DA VINCI CODE. HA..HA..HA..(3)
Suatu hari seorang ibu datang menghampiri aku ketika pertemuan doa di lingkungan baru saja usai. Ada perasaan bangga sekaligus puas terbaca di wajahnya ketika ia mulai bercerita.
"Mas, kemarin anak saya nonton film Da Vinci Code bersama teman-temannya di salah satu bioskop 21. Sehabis menonton dia lalu menemui saya dan bertanya demikian : Ma, memangnya Yesus itu kawin sama Maria Magdalena, yach?" Ibu ini mulai bercerita dengan semangatnya.
"Lalu ibu bilang apa?" tanyaku.
"Terus terang aja Mas, seandainya saya tidak datang dalam pertemuan di lingkungan itu, mungkin saya tidak bisa menjawab secara tegas seperti yang pernah disampaikan oleh Anda dulu itu."
"Memangnya ibu jawab apa?" tanyaku lagi.
"Saya bilang aja bahwa itu hanya sebuah cerita fiksi yang tidak ada bedanya dengan cerita Kancil dan Buaya. Karena pengarangnya kere maka dia buat cerita yang menghebohkan agar bukunya laku dan dia tidak kere lagi. Sama dengan cerita Anda, khan?"
"Lalu anak ibu percaya?" tanyaku penasaran.
"Mulanya dia ngga percaya dengan jawaban saya, tetapi karena isi cerita dalam film sungguh amat berbeda dengan cerita yang ada dalam Kitab Suci, sepertinya dia memahaminya."
"Sepertinya...?" sahutku. Ibu harus terus memberikan pemahaman yang benar dari sebuah cerita yang tidak benar agar dia tidak terombang-ambing dengan ketidakbenaran."
"Iya, sepertinya saya harus begitu. Semoga saya bisa menjelaskannya lebih lanjut. Terima kasih atas pencerahan yang saya terima."
Sang Ibu menghentikan ceritanya lalu menikmati hidangan yang tersedia di meja. Luar biasa ibu ini berusaha meluruskan sesuatu yang salah dengan penjelasan semampunya. Meski tidak sehebat seorang ahli tetapi dengan kemampuannya dia sudah cukup kritis dalam menanggapi suatu keganjalan. Aku ngga bisa membayangkan seandainya dia tidak pernah tahu akan hal itu, apa yang bisa dia jelaskan kepada anaknya. Atau barangkali banyak juga orang yang tidak mengerti akhirnya tersesat tanpa dia sadari.
"Penyesatan memang ada, tetapi celakanya yang melakukannya"
Suatu hari seorang ibu datang menghampiri aku ketika pertemuan doa di lingkungan baru saja usai. Ada perasaan bangga sekaligus puas terbaca di wajahnya ketika ia mulai bercerita.
"Mas, kemarin anak saya nonton film Da Vinci Code bersama teman-temannya di salah satu bioskop 21. Sehabis menonton dia lalu menemui saya dan bertanya demikian : Ma, memangnya Yesus itu kawin sama Maria Magdalena, yach?" Ibu ini mulai bercerita dengan semangatnya.
"Lalu ibu bilang apa?" tanyaku.
"Terus terang aja Mas, seandainya saya tidak datang dalam pertemuan di lingkungan itu, mungkin saya tidak bisa menjawab secara tegas seperti yang pernah disampaikan oleh Anda dulu itu."
"Memangnya ibu jawab apa?" tanyaku lagi.
"Saya bilang aja bahwa itu hanya sebuah cerita fiksi yang tidak ada bedanya dengan cerita Kancil dan Buaya. Karena pengarangnya kere maka dia buat cerita yang menghebohkan agar bukunya laku dan dia tidak kere lagi. Sama dengan cerita Anda, khan?"
"Lalu anak ibu percaya?" tanyaku penasaran.
"Mulanya dia ngga percaya dengan jawaban saya, tetapi karena isi cerita dalam film sungguh amat berbeda dengan cerita yang ada dalam Kitab Suci, sepertinya dia memahaminya."
"Sepertinya...?" sahutku. Ibu harus terus memberikan pemahaman yang benar dari sebuah cerita yang tidak benar agar dia tidak terombang-ambing dengan ketidakbenaran."
"Iya, sepertinya saya harus begitu. Semoga saya bisa menjelaskannya lebih lanjut. Terima kasih atas pencerahan yang saya terima."
Sang Ibu menghentikan ceritanya lalu menikmati hidangan yang tersedia di meja. Luar biasa ibu ini berusaha meluruskan sesuatu yang salah dengan penjelasan semampunya. Meski tidak sehebat seorang ahli tetapi dengan kemampuannya dia sudah cukup kritis dalam menanggapi suatu keganjalan. Aku ngga bisa membayangkan seandainya dia tidak pernah tahu akan hal itu, apa yang bisa dia jelaskan kepada anaknya. Atau barangkali banyak juga orang yang tidak mengerti akhirnya tersesat tanpa dia sadari.
"Penyesatan memang ada, tetapi celakanya yang melakukannya"

0 komentar:
Post a Comment