius, dipastikan kegiatan orang-orang Esseni pada waktu di antara tahun 150SM (jaman Makabe) dan tahun 70M (setelah perang Yahudi).
Ajaran-ajarannya :
Seperti dengan orang Farisi, orang Esseni memusatkan perhatian pada Hukum. Mereka percaya pada nasib namun tidak kepada aksi politik karena mereka berpikir bahwa Allah akan ikut campur tangan untuk meniadakan kegelapan.
Orang Esseni tidak disebutkan dalam Kitab Suci dan sulit diperkirakan apakah Yesus pernah berhubungan dengan orang-orang ini mengingat orang-orang Esseni lebih suka memencilkan dirinya dari kehidupan ramai. Karena sikap seperti inilah para penulis Injil tidak mengetahui apakah Yesus pernah saling bertemu atau tidak.
4. Sekte Zelot
Orang-orang Zelot termasuk kaum militan dan cenderung suka melakukan perlawanan bersenjata. Tidak diketahui asal-usulnya tetapi kemungkinan besar adalah generasi penerus kaum Makabe. Mereka adalah ahli waris tradisi tua sejak Pinehas, seorang imam yang disebutkan dalam Bilangan 25:7 hingga Makabe yang telah membela kehormatan Israel dan kemerdekaan bangsa. Kemudian mereka berorganisasi dan memainkan peranan yang menentukan dalam melawan orang-orang Romawi termasuk perang Yahudi tahun 66. Pemberontak-pemberontak adalah misi mereka demi menegakkan kerajaan Allah dari cengkraman Romawi. Mereka berpendapat bahwa kekuasaan Romawi hanya dapat dilawan dengan kekuatan bersenjata. Perang Yahudi pada tahun 66 boleh jadi karena usaha mereka mempertahankan Bait Allah dari penjarahan prokurator Florus. Meskipun tokh pada akhirnya mereka terpaksa dipukul mundur dari Bait Allah hingga terjadi penghancuran besar-besaran atas Bait Allah.
Orang Zelot sama fanatiknya dengan orang Esseni dan punya kemampuan bidang politik seperti orang Saduki terutama politik perang. Di lembaga Sanhedrin, orang Zelot tidak memiliki kursi. Diantara mereka terdapat juga orang-orang Esseni yang telah tiba pada suatu kesimpulan bahwa senjata lebih efektif daripada doa. Dalam Kitab Suci, nampaknya Yesus pernah bergaul dengan orang Zelot setidaknya 2 muridNya berasal dari sana yaitu Simon Zelot dan Yudas Iskariot. Kemungkinan besar sosok Barabas yang menjadi tawanan Romawi karena ulah pemberontakannya dan dibebaskan oleh Pilatus karena jasa Yesus adalah seorang Zelot juga. Mengenai sikap orang Zelot yang terlalu ekstrim dan mengandalkan kekuatan bersenjata ini ditanggapi oleh Yesus dengan sikapnya yang lemah lembut dan damai ketika memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai dan bukan kuda perang berikut senjatanya seperti harapan mereka.
Ajaran-ajarannya:
Manusia hanya dapat menikmati kebahagiaan di dalam suatu kerajaan yang dibangun oleh bangsa Yahudi. Kerajaan Romawi yang menjajah Yahudi adalah kerajaan duniawi yang jahat dan buruk yang telah rusak oleh dosa. Karenanya mereka harus memperjuangkan datangnya kerajaan Allah. Kekecewaan orang Zelot terhadap Yesus yang disebut Mesias itu adalah karena menganggap bahwa Mesias yang akan datang itu adalah seorang panglima perang dengan kebijaksanaan dan kekuatan militernya yang akan membangun kerajaan Allah di bumi ini. Untuk itulah demi mengobati kekecewaannya, Yudas Iskariot menjual Yesus dengan 30 keping perak kepada orang Kayafas.
Dahulu, Kristen adalah juga bagian dari sekte Yudaisme karena selain ajarannya banyak mengacu kepada Taurat juga perkembangan awalnya bermula dari tanah Israel. Namun berkat perkembangan dan penyebaran yang cukup signifikan pada masa misionaris St. Paulus dan juga St. Petrus ke Roma, kemudian St. Thomas ke India, akhirnya Kristen tidak saja berlaku untuk orang Yahudi melainkan non Yahudi. Maka Kristen akhirnya berhasil memisahkan diri dari jenis sekte Yudaisme dan berkembang dalam agama baru yaitu agama Kristen. Itulah sebabnya di beberapa bagian ajaran Kristen juga ada yang mirip dengan ajaran Yudaisme. Hanya saja pusat ajaran Kristen sesungguhnya adalah berada pada diri Yesus Kristus.
Thursday, August 16, 2007
BELA AGAMA ATAU IMAN??
AGAMA DARIPADA IMAN
Ungkapan ini menjadi keprihatinan bersama beberapa awam Katolik dalam diskusi terfokus yang diadakan Gerbang untuk melihat rencana pengkajian RUU Kerukunan Umat Beragama oleh Komisi VI DPR RI.
Tino, seorang aktivis FAMRED, mengatakan bahwa sejak lahir seorang anak justru dikenalkan pada agama lebih dahulu daripada iman itu sendiri. Akibatnya penghayatan iman dalam diri orang itu tidak ada. Maka tidak heran, jika orang Indonesia lebih membela agamanya daripada nilai iman yang dihayatinya sendiri. Pernyataan ini didukung oleh semua peserta diskusi yang melihat bahwa agama hanyalah sebuah institusi yang mengandung banyak symbol dan cara-cara dalam menghayati iman itu sendiri. Bahwa inti dari agama itu adalah iman.
Melihat penghayatan agama yang lebih daripada iman itu sendiri justru telah memungkinkan terjadinya banyak konflik yang bersumber ataupun memakai otoritas agama. Setidaknya inilah yang mendasari Order Baru menempatkan isu SARA di tempat terlarang. Termasuk di dalamnya ide pembentukan RUU Kerukunan Antar Agama yang telah diajukan sejak 1996 oleh Tarmizi Taher.
Setelah 4 tahun ide ini tidak ditanggapi oleh semua agama karena RUU ini dirasa telah menyempitkan makna kerukunan social, Komisi VI justru memunculkan kembali ide pengkajiannya setelah melihat kondisi sosial politik di Indonesia. Kerusuhan-kerusuhan yang memakai otoritas agama telah menjadi pendorong utama upaya pengkajian ini.
Namun, seperti yang telah diungkap di atas, upaya ini menjadi percuma jika tetap pemahaman iman tidak ada. “Bahkan dengan pemahaman ini, RUU Kerukunan Antar Umat Beragama justru bisa menjadi penghambat hak asasi manusia dalam beragama/beriman”, ungkap Bambang. Setidaknya hal ini terjadi di beberapa produk hukum lainnya. Ketika ada 3 bentuk hukum (positif, agama, dan adat), hukum positif inilah yang justru menjadi penentu dan penghambat hukum-hukum lain. Padahal dalam setiap komunitas, masyarakat memiliki hukumnya sendiri yang disebut hukum agama dan adat. Hendaknyalah hukum positif mengadopsi hukum-hukum tersebut agar persinggungan yang terjadi tidak keras dan tetap bertujuan membentuk masyarakat damai. Sedangkan yang terjadi justru hukum positif mengatasi kedua hukum ini. Seperti yang terjadi pada HPH (Hak Penggunaan Hutan), di mana tanah-tanah HPH secara adat diatur oleh hukum adat masyarakat setempat, namun hak masyarakat ini justru dilanggar oleh hukum positif yang dianggap lebih kuat karena produk Negara.
Jika melihat kasus di atas, maka RUU Kerukunan Antar Umat Beragama ini bisa mengakibatkan kasus yang mirip. Seperti yang sudah terjadi dengan SKB 3 mentri yang memerintahkan pembangunan rumah ibadah harus disetujui oleh masyarakat sekitar. Akibat dari peraturan ini justru makin memperlihatkan dan membedakan komunitas-komunitas antar agama. Sebagai contoh, jika RT 05 memiliki warga beragama Kristen lebih banyak daripada agama lainnya, maka gereja banyak didirikan di wilayah itu. Sementara diwilayah lain, yang terjadi sebaliknya. “Jika demikian, maka RUU Kerukunan Antar Umat Beragama tidaklah relevan mencegah atau mengatasi konflik yang mengatasnamakan agama”, jelas Eddy Juwono. Justru yang lebih relevan adalah hukum adapt atau hukum yang dibuat masyarakat bawah itu sendiri dalam mengatur kehidupan sosialnya. Secara politis akhirnya, RUU ini lebih digunakan oleh elit-elit politik untuk mengontrol masyarakat seperti yang selama ini terjadi.
