Tuesday, January 27, 2009

Mungkinkah Damai Dibangun Antara Israel dan Palestina?

Berikut ini adalah tulisan Dr. Martino Sardi mengenai konflik Israel dan Palestina serta bagaimana sikap kita terhadap konflik tersebut. Judul tulisan ini adalah : Mungkinkah Damai Dibangun Antara Israel dan Palestina?

Bertahun-tahun dan seluruh hidup Yasser Arafat dengan PLOnya bagaikan dipersembahkan demi berdirinya negara Palestina kembali. Boleh dikatakan Yasser Arafat berhasil membangun kembali kepercayaan bahwa Palestina akan terbentuk dan menjadi utuh. Kepercayaan itu didukung dari seluruh penjuru dunia. Dan profil Yasser Arafat sangat mengagumkan. Sayang Yasser Arafat hanyalah satu, dan menjelang akhir hidupnya, apa yang dimpikan belumlah terealisasi seluruhnya. Baru beberapa titik saja, itupun masih menyisakan berbagai benturan.

Sepeninggal Yasser Arafat, Palestina pun tetap tercabik-cabik. Baik dari dalam kelompok partai maupun kelompok keagamaan tak mampu menggalang satu tujuan, mendirikan kembali Palestina yang utuh. Perang sesungguhnya dan perang gagasan di dalam kelompok-kelompok Palestina pun terjadi dan menelan begitu banyak korban. Sampai saat ini, Palestina masih menangis dan tidak mampu berdamai di dalam negerinya sendiri. Sulit atau boleh dikatakan tidak mungkin menyatukan berbagai kelompok yang mempunyai wacana dan prinsip yang bertentangan satu sama lain serta tidak ada yang mau mengalah demi perjuangan menjadikan suatu negara yang berdaulat.

Apakah Palestina sekarang ini sudah sebuah negara? Berbagai negara telah mengakuinya dan menerimanya sebagai fakta sejarah. Akan tetapi tidak ada negara lain, selain Palestina yang selalu dirundung pertikaian, konflik dan bahkan perang di dalam negerinya sendiri. Belum lagi menghadapi Israel, yang dianggapnya sebagai musuh yang harus dimusnahkannya. Palestina tidak mampu, namun tidak mau mengakui fakta itu, dan selalu memulai tindakan kekerasan untuk melawan Israel. Dan Israel baru akan melawan sungguh-sungguh bila warganya ada yang mati. Musuhnya bahkan akan dihajar benar-benar, kalau perlu segala kekuatan digunakan untuk menindak orang yang menyebabkan kematian itu.

Mungkin baik kalau kita ajukan suatu pertanyaan penting: Apa yang seharusnya diperlukan sekarang oleh rakyat Palestina? Hidup tenang dan damai. Mereka menginginkan perdamaian. Oleh karena itu tindakan Hamas tidaklah sepenuhnya disetujui oleh rakyat Palestina, bahkan Presiden Abbas pun tidak menyetujui, apalagi Fatah pasti akan menolaknya. Juga berbagai kelompok lain tidak menyetujui tindak kekerasan Hamas. Orang Palestina, dari perjumpaan saya dengan mereka, kebanyakan sudah bosan perang. Mereka ingin damai, dan memiliki negeri yang damai. Apakah itu mungkin? Tampaknya jalan damai masih panjang di Palestina sendiri. Kelompok Palestina tidak bersatu. Ada yang menginginkan damai, tetapi ada yang selalu mau berperang terus.

Kalau kita mengamati Peta Israel, sebenarnya banyak daerah yang siap dikembalikan ke Palestina untuk menjadi negara merdeka. Dalam peta ada warna ungu, sebenarnya sudah siap dan sebagian sudah diserahkan ke Palestina tetapi sebagian besar masih dikuasi Israel. Sebuah contoh yang sangat unik, menarik tetapi sekaligus memelas alias kasihan, ialah kasus kota Betlehem. Kota Betlehem, tempat kelahiran Tuhan Yesus, adalah kota yang diserahkan kembali ke Palestina. Juga kota Ramalah. Ketika ada gerakan intifadah, banyak warga Yahudi atau keturunan Arab berwarganegara Israel yang menjadi korban. Kota Betlehem diancam akan dikurung dan dibentengi oleh Israel, kalau masih terjadi tindak kekerasan. Dan benar, gertakan Israel tidak main-main. Kota Betlehem sejak tahun 2004 dibentengi oleh Israel.
Jalur keluar masuk Betlehem dikontrol dan diperiksa polisi dan tentara Israel. Akibat yang lebih parah ialah: hotel-hotel atau kota Betlehem semakin sepi, semakin miskin dan terkurung. Mereka yang biasanya hidup dari turis, kini harus menderita. Setelah ditembok, warga negara Israel, menurut penuturan mereka sendiri, sungguh merasa aman.

Cukup lama saya menyaksikan dan merenungkan: Betlehem dikurung dan ditembok kokoh kuat dan atasnya dipasangi kawat berduri beraliran listrik tegangan tinggi. Mataku menatapnya, menyaksikan tembok yang digranatpun tidak akan roboh. Sungguh kuat sekali. Tembok Berlin pun belum apa-apanya bila dibandingkan tembok kota Betlehem buatan Israel untuk membetengi diri melawan tindak kekerasan dan kejahatan dari pihak Palestina. Tinggi tembok itu hampir enam meter, kota kelahiran Yesus dikurung dan penduduk sekitarnya mulai merasakan akibat tindak kakerasan yang mau melawan orang Israel. Di jaman globalpun Israel dan Palestina membatasi diri dengan tembok kokoh kuat tak tergoncangkan. Entahlah siapa yang mampu membongkar tembok itu kelak, lambang Israel dan Palestina tidak bermusuhan lagi? Rupanya kekuatan damailah yang akan membongkar tembok itu. Kekuatan perang dan permusuhan hanya akan menciptakan tembok atau pembatas yang lebih mengerikan lagi.

Berbagai daerah dan kota sebenarnya siap diserahkan kepada Palestina kembali, tetapi sayang Palestaina rupanya tidak mampu memenuhi syaratnya untuk melaksanakan damai di daerah itu. Jalur Gaza merupakan tempat yang paling luas negara Palestina. Wilayah-wilayah Palestina lainnya tidak berdekatan, tetapi tersebar jauh-jauh, "pating slebar ora karuwan angel didadek-ake' siji". Wilayah yang paling luas, ialah tepi barat sungai Yordan. Daerah itu luas sekali, membentang dari Laut Mati sampai ke Mesir. Daerah yang masih dikuasi Israel ini sangat strategis, tetapi berupa padang gurun saja. Kecuali tepi sungai Yordan yang memang subur, selebihnya yang ada hanyalah batu, wadas dan pasir saja. Di sepanjang jalan itu tampaklah pemandangan yang terkadang tidak diperhatikan orang. Mataku mengamati jalan raya yang dilalui kendaraan yang menghantarku ke arah Mesir, di sebelah kiri jalan, yang mengarah ke Yordania, kira-kira 12 meter terdapat pagar kawat berduri dua lapis berjarak sekitar satu setengah meter. Kawat berduri itu beraliran listrik tegangan tinggi. Wilayah itu wilayah yang masih rawan. Wilayah yang dikehendaki Palestina, tetapi belum diserahkan ke Palestina. Alasannnya sederhana: bila damai tidak terjadi dan tindak kekerasan tetap berlangsung, tepi barat itu tidak bakal kembali ke Palestina.

Gaza pun dibentengi oleh Israel. Jalan keluar dari Gaza, selain ke Israel, sangat terbatas. Jalan laut sangat tidak nyaman. Dapat diamati Israel dari segala arah. Jalan darat hanya melalui Mesir saja. Jalan itu pun sudah rusak di ujung ke Gaza. Jarak tanah yang lowong ke arah Mesir itu tidak lebih dari empat puluh delapan meter. Itu pun sudah nyaris hancur. Orang-orang di Gaza sulit keluar, selain ke arah daerah yang dikuasi Israel. Gaza sebenarnya telah dikurung Israel. Mau mengungsi ke Mesir, betapa beratnya jalan itu. Padang gurun beratus-ratus km yang hanya ditumbuhi batu-batuan, karang dan pasir, serta tidak ada pohon-pohonan, tidak akan mendukung pejalan kaki. Sungguh akses ke Gaza sangatlah sulit, baik dari luar maupun dalam, kecuali dibuka oleh Israel.

Kalau ada para pejuang yang akan ke Gaza membela Hamas, mau masuk melalui jalan mana? Dan mau berperang melawan siapa? Perang di Gaza bukanlah seperti yang dilukiskan berbagai koran di manan kita seperti perang berhadap-hadapan. Saya tercenung membaca bagaimana koran Kedauluatan Rakyat serta Kompas melukiskan Hamas yang berperang melawan tentara Israel, seperti perang dalam wayang saja. Sungguh fiksi berita itu. Yang selalu membandingkan dengan perang Hesbolah di Lebanon, dan Israel dianggapnya kalah. Bagaimana Israel dapat dikatakan kalah, kalau infra struktur di Lebanon dan banyak korban dari pihak Hesbolah. Perang sungguh tidak manusiawi. Dalam perang semuanya kalah, karena korban berjatuhan dan mati. Perang di Gaza sekarang ini lebih banyak perang media, perang info palsu dan perang mempengaruhi opini publik. Korban perang haruslah menjadi perhatian kita semua

Persoalan Palestina sebenarnya bukanlah hanya persoalan Hamas saja. Memang Hamas berkuasa, tetapi kalau caranya tidak kompromi, saya yakin Palestina yang dicita-citakan oleh Yasser Arafat tidak terlaksana. Rakyat Palestina sekarang ini membutuhkan ketenteraman dan damai: damai di hati dan damai di buminya. Gerakan atau partai Palestina yang suka akan keonaran dan perang, kiranya tidak akan disukai oleh rakyatnya. Rakyat Palestina bosan perang, sekalipun sejak kecil banyak yang meniru melempari batu tentara dan polisi Israel. Lha sejak kecil saja sudah dilatih bertindak kekerasan, apalagi kalau nanti dewasa. Perang pun akan mereka lakukan, sekalupun menyadari bahwa dirinya tidak bakal mampu menundukkan lawan. Namun yakin bahwa Allah dipihaknya dan kalau mati, surga sudah disediakan baginya. Surga apa itu? Keyakinan yang fatal dan konyol bagi pihak lain yang harus menanggung kesengsaraan dan derita.

Para pejuang dan relawan yang siap ke Gaza, ternyata telah banyak sekali. Apakah mereka tahu medannya? Saya teringat ketika saya bertugas di Bosnia-Herzegovina. Orang tidak tahu bahwa perang di Bosnia itu perang suku : Serbia, Croazia dan Bosnia. Perang segitiga yang seru dan hancur-hancuran. Serbia yang berkuasa merasa kuat dan di atas angin. Tetapi ketika pasukan Bosnia (yang muslim) dan Croazia (yang Katolik) bersatu menggempur Serbia (yang Ortodoks), sang penguasa terdesak dan hampir kalah. Sayang ada seruan muslim diserang kristen. Maka ketika pasukan mujahidin yang kebanyakan dari Afganistan masuk, sasaran yang diserang pertama adalah gereja Katolik dan orang Katolik. Padahal mereka itu bersatu sebelumnya. Dan saat itulah Bosnia benar-benar menjadi lautan perang segita yang sesungguhnya.

Tragedi di Gaza bukanlah persoalan agama. Hamas memang muslim, tetapi orang Palestina itu tidak semuanya muslim, banyak yang Kristen dan agama lainnya juga. Palestina tidaklah sama dengan muslim. Orang Palestina itu beragama macam-macam. Para Hamas dan Fatah memang muslim. Dan kalau para pejuang mau ke Gaza itu mau membantu Palestina atau membantu Hamas, karena muslim? Ingatlah Fatah yang dihancurkan oleh Hamas juga muslim. Perang di Gaza bukanlah segampang gerakan tindak kekerasan yang menyerang kelompok berbagai agama seperti kejadian di Monas pertengahan tahun 2008 yang lalu.

Orang Palestina memerlukan persatuan, damai dan kerukunan. Tanpa itu negara Palestina akan tetap kacau, seperti sekarang ini.

Martino Sardi

Thursday, January 22, 2009

Membangun Sikap Bijak Terhadap Issue Israel dan Palestina


Ini mungkin sekedar informasi yang tidak pernah kita jumpai di media sebab musababnya Israel menggempur Gaza. Berikut petikan cerita dari Dr. Martino Sardi :


Sebelum umat Yahudi di Israel dan di luar Israel merayakan Hari Raya Hannukka, Pesta cahaya, yang berlangsung 10 hari dalam minggu terakhir bulan Desember 2008 ini, saya sudah merasakan akan ada serangan Hamas ke wilayah Israel di Jalur Gaza. Persis ketika lilin yang ketujuh dinyalakan, dan masih menyusul tiga lilin lagi yang harus dinyalakan berikutnya, dugaan saya menjadi kenyataan. Televisi Israel 1 menyiarkan tragedi bagaimana sengsaranya warga negara Israel menjadi korban akibat hantaman roket yang diluncurkan oleh Hamas. Pihak Israel masih sabar. Tidak langsung membalas.

Orang Yahudi pada umumnya taat akan hukum Taurat Musa, tidak boleh melakukan pembunuhan terhadap siapapun, kecuali untuk membela diri dan melindungi warganya. Berbagai peringatan diserukan, agar tindakan Hamas meluncurkan Roket itu dihentikan. Dan ancaman pun diserukan: “Kalau ada warga negara Israel sampai mati, maka tindakan itu tidak dapat ditolerir lagi, dan pasukan Israel akan siap meminta pertanggungjawabannya”.

Benarlah tragedi berikutnya terjadi. Lontaran roket menghantam warga sipil, empat orang berkebangsaan Israel mati sangat mengerikan. Kematian warganya, bagi orang Yahudi merupakan suatu yang harus diperhitungkan. Prinsip yang selalu dipakai oleh tentara Israel benar-benar diterapkan: warganya dibunuh, maka yang membunuh harus berani menanggung risiko.

Dan Israel mulai mengadakan tindakan militer. Dua pesawat dikirim untuk melumpuhkan pusat Hamas. Dan akibatnya terjadi banyak korban. Korban jatuh bukan hanya pasukan Hamas saja, tetapi juga penduduki sipil. Kedua belah pihak sudah menderita dan banyak korban berjatuhan.



Kita dapat bertanya: Siapakah yang salah dalam konflik ini? Semuanya salah, karena semuanya telah mengorbankan sesama manusia. Banyak manusia mati, akibat tindak kejahatan kedua belah pihak.

Awal tragedi dan pertikaian ini tidak banyak yang meliput secara internasional. Saya yang berada di Yerusalem dan selanjutnya ke daerah tepi Barat, sungguh merasakan betapa nyawa manusia dikorbankan dengan gampangnya. Hentakan roket dari pihak Hamas selanjutnya tampak tak terarah, dan banyak yang dapat ditangkis oleh pihak Israel, apalagi setelah ada kapal yang benderanya tidak jelas, tenggelam di laut internasional. Mungkin kapal itu milik Hamas dan tenggelam, karena mengarah ke Gaza.

Tindakan yang sulit diterima oleh orang Yahudi ialah hari Raya Hannukka dikotori dengan tembakan roket dari pihak Hamas. Dan kalau kita meneliti dari seluruh perang melawan Israel, perang selalu dimulai dengan mengadakan serangan ke pihak Israel pada saat orang-orang Israel yang beragama Yahudi mengadakan hari raya atau pesta keagamaannya. Pesta keagamaan yang dianggap suci dikotori oleh pihak lain dengan memprovokasi serangan senjata berat atau roket. Orang Yahudi tidak akan bereaksi, bila belum ada yang mati. Baru setelah ada yang mati, reaksi tentara Israel tidak dapat dicegah lagi.

Kita mengenal perang 6 hari. Tentara Israel baru menyerang, ketika dari pihaknya telah terbunuh dua orang warga sipil dan seorang polisi. Pembalasan Israel tidak tanggung-tanggung, dan Mesir pun kalah. Daratannya dikuasi sampai mendekati terusan Suez.

Orang akan ingat nama Mose Dayan, seorang pimpinan bermata satu, yang sanggup mengalahkan musuhnya dalam waktu cepat. Seluruh perang dengan Israel selalu berawal dari tindakan menodai hari suci orang Yahudi itu, dan serangan dari pihak Israel baru dilaksanakan bila sudah ada yang mati dari pihak Yahudi. Hal itulah yang biasanya dikatakan sebagai tindakan membela diri, membela warganya, dan pihak yang membunuh haruslah bertanggungjawab.

Bagaimanakah menyikapi tragedi tanggal 27 Desember 2008 sampai saat ini? Kedua-duanya salah dan jahat, karena adanya korban! Kita menyaksikan adanya banyak orang yang marah terhadap Israel yang dinilainya biadab (Baca Kompas tulisan Hamid Awaludin, Dubes RI untuk Russia) dan bahkan telah banyak orang yang mau ke jalur Gaza untuk berjihad melawan tentara Israel.

Bagaimanapun juga harus kita katakan bahwa perang itu tidak beradab. Kedua belah pihak, Hamas dan tentara Israel, keduanya tidak beradab. Hamas memang merasa hebat, karena telah melumpuhkan sesama muslim, yakni Fatah. Dan Hamas tidak mau menempuh jalan damai. Prinsip Hamas: Tiada damai, sampai Israel dikalahkan. Bagaimana kekuatan kecil itu mampu mengalahkan tentara Israel? Keyakinannya ialah Allah dipihaknya dan akan membantunya dan mati melawan Israel jaminannya surga.
Sikap kritis kita harus kita bangun dalam menyaksikan berita-berita sekarang ini.

Media tampaknya tidak lagi menjadi media yang berprinsip para peace journalism lagi, tetapi lebih provokatif yang membangkitkan konflik. Perhatikanlah berita-berita yang ditayangkan itu, apakah gambar dan filmnya itu benar-benar dari Gaza? Ataukah lebih banyak hanya arsip film perang dari daerah lain. Sekarang ini di daerah Gaza dan Israel itu musim dingin. Daun-daun yang ada hanyalah daun cemara. pinus dan kurma (sejenis kelapa). Bagaimana tampak banyak tanaman di daerah perang itu, yang menandakan musim panas. korban-korban tampak di rerumputan hijau atau di bangunan yang ada bukan khas Gaza, tetapi di Libanon? Kalau Anda pernah ke Gaza akan terasa aneh sungguh berbagai tampilan siaran itu. Banyak yang bukan dari Gaza, alias banyak yang dipalsukan. Sungguh suatu perang media. Sayang, kalau opini publik justru dibangun dari berbagai berita, tayangan gambar, flim palsu, bukan fakta dari Gaza itu sendiri. Inilah suatu kejahatan baru.

Martino Sardi

SECUIL PIDATO OBAMA - Sebuah refleksi untuk kita.


"....Bagi para pemimpin dunia yang berusaha menanam bibit konflik, atau menyalahkan dunia Barat atas kesulitan-kesulitan yang dialami masyarakatnya, ketahuilah bahwa rakyat Anda akan menilai Anda pada apa yang Anda bangun, bukan pada apa yang Anda musnahkan. Bagi mereka yang hendak menggenggam kekuasaan melalui korupsi dan kekejian dan membungkam orang yang tidak setuju pada kebijakan mereka, yakinlah bahwa kalian berada pada sisi yang keliru, tapi kami akan mengulurkan tangan jika kalian tidak lagi mengepalkan tinju..."

Ini adalah sepenggal paragraf pidato Obama dalam inagurasi pelantikannya sebagai Presiden Amerika ke-44 tanggal 20 Januari 2009. Cukup menarik untuk dikaji karena selama ini kita yang paling gencar untuk berusaha menantang kebijakan AS terhadap dunia (Islam, khususnya) manakala ada pergesekan yang berujung merugikan kelompok yang kita perjuangkan.

Belum lama ini ketika agresi militer Israel menggempur Gaza selama hampir sebulan (sejak 27 Desember 2008 hingga 19 Januari 2009), Indonesia paling ngotot untuk urusan tantang-menantang. Banyak macamnya, misalnya : memboikot produk AS, memboikot produk Israel, membakar bendera, demo di kedutaan, dsb. Cukup baik pula jika tidak diakhiri dengan sikap anarkis.


Kita menjadi seperti bangsa yang (sudah) tidak memiliki budi pekerti atau mungkin sudah kehilangan sama sekali sikap ramah yang dulu pernah disandang selama berabad-abad. Jika mau bercermin diri, kita ini seperti bangsa yang tidak memiliki karakter yang patut disejajarkan dengan bangsa lain manakala kita kehilangan daya berpikir logis dan lebih mengedepankan emosi yang meluap-luap. Inikah bangsa yang disebut 'macan tidur?"

Mari segera bercermin diri mengapa kita menjadi demikian berubah? Kita memang bangsa besar (karena wilayahnya), tetapi bukan bangsa yang (bersedia) berbesar hati menerima atas segala keterbatasan kita.

Kembali ke petikan pidato Obama di atas bahwa konflik terhadap barat (AS/Eropa) adalah cermin ketidakmampuan pemimpin dunia terhadap apa yang dibangunnya. Nah lho! Bagaimana nih dengan Indonesia? Ada benarnya juga sih. Lihat aja! Kita ini bisa sedemikian berubahnya karena kita tidak berhasil membangun manusia Indonesia yang baik. Setiap kekurangan adalah kesalahan orang lain bukannya berusaha berbenah diri. Ini adalah sebuah refleksi yang bagus untuk kita. Tinggal bagaimana kita mau menanggapinya. Jika penuh emosi, boikot sana boikot sini, bakar sana bakat sini maka akan selamanya kita menjadi bangsa yang 'termehek-mehek' walau hanya sekedar duduk berdampingan dengan mereka.

Karenanya Anda akan tahu harus memilih siapa untuk memimpin bangsa yang sudah termehek-mehek untuk bersikap kritis tetapi tidak urakan. Memilih partai mana yang punya sikap kritis tetapi bukan tarzan yang ikut boikot-boikotan.

Siapa saja mereka, itu bukan urusan saya!