Maka tentunya sekarang kita perlu bertanya lagi, perlukah RUU Kerukunan Umat Beragama jika kita sendiri sudah mampu mengimani kehidupan ke-Katolikan kita? Masih perlukah RUU Kerukunan Umat Beragama jika kita sudah mampu mengimani manusia lain, tanpa pandang bulu, sebagai penjelmaan Kristus sendiri? Tapi tentunya yang terpenting adalah, apakah kita sendiri sudah menghayati iman Kristiani itu sendiri, atau kita masih menanggap beragama tidak sama dengan beriman? (Ren)
Wednesday, August 01, 2007
Intensitas pertemuan yang kelewat sering, kebanyakan sharing, cur-hat, chatting, hingga mencoba-coba adalah pemicu selingkuh. Selingkuh bisa muncul karena adanya ketidakpuasan yang disembunyikan, ketidakcocokkan yang dipaksakan, atau kepura-puraan yang sengaja dibentuk. Ini pola umum orang yang berselingkuh. Maka orang yang mau berselingkuh cenderung membuat gara-gara agar terkesan tidak ada yang cocok lagi atau kalaupun main kucing-kucingan pasti ada yang ngga beres, entah orangnya atau pikirannya.
Suatu ketika di kawasan perkantoran yang lumayan rame, di mana semua orang dari berbagai perusahaan punya kesempatan untuk saling bertemu entah di kantin, di lift, atau di mall terdekat. Nah, di sinilah aku mulai tergoda sama makhluk aneh yang namanya cewe. Mulai dari satu lift, pertemuan tanpa disengaja, mulai lirik melirik, hingga curi-curi pandang. Cuma satu ngga mau mulai dilakukan, memulai berkenalan, tukar menukar no HP, chatting, hingga janjian. Wouw! Bukan aku ngga berani, tapi ada pepatah yang bilang, orang main api akan terbakar, orang main air akan basah... lalu kalau aku mau selingkuh akan apa donk...?
Beruntunglah aku punya isteri yang tetap cantik dan setia. Masak dia yang tetap setia saja aku malah mengkhianatinya. Entah bagaimana orang lain yang tidak sebahagia aku yach...? Semoga imannya tetap kuat demi membangun kesetiaan.
Tuhan, ijinkan aku selingkuh...! Semoga bukan kata-kata seperti ini dalam doaku kelak. (Wise banget yach aku ini... seperti orang yang pinter omong tapi goblok dalam bertindak) Karena mungkin godaan itu belum datang dengan serius aja!
Friday, December 01, 2006
Masih ingat kisah Yesus mengobrak abrik para pedagang di Bait Allah di kota Yerusalem? Kisah ini bukan isapan jempol. Ini benar-benar terjadi pada 2000 tahun yang lalu. Kisah ini merupakan babak awal menjelang masa-masa penganiayaan terhadap Yesus di mana ketika Dia memasuki kota Yerusalem, banyak umat Israel mengelu-elukan Dia dengan suara nyaring : “Hosana! Anak Daud!” sambil menggelar daun-daun palma di sepanjang jalan yang akan dilewati Yesus hingga memasuki kota Yerusalem.
Di kota inilah Dia melihat kejanggalan yang nyata-nyata terjadi di depan mataNya di mana Bait Allah, yang menurut Kitab Yesaya 56:7 sebagai rumah doa bagi bangsa-bangsa, telah berubah menjadi tempat orang berdagang. Situasi ini mungkin sangat mirip dengan pasar induk Kramat Jati atau kalau ingin agak lebih 'resikan' sedikit ya.. seperti mall-mall yang banyak muncul di Jakarta. Bisa dibayangkan betapa rumah doa yang seharusnya lebih sakral itu berubah menjadi benar-benar profan. Lalu pertanyaannya, suasana doa yang seperti apa jika rumahnya penuh hiruk pikuk tanpa sedikitpun menghormati nilai sakral yang dibangun sebagai suatu rumah doa? Maka aku setuju jika Yesus mengobrak abrik barang dagangan mereka tanpa harus mengganti uang sesenpun.
Entah kebiasaan jelek manusia itu memang dari dulu ngga bisa berubah atau karena alasan tersendiri sehingga kisah yang sama bisa terulang kembali di rumah-rumah doa hingga jaman ini. Ngga mesjid, ngga gereja, kalau letaknya memiliki nilai ekonomis, pagelaran barang-barang jualan hampir dipastikan muncul dengan sendirinya. Beruntung jika pagelaran itu tidak mengganggu jalannya ritual doa sehingga tetap exis setelah ritual doa selesai dan kemudian mulai dengan ritual yang baru yaitu tawar menawar barang dagangan.
Ada yang lebih gila lagi dan ini benar-benar terjadi di suatu gereja Katolik di pinggiran selatan Jakarta di mana orang bisa-bisanya jualan barang disela-sela ritual doa. Dengan mengatasnamakan pencarian dana untuk kegiatan Gereja, jualan di dalam saat suasana yang seharusnya sakral itu bisa-bisanya terlaksana tanpa sedikitpun merasa berdosa. Kristus benar-benar teraniaya dengan terobrak abriknya suasana sakral yang menjadi seperti pertunjukkan sebuah konser kecil. Apakah ini wujud balas dendam manusia ketika dagangannya diobrak-abrik Yesus di Bait Allah kini mereka balas mengobrak-abrik suasana sakral dengan barang-barang dagangannya. Luar biasa! Tapi aku malah ngga bisa bicara apa-apa.
“Ah... tahi kucinglah semuanya itu! Aku mau berdoa tapi bukan dengan tahi kucing seperti ini!”
Aku benar-benar masih gamang menyaksikan semua yang terjadi. Aku jadi ragu sekarang, jangan-jangan akupun pernah melakukan hal yang aku sebut tahi kucing itu tadi. Mungkin aku tidak berdagang di sana tetapi telah menjadi bagian dalam suasana pasar atau mall. Mengapa aku jadi lupa ketika misa aku memakai kaos super ketat yang menampilkan lekukan buah dada dan ujung puting yang tersamar di baliknya. Atau bisa jadi dua bulan yang lalu aku pernah pake celana ketat yang kalau berlutut celana dalam merk Amway warna merah muda terlihat dengan jelas. Pernah juga sih aku membawa keponakanku masuk dalam misa dengan membawa balon dan sebungkus chicky serta minuman aqua.
Ah kenapa harus jadi orang sok suci.
Biarkan saja itu terjadi.
Itulah mengapa aku tidak bisa bicara apa-apa ketika orang mulai berjualan saat misa berlangsung, karena akupun sering memperlakukan Bait Allah ini layaknya mall-mall yang sering aku singgahi.
Mall Bait Allah ..hm..m... nama yang bagus. Lalu ke mana aku harus mencari Tuhan jika semua tempat sudah menjadi sarang penyamun?
Tuesday, November 21, 2006
Siapa yang tidak kenal dengan nama Kayafas. Dia yang bernama lengkap Yusuf bin Kayafas adalah tokoh agama sekaligus provokator utama demonstrasi di depan istana Pontius Pilatus saat terjadinya pengadilan Yesus. Kitab suci mencatat bahwa berkat kelicikannya mampu memutarbalikkan fakta di depan Pontius Pilatus membuat ribuan orang Israel yang sehari sebelumnya mengelu-elukan Yesus berbalik 180% mengecamNya bahkan menuntut hukuman mati. Seseorang tanpa dibekali keahlian di bidang politik tidak akan mampu meng-hipnotis massa sedemikian hebatnya untuk mendukung rencana politiknya.
Siapa Kayafas ini?
Dari banyak nama yang muncul sekitar menjelang kematian Kristus, Kayafas, yang saat itu menjabat sebagai Imam Agung, menjadi tokoh sentralnya. Dari penangkapan hingga penyaliban Kristus, Kayafaslah otak provokator yang banyak memainkan peran strategis politik dan agama demi tujuan pribadinya.
Kayafas pertama kali disebut dalam PB terdapat dalam Injil Lukas 3:2, ketika itu Yohanes Pembaptis memulai pekerjaannya. Dalam kutipan Injil itu disebutkan bahwa Hanas dan Kayafas adalah seorang Imam Agung.
Sejarah Israel mencatat bahwa Kayafas diangkat menjadi Imam Agung oleh Prokurator Valerius Gratus pada tahun 18 – 36M.
Sayangnya Kitab Suci tidak menjelaskan siapa dan dari suku mana Kayafas ini berasal. Namun jika melihat perkembangan jabatan Imam Agung dan pengaruhnya yang kuat dalam Sanhedrin, nampaknya Kayafas berasal dari golongan orang Saduki.
Orang Saduki dalam Sanhedrin atau Mahkamah Agama pada zaman PB umumnya mempunyai pengaruh politik yang cukup kuat. Pimpinan Mahkamah Agama ini selalu berasal dari kalangan mereka. Berbeda dengan 2 golongan lain dalam Mahkamah Agama yaitu para tuan tanah dan para ahli kitab, orang Saduki ini memiliki kuasa religius dan mengontrol lebih banyak kursi di dewan.
Awal kebenciannya terhadap Yesus
Orang Saduki adalah salah satu dari empat sekte dalam Yudaisme yang memandang bahwa satu-satunya keselamatan yang mereka kenal adalah keselamatan berdasarkan komunitas bangsa. Mereka selalu mencurigai setiap nabi yang ajarannya memungkinkan perpecahan bangsa. Selain itu demi menjaga privilegi para imam yang mendatangkan keuntungan pribadi, mereka harus memegang erat Pentateukh.
Ajaran kaum Saduki ini banyak ditentang oleh Yesus, bukan karena mereka ahli agama tetapi karena pemahamannya tentang Kitab Suci sungguh menyesatkan banyak orang. Itulah kemudian mengapa orang Saduki begitu amat membenci Yesus saat Yesus benar-benar menyebut kaum Saduki ini adalah sesat (Mark 12 : 24). Ditambah lagi usaha-usaha Kaum Saduki untuk menciptakan opini public yang jelek terhadap Yesus selalu kandas (Mat 22:34) membuat mereka harus bermain kasar untuk mencundangi Yesus (Mark 14:1-2).
Siapakah yang tidak resah dengan munculnya Yesus pada zaman itu jikalau bukan Kayafas, orang yang paling bertanggung jawab terhadap kemurnian jabatan imam-imam agama manakala eksistensinya diremehkan oleh Yesus.
Karena tanggung jawab inilah maka berbagai usaha dilakukan untuk menghadang sepak terjang Yesus. Permainan politis begitu kentara dilakukan Kayafas ini dari cara halus hingga kasar. Lihatlah contoh berikut ini :
- meminta tanda dari surga agar percaya (Mat 16 : 1)
- berdebat soal ajaran agama (Mat 22:23)
- mempertanyakan kuasa Yesus (Mat 21 :23)
- usaha membunuh Yesus (Mark 14 :1-2)
- memfitnah Yesus (Mat 26 :59)
- menghasut orang Israel untuk membunuh Yesus (Mat 27:20)
Apa motivasi Kayafas membunuh Yesus?
Jabatan Imam Besar dalam agama Yudaisme memiliki peranan strategis pada jaman itu. Jabatan ini memungkinkan seseorang bisa hidup nyaman, ekonomi terjamin, dan derajat hidup lumayan terpandang. Dari unsur politis, jabatan ini juga memiliki peranan mengatur orang banyak dalam satu tradisi agama sehingga kadang pemerintahan kurator Romawi sangat mengandalkan wibawa imam agama jika situasi jajahannya tidak terkendali. Maka lengkaplah sudah bahwa jabatan imam-imam agama dalam masyarakat Yahudi saat itu sangat kental dengan nuansa politis. Siapakah yang tidak menginginkan posisi ini saat suatu bangsa sedang tercengkram oleh panjajahan Romawi?
Kehadiran Yesus dengan ajaranNya yang cukup kontroversi, menurut mereka, benar-benar mengancam posisi imam-imam agama. Terlepas apakah mereka secara murni memang benar-benar tulus mempertahankan tradisi Saduki dengan banyak melakukan pertentangan terhadap Yesus, namun berkat daya kritis Yesus terhadap perilaku mereka nampaknya sudah mengancam eksistensi imam-imam agama dari segi ekonomi. Sebab seandainya kritik-kritik Yesus yang 100% benar saat itu didiamkan saja dan orang Yahudi berbalik mengikuti Yesus, darimana lagi sumber kemakmuran yang mereka dapatkan kelak?
Inilah mengapa Kayafas mati-matian mengejar Yesus hingga ke tiang penyaliban yang sesungguhnya tidak hanya masalah perbedaan ajaran tetapi lebih kepada motif politis yang berhubungan dengan sisi ekonomi dan gengsi jabatan atau elite. Jelaslah bahwa kematian Yesus itu berlatar belakang politis.
Tuesday, November 14, 2006
Ngga sengaja aku menemukan sebuah catatan pidato presiden Adidaya yang menurutku 'nyleneh' ini di salah satu miling list. Sepertinya memang 100% lelucon tetapi lumayanlah cukup bisa dijadikan alat untuk menyindir kita yang dari dulu memang ngga mau maju-maju.
Berikut petikannya :
Pidato Presiden Amerika
Sifat : Rahasia
Waktu : Rahasia
Tempat : Rahasia
Sumber : Rahasia juga he..he..he
Kepada yang terhormat Direktur CIA, FBI, Direktur Bank Dunia, ADB, IMF, CEO Haliburton, Exxon Mobil, Freeport, Bankir-bankir Internasional, dan semua yang telah membantu kami membiayai perang Irak, Afganistan, serta menyebarluaskan kakuasaan Imperium global, Direktur media dan televisi CNN, ABC, NBC, yang telah membantu propaganda kita, kami ucapkan terima kasih.
Hari ini adalah hari yang sangat penting karena pada hari ini saya akan melaporkan keadaan Indonesia, negeri yang penduduknya besar, yang dulu kita takuti itu, sekarang sama sekali tak berdaya di hadapan kita.
Pemimpin Indonesia ketika jaman Kenedy dulu sangat kita ( USA ) takuti, dengan semboyan Trisaktinya:
1) Berdaulat Secara Politik,
2) Mandiri secara Ekonomi,
3) Berkepribadian Kebangsaan & Berkebudayaan.
Semboyan itu sangat membakar semangat rakyat Indonesia kala itu. Bahkan, apabila Trisakti itu jika diteruskan di Indonesia dan menyebar kebelahan dunia dan jika itu dijalankan, wah.... kita yang menganut paham Kapitalis Liberal AKAN GULUNG TIKAR di dunia ini. Ingat, lahan kita ada di 3 Benua, Asia , Afrika, Amerika Selatan ( Latin), jadi jangan biarkan mereka bersatu.
Tapi, kini, tak ada satupun yang perlu kita takutkan dari negeri itu. Laporan Intelejen mengatakan bahwa tak ada satupun bahaya potensial yang akan menggangu kepentingan kita di Indonesia.
Kita tidak perlu takut kepada angkatan bersenjata mereka, karena senjata yang mereka gunakan adalah kiriman dari negeri kita. Lihatlah, ketika kita jatuhkan embargo senjata, tentara-tentara mereka seperti maung ompong.
Yang lebih lucu lagi kemarin Presidennya sendiri yang memelas pada kita untuk menghentikan embargo itu. Kasihan-kasihan….
Saat ini di Indonesia sesuai rencana kita yang dulu... Pemimpinnya bisa kita kemudikan...Meski kita juga glontorkan US Dolar..., yang nggak masalah, hanya beberapa ratus juta US dolar saja, dengan modal sekecil itu, kita bisa keruk semua Sumber Daya Alam Utamanya dan Pasar yang empuk bagi produk-produk kita, lewat WTO operator kita. Nota kita yang lewat IMF dipatuhi. Naikkan BBM dalam 1 tahun 2 kali, Impor Beras, Freport di Timika berhasil, Exxon Mobil di Blok Cepu, beres.