Thursday, October 09, 2008

JANJI SANG PENJAHAT DI PESTA TAHUN 2009

Genderang pesta rupanya sudah mulai terdengar. Seiring dengan kartu-kartu undangan yang sudah banyak dilempar ke semua orang, panitia mengingatkan… Ayo! Ikut pesta bersama di tahun 2009.

Pagi itu belum sepotong mannapun kudapat untuk mengganjal perut. Sudah berjam-jam berjalan tak juga menemukan di mana manna yang terjatuh dari langit itu berada. Matahari menaruh belas kasihan padaku ketika dipandanginya aku masih berjalan-jalan tanpa tujuan. Sepertinya dia ingin tenggelam saja di balik gedung-gedung pencakar langit menyembunyikan cahayanya yang panas itu …. agar seperti tadi malam …. tanpa sinar, tanpa panas…. Namun tetap saja aku lapar.

“… Pak! Mau ikut pawai partai kami , nggak?!
Seorang lelaki perlente berjaket hitam berikat kepala biru mengagetkan aku. Belum juga usai aku pandangi matahari yang sejak tadi berusaha untuk pamit menghilang dibalik cakrawala, orang itu mendekat dan sedikit berteriak: “…Ayo… mau ikut ngga! Mau hujan nih! Tenang aja… ada amplopnya kokh!....”

“… partai apa ini?! tanyaku.

“… Nanti juga tahu! Kami selalu memperjuangkan kaum miskin agar tetap bisa makan… makanya ayo ikut….!

Dalam sekejap, aku sudah berada di atas pick up tanpa tahu akan pergi ke mana. Bendera-bendera berkibaran di sepanjang jalan nyaris menutupi hijaunya pohon-pohon. Aku seperti berada dalam penyambutan laksana presiden yang disambut rakyatnya di kanan dan kiri jalan, tapi yang ini hanya bendera-bendera bisu yang berlenggak-lenggok.

Kelak janji itu aku minta bukan dengan selembar amplop yang kuterima ini tapi tentu setelah pawai-pawai itu usai.

Sore hari, akhirnya kudapati sepotong ‘manna’ dari sahabatku yang sama-sama gembel di pinggiran Jakarta. Potongan demi potongan kulumat dengan pasti sepasti bahwa esok hari akan ada manna baru untuk hari itu. Jangan tanya padaku apakah janji lelaki perlente di pagi hari itu juga akan sepasti manna yang kuharap esok hari. Entahlah, semoga bukan penjahat yang berjanji hari ini untuk tahun 2009

Tuesday, September 30, 2008

PESAN UNTUK AKHIR BULAN RAMADAN ldul Fitri 1429 H. /2008 A.D. - Kota Vatikan

DEWAN KEPAUSAN UNTUK DIALOG ANTARAGAMA
Kristen dan Muslim: Bersama untuk Martabat Keluarga

Saudara-saudari Umat Muslim,
1. Dengan semakin mendekatnya akhir bulan Ramadan, dan mengikuti tradisi yang kini sudah sangat mapan, dengan senang hati saya menyampaikan ucapan selamat dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama. Selama bulan ini orang-orang Kristen yang akrab dengan Anda telah turut mengambil bagian dalam pengheningan refleksi Anda dan dalam perayaan-perayaan keluarga Anda. Dialog dan persahabatan semakin diperkokoh. Puji Tuhan!

2. Sebagaimana yang terjadi di masa lampau, perjumpaan persaudaraan ini juga memberi kita suatu kesempatan untuk mengadakan refleksi bersama tentang pokok pembicaraan timbal-balik yang akan semakin memperkaya hubungan kita satu sama lain dan semakin membantu meningkatkan saling pengenalan kita, baik menyangkut nilai-nilai yang dapat kita nikmati bersama, maupun menyangkut perbedaan-perbedaan di antara kita. Tahun ini kami ingin mengangkat ikhwal Keluarga.

3. Satu dari dokumen-dokumen Konsili Vatikan Kedua, yakni Gaudium et Spes, yang mengupas perihal keberadaan Gereja di dunia modem, menegaskan: "Keselamatan pribadi maupun masyarakat manusiawi dan Kristiani erat berhubungan dengan kesejahteraan rukun perkawinan dan keluarga. Maka umat Kristiani, bersama dengan siapa saja yang menjunjung tinggi rukun hidup itu, dengan tulus hati bergembira tentang pelbagai upaya, yang sekarang ini membantu orang-orang untuk makin mengembangkan rukun cinta-kasih itu dan menghayatinya secara nyata, dan menolong para suami-isteri serta orangtua dalam menjalankan tugas mereka yang luhur. Lagi pula mereka memang mengharapkan manfaat yang lebih besar lagi dari padanya, dan berusaha untuk meningkatkannya" (no 47).

4. Penegasan itu mengingatkan kita dengan tepat sekali, bahwa perkembangan setiap pribadi manusia dan masyarakat, sebagian besar bergantung pada sehatnya keluarga. Berapa banyak orang yang harus memikul, kadang-kadang bahkan untuk seumur hidupnya, beban berat dari luka-luka batin yang diakibatkan oleh latarbelakang keluarganya yang bermasalah atau yang penuh gejolak? Berapa banyak lelaki dan perempuan yang sekarang berada dalam jurang penderitaan karena narkoba dan kekerasan, sedang berusaha dengan sia-sia untuk sampai pada pemulihan dirinya karena trauma yang diderita pada masa kecilnya? Umat Kristiani dan Umat Muslim dapat dan harus bekerjasama untuk menjamin martabat keluarga-keluarga, baik di masa sekarang ini maupun di masa-masa yang akan datang.

5. Umat Kristiani dan Umat Muslim sama-sama menjunjung tinggi martabat keluarga-keluarga. Kita juga telah mendapat banyak kesempatan, baik di tingkat lokal maupun internasional, untuk menjalin kerjasama di bidang ini. Keluarga, di mana ada cinta dan kehidupan, di mana saling menghormati dan keramah-tamahan dijumpai dan diserahalihkan sebagai harta warisan, adalah sungguh-sungguh "sel dasar dari masyarakat".

6. Umat Kristiani dan Umat Muslim hendaknya tidak pernah boleh ragu-ragu, bukan hanya dalam hal mengulurkan tangan membantu keluarga-¬keluarga yang berada dalam kesulitan, tetapi juga bekerjasama dengan siapa saja yang mempunyai keprihatinan untuk mendukung stabilitas kedudukan keluarga sebagai sebuah lembaga dan tempat diembannya tanggungjawab orangtua, khususnya di bidang pendidikan. Kiranya hanya satu saja yang ingin saya garisbawahi untuk Anda: Keluarga adalah sekolah pertama di mana seorang belajar untuk menghormati yang lain, dengan memperhatikan sepenuhnya identitas dan perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Kiranya hal itu hanya akan membawa keuntungan bagi dialog antaragama dan penghayatan kewarganegaraan kita.

7. Sahabat-sahabat yang terkasih, menjelang berakhimya ibadat puasa Anda, saya berharap, bahwa Anda, bersama dengan keluarga Anda dan mereka semua yang karib dengan Anda, dengan mendapatkan pemurnian dan pembaharuan dari melaksanakan ibadat yang sangat dijunjung tinggi dalam agama Anda ini, sungguh akan menikmati kecerahan dan kesejahteraan dalam hidup Anda! Semoga Allah subhanahu wa taala memenuhi Anda dengan kerahiman dan kedamaianNya.

Jean-Louis Kardinal Tauran Ketua
Uskup Agung Pier Luigi Celata Sekretaris

Saturday, September 27, 2008

MENABUR KEKERASAN

Dua atau tiga dekade lagi, hidup di Indonesia rasanya akan jadi sangat mengerikan, khususnya buat kaum minoritas agama dan minoritas ganda (agama+ras). Betapa tidak? Bibit-bibit kekerasan atas nama agama sejak Order Baru hingga sekarang tidak kunjung padam. Kian hari kian mengerikan.

Aku adalah bagian dari minoritas itu. Andaikan aku bisa mencapai hidup 3 dekade lagi, yang kubayangkan adalah bagaimana aku harus bisa bertahan di tanah airku sendiri, di mana moyangku ikut membesarkan tanah dan air ini dengan darah dan keringatnya? Apakah mungkin aku bisa hidup di negeri orang-orang asing yang tak pernah dipijak moyangku? Ingat! Aku akan berusia 70 tahun saat itu, saat aku harus bersiap untuk menyatukan raga di tanah air ini.

Jangan berharap pada negara apalagi aparat negara yang adalah manusia Indonesia juga. Karena mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika masyarakat sedang menabur bibit-bibit kekerasan. Ketika masyarakat Indonesia sedang 'sakit' maka produk-produk aparatnya juga sakit. Memangnya mereka asalnya dari mana?

Saat ini ladang-ladang sudah dibajak dan bibt sudah ditabur.
Ya..!Ladang-ladang kekerasan atas nama agama sedang ditabur di tanah air ini.
Tetapi kelak penuai pasti sudah mulai lupa apa yang ditaburnya ketika panenan itu gagal? Adakah orang yang menabur batu akan menuai padi?

Aku hanya bisa berharap lewat doa-doa kepada Sang Khalik agar aku bisa menikmati suasana hidup yang nyaman dan aman di tanah airku ini.

(Jakarta, Bom Natal 2000)

Friday, September 26, 2008

INI ADALAH WANITA

Ini adalah wanita,
sejuta perasaan ada karena sejuta pemahaman,
yang pasti asli bukan palsu
yang pasti jelas tidak setengah-setengah,
karena memang ...bukan waria,

Wanita bukanlah waria
Karena waria.... aku jadi ngga punya rasa
walaupun kamu kasih aku sejuta.

(Tamanlawang, catatan pinggir jalan, Juli 1989)








Tuesday, September 23, 2008

HUKUMNYA HARAM MENOLAK MAKAN PANGGANG BABI

Seorang teman tertawa terbahak-bahak dalam bentuk icon manakala kami asyik chatting. Pembicaraan yang sudah ngalor-ngidul itu akhirnya tertambat pada pokok pembicaraan bagaimana seharusnya kita menjaga kesehatan, maklum usia kami sudah rawan-rawannya menampung penyakit.

Sebut saja kolestrol dan darah tinggi yang menyebabkan stroke dan jantung. Belum lagi kalau hobby makan yang enak-enak perlu jaga badan jangan sampai kena diabetes. Padahal usia kami belum terbilang tua amat, malah mungkin sedang ganas-ganasnya terhadap apa saja.

Di ujung pembicaraan yang memang udah ngalor-ngidul itu kemudian terhenti dengan icon 'gelak tawa guling-gulingan' yang ada di Yahoo! Beginilah percakapannya itu:

k4l0ng (1:52 PM) : umur 39 dah tergeletak tak berdaya di icu

binoceng (1:51 PM): musti ati-ati dech orang umurnya kayak kita-kita ini penyakit yang satu ini, selain darah tinggi sama kolesterol, wajib jag-jaga makan apalagi gw beratnya dah di atas 75kg, kalau habis makan suka ngantuk katanya gejala diabetes.... ngeri banget dengerinnya

k4l0ng (1:55 PM) : nah.. jaga men! ngeri campur sedih ngeliat kasus temen gue ini

binoceng (1:57 PM): iye seng, itu juga yang harus gw jaga bener. Cuma kadang-kadang temen2 gw pada kurang ajar juga.... mereka suka ngajak makan di Lapo terus pada makan panggang babi.... busyet dech... itu makanan yang ngga bisa gw tolak. makanya sekarang badan gw kayak ..... babi bener.... kata orang gw gemuk ! gw malah takut dibilang gemuk..... soalnya dibelakang gemuk itu banyak penyakitnya....

k4l0ng (1:59 PM) : binoceng : iye seng, itu juga yang harus gw jaga bener. Cuma kadang-kadang temen2 pada kurangajar juga.... suka ngajak makan di Lapo terus pada makan panggang babi.... busyet dech... itu makanan yang ngga bisa gw tolak.<< huahahaha

binoceng (2:01 PM): Hukumnya haram menolak makan panggang babi.. huahahaha


Aku coba mengingat-ingat lagi... di kitab mana ada hukum yang mengharamkan orang yang menolak makan daging babi?? Ada-ada aja. Narcis banget dah jadinya. Bangga banget makan daging babi mentang-mentang ngga dilarang sama Tuhan(nya gw)

Thursday, September 04, 2008

AVOONAN DBISHMAYA

Avoonan dbishmaya
Yetqadash shmakh
Titeh malkoutakh
Yehee sevyonakh
Heykama dbishmaya af bra-aa

Hab lan lahma dsoonqanan
Yaomana Washvooqlan
Hoveynan heykama daf hnan
Shbaqnan lhayoveynan
Wla t-eelan linissyoona
Ella passyan min beeshta
Mittol dilakh-hee
malkoota w-heyla
w-teshboohta
l-aalam aalmin
Amin

Versi lain yang masih dalam bahasa Aramic juga ada. Ini mungkin terjadi karena adanya perkembangan bahasa tetapi lafalnya tida jauh beda. Berikut adalah kutipannya yang disertai terjemahan dalam bahasa Indonesia.

Avoon deveshmaya
Bapa kami yang ada di surga
Nithkadash smakh
Dimuliakanlah namaMu
Taithai malkoothakh
Datanglah kerajaanMu
Nehwey sevyanakh
Jadilah kehendakMu
Aikenna deveshmaya up ber'ah
di atas bumi seperti di surga

Havlan Lakhma desoonkanan
Beri kami makanan untuk kebutuhan kami setiap hari
Yomana wushvoklan
Ampuni kesalahan kami
khoebaine aikenna deup
seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami
khnan shvakn elkhayaven
Jangan biarkan kami masuk
Ula taelun elnisyoena
di dalam pencobaan
Illa peson minbeesha
Tetapi bebaskan kami dari yang jahat

Mitthil dedelakhee Maikootha
Sebab Engkau adalah raja
Ookhayla
Yang berkuasa
Ootishboakhta
Yang mulia
Elalum allmeen
sekarang dan selamanya
Amen
Amin

Ini adalah doa Bapa kami dengan bahasa asli Aram yaitu bahasa yang dipergunakan oleh Yesus pada 2000 tahun yang lalu.

Mau tahu sebagian lirik lagunya? Silahkan klik Avoonan Dbishmaya dan dengarkan.

Monday, August 25, 2008

MURID KRISTUS ATAU BUKAN ?

Masih ingat dengan ayat Mat 28:19 yang berbunyi : “…Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,…”

Kita sudah dibaptis dan menjadi seorang Katolik. Baptis memang menandai seseorang menjadi orang Kristen Tidak mungkin seseorang menjadi Katolik tetapi tidak dibaptis secara Katolik. Sesungguhnya ketika kita dibaptis, kita ini sudah menjadi murid Kristus karena seharusnya menjadi murid dahulu baru dibaptis. Namun kadang perjalanan iman seseorang tidaklah mulus. Ibarat murid di sekolah, ada murid yang setia, ada murid yang tidak setia bahkan ada juga murid yang berkhianat kepada gurunya.

Mari sekarang kita mengenali diri kita itu murid atau bukan murid.
1. Ada banyak orang yang mempelajari Kitab Suci dan mendalami kehidupan sebagai seorang murid hingga menjadi ahli Kitab tetapi dia belum dapat disebut murid karena belum mengalami kehidupan sebagai murid itu sendiri.
2. Ada pula orang yang percaya kepada Gereja tetapi masih juga percaya dan mengandalkan hidupnya kepada yang lain dengan melakukan praktek hidup yang tidak kristiani. Meskipun dia melakukan kewajiban pergi misa setiap minggu, menerima sakramen dan berdoa setiap hari namun mereka bukanlah seorang murid karena Yesus bukan menjadi satu-satunya pusat hidupnya.
3. Ada pula orang yang hanya melulu sebagai anggota Gereja. Dia memang memenuhi kewajiban di parokinya, membayar iuran amplop merah atau kolekte tetapi ia juga menuntut paroki agar memperhatikan setiap kebutuhan-nya, minta baptis anaknya sesudah itu selesai karena sudah impas. Mereka memandangnya sebagai sebuah transaksi dagang ketika dia memberi kepada Gereja, maka Gereja wajib memperhatikan kebutuhannya. Orang ini hanya melulu sebagai anggota Gereja tetapi bukan sebagai murid karena Yesus belum menjadi pusat hidupnya.
4. Ada orang yang menjadi anggota Gereja dan aktif di organisasi. Dia masuk Gereja karena tertarik pada ideology orang Katolik, namun tidak menghendaki ideology itu mencampuri urusan pribadinya. Dia hanya bermaksud mencari keuntungan dari ideology itu. Dia tidak bermaksud menjadikan Yesus sebagai pusat hidupnya, maka dia bukanlah murid.
5. Ada orang yang menjadi anggota Gereja karena mau meniru sikap hidup Yesus; karena Yesus mencintai orang-orang miskin, maka dia juga akan memberikan seluruh hidupnya untuk orang-orang miskin. Lalu ia melakukan berbagai aktivitas dalam mana seluruh perhatiannya ditujukan kepada kaum miskin, tetapi Yesus tida ada di dalamnya. Orang seperti ini bukanlah murid. Mengapa? Karena ia hanya mau seperti Yesus, tetapi tidak mau menjadi Yesus. Menjadi seperti Yesus berbeda dengan menjadi Yesus.
6. Ada pula kelompok orang yang disebut pelaku-pelaku Katolik. Mereka rajin melakukan aksi-aksi sosial dan menolong banyak orang terlantar. Perbuatannya memang baik, namun apakah itu dikerjakan demi Yesus atau demi kepuasan batinnya sendiri? Dia adalah pelaku-pelaku yang baik tetapi bukanlah seorang murid.

Dengan contoh-contoh di atas, kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri,” Termasuk kelompok manakah saya ini?” Jika demikian, siapakah yang disebut murid?

Murid adalah orang yang mengikuti pimpinannya, yaitu Yesus. Mengikuti Yesus berarti mengikuti jejakNya sebagai Sang Guru. Mengikuti jejak Yesus di sini tidak boleh diartikan secara harafiah, bukan juga berarti menjadi seperti Yesus karena ini berarti menjadi imitasi Yesus.

Menjadi murid berarti menjadi Yesus dalam arti pandangannya adalah pandangan Yesus, pikirannya adalah pikiran Yesus, hatinya adalah hati Yesus. Seorang murid yang memiliki pikiran Yesus berarti ia hidup dalam Yesus, hidup melalui Yesus, hidup dengan Yesus, dan hidup untuk Yesus. Yesus adalah pusat hidupnya. Dan karena itu ia mempunyai pikiran Yesus.

Bagaimanakah pikiran kita bisa menjadi pikiran Yesus? Rasul Paulus mengatakan bahwa Yesus telah memberikan segala-galanya. Ia memberikan ke-AllahanNya untuk menjadi manusia. Dan ia memberikan kemanusiaanNya dengan membiarkan orang-orang membunuhNya. Ia memberikan diri dan mengosongkan diriNya. Itulah pikiran Yesus yang harus dimiliki oleh seorang murid. Pikiran itu tidak berhenti sebatas ide tetapi nyata dalam perbuatan. Seorang murid melakukan segala sesuatu di dalam Yesus, lewat Yesus, dengan Yesus, dan untuk Yesus. Inilah pola hidup seorang murid yang harus nampak dan dapat dilihat oleh orang lain.

Sumber : PEMURIDAN (Sr. Eligia, CB) dengan penyesuaian seperlunya.

Tuesday, August 19, 2008

KAISAR MEMAKAN PAJAK KITA

Injil tentang membayar pajak kepada Kaisar sering dikutip pada setiap perayaan 17 Agustusan. Orang kagum pada kejelian Yesus menghindarkan diri dari jebakan kaum Farisi. Jika Ia menjawab bahwa kepada kaisar orang boleh membayar pajak, maka Ia dianggap melawan hukum Taurat yang mengajarkan bahwa hanya kepada Allah orang boleh menjalankan kewajibannya. Tetapi jika Ia mengatakan tidak boleh membayar pajak kepada kaisar maka Ia berhadapan dengan penguasa Romawi. Karena itu Yesus secara diplomatis menjawab, ”berikan kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.”

Jika merenung lebih jauh, kita akan menemukan betapa ironisnya pemisahan kekuasaan yang tidak berimbang itu. Berapa sih kekuasaan seorang kaisar? Dan apakah kewajiban kita terhadap kaisar sama pentingnya dengan kewajiban kita kepada Allah? Seorang kaisar membuat mata uang dengan gambar dirinya sebagai penguasa wilayah di mana uang itu berlaku. Suatu keterbatasan teritorial yang langsung menunjukkan betapa kecilnya kekuasaan seorang penguasa dunia. Kaisar bisa membeli kekuasaan tetapi tidak sanggup membayar kehormatan. Sebaliknya kekuasaan Allah melampaui segalanya dan dihormati di mana-mana. Dan Allah tidak perlu membeli semuanya itu.

Maka, perayaan 17 Agustusan menjadi moment untuk meletakkan kekuasaan Allah pada tempatnya. Dewasa ini manusia merasa lebih berkuasa dari Tuhan. Kewajiban-kewajiban kita terhadap Tuhan menjadi longgar. Kita lebih takut pada atasan yang menjadi kaisar atas hidup kita, yang kita diamkan tindakan korupsinya karena takut kehilangan pekerjaan. Kita lupa bahwa utang budi kita pada Allah jauh lebih besar melebihi pimpinan di kantor. Pajak hutang budi kita menumpuk-numpuk, karena kita lupa membayarnya. Lupa membayar rekening udara, matahari, hujan, musim, dan hal-hal baik lain yang kita alami dari Tuhan.

Mungkin kita berpikir bahwa Allah Mahabaik tak pernah menuntut balas jasa. Tapi apakah kita tidak tersinggung ketika orang mengatakan bahwa kita adalah orang yang tak tahu berterima kasih? Cara kita berterima kasih kepada Allah adalah dengan mengurus tanah air kita secara baik-baik. Kita tidak ingin merusaknya dengan eksploitasi yang tidak ”berperikemanusiaan, tidak berperi kebinatangan, tidak berperikelingkungan”. Namun dari hasil yang kita lihat, tanah air kita semakin merana. Ini bukanlah karena rakyatnya tidak pernah membayar pajak kepada kaisar tetapi karena kaisar telah memakan uang pajak rakyatnya.