Tak perlu takut pada generasi mudanya, rupanya faham materialisme, budaya konsumtif, hedonisme, individualisme, yang kita ajarkan itu lewat iklan-iklan kita, tayangan-tanyangan televisi kita, film-film kita, propaganda-propaganda kita sudah tertanam pada hati dan pikiran sebagian besar dari mereka. Jangankan untuk memikirkan negeri atau umatnya lebih-lebih agamanya, kini mereka hanya memikirkan kesenangan diri mereka sendiri. Bayangkan saja, negara semiskin itu penduduknya menempati urutan tertinggi dalam urusan berbelanja baju ke Singapura, mengalahkan Jepang , Australia , dan Cina sekalipun.
Tak perlu takut tentang pelajar-pelajarnya, karena mahasiswa-mahasiswa terbaiknya selalu kita rekrut dan kita pekerjakan di perusahaan-perusahaan minyak atau tambang kita, dan kita menyuap mereka dengan gaji yang besarnya sama dengan loper koran di negeri kita, Bayangkan, orang-orang terbaiknya sudah kita rekrut.
Tak perlu takut kepada pemimpin politik dan pejabatnya, karena sebagian besar dari mereka adalah orang yang gila jabatan dan sangat mudah untuk disuap. Demi untuk uang dan jabatan, mereka bisa kita minta untuk melakukan apa saja sesuai keinginan kita.
Tunggu, tunggu, ada kabar yang lebih menggembirakan lagi. Menurut laporan Intelejen yang saya terima, bahwa rakyat di sana telah terkotak-kotak menjadi banyak kelompok dan golongan. Di sana banyak menjamur ormas-ormas yang berbasis golongan maupun kesukuan yang bergerak seperti milisi-milisi. Tiap-tiap kelompok menjatuhkan yang lain dan mengganggap kelompoknya yang lebih baik dari yang lain, ada bibit kebencian yang besar di antara mereka yang dapat kita manfaatkan. Sangat mudah bagi Intelejen kita yangberpengalaman untuk mengadu domba di antara mereka.
Oh ya, Indonesia juga sudah banyak yang lupa akan Pancasila. Apalagi mereka tidak gunakan Pancasila 1 Juni 1945. Generasi mudanyapun banyak yang nggak tahu, nggak hapal, apalagi roh Pancasila yang sebenarnya. Ya kita biarkan saja. Lebih lebih, operasi inteljen kita telah masuk ke intelektual Indonesia untuk mengeser Pancasila dengan Idiologi lain, idiologi yang mengatasnamakan golongan atau mayoritas tertentu. Pokoknya Inteljen kita terus bergerak dengan halus sehalus kain Sutra. Mereka itu intelektual tapi keblinger.
Mereka tidak sadar jika mengganti ideologi selain Pancasila, sebetulnya akan lebih menguntungkan kita, Amerika, dan kita akan semakin obok-obok lagi. Mereka juga tidak sadar bahwa kita mesti akui, Pancasila adalah proses galian yang memang sudah ada dari nenek Moyangnya dalam kehidupan sosial masyarakat yang beradab yang kita mesti acungkan jempol, apalagi itu bisa menyatukan Indonesia yang beragam agama, beragam suku, beragam etnis budaya, beribu-ribu pulau...
Yang perlu kita perhatikan, di Indonesia Pemerintahan Nasionalis sudah tidak memegang. Yang komitment dengan Nasionalis, ditinggal sendirian. Ada yang sebut Nasionalis tapi hanya mencatut nama, cenderung pragmatis, ya nggak apa, yang model itu yang mesti kita pelihara.
Kita mesti Ingat, dan ingat betul, Indonesia akan menjadi kuat dan kuat bila Pemerintahan dan Partai Politiknya dipegang oleh kaum Nasionalis yang notabene pasti akan menjaga dan mengamankan Pancasila habis-habisan. Intinya, bagaimana kita, negara Amerika, bisa mempengaruhi rakyatnya untuk mendukung kelompok atau partai yang berbasis golongan maupun sektarian agar kita mudah menyetirnya lagi.
Utang mereka sudah sangat besar dan hampir mustahil bisa mereka bayar. 22% APBN mereka habis untuk membayar utang kepada kita, sehingga mengurangi anggaran pendidikan mereka, kesehatan mereka, dan pelayanan sosial mereka. Sehingga di negeri itu banyak penduduknya yang kelaparan, miskin, sakit dan tak mampu berobat, ini merupakan keuntungan bagi kita. Karena semakin lama jika kondisi tidak berubah, maka akan tercipta generasi yang lemah dari negeri itu. Yang tidak akan mampu melawan kita, seperti yang selama ini kita harapkan.
Kekayaan negeri mereka hampir semuanya kita kuasai, lebih dari 96 % ladang minyak mereka telah kita miliki, tambang batu-bara, tembaga, emas, yang beroperasi di negeri itu hampir semuanya adalah milik kita. Lebih dari itu, minuman-minuman, makanan-makanan, buku-buku, walau banyak yang mengcopy, komputer-komputer, software-soffware mereka, walau banyak yang membajak, bahkan odol dan sabun yang mereka gunakan adalah produksi perusahaan-perusahaan kita.
Indonesia merupakan ladang dollar kita yang harus tetap kita pertahankan bagaimanapun caranya. 200 juta lebih penduduk negeri itu merupakan konsumen bagi produk-produk perusahaan kita. Singkat kata, Indonesia telah kalah dari kita, baik dari segi ekonomi, militer, politik, budaya, teknologi, dan lain-lain. Untuk menjaga agar kondisi ini tetap berlangsung, maka saya sarankan agar lebih mengefektifkan promosi budaya konsumtif dan hedonisme kepada mereka.
Kepada agen-agen CIA, agar memecah belah rakyat Indonesia, tebarkan kecurigaan dan fitnah di antara mereka, biar mereka terus berkelahi dan tidak punya waktu untuk melawan imperialisme kita, terus rekrut generasi muda terbaiknya agar bekerja untuk perusahaan-perusaha an kita, sehingga tidak akan banyak gerakan yang menentang kita.
Sebelum mengakhiri pidato ini, saya ucapkan terima kasih atas kerjasama yang luar biasa ini, kepada seluruh pihak yang telah ikut serta membantu usaha kita, perusahaan-perusahaan multinasional, televisi dan media massa, Bank Dunia, IMF, CGI, Negara-Negara sekutu, Economic Hit Man, Mafia Berkeley, dan yang terhormat pejabat korup Indonesia .
Sekian dan terima kasih.
President USA
Wednesday, November 01, 2006
Entah mengapa setelah peristiwa eksekusi mati Fabianus Tibo, Dominggus da Silva dan Marinus Riwu yang kontroversial itu benar-benar dilaksanakan pada Jumat dini hari tanggal 22 September 2006, aku jadi lebih banyak menyimak berita-berita tentang kota Poso. Mau dari mana berita itu dilansir, entah televisi, koran, radio atau media internet, semua kucermati perkembangannya. Harus kuakui bahwa meskipun berita-berita yang dilansir itu belum tentu sedetil peristiwa yang sebenarnya tetapi paling tidak flot-flot lelakon perang saudara ini masih bisa kusambung-sambung hingga menjadi sebuah cerita kelabu untuk anak-anakku kelak.
Ibarat drama berseri, aku benar-benar ingin mengetahui jalan cerita berikutnya pasca eksekusi mati Tibo cs. Setidaknya apakah lelakon itu mampu mendukung putusan vonis mati sebuah pengadilan Indonesia yang salus populi suprema lex atau malah Summum isu summa inuria.
Pasca eksekusi mati itu, Poso menjadi tidak karu-karuan, katanya pelaku utamanya sudah disingkirkan tetapi kenapa tidak juga berubah. Lalu siapa sebenarnya biang kerok ini semua? Kalau aku jadi presiden, aku akan berpikir ulang untuk menolak grasi atas putusan mati Tibo sebab semua jelas-jelas seperti drama berseri yang entah siapa sutradara dan actor utamanya sehingga pintar membuat ‘blur’ warna-warna yang membuat kita sulit mencerna jalan cerita ini.
Katakanlah bahwa hukum akan memberikan atau menimbulkan efek jera. Namun efek jera yang diharapkan saja tidak mampu membungkam sulutan kelompok masyarakat tertentu untuk tetap membuat pesta kembang api. Poso malah jadi ‘bancaan’ konflik kepentingan. Wilayah konflik yang semula pecah masyarakat vs masyakat kini berubah menjadi masyarakat vs aparat (Negara). Yang menggila lagi adalah ancaman sekelompok masyarakat tertentu yang akan melumpuhkan perekonomian Poso jika aparat tidak ditarik mundur.