Bukti bahwa kaisar telah memakan uang pajak dapat kita lihat dari maraknya pejabat yang korup dan merosotnya tingkat kemakmuran rakyat. Bencana datang silih berganti. Kita telah memberi kuasa penuh kepada para pimpinan negara ini, tetapi tak ada yang becus mengurus rakyatnya. Kita menjadi seperti anak ayam yang mati di lumbung padi.
(SVD Jakarta)

Wednesday, August 06, 2008

HANYA ALKITAB-KAH SUMBER IMAN KITA?

-Tradisi dan Alkitab -
Sering ditanyakan oleh orang-orang kristen fundamentalis: "Mengapa Gereja Katolik percaya kepada kenaikkan Maria ke surga, kepada Maria yang mengandung tanpa noda?", dan sebagainya. Kesukaran yang mereka ajukan ialah: "Bukanlah semuanya itu tidak tertulis dalam Alkitab?" Jadi, banyak hal yang menurut mereka tidak tertulis secara jelas dalam Alkitab tidak dapat dibenarkan atau bahkan bertentangan dengan Alkitab. Bagaimana jawaban Gereja Katolik?

Hanya Alkitabkah sumber iman kita?
Kadang-kadang kaum fundamentalis mengutip dua ayat berikut ini sebagai "bukti" untuk menunjukkan kekeliruan Gereja Katolik yang mengajarkan bahwa selain Alkitab ada juga tradisi yang dihormati sebagai sumber imannya:
1. Yoh 5 :39 yang berbunyi : "Kamu menyelidiki Kitab Suci …"
2. Kis 17:11 yang berbunyi: "Mereka itu orang-orang Yahudi di Berea menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian."

Bagaimana jawaban kita?
Pertama, Yoh5:39 dikutip lepas dari konteksnya. Di situ Yesus mengecam orang-orang Yahudi yang mau menyelidiki Kitab Suci untuk mendapatkan kehidupan, tetapi nyatanya mereka tidak mampu percaya kepada Yesus, yang adalah "Jalan, Kebenaran dan Kehidupan." Jadi ayat itu tidak bermaksud mengatakan bahwa segala ajaran kristen harus diselidiki kebenarannya dalam Alkitab. Sekali lagi, konteks Yoh 5:39 harus diperhatikan.

Kedua, Sepintas lalu ayat Kis 17:11 nampaknya segera membenarkan paham bahwa satu-satunya pedoman iman kita adalah Kitab Suci, sebab di situ dikatakan bahwa firman (atau kebenaran agama kristen) yang diterima oleh orang-orang Berea diteliti kebenarannya dengan menyelidiki Kitab Suci. Namun, benarkah bahwa ayat itu bermaksud mengatakan bahwa setiap dan semua pengajaran iman kristen harus dapat dibuktikan dari Kitab Suci? Seandainya memang demikian, itu berarti bahwa agama Yesus Kristus tidak mempunyai kelebihan apapun dibandingkan agama Israel lama. Mengapa kita dapat berkesimpulan demikian? Sebab kalau Perjanjian Baru sendiri berbicara tentang tulisan suci atau kitab suci, maka yang dimaksud di situ adalah kitab Perjanjian Lama (sebab tulisan-tulisan Perjanjian Baru sendiri waktu itu praktis belum ada). Jadi kalau orang mengatakan bahwa Kis 17:11 merupakan bukti bahwa semua kebenaran kristen harus dapat dibuktikan dalam Kitab Suci (yang - perhatikan sekali lagi - sama dengan Perjanjian Lama saja), maka itu berarti bahwa semua ajaran Kristen harus dapat dikukuhkan oleh Perjanjian Lama. Jadi, Perjanjian Baru sendiri tidak perlu atau hanya penjabaran belaka dari Perjanjian Lama, tidak lebih dari itu. Jelas hal ini tidak dapat kita terima. Perjanjian Baru jelas mengandung ajaran-ajaran yang tidak termuat dalam Perjanjian Lama. Bukankah Perjanjian Baru juga mengkoreksi dan melengkapi Perjanjian Lama? (bdk Mat 6:21 dst). Dengan keberatan sangat serius ini maka Kis 17:11 tidak dapat kita pakai sebagai bukti bahwa sumber iman kita hanyalah Alkitab. Dari Kis 17:11 kita hanya dapat mengetahui bahwa kebenaran-kebenaran agama kristen yang diterima oleh orang-orang Yahudi di Berea terbukti sesuai dengan Perjanjian Lama, dan bukan bahwa semua kebenaran agama kristen harus dapat dibuktikan dalam Perjanjian Lama.

Ayat-ayat yang mengandung gagasan tradisi
Untuk mendukung ajaran Katolik megenai pentingnya Tradisi, biasanya di kemukakan ayat-ayat berikut ini:
1. Kis 2:42 dimana dikatakan bahwa jemaah Kristen perdana bertekun dalam pengajaran para rasul, jauh sebelum tulisan-tulisan Perjanjian Baru sendiri lahir. Jadi kehidupan iman gereja tidak terbatas pada buku saja, tatapi juga pada ajaran lisan para pemimpin suci yang ditetapkan oleh Tuhan.
2. 1 Kor 15:3 dimana dikatakan oleh Paulus bahwa kebenaran tentang Yesus Kristus dia terima sendiri (jelas secara lisan).
3. 2 Tes 2:15 dimana Paulus menasehati umatnya: "Berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan maupun secara tertulis." Ajaran-ajaran yang tidak tertulis semacam itulah yang kita sebut tradisi.
4. Yoh 21:25 yang berbunyi: "masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat Yesus, tetapi jikalau semua itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak memuat semua kitab yang harus di tulis itu." Ayat ini menunjukan bahwa tujuan penulisan injilnya bukanlah untuk mendaftar semua ajaran Kristen atau membuat daftar lengkap dari ucapan dan perbuatan Yesus. Yang dia tulis hanyalah hal- hal yang paling mendasar untuk keselamatan manusia. Hal yang sama kiranya berlaku untuk kitab- kitab Perjanjian Baru lainnya.

Tradisi dan Alkitab
Salah satu hal yang menbedakan Gereja Katolik dari Gereja Protestan adalah paham mengenai wahyu Allah dissimpan dan diteruskan kepada umat manusia disegala tempat dan jaman. Menurut Gereja Katolik: melalui Tradisi dan Alkitab! Apakah Tradisi itu? Bagaimana hubungannya dengan Alkitab? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu kita bahas ajaran Gereja Katolik mengenai terjadinya Alkitab.

Pertama-tama, ada Allah yang mewahyukan Diri-Nya melalui para nabi, utusan-Nya. Para nabi itulah yang mewartakan Sabda-sabda Allah. Tetapi Allah bersabda juga melalui karya-karya-Nya yang agung dan melalui peristiwa-peristiwa hidup. Jadi dengan kata dan perbuatan Allah mewahyukan Diri-Nya, artinya Ia memperkenalkan siapakah Diri-Nya dan apakah rencana-Nya untuk keselamatan manusia. Dengan wahyu illahi ini Allah menyapa kita sebagai sahabat-Nya (Konstitusi Dei Verbum paragrap 2), mengadakan kontak batin dengan kita dan ingin bersatu dengan kita. Wahyu Allah inilah yang diterima oleh sekelompok umat manusia yang kita sebut gereja (baik dalam bentuk permulannya, yakni bangsa Israel, maupun dalam bentuk yang sudah tetap, yakni Gereja Yesus Kristus). Wahyu Allah itu bergema dan dihayati oleh Gereja dalam ibarat, ajaran dan seluruh kehidupan mereka. Inilah yang disebut Tradisi. Tradisi adalah Sabda Allah sejauh diterima dan dihayati Gereja dalam hidupnya, ajarannya dan ibaratnya. Atau dapat dikatakan juga bahwa Tradisi adalah iman Gereja terhadap Wahyu Allah/Sabda Allah.

Lama kelamaan, ketika para rasul Yesus mulai wafat satu persatu, timbul kebutuhan untuk menuliskan ajaran-ajaran yang mereka wariskan secara lisan itu, agar Gereja mempunyai pegangan. Untuk tujuan ini Roh Allah mengilihami orang-orang tertentu dalam Gereja untuk menuliskan apa yang dihayati dalam Tradisi itu dalam Alkitab. Jadi, dalam arti tertentu, Alkitab itu adalah bagian dari Tradisi atau bentuk tertulis dari Tradisi. Tetapi berkat ilham Roh Kudus, Alkitab mempunyai nilai istimewa sebab Allah sungguh-sungguh berkenan bersabda melalui kata-kata manusia dalam Alkitab.

Dari uraian diatas nampak betapa eratnya hubungan Tradisi dan Alkitab. Oleh karena itu Alkitab harus ditafsirkan dalam konteks dan dalam kesatuan dengan Tradisi. Sulit membayangkan penafsiran Alkitab lepas dari Tradisi, sebab sebelum Alkitab ditulis, Sabda Allah itu sudah lebih dahulu dihayati dalam Tradisi. Sebaliknya, karena penulisan Alkitab itu ada dibawah pengaruh Roh Kudus sendiri, maka Tradisi yang dihayati Gereja disegala jaman itu harus dikontrol dalam terang Alkitab.

Untuk sedikit mempermudah pemahaman kita tetang proses penulisan Alkitab dan kaitannya dengan Tradisi, baiklah kita ambil contoh kongkrit ini. Bagaimana garis besar terjadinya ayat-ayat Perjanjian Baru yang mewartakan bahwa Yesus Kristus adalah penyelamat dunia ? Pertama-tama Allah mewahyukan bahwa Yesus Kristus adalah juru selamat umat manusia; lalu Gereja menerima wahyu tersebut dalam iman dan menghayatinya dalam ibadat-ibadatnya, dalam ajaran-ajarannya dan dalam seluruh kehidupannya. Inilah Tradisi. Akhirnya, berkat ilham Roh Kudus iman itu dirumuskan secara tertulis dalam ayat-ayat Alkitab. Sebagai konsekuensinya, ayat-ayat semacam itu akan dapat dipahami sepenuhnya bila ditafsirkan dalam terang Tradisi.

Dengan uraian singkat diatas kita dapat memahami dengan lebih mudah apa yang diajarkan oleh Konsili Vatikan II mengenai hubungan Tradisi dan Alkitab berikut ini:
"Jadi Tradisi Suci dan kitab Suci erat hubungannya satu sama lain dan saling berkomunikasi. Sebab keduanya, yang berasal dari sumber illahi yang sama, bagaimanapun bergabung menjadi satu dan mengarah ke tujuan yang sama. Karena kitab Suci adalah penuturan Allah sejauh dituangkan kedalam tulisan dengan ilham Roh Illahi; sedangkan Tradisi Suci, meneruskan secara utuh Sabda Allah, yang dipercayakan Kristus kepada para Rasul dan para pengganti mereka, agar dipelihara dengan setia, dijelaskan dan disebarluaskan didalam pewartaan mereka sampai diterangi Roh Kebenaran. Maka Gereja menimba kepastiannya mengenai segala sesuatu yang diwahyukan tidak hanya dari Kitab Suci. Oleh karena itu kedua-duanya harus diterima dan dijunjung tinggi dengan perasaan saleh dan hormat yang sama."

Tradisi (yang lisan itu) ada sebelum Alkitab. Kemudian Tradisi lisan itu dituangkan dalam bentuk tertulis oleh penulis-penulis suci yang adalah anggota Gereja. Kemudian Gereja (melalui pimpinan suci yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri) meneguhkan mana yang adalah bagian Alkitab dan mana yang bukan. Jadi, sejauh mengenai penulisan Alkitab sendiri, Gereja ada sebelum Alkitab. Dalam arti inilah Alkitab kita sebut juga buku Gereja. Namun ini bukan berarti bahwa Gereja mengatasi atau lebih tinggi daripada Alkitab. TIDAK! Gereja tetap harus mendengarkan dan menaati Sabda Allah dalam Alkitab. Akan tetapi, seperti sudah diterangkan didepan, Gereja Yesus Kristuslah yang mendapat wewenang untuk mengajar kita bahwa kitab-kitab tertentu adalah benar-benar Sabda Allah. Dan wewenang untuk mengajar soal-soal iman dan susila ada ditangan para uskup sebagai pewaris sah para rasul dengan Paus sebagai pemimpin, yakni peringgati Petrus. Nah, Gereja yang sama itulah yang megajar kita juga bahwa Tradisi itu harus dihormati dengan "perasaan saleh dan hormat yang sama."

Auto-kritik
Akhir-akhir ini banyak disebarluaskan di Indonesia terjemahan buku atau artikel yang menyerang Gereja Katolik. Banyak kelompok fundamentalis yang tidak segan-segan menuduh Gereja Katolik sebagai Gereja Iblis, ilmu tenung, dan sebagainya. Mereka begitu yakin bahwa orang-orang Katolik pasti masuk neraka sebab Gereja Katolik itu begitu sesat.

Setelah kita melihat bagaimana terjadinya Alkitab dalam sejarah, dan bagaimana perasaan Gereja dalam penentuan kanon Alkitab, maka mengkritik Gereja Katolik sebagai Gereja yang begitu rapuh dan mudah sesat berarti mengkritik diri sendiri (auto-kritik). Mengapa? Sebab Alkitab yang mereka pakai sebagai senjata untuk menyerang Gereja Katolik adalah Alkitab yang hampir seluruhnya sama dengan Alkitab yang dahulu ditetapkan sebagai Sabda Allah oleh Gereja Katolik, yakni Gereja yang mempunyai struktur pimpinan yang sama dari dulu hingga sekarang. Bagaimanapun juga kaum fundamentalis yang merupakan sekte-sekte Kristen itu sudah mengambil-bagian dalam iman dasar Gereja Katolik, yakni bahwa minimum 39 kitab Perjanjian Lama dan ke-27 kitab Perjanjian Baru itu adalah Sabda Allah. Jadi kalau kaum fundamentalis itu percaya bahwa Gereja Katolik itu Gereja yang begitu rapuh, yang sesat dan sebagainya, maka bagaimana mungkin mereka menerima juga Alkitab yang diwariskan oleh Gereja yang begitu rapuh semacam itu? Tidakkah Alkitab yang diwariskan oleh Gereja semacam itu tidak bisa dipercaya juga? Pohon yang tidak baik tidak bisa menghasilkan buah yang baik. (Tetapi harap pepatah ini diartikan dengan tepat! Bukan berarti Alkitab adalah Sabda Gereja). Tidak bisa disangkal bahwa kanon Alkitab kaum fundamentalis sebelum ditetapkan oleh Gereja Reformasi sudah lebih dahulu ditetapkan sebagai Sabda Allah oleh Gereja Katolik.

Perbedaan antara Tradisi dan tradisi-tradisi:
Tradisi (dengan huruf T besar) harus dibedakan dari tradisi (dengan huruf t kecil) atau dari tradisi-tradisi. Kita percaya bahwa Tradisi itu berasal dari para rasul dan merupakan wahyu Tuhan. Sedangkan tradisi-tradisi berarti kebiasaan-kebiasaan Gereja yang manusiawi, dan karenanya tidaklah hakiki, artinya bisa diganti dengan kebiasaan lain yang sesuai dengan tuntutan jaman dan kebudayaan. Penggunaan organ dalam ibadat, penggunaan lonceng dan sebagainya adalah tradisi Gereja yang manusiawi, jadi boleh dihapuskan dan diganti dengan hal lain. Tetapi penggunaan roti dan anggur sebagai bahan untuk Misa, misalnya, adalah bagian dari Tradisi yang tidak bisa diubah.

Monday, July 07, 2008

SONTOLOYO

Memasuki usia uzur bangsa ini tak ada satupun warisan yang bisa diteruskan ke anak cucu selain sejarah patriotik dan hutang. Dulu masih ada nilai ekonomis bangsa yang patut diacungi jempol sebagai lumbung padi asia tapi kini sudah tidak lagi mempunyai lumbung setelah 'pengerat' berambut hitam dan berdasi itu mulai sedikit demi sedikit mencurinya sebagai pemilik lumbung.

Rakyat terus saja dijadikan kambing hitam ketika pengerat mulai satu-satu hilang atau tertangkap dengan mengatakan : "Jadilah anak bangsa yang bisa membawa nama baik negara di tingkat dunia!!!" Nyatanya, mereka hanya selalu dituntut tapi tidak pernah diperdayakan.

Pejabat boleh saja bicara ini itu untuk mencari pembelaan diri.
Membela diri dihadapan rakyat???

"SONTOLOYO!!

Hanya kata-kata itu yang kami mampu dengar setelah semua orang mulai bosan mendengar keluh kesah. Sontoloyo, inilah bukti pembelaan negara karena tak mampu lagi mendengar suara hati rakyat.

Thursday, June 12, 2008

APAKAH ENGKAU TANAH AIRKU, INDONESIA

"...Indonesia tanah airku..."
Sepenggal kalimat dari lagu Indonesia Raya ini tentu tak akan pernah lupa jika kita menyanyikannya. Jika di negeri orang dan kita mendengar lagu ini, spontan bibir kita akan mengucap kalimat demi kalimat dalam bait-bait lagu tersebut. Terkadang jika penghayatan lagu ini sudah sampai pada titik patriotik yang tinggi, jangan salahkan lagunya jika air mata mengalir karena rasa haru. Siapa yang tidak bangga menjadi putra pertiwi tatkala lagu itu terdengar nun jauh di sana di tempat di mana kita jauh dari ibu pertiwi.

Aku mencoba memaknai kalimat ini lebih dalam lagi dalam sanubariku dan tentunya dengan caraku sendiri. Rasanya ada yang salah dengan kalimat itu tapi entah apanya yang salah.

Jauh memandang negeri ini dari ujung Sabang hingga batas Merauke, Indonesia memang sungguh kaya dan luas. Dulu konon kata orang tua kita, bangsa Indonesia itu terkenal dengan keramahtamahannya dan halus tutur bahasanya. Konon pula, kata orang yang sama, Indonesia itu negara maritim yang mampu menjajah bangsa lain hingga tepi timur Afrika (Madagaskar), Asia Tenggara, Campa, hingga Papua.

Dibandingkan dengan kerajaan Malaysia waktu itu, Indonesia masih terlalu kuat hingga Malaysia bisa digagahi selangkangannya lewat pendudukan Majapahit pada abad 15M. Kalau hanya sekedar ingin 'mengencingi' Malaysia pada jaman Sukarno di tahun 1960an, pada jaman Majapahit malah sudah 'berak' di Malaysia tanpa mampu menghapus bekas tahinya.

Itu dulu yang cuma tinggal sejarah. Indonesia rupanya bukan Majapahit meski semua simbol Majapahit numpuk digunakan untuk membangun rasa patriotik Indonesia. Masih ingat dengan pepatah : "Gemah ripah Loh jinawi"?. Saat ini, di tahun 2008 ini, ketika semua anak bangsa kehilangan identitas diri, pepatah itu bisa akan menjadi :"Gemah Ripah Kokh Mateni". Yuk kita lihat bedanya dengan jaman dulu :
1. Bangsa ini sudah tidak ramah lagi ketika inkulturasi budaya asing, entah barat entah timur tengah, mulai mengikis keramahtamahan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
2. Welas asih yang jadi ciri masyarakat Indonesia sudah hilang dengan besarnya Ego dan tak peduli dengan orang lain
3. Manusia Indonesia sudah tidak saling menghargai satu sama lain hingga atas nama SARA boleh menghancurkan yang lemah.
4. Masih banyak
5. Terlalu banyak.

Anehnya, negara tidak melihat itu sebagai indikasi akan hilangnya jati diri bangsa dengan membiarkan semuanya terjadi.

Aneh.... aku yang ada dalam kelompok kecil dan minoritas ini terus mengkaji ulang akan makna "Indonesia Tanah Airku".
Apakah engkau sungguh-sungguh tanah airku, Indonesia??
Apakah engkau bisa menjadi tanah airku, Indonesia??
Apakah engkau memang Indonesia bagiku???

Monday, June 09, 2008

YESUS JANGAN TURUN-TURUN DULU YACH

Memandang salib corpus Yesus yang 'ngglantungan' di setiap dinding tembok property-nya orang Katolik mengingatkan aku akan kisah dua penjahat Dismas dan Gesmas. Gesmas ini benar-benar 100% penjahat tulen yang sampai mampus aja masih bangga jadi penjahat. Berbeda dengan Dismas yang kapok setengah mati di ujung salibnya. Dia tobat jadi penjahat karena dia pikir, udah usaha ke sana ke sini jadi penjahat tetap aja nasibnya jelek terus maka daripada nasib paling akhirnya juga jelek mending tobat aja dech. Duduk di emperan surga mungkin lebih baik daripada masuk neraka, pikirnya.

Terus apanya yang bisa diingat dari kisah itu???
Dismas dan Gesmas adalah gambaran manusia di dunia yang serba hitam dan putih, dosa dan suci, salah dan benar, kafir dan agamis, dsb. Bos besarnya sudah jelas, Lucifer di sisi hitam dan Tuhan di sisi putih. Terserah mau ditafsirkan seperti apa. Kenyataannya adalah dua geng ini sudah ada sejak penciptaan dunia. Tinggal kita-kita ini mau pilih geng mana??? Semua pilihan akan mendapat rewardnya.

Hitam - putih dan dosa - suci ibarat sebuah pertandingan dalam pemilu. Sayangnya kita ngga bisa menghitung berapa hasil sementara hingga umur bumi ini sudah uzur. Kalau nanti pengikut Lucifer mendominasi perolehan suara maka akan dipastikan terjadi perluasan area neraka karena daya tampung neraka sangat minim sementara surga akan kosong melompong. Di pihak lain Tuhan juga ngga mau kalah. Dia harus menang donk. Dia tidak ingin kerajaanNya kosong dengan rakyat yang sedikit.

Kalau posisi perolehan masih bisa dimenangkan Tuhan, maka Yesus ngga perlu turun dulu. Tapi kalau Lucifer bisa menyusul di tingkungan dengan akal bulusnya sehingga posisinya hampir menyamai perolehan suara Tuhan maka saat itulah Yesus bersiap-siap terjun payung dan inilah akhir dunia itu.

Jika demikian, apakah saat ini dunia sedang akan dihancurkan karena posisi orang berdosa semakin meningkat hampir menyamai jumlah penghuni surga? Jika ini adalah tanda-tandanya sebaiknya kita cepat-cepat ganti surat suara dan memilih Tuhan biar Yesus ngga turun-turun dulu. Kalaupun sudah terlanjur diterjunkan setidaknya kita masih bisa duduk diemperan surga nemenin Dismas.