Poso, entah sampai kapan kamu bisa tidur nyenyak tanpa ada suara bising yang sumbang, tanpa pesta kembang api yang berdarah-darah.
Aku jadi termenung dengan peristiwa ini. Kematian sia-sia Tibo cs tidak menimbulkan dampak positif sedikitpun terhadap perdamaian Poso. Ini berarti kematian sia-sia Tibo adalah kesia-siaan mutu hukum Indonesia yang ‘katanya’ adil itu. Semoga hukum di negeri ini tidak mengulangi lagi kesia-siaan yang konyol - Summum isu summa inuria
Monday, September 25, 2006
Lama aku memahami kisah Tibo ini. Seorang pendatang dari Flores yang mencoba mengadu nasib di tanah seberang di Poso, Sulawesi akhirnya harus menanggung mati yang bukan karena kesalahannya sendiri. Kasus yang dialaminya memang sangat kental berbau politis, sementara dirinya tidak pernah tahu mengapa perlakuan terhadapnya begitu menjadi yang utama sebagai pelaku pembantaian massa.
Pengadilan 'ecek-ecek' akhirnya membawanya ke tiang pembantaian resmi meski berbagai upaya mencari keadilan terus digemakan namun sudah tertutup. Ini benar-benar 'kartu mati' yang tidak bisa diubah sedikitpun meski itu ditangan penguasa sekalipun. 'Sandiwara' itu sudah membuat akhir cerita di mana mengharuskan pelaku mati di ujung peluru. Flot cerita boleh maju boleh juga mundur yang penting harus berakhir seperti itu.
Duh! Aku kini benar-benar kesulitan membedakan mana Tuhan dan mana manusia.
Tibo mungkin bukan orang pertama yang teraniaya karena tindakan ketidakadilan entah dari penguasa atau sesamanya. Tetapi kisah Tibo ini seakan memutar ulang kenangan pahit yang telah terjadi ribuan tahun yang lalu ketika seorang muda yang penuh bijak, dia tidak terkenal dalam dunia politik harus mati demi politik. Lagi-lagi hebatnya sinergi antara agama dengan kekuasaan mampu menciptakan bentuk ketidakadilan bagi manusia. Saat itu yang namanya konflik entah agama atau apapun bisa menjadi momok yang menakutkan bagi sekelompok orang yang sudah 'kadung' ayem diam dalam kesejukan doktrin. Merasa bahwa akan ada 'bangsat' di bangkunya maka yang ada di kepalanya adalah harus segera dilakukan pembersihan. Pengadilan rekayasapun digelar yang harus menghasilkan suatu hukuman mati. Dan anak muda yang penuh bijak, yang oleh sesamanya di bilang 'bangsat' itu dikorbankan dihadapan penguasa dan mati mengenaskan di tiang salib.
Kisah Tibo ini mau tidak mau, suka tidak suka, membentuk generalisasi berpikir bahwa sejarah suram masa lalu masih terus terulang dan terulang dari zaman ke zaman. Lepas dari orang mau bicara bahwa semuanya itu sudah menjadi garis hidup yang harus terjadi dan dijadikan oleh si pemberi hidup, tetapi kedua kisah yang berlainan zaman itu benar-benar saling mengulang kisah yang sama.
sama-sama orang kecil yang tidak terkenal,
sama-sama mengalami pengadilan 'ecek-ecek'
sama-sama korban keserakahan dan kekuasaaan,
sama-sama tak berdaya di hadapan penguasa,
sama-sama menjadi korban politik
dan sama-sama harus mati demi hukum
Bedanya ......
Anak muda berumur 33 tahun dan berjenggot itu mampu mengalahkan kematian dengan kebangkitannya dari kubur yang membuat namanya tetap dikagumi manusia sejagad ini. Tetapi Tibo, si petani tua ini, gaung-gaung setelah kematiannya semakin lama semakin hilang
Saturday, September 02, 2006
Suatu hari seorang ibu datang menghampiri aku ketika pertemuan doa di lingkungan baru saja usai. Ada perasaan bangga sekaligus puas terbaca di wajahnya ketika ia mulai bercerita.
"Mas, kemarin anak saya nonton film Da Vinci Code bersama teman-temannya di salah satu bioskop 21. Sehabis menonton dia lalu menemui saya dan bertanya demikian : Ma, memangnya Yesus itu kawin sama Maria Magdalena, yach?" Ibu ini mulai bercerita dengan semangatnya.
"Lalu ibu bilang apa?" tanyaku.
"Terus terang aja Mas, seandainya saya tidak datang dalam pertemuan di lingkungan itu, mungkin saya tidak bisa menjawab secara tegas seperti yang pernah disampaikan oleh Anda dulu itu."
"Memangnya ibu jawab apa?" tanyaku lagi.
"Saya bilang aja bahwa itu hanya sebuah cerita fiksi yang tidak ada bedanya dengan cerita Kancil dan Buaya. Karena pengarangnya kere maka dia buat cerita yang menghebohkan agar bukunya laku dan dia tidak kere lagi. Sama dengan cerita Anda, khan?"
"Lalu anak ibu percaya?" tanyaku penasaran.
"Mulanya dia ngga percaya dengan jawaban saya, tetapi karena isi cerita dalam film sungguh amat berbeda dengan cerita yang ada dalam Kitab Suci, sepertinya dia memahaminya."
"Sepertinya...?" sahutku. Ibu harus terus memberikan pemahaman yang benar dari sebuah cerita yang tidak benar agar dia tidak terombang-ambing dengan ketidakbenaran."
"Iya, sepertinya saya harus begitu. Semoga saya bisa menjelaskannya lebih lanjut. Terima kasih atas pencerahan yang saya terima."
Sang Ibu menghentikan ceritanya lalu menikmati hidangan yang tersedia di meja. Luar biasa ibu ini berusaha meluruskan sesuatu yang salah dengan penjelasan semampunya. Meski tidak sehebat seorang ahli tetapi dengan kemampuannya dia sudah cukup kritis dalam menanggapi suatu keganjalan. Aku ngga bisa membayangkan seandainya dia tidak pernah tahu akan hal itu, apa yang bisa dia jelaskan kepada anaknya. Atau barangkali banyak juga orang yang tidak mengerti akhirnya tersesat tanpa dia sadari.
"Penyesatan memang ada, tetapi celakanya yang melakukannya"
Wednesday, August 16, 2006
Dan aku mencarimu di seribu kota
Waktu terus berjalan sementara perjalananku masih terseok-seok karena tak mampu mengimbangi langkahnya waktu yang tenang yang lajunya tak bisa dihalangi. Entah sudah bilangan ke berapa waktu kuhabiskan untuk mencarimu, seorang Lestari yang pernah mampir di hatiku.
Sayup-sayup aku dengarkan lagu ‘SEWU KUTA’ yang dilantunkan oleh Didi Kempot. Musik campursari gaya Solo asli itu seperti membelah kegundahanku manakala frustasi ini kian meledak-ledak karena seperti tiada harap sedikitpun untuk berjumpa denganmu.
Syair lagunya begitu mengharubiru menyobek hati dan jiwa.
Sewu kuta wis tak liwati
Sewu ati wis tak lakoni
Nanging kabeh padha ora ngerteni
Lungamu ning ngendhi
Pirang tahun anggonku nggolekake
Seprene durung bisa nemoni
Ini memang kiasan betapa mencarimu amat sulit dan hampir tak bisa dilakukan. Siapa yang sanggup melintasi seribu kota kalau tak satupun orang tahu di mana kamu berada?
Wis tak coba nglalekake
Jenengmu saka atiku
Saktenane aku ora ngapusi
Isih tresna sliramu
Lestari,
Nama itu sudah terlanjur tertulis dalam prasasti hatiku dan tak mungkin bisa terhapus. Mei 1988 sudah menjadi sejarah dan melupakanmu saja rasanya tidak mungkin. Harus kuakui bahwa aku masih mencintaimu.
Umpamane kowe wis mulya
Lila... aku lila
Ya mung siji (sing) dadi panyuwunku
Aku pengin ketemu
Sanadyan wektu mung sadhelo
Tak anggo tombo kangen jroning dada
Sanadyan sakedheping mata
Tak anggo tamba kangen jroning dada
Seandainya kamu sudah bahagia, aku harus rela melepaskan dirimu. Namun sejak dalam pencarianku ini, hanya satu harapanku : Bisakah aku menemuimu sebentar saja walau hanya sekedipan mata sekalipun? Biarlah pertemuan ini kelak menjadi obat untuk melepas rinduku padamu.