Wednesday, May 28, 2008

AIR DI JAKARTA


Sehari-harinya, Jakarta selalu kekurangan air di musim kemarau dan banjir di musim penghujan. Dalam lima tahun terakhir, Jakarta dilanda banjir besar sebanyak dua kali yaitu tahun 2002 dan 2007

Baik kekurangan air maupun banjir dianggap masalah air. Solusi yang dicari juga terbatas pada penanganan masalah air, seperti membuat bendungan dan banjir kanal. Padahal masalah air hanyalah sebuah gejala dalam sindrom terlampauinya daya dukung lingkungan hidup.

Untuk hidupnya, makhluk hidup membutuhkan air, udara, pangan dan ruang hidup. Bagi manusia, air tidak hanya untuk minum, melainkan juga untuk mandi, mencuci, dan produksi pangan, kertas, pakaian, dll. Makin “modern” seseorang, makin besar kebutuhan airnya.



Di Jakarta air PAM tidak mencukupi. Airpun pompa dari dalam tanah. Dan Jakarta mengalami keamblesan tanah. Kelebihan air di musim hujan makin sulit untuk dibuang ke laut. Jakarta yang landai dan sebagian wilayahnya terletak di bawah permukaan laut, makin rentan terhadap banjir. Kemablesan tanah merusak riul Jakarta. Terjadilah pencemaran air tanah. Air PAM pun tercemar.

Penggunaan air telah melampaui daya dukung
Ruang hidup diperlukan oleh semua makhluk hidup. Jakarta mengalami pertumbuhan eksponensial. Jakarta menjadi penuh sesak. Bantaran sungai dipenuhi perumahan. Sungai menyempit. Ruang Hijau Terbuka (RTH) makin berkurang. Produksi sampah meningkat. Sungai di Jakarta tersumbat sampah dan eceng gondok yang tumbuh subur. Banjir meningkat. Limbah MCK juga merupakan sumber penyakit muntah berak.

Rumah-rumah tangga di Jakarta berusaha memperluas rumahnya akibat kebutuhan ruang tinggal yang semakin besar karena semakin banyaknya penghuni. Maka halaman rumah dikorbankan, menciut sampai minimal, bahkan habis sama sekali. Kalau toh masih ada, biasanya diperkeras dengan semen atau beton sehingga tanah terbuka hilang. Yang tersisa pelataran semen tak ubahnya bangunan tanpa atap. Muncullah problem besar yaitu berkurangnya (dan hilangnya) lahan untuk peresapan air hujan.

Maka banjir menjadi tak terelakkan karena semua air hujan dialirkan (tidak sengaja) ke tempat-tempat yang lebih rendah, bukan diresapkan ke dalam tanah. Air hujan berkumpul membentuk genangan besar yang perlu waktu untuk pergi menuju badan-badan air yang alamiah (sungai, danau, laut) maupun buatan (banjir kanal, waduk buatan). Genangan besar yang tidak pada tempatnya, itulah banjir. Tidak perlu dikatakan lagi seberapa merugikannya banjir yang melanda kota kita. Ikut diterjang banjir atau tidak, seluruh warga kota merasakan penderitaan dalam berbagai bentuk. Tidak terkecuali, bahkan Presidenpun terlihat kerepotan dalam suatu perjalanan menembus banjir menuju istana kepresidenan.

Tertutupnya lahan untuk resapan air hujan tidak hanya itu. Jakarta defisit (kekurangan/tekor) air tanah. Itulah yang terjadi, karena jumlah air yang diresapkan ke dalam tanah begitu sedikit dibandingkan dengan jumlah air yang terus menerus disedot dari dalam tanah melalui pompa air/pompa bor/ sumur. Ibarat rekening kita di bank yang tidak pernah diisi melalui setoran, tapi dananya ditarik terus, dikurang terus. Tidak mengherankan jika suatu hari ketika menarik dana di ATM, yang muncul dilayar ATM : ”Maaf dana anda tidak mencukupi untuk penarikan ini”

Kebutuhan akan air bersih untuk berbagai kehidupan kota Jakarta yang dipenuhi oleh PDAM hanya sekitar 50% saja. Sisanya disedot masyarakat langsung dari perut bumi. Kurangnya pasokan air hujan yang meresap ke dalam tanah, membuat masyarakat harus menggali sumurnya lebih dalam lagi setiap musim kemarau. Dari rata-rata belasan meter kedalaman sumur pada tahun 1970an, sekarang sudah mencapai rata-rata 40an meter untuk memperoleh air bersih. Artinya diperlukan pompa yang lebih besar, lebihmahalm dengan daya listrik yang lebih tinggi. Itulah sebabnya biaya hidup di Jakarta semakin terasa mencekik karena untuk mendapatkan air yang begitu vital untuk kehidupan kita, harus dikeluarkan ongkos yang kian hari kian mahal saja.

Kurangnya air dalam tanah meninggalkan banyak jalur dan rongga melompong dalam tanah. Kekosongan ini mengundang masukknya air laut (interusi) yang asin dalam tanah kita. Maka sumur menjadi berair asin padahal sebelumnya tawar. Kecuali itu, rongga-rongga mengeroposkan kekuatan tanah dalam mendukung struktur tanah dan abngunan di atasnya. Di semua tempat di Jakarta terjadilah keamblesan tanah dengan berbagai kedalaman. Dari tahun 1983 tercatat 40cm s/d 180cm tanah yang ambles (data Dinas Pertambangan DKI Jakarta). Sudah barang tentu keamblesan merusakkan bangunan, menambah resiko ambruknya bangunan berikut instalasi yang tertanam dalam tanah. (Berita terbaru adalah amblesannya Gedung Sarinah, Jakarta)

Air menjadi masalah serius di Jakarta. Bagaimana mengatasinya? Dapatkah masyarakat turut ambil bagian di dalam mengatasi malasah air di Jakarta ini? Jawabnya singkat : “Masyarakat dapat dan harus melakukan langkah nyata untuk menyelamatkan Jakarta dari masalah air ini” Mengharapkan hanya pada penanganan oleh Pemda DKI sungguh sikap yang tidak bijaksana bahkan sikap yang salah, karena kemampuan pemerintah daerah sangat terbatas untuk menangani penduduk yang berjumlah 10 juta orang.


Berikut langkah-langkah nyata yang harus dilakukan masyarakat setiap rumah :

1. Buat saluran resapan sebanyak mungkin.
Lubang Resapan Biopori dapat dibuat untuk memulai pembuatan saluran resapan ke dalam tanah jika sulit untuk membangun sumur resapan.

2. Terapkan prinsip 4 R pengelolaan air
- REDUCE (hemat air). Gunakan air sehemat mungkin. Cegah kebocoran saluran air.
- REUSE (gunakan air) Air bekas mandi dapat dikumpulkan untuk mengelontor WC. Tampung air hujan dalam sumur tendon, gunakan sebagai cadangan air di musim kemarau.
- RECYCLE (daur ulang air) Air bekas mandi dengan pengolahan sederhan dapat digunakan untuk menyiram tanaman, mencuci mobil, dsb. Gunakan filter untuk menyaring atau tumbuhan/ikan untuk memperbaiki kondisi kandungan biologis atau kimiawi air.
- RECHARGE (resapkan air hujan ke dalam tanah). Air hujan yang melalui talang langsung dialirkan ke dalam sumur resapan. Dan tanam pohon sebanyak-banyaknya karena pohon dengan sendirinya memperbaiki lingkungan (air, tanah, udara) , termasuk menambah cadangan air di permukaan.

Demikianlah catatan ringkas mengenai situasi di Jakarta yang sangat memprihatinkan, dan yang lebih penting, cara yang dapat kita lakukan untuk mengatasinya. Mari mengubah cara pandang kita kepada air. CEgah kekurangan air dan cegah banjir, melalui satu cara yang sama : RESAPKAN AIR KE DALAM TANAH SEBANYAK MUNGKIN

Nara Sumber :
- Workshop Gerakan Habitus Bersih dan Sehat : “Mengubah Sampah jadi rupiah” Paroki St. Aloysius Gonzaga Cijantung - oleh Bintang A. Nugroho (Ketua Pepulih – Perkumpulan Pemerhati dan Peduli Lingkungan Hidup), 20 April 2008
- Air Jakarta : Sebuah sindrom terlampauinya daya dukung – oleh Prof Otto Sumarwoto, 2007

Friday, May 09, 2008

NICODEMUS, ORANG KUDUS DARI KAUM YAHUDI

Santo Nicodemus adalah orang Yahudi dari golongan Farisi yang tinggal dan hidup di kota Yerusalem pada abad pertama. Ia juga adalah anggota Sanhedrin yaitu lembaga Mahkamah Agama Yahudi, yang sangat terkemuka pada masa Kristus. Dalam kapasitasnya di Sanhedrin, ia adalah pemimpin Yahudi. Dalam kitab Injil, ia hanya disebut dalam Injil Yohanes saja. Encyclopedia Yahudi dan beberapa sejarawan Injil memperkirakan bahwa ia bernama lengkap Nicodemus ben Gurion di mana dalam kitab Talmud dikisahkan sebagai orang kudus yang populer dan kaya yang dianggap mempunyai kuasa-kuasa yang ajaib.

Tidak ada sumber informasi yang jelas tentang Nicodemus ini di luar Injil Yohanes, namun Josephus Flavius, sejarahwan Yahudi, mencatat bahwa Nicodemus ternyata seorang yang kaya dan merupakan figur orang terhormat. Ia dikenal karena kedermawanan dan kekudusannya. Josephus Flavius juga mencatat bahwa Nicodemus pernah menjadi duta besar yang dikirim Aristobulus ke Pompey. Hal ini diduga karena format nama Ibrani dari Nicodemus yaitu Naqdimon, ditemukan dalam Kitab Talmud Yahudi.

Dunia politik yang digeluti semenjak menjadi anggota Sanhedrin dari faksi Farisi terbilang cukup meyakinkan. Ia adalah musuh orang Zealot, yaitu kaum Yahudi fanatik, dan pemberontak melawan kekaisaran Roma yang akhirnya mendorong pada penghancuran Jerusalem.

Ketika Vespasianus menjadi kaisar Roma, Nicodemus berdamai dengan Titus, putra kaisar, yang melaksanakan peperangan itu. Ia justru menghasut terhadap tuntutan perang orang Zealots. Dalam suatu pembalasan, Nicodemus dan teman-temannya membinasakan gudang perbekalan di mana mereka dikumpulkan untuk dikubur.