Sepertinya seribu waktu telah terlampaui. Waktu malam, waktu siang, waktu tidur atau malah waktu terbangun. Kuputuskan untuk meninggalkan waktu dan mencarimu dalam seribu kota. Mungkin masih ada harapan yang bisa kuraih satu dalam seribu kota ini.
Jakarta, 2006
Wednesday, July 26, 2006
Bicara soal kiamat, rasanya memang hanya Tuhan yang memiliki hak prerogratif ini untuk dijadikan atau dibatalkan sementara manusia tidak berhak tahu kapan dan bagaimana kejadiannya. Bahkan Yesuspun tidak diberi hak untuk mengetahui hal ihwal kiamat ini, yang jelas kiamat itu akan terjadi dan kita, manusia, cuma boleh menyiapkan diri saat hari yang tidak jelas itu datang.
Clue atau tanda-tanda menjelang hari kiamat memang secara tegas diungkapkan, misalnya banyaknya penyesatan, patung-patung bisa bicara (Wahyu 13:15), penggunaan bio chip (wahyu 13:16), berdirinya Eropa bersatu dengan thing tank-nya 10 negara (Wahyu 17:12), lambang uang logam Eropa bersatu dengan bintang dan garis berjumlah masing-masing 6 (Wahyu 13:18). Belum lagi jika orang Jawa mengindikasikan jaman edan dengan banyak tanda.
Namun tanda-tanda itu masih bisa diperdebatkan, artinya semua pasti memiliki penafsirannya sendiri-sendiri. Lalu bagaimana jika tanda-tanda itu muncul hasil penelitian astronomi di mana pada tahun 2019 nanti bumi akan berbenturan dengan asteroid yang besarnya 2 km persegi dan mampu menghapus satu benua. Apakah ini juga pertanda akan tibanya kiamat itu? Mari kita baca cuplikan berita ini dari BBC News Online yang saya terjemahkan secara bebas.
Asteroid 2002 NT7 yang akan mengakibatkan tubrukan
Para ahli astronomi sudah memberi obyek suatu penilaian yang disebut skala teknis Pallermo tentang ancaman dari 0.06, membuat NT7 menjadi obyek pertama yang diberi nilai perhatian lebih. Dari sinarnya, ahli astronomi memperkirakan bahwa asteroid ini memiliki luas sekitar dua kilometer, cukup besar untuk membuat hancur benua yang luas di bumi.
Walaupun para ahli astronomi itu mengatakan bahwa obyek ini jelas memerlukan perhatian lebih, mereka berharap lebih banyak melakukan pengamatan untuk memperlihatkan bahwa NT7 tidak berada pada sebuah lintasan peluru yang memotong bumi.
Asteroid ini pertama kali dilihat pada malam hari 5 Juli 2002, yang diambil oleh Linear Observatory’s automated sky survey Programme di New Mexico, AS. Sejak itu para ahli astronomi di seluruh dunia memberikan perhatian yang cukup teliti dengan mengumpulkan hampir 200 pengamatan dalam beberapa minggu. Apakah jalurnya bisa dibelokkan?
Universitas di Ingris, memberitahukan kepada BBC News Online bahwa "asteroid ini sekarang telah menjadi obyek paling mengancam dalam sejarah singkat pendeteksian asteroid”. Asteroid NT7 mengitari matahari setiap 837 hari dan terus bergerak pada orbit miring kira-kira dari jarak antara Mars ke garis edar bumi.
Potensi penghancuran
Perhitungan yang rinci dari garis orbit Asteroid NT7 ini mengesankan banyak orang ketika alur proyeksinya sampai pada garis orbit bumi. Para peneliti memperkirakan bahwa pada tanggal 1 Pebruari 2019, kekuatan dampaknya pada bumi adalah 28 km per detik, cukup untuk menghilangkan sebuah benua dan menyebabkan perubahan iklim global.
Bagaimanapun, Dr. Peiser dengan tajam menunjukkan bahwa pengamatan-pengamatan selanjutnya dapat saja merubah keadaan. Ia berkata : "Peristiwa yang unik ini mestinya tidak mengurangi fakta bahwa pengamatan tambahan di beberapa minggu mendatang hampir pasti - kita berharap - menghapuskan ancaman itu ,"
Dapat diamati dengan mudah
Menurut para ahli astronomi, Asteroid NT7 akan dengan mudah dilihat pada sekitar 18 bulan sebelumnya atau kira-kira segitu, ini berarti tidak ada resiko kehilangan obyek itu. Pengamatan mengutarakan bahwa pada periode itu - dan ini fakta NT7 itu cukup terang diperlihatkan dalam kamera yang tua - berarti bahwa ilmuwan akan segera mempunyai suatu garis edar sangat tepat untuk obyek itu.
Dr. Donald Yeomans, dari Laboratorium Tenaga Jet California milik NASA, Amerika, memberitahukan kepada BBC News Online bahwa garis edar dari obyek ini agaknya amat naik dari garis edar bumi jadi dia telah hilang sebab hingga saat ini para pengamat tidak mencari object seperti itu di ruang angkasa.”
Mengenai kemungkinan dari suatu dampak, Dr. Yeomans mengatakan ketidak-pastian sangat besar. "Kekeliruan pada pengetahuan kami di mana NT7 berada pada tanggal 1 Pebruari 2019, sangatlah besar, beberapa puluh dari berjuta-juta kilometres," katanya.
Dr. Yeomans mengatakan bahwa dunia harus mendapatkan dulu temuan lebih beberapa object seperti NT7 yang saat ditemukan, seperti mengancam, akan tetapi menjadi tidak berbahaya. Ini pangkal permasalahan dari obyek dekat bumi yang kini sedang diperhatikan dengan seksama, katanya
Wednesday, July 12, 2006

DA VINCI CODE PHOBIA HA..HA..HA.. (2)
Kuper atau Telmi
Seorang anak SMA berumur sekitar 18 tahunan bertanya demikian kepadaku :
"Mas, Da Vinci Code itu apaan sih? Kokh kayaknya heboh banget di luar sana (maksudnya masyarakat/publik) yang mempermasalahkan Yesus dengan Maria Magdalena. Emangnya apa hubungannya Yesus, Maria Magdalena dengan Leonardo Da Vinci? Khan antara mereka saja hidupnya berbeda jaman."
Hah? Hari gini, ngga tahu Da Vinci Code itu apaan? Ke mana aja luh?, pikirku dalam hati. Aku hanya senyum lalu balik bertanya : "Kamu benar-benar ngga tahu?
Dia benar-benar menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah memelas seolah ingin meminta informasi maha penting. Lalu aku menyahut lagi : "Bagaimana aku harus menerangkan kepadamu kalau tidak ada secuil informasipun yang kamu dapatkan untuk melengkapi ketidaktahuanmu. Aku takut kamu malah semakin tidak mengerti."
"Tapi saya sudah baca kisah tentang Yesus dan Maria Magdalena ini di Kitab Injil."
"Lalu?"
"Maksud saya, apa hubungannya dengan Leonardo da Vinci?"
"Hubungan antara mereka (Yesus/Maria Magdalena vs Leonardo da Vinci) ngga ada. Faktanya sendiri ngga bisa di-approve. Yang ada cuma rekayasa sejarah."
"Maksudnya?"
"Da Vinci Code hanya sebuah novel yang isinya merupakan ide atau khayalan penulis yang sedapat mungkin bisa digothak gathukkan saja"
Anak muda ini sepertinya belum puas dengan jawabku. Lalu dia bertanya lagi :
"Lalu kenapa semua orang menghebohkan buku ini kalau isinya cuma rekayasa ide seseorang?"
"Itulah kelemahan orang yang tidak tahu atau sedikit tahu tentang sesuatu tetapi menjadi sok tahu sehingga ketika ada informasi yang belum pasti diketahuinya diakuinya sebagai fakta. Akhirnya dia tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang cuma isapan jempol."
"Maksudnya?"
"Hati-hati, selain mendengar, iman juga bisa tumbuh dari membaca. Kalau orang membaca buku yang benar, maka imannya pasti akan benar tetapi jika orang salah membaca maka akan ada potensi penyimpangan dalam merefleksikan imannya. Jika kamu belum siap membacanya janganlah membaca."
Thursday, June 22, 2006
Siapa yang tidak mengetahui Da Vinci Code, sebuah buku karangan Dan Brown yang menghebohkan iman kekristenan di era millenium? Sebenarnya dunia Barat sudah mempertentangkan kehadiran buku ini sekitar tahun 2003, tetapi baru tahun ini orang Indonesia meramu polemik sehingga menjadi hangat begitu terjemahannya beredar luas ditambah dengan sedikit gosip agar menjadi best seller.
Gereja tidak pernah mengambil sikap menentang kehadiran buku itu, bahkan ketika filmnya beredar, sikapnya tetap konsisten. TIDAK MELARANG. Apa iya sikap begitu ada benarnya? Malah, temanku seorang Jesuit berkata demikian : “Untuk apa mendiskusikan suatu karya atau ide-ide yang asalnya dari khayalan si penulis. Semakin dibahas, semakin laris dia meraup untung dari kekonyolannya memlintir sejarah.”
Hmm.. dia benar, dan jika ini terjadi, ini jika ada lho, sungguh sangat naif bagi orang yang beriman selama puluhan tahun, berubah haluan hanya karena membaca buku konyol itu selama sehari. Tapi bagiku, karya Dan Brown ini tidak lebih dari sebuah novel-novel biasa.
Suatu ketika, aku ditelepon oleh kerabatku gara-gara anaknya membaca buku ini. Dia sempat agak marah padaku karena buku itu sengaja kupinjamkan kepada anaknya.
“Mas, sampeyan ini bagaimana sich, masak Dewi kamu kasih pinjam buku yang menyesatkan iman?” Suara dari seberang terdengar keras agak parau.
“Lho, buku itu khan cuma novel biasa, apa yang perlu ditakutkan?” jawabku
“Tapi isinya sungguh menyesatkan iman. Aku ngga rela kalo Dewi murtad setelah baca buku picisan pemberian sampeyan. Bagaimana aku menjelaskan semua ini?”
“Selama dia belum menjual imannya sebaiknya didiamkan saja” jawabku enteng.
“Lho, kokh malah begitu?” sahutnya.
“Ngga usah kuatir. Aku tahu bagaimana Dewi harus bersikap setelah membaca buku ini. Sebelum aku berikan, dia malah sudah tahu latar belakang pembuatannya. Dia cuma kepingin tahu seberapa konyol Dan Brown menulis novel kacangan itu. Hanya itu!” paparku dengan agak sedikit tinggi tensi suaraku. “Aku justru berharap Dewi mampu menyikapi hal ini dengan kebenaran yang utuh dan tidak mengamini khayalan belaka tetapi punya landasan sejarah yang benar. Siapa tahu dia malah bisa membuktikan bahwa Dan Brown salah. Dan lagi, mana mungkin orang bisa menjual imannya kepada sesuatu yang salah. Biarkan saja, Mas!”
Setelah aku ngomong begitu, kerabatku lalu diam dan dengan sedikit basa-basi dia menutup teleponnya.
Beberapa minggu setelah percakapan ditelepon itu, aku sengaja menemui Dewi untuk mengambil buku yang dipinjamnya itu setelah dia mengabari bahwa novel itu sudah selesai dibacanya. Gadis remaja ini tidak terlalu pandai tetapi cara berpikirnya cukup bijaksana untuk seusianya. Terbukti ketika dia kutanya mengenai isi novel Da Vinci Code, jawabannya sungguh diluar dugaanku.
“Om, ada yang lebih gila lagi ngga isinya ketimbang Da Vinci Code? Kirain isinya tentang kisah rumah tangga Yesus dengan Maria Magdalena, ngga tahunya cuma cerita rekayasa doank. Benar bahwa semua tempat yang diceritakan itu memiliki faktanya sendiri-sendiri kecuali perkawinan Yesus dan Maria Magdalena. Aku suka bukunya tetapi tidak mengamini isinya. Selain itu, apa untungnya mengamini buku yang pengarangnya ngga bagi-bagi keuntungan hasil pengaminan orang. Orang yang bernama Dan Brown itu tidak lebih dari seorang koruptor sejarah.
Tuesday, May 30, 2006
Sejak dari masa remaja, aku senang hidup dalam komunitas apa saja. Rasanya ada kepuasan hidup tersendiri yang tak bisa tergantikan. Aku bisa berkomunikasi dengan orang tapi bisa juga disebelin semua orang. Yang terpenting bagiku adalah aku bisa berbagi dengan orang lain. Kelihatannya idealis banget yach, ungkapan ini klise, gitu! Ach, emangnya gue pikirin! Orang boleh menilai apapun atas ungkapanku ini, kokh....
Tapi sebenarnya tujuanku menulis cerita ini bukan soal idealis atau tidak tentang makna hidup dalam komunitas. Semua orang pasti pernah dijejelin ilmu beginian waktu kuliah, apalagi yang ambil jurusan Sosiologi, yang baca sih cuma merep aja. "....jangan kuliahin gue dech, itu makanan gue waktu kere dulu...!" barangkali itu jawaban ketus mahasiswa Sosiolog.
Sahabat.....
Aku cuma mau mengatakan bahwa dari semua komunitas yang pernah aku jalani bareng-bareng, semuanya kokh jadi semacam komunitas kucluk. Maksudku adalah semua kegilaan dan ketidak normalan perilaku komunitasku itu pernah dilakukan. Lalu aku jadi berpikir, jangan-jangan aku yang sebenarnya menciptakan kekuclukkan ini....hm?
Sebut saja jaman sekolah dulu, yang namanya bolos itu sudah biasa dilakukan anak-anak remaja. Tapi aku dan teman-temanku bisa-bisanya masuk sekolah tanpa secarik kertas dan ballpointpun mengikuti pelajaran. Tahu apa maksudnya? Kelas paralel kami menginformasikan bahwa guru Ekonomi ngga masuk karena sakit. Mendengar berita ini, ide kucluk muncul dengan tiba-tiba dan kami berniat kabur dari sekolah pada jam pelajaran itu yang kebetulan berada pada 2 jam terakhir jelang bel pulang sekolah. Lumayan, kalau ditotal 90 menitan kami bisa bolos sekolah. Maka disusunlah rencana untuk membolos dengan cara menitipkan tas-tas kami di warung yang letaknya di luar pagar sekolah. Kalau kami keluar pintu pagar tanpa membawa tas-tas kami, biasanya diijinkan, tokh nanti akan kembali ke sekolah sebab tas-tas kami ada di kelas.
Namun sungguh apes. Rencana buruk kami buyar karena sang guru tiba-tiba muncul dan masuk ke kelas kami pada jam tersebut. Kami cuma terbengong-bengong sambil saling menatap satu dengan yang lain.
"Lho, kami dengar Ibu sakit? Apa sudah sembuh, Bu?" tanya salah satu dari kami.
"Siapa yang bilang? Anak saya yang sakit, kokh!, jawabnya. Hayo kita mulai pelajaran kita.."
Kami, yang berencana ingin ngabur pada jam pelajaran itu jadi gugup karena tas-tas kami berada di seberang sana sementara kami tidak bisa berbuat apa-apa di kelas ini tanpa tas-tas itu. Mengikuti pelajaran tanpa buku dan ballpoint membuat kami benar-benar seperti orang buta kehilangan tongkatnya, ngga tahu harus bagaimana melanjutkan pelajaran.
Akhirnya, ketakutan itu tiba juga. Hukuman yang pantas memang lari keliling lapangan basket 10x di tengah hari bolong.
Sahabat semua.....
Terkadang diri kita seperti dipermainkan oleh situasi tetapi sebenarnya kitalah yang tidak mampu mengatur semua itu sehingga membiarkan diri kita seperti dipermainkan.
Monday, May 29, 2006
Quae protectio salusque civium certior in patria sua inveneri potest?
Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika untuk menghirup udara kebebasan hidup di tanahmu kini sudah tidak ada.
Kemarin rumahmu habis dibakar karena orang-orang sudah mulai tidak menyukai isi rumahmu. Dan hari ini, rumah saudarimu dikepung untuk dihancurkan karena kekuclukan yang sama.
Quae te dementia cepit?
Jika demikian, mungkin sudah saatnya kamu tidak memerlukan tembok lagi, tokh pemberi hidupmu tetap ada di mana-mana tanpa dibatasi oleh tembok. Mengapa tidak kamu mulai sekarang?
Siapkan dirimu untuk menjadi baitNya yang kudus.
Semayamkanlah tubuhNya yang kudus itu dalam kekudusan hatimu.
Siapakah kini yang mampu menghancurkan bait suciNya di dalam dirimu? Siapakah kini yang mampu melenyapkan rumahNya yang kudus di dalam hatimu?
Tak ingatkah kamu bahwa Kristus sendiri tidak punya tempat untuk meletakkan kepalaNya. Di bangunan rumah seperti apa ingin kamu taruh tahtaNya jika sampai hari inipun setiap yang berdiri diruntuhkan. Semayamkan saja tubuhNya yang kudus itu dalam hatimu yang kudus.
Inilah Gerejamu yang tepat
untukmu saat ini
di tanah air duniawimu
Suatu peziarahan yang melelahkan tetapi harus dijalani.
LESTARI (1)
Andai bisa kuikat kamu dengan sepenggal cinta
SEBUAH CATATAN MASA SEKOLAH
Ini adalah tahun ke-16 masa-masa pencarianku untuk menemukan kamu, Lestari, gadis pensiunan polisi. Di mana kamu saat ini? Apakah memang hanya Tuhan saja yang boleh tahu setelah 16 tahun dalam pencarian. Tak bolehkah aku tahu?. Kamu seperti hilang ditelan bumi.
Aku hanya bisa merangkai kembali ingatanku saat-saat pertemuan kita semasa sekolah dulu, mumpung memori otakku masih cukup baik untuk mengenang kegilaanku padamu untuk setiap peristiwa yang pernah terjadi di antara kita.
- 1987 yang kuingat kamu bukan tipeku dan harus kucatat bahwa kamu itu sainganku
- 1988 kita pernah belajar bareng tetapi tetap saja kamu itu sainganku
- 1988 masih di tahun yang sama saat pesta perpisahan. Maaf aku pinjam kacamatamu untuk sebuah pementasan. Kenapa tiba-tiba aku mulai suka kamu? Ach, sial! Cinta monyet!
-1990 reuni sekolah. Yang pertama kucari ya cuma kamu. Kita ngobrol banyak yach
-1991 1 Syawal, cuma itu yang kuingat saat aku ke rumahmu untuk berlebaran dengan membawa 2 orang pengawal dan satu motor bebek.
Aku benar-benar kehilangan kamu, Lestari. Hendak ke mana kutanyakan ini? Tuhan benar-benar diam saat aku ingin bertanya.
Kalo saja aku bisa kembali ke tahun-tahun yang lalu, cuma satu yang ingin kulakukan padamu apa yang tidak sempat kulakukan...... “mengikatmu dengan cinta biar aku tidak usah mencarimu selama 16 tahun”
Sepertinya aku harus terus menambahkan tahun-tahun pencarianku karena kamu tidak bisa kujumpai. Mungkinkah benar-benar ditelan bumi?
Entah nasib malang apa yang dialami perempuan pezinah ini ketika pagi-pagi sekali dia diseret ke muka umum untuk dihakimi. Seingat dia, tidak ada firasat buruk yang dialami sebelumnya selain mimpi-mimpi indah yang ia nikmati bersama seorang pelanggan tetapnya beberapa bulan terakhir ini. Tetapi rupanya nasib apes itu harus dia rasakan ketika menjelang subuh, seorang petugas siskamling mendapatinya sedang tertidur pulas tanpa busana bersama seorang lelaki di kamarnya. Yang mereka tahu, wanita ini belum bersuami, siapa lelaki yang tidur dengan dia?
Maria Magdalena, wanita malang itu sebenarnya gondok juga ketika petugas siskamling menangkapnya dengan tuduhan ‘bobo-bobo’ dengan lelaki yang bukan muhkrimnya. Dari mana dia tahu kalo aku lagi bobo telanjang kalo nggak ngintip terlebih dahulu ke kamarku? Dasar lelaki mata keranjang, hak privasiku dilanggarnya dan ketika sudah puas mengintip, baru menyeretku ke lapangan ini, pikirnya.
Singkat cerita, setelah diadili di hadapan pemuka masyarakat setempat, wanita pezinah ini divonis untuk meninggalkan rumahnya dan jangan kembali lagi dalam waktu 3 x 24 jam. Dia diusir bagai anjing buduk. Apa hendak dikata, ini adalah pengusiran untuk ke sekian kalinya dengan kasus yang sama.
Memang, setelah Kramat Tunggak ditutup, hidupnya jadi tidak menentu. Banyak teman-temannya kocar-kacir nggak tentu rimbanya. Terpaksa dia harus berjuang seorang diri demi mempertahankan sebuah hidup. Menjadi wanita panggilan adalah pilihan yang bisa dijalaninya. Kalo dulu dia bermarkas di Kramat Tunggak, kini dia bermarkas di mana saja selama belum diusir.
Maria Magdalena hanya diam tanpa sedikitpun senyum. Entah apakah dia pernah menyesal atau dendam dengan perlakuan mereka tapi sinar matanya tajam mengarah kepada orang yang menjeratnya hari ini. Sepertinya dia tidak rela tubuhnya yang lumayan sintal dan indah itu dinikmati oleh lelaki mata keranjang dengan cara mengintipnya seperti yang dilakukannya semalam. Tak satu katapun mampu diucap dan Maria tetap diam hanya hatinya penuh kata-kata umpatan.
Seminggu setelah kejadian itu atau tepatnya 3 hari setelah Maria Magdalena pergi meninggalkan kontrakannya, berita heboh tersebar ke seluruh penjuru kampung. Petugas siskamling, orang yang menjerat Maria Magdalena, harus menderita seumur hidupnya karena ‘burungnya’ terputus oleh sebilah pisau. Yang lebih menghebohkan lagi adalah peristiwa itu terjadi justru dikamar Maria Magdalena yang sudah kosong.
Siapa pelakunya?
KONSPIRASI KORUPSI
Minggu-minggu ini adalah hari-hari ulangan umum di sekolah tempat aku mengajar di salah satu sekolah swasta Katolik di selatan Jakarta. Cukup melelahkan juga mempersiapkan moment ini tetapi aku memang tidak berniat mengeluh. Ini sudah menjadi pekerjaan yang biasa bagiku.
Namun akhir tahun ajaran ini aku benar-benar dibuat senewen oleh murid tergoblok di kelasku. Bukan karena IQ-nya yang jongkok itu tetapi karena perilaku anehnya cukup mengindikasikan suatu perbuatan tergoblok yang lebih tolol dari IQ-nya sendiri.
Sudah menjadi kebiasaanku sebelum memulai suatu ulangan terlebih dahulu menerangkan bagaimana murid harus menjawab setiap pertanyaan. Hal ini harus dilakukan mengingat yang namanya kelas III SD masih terbilang belum ‘ngeh’ dengan soal-soal.
Belum juga kuselesaikan tugas ini, tiba-tiba Daniel nyeletuk :
“Pak, tugas mengarang judulnya merayakan HUT RI, khan?”
Aku terpana bukan karena takjub melihat anak muridku ternyata sudah pandai bermain sulap seperti Dedy Corbuzier, tetapi ..... bagaimana dia tahu semua itu padahal naskah ulangan masih tersegel dengan baik? Kecurigaanku terus mendorongku untuk bertindak laksana polisi penyidik dengan dugaan sementara soal-soal ulangan telah bocor.
Beruntung anak didikku tidak terlalu pintar untuk bersandiwara sehingga mudah bagiku merangkai peristiwa dan menarik kesimpulan tetapi aku butuh bukti otentik.
Namun bebanku sekarang menjadi tidak karu-karuan. Tanggung jawab moral harus dibela tetapi rasanya nyali ini harus kuuji dahulu benarkah aku mampu melawan konspirasi ini di sekitarku?
Ketika orang sudah tidak bisa lagi membedakan mana tindakan korupsi dan mana yang tidak, rasanya ajakan Gereja untuk tidak korupsi rasanya harus dikaji ulang. Yang mereka tahu cuma membalas budi. Kegendhengan macam apa lagi yang telah terjadi sampai manusia sulit membedakan mana baik dan mana yang tidak baik. Dunia memang gendheng di mana nurani telah pupus diterkam mamon.