Ada 4 hal yang menjadi catatan khusus tentang Nicodemus ini adalah :
1. dia adalah wakil dari "penguasa bangsa Yahudi" yang belajar dari Yesus apa yang dimaksud dengan “kelahiran kembali oleh baptis", seolah-olah sebuah ajaran nabi yang sama sekali tidak diketahuinya. Beberapa penulis dan sejarahwan menduga bahwa Nicodemus ini orang yang cukup berumur, dari pertanyaannya: "Bagaimana mungkin seorang manusia dilahirkan kembali ketika ia sudah tua?". Ia muncul dalam percakapan ini sebagai orang percaya yang cerdas dan terpelajar, tetapi takut dan tidak mudah menjalankan misteri iman yang baru.
2. bagaimana ia melakukan kunjungannya kepada Yesus di waktu malam hari, supaya ia tidak dikenali sebagai salah satu murid. Kitab Suci tidak mengatakan mengapa ia pergi pada malam hari, tetapi kita mengetahui bahwa para pemimpin Yahudi marah terhadap Yesus dan mereka sedang mencari suatu cara untuk menangkap dia. Barangkali Nicodemus takut untuk pergi kepada Yesus di muka umum pada siang hari.
3. dia tampil di Sanhedrin untuk menawarkan suatu pembelaan terhadap Yesus ketika para imam berencana akan menangkap Yesus; dan kita boleh menyimpulkan dari perjalanan ini bahwa ia telah memeluk kebenaran ini secara penuh secepat yang diberitahukan kepadanya.
4. ketika ia dan Joseph Arimathea diuraikan seperti bertanggung jawab atas jenazah Yesus dalam rangka menyiapkan penguburan yang pantas. Mereka meminta jenazah Yesus kepada Pilatus untuk disemayamkan dan Pilatus menyetujuinya. Jelaslah bahwa hanya sosok orang yang memiliki keunggulan seperti itu setidaknya seorang figur yang terkenal di masyarakat Yahudi saat itu yang berani memintanya kepada Pilatus mengingat penyaliban Yesus ini menggemparkan kota Yerusalem karena dianggap musuh utama Yahudi.

Ketika Nicodemus berdiskusi dengan Yesus, ia mengatakan kepada Yesus bahwa Tuhan sungguh ada bersama dia, ia tidak akan mampu melakukan semua yang bagus yang Yesus lakukan. Kemudian Yesus mulai mengajarnya. Ia menceritakan kepada Nicodemus bahwa jika seseorang ingin melihat kerajaan Allah, ia harus dilahirkan lagi. Nicodemus hanya bisa membayangkan dirinya menjadi suatu bayi lagi. Bagaimana ini bisa? Itu nampak seperti suatu hal yang mustahil untuk seorang yang sudah besar untuk dilahirkan lagi!

Diskusinya dengan Yesus adalah sumber inspirasi dari beberapa ungkapan umum Kekristenan jaman ini, khususnya, ungkapan kata ‘dilahirkan kembali’ digunakan untuk menjelaskan pengalaman iman akan sang Penolong, dan digunakan untuk menguraikan Rencana Keselamatan Tuhan.

Ketika proses penyaliban Yesus sudah mencapai titik akhir, selain keluarga Yesus dan Yohanes, satu diantara para rasul, menyaksikan peristiwa itu, hadir juga Nicodemus dan Joseph Arimathea. Namun hanya Nicodemus dan Joseph Arimathea sebagai murid Yesus yang tersembunyi yang berani meminta jenazah Yesus kepada Pilatus dan berinisiatif untuk mengurus jenazah itu dari mengurapiNya dengan rempah-rempah, minyak mur dan minyak gaharu hingga menguburkannya di tempat yang layak.

Tak ada yang mencatat kapan saat kematian Nicodemus. Gereja Katolik Roma dan Gereja Orthodox Timur menyatakan Nicodemus sebagai orang kudus. Martyrology Gereja Katolik Roma memperingati temuan jenazahnya, bersama-sama dengan jenazah St. Stephanus, Gamaliel, dan Abibo, pada tanggal 3 Agustus sementara Gereja Orthodox merayakannya pada Minggu Myrrhbearing, yaitu minggu ketiga sesudah Paska dan juga pada tanggal 2 Agustus, di mana tradisi Gereja menyatakan saat jenazahnya telah ditemukan. Catatan Ensiklopedia orang kudus menyatakan bahwa tanggal 27 Maret adalah pesta St. Nicodemus. Kemungkinan pada tanggal itulah pesta peringatan itu dirayakan bersamaan dengan Minggu Myrrhbearing Gereja Orthodox.

Sumber :
1. situs http://en.wikipedia.org
2. situs http://www.newadvent.org
3. situs http://jewishencyclopedia.com
4. ensiklopedi orang kudus

Wednesday, September 19, 2007


KENANGAN MASA KECILKU

Saatku lihat kembali,
bunga kenangan itu...
Kenangan dari masa kecilku,
mengalir di dalam dadaku

Dengan bebas ku berlari
Melintas bukit dan lembah yang indah
Aku tak bisa kembali
ke masa itu lagi
Sedikit demi sedikit
aku telah beranjak menjadi dewasa

Sambil terus memeluk impian
yang takkan pernah pudar
Aku takkan pernah menyerah
Untuk mencapai harapanku



Ini adalah syair lagu anak-anak yang suatu ketika dinyanyikan oleh Prisca dan Keke, anak perempuanku, yang sempat kurekam dan kutuliskan syairnya.

Kalimatnya cukup sederhana, dengan bahasa yang polos untuk anak-anak. Sebenarnya bukan kalimat itu yang ingin kusentuh tetapi justru isi lagunya yang mampu menyeretku untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa masa kecil puluhan tahun yang lalu. Semua mengalir begitu saja dalam rentang waktu yang panjang dan seolah peristiwa demi peristiwa ingin kualami kembali.

Isi lagu itu benar bahwa kita memang tidak bisa kembali ke masa itu lagi. Maka ketika syair itu dilantunkan oleh anakku dengan suara khasnya tanpa alat musik satupun, aku hanya termangu.....

Aku tak bisa kembali
ke masa itu lagi
Sedikit demi sedikit
aku telah beranjak menjadi dewasa

Seperti diingatkan pada setiap peristiwa masa lalu dan seperti tak ingin beranjak dari masa itu, nyatalah bahwa lamunan memang tinggal lamunan.

Kupeluk anakku begitu erat dan kukatakan :
“Nikmatilah masa kecilmu dengan senyum dan tawa, anakku, agar suatu ketika masa kecilmu ini mudah kaukenang saat dewasa dan tetap mengalir dalam dadamu dengan senyum dan tawa”

Tuesday, September 11, 2007

SULITNYA MEMAHAMI EXTRA ECCLESIA NULLA SALUS EST
Thread mengenai Extra Ecclesia Nulla Salus Est memang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Selalu saja ada yang bertanya, menjawab dan berbeda pendapat. Itu wajar saja. Yang penting tetap konsisten saja sehingga tidak menimbulkan kekacauan berdiskusi.

Saya jadi ingat dengan tulisan Romo Dr. Petrus Maria Handoko, CM, seorang dosen dan teolog STFT Widya Sasana Malang, yang judulnya :"Beriman kepada Kristus yang sungguh Allah, sungguh manusia, di tengah umat beragama lain".

Dalam pengantarnya dijelaskan bahwa hidup dan beriman di tengah umat beragama lain, menantang kita untuk mengerti iman kita TIDAK hanya terbatas pada pengertian intern Gereja. Maka berkaitan dengan itu, ada dua hal yang menjadi pokok pembahasan thread Extra Ecclesia Nulla Salus Est ini yaitu "beriman kepada Yesus Kristus" dan "di tengah umat beragama lain"

"Beriman kepada Yesus Kristus" merupakan bagian yang berkaitan dengan apa yang diwariskan oleh para rasul dari pengalaman pertemuan mereka dengan Yesus, dan apa yang dilakukan Gereja untukmeneguhkan ajaran kebenaran yang diterima dari Yesus. Sedangkan "di tengah umat beragama lain" berkaitan dengan bagaimana isi iman itu harus dimengerti dalam kaitan dengan umat beragama lain dan pandangan Gereja tentang agama-agama lain dalam seluruh rencana keselamatan Allah.

Saya tidak ingin memberikan komentar untuk hal yang pertama, tetapi kiranya bolehlah saya mencoba mengungkapkan pengertian saya tentang hal yang kedua yaitu :"ditengah umat beragama lain" khususnya bagaimana pandangan Gereja tentang agama-agama lain yang masih mengacu kepada tulisan Romo Petrus, CM tsb.

Sejak pasca konsili Vatikan II, pandangan Gereja tentang agama-agama lain banyak mengalami perkembangan meskipun harus disadari bahwa pasti ada saja kelompok-kelompok/aliran-aliran yang muncul berkaitan dengan cara pandang Gereja tersebut. Aliran-aliran tersebut adalah : eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme.

EKSKLUSIVISME berpendapat bahwa pengakuan eksplisit tentang Kristus dan Gereja diperlukan untuk keselamatan. Maka aksioma Extra Ecclesiam Nulla Salus menjadi senjata ampuh yang mematikan artinya penganut di luar Gereja (dan Roma) dipastikan tidak bisa selamat jiwanya sampai surga. Kalau mau hitung-hitungan maka yang jelas ngga masuk surga adalah leluhur kita sebelum masuk Katolik termasuk barangkali Abraham, Musa, Elia, dst karena mereka bukan anggota Gereja Katolik.

INKLUSIVISME berusaha menggabungkan pendapat ganda Perjanjian Baru yaitu kehendak universal Allah akan keselamatan dan finalitas Yesus Kristus sebagai Penyelamat universal. Aliran ini berpendapat bahwa misteri Yesus dan RohNya hadir dan bekerja di luar batas-batas Gereja, baik dalam hidup pribadi secara perseorangan maupun dalam tradisi religius yang dipeluk dan dipraktekkan oleh orang-orang itu. Maka bagi kelompok inklusivisme, posisi Yesus Kristus adalah jalan untuk semua orang.

PLURALISME berpendapat bahwa Allah telah mewujudkan dan menyatakan diriNya dalam berbagai cara kepada bangsa-bangsa yang berbeda-beda dalam situasi masing-masing. Finalitas Yesus dalam tata keselamatan tidak diterima sebab Allah menyelamatkan setiap orang melalui tradisi masing-masing sama seperti Allah menyelamatkan orang-orang Kristiani. Bagi kelompok ini, Yesus adalah jalan orang kristiani, tetapi masing-masing tradisi memberikan jalan untuk orang lain.

Magisterium Gereja Katolik menolak ekslusivisme dan pluralisme, dan menerima inklusivisme. Maka lahirlah banyak dokumen Konsili Vatikan II yang senada dengan aliran inklusivisme dalam hubungannya dengan agama-agama lain. Ini sangat ditegaskan dalam Lumen Gentium No.16, Ad Gentes No.3.

Memang Extra Ecclesia Nulla Salus Est tidak berubah hingga kini, namun ketika berbenturan dengan agama lain maka Extra Ecclesia Nulla Salus Est menjadi godam yang membunuh dirinya sendiri jika tidak memahami kehendak universal Allah atas nilai-nilai benih sabda Allah yang disemai dalam tradisi mereka. Karena Allah sendiri yang akan menuntun mereka kepada Kristus. Lihat Ad Gentes No.7

Hal ini senada dengan Gereja Orthodox dimana hingga kini merekapun tetap memegang keyakinan Extra Ecclesia Nulla Salus Est namun itu tidak berarti bahwa Gereja Orthodox menetapkan mereka yang di luar Kristen pasti masuk neraka tanpa kecuali. Ajaran tentang Extra Ecclesia Nulla Salus Est ini haruslah diimbangi dengan pemahaman tentang LOGOS SPERMATIKOS (Kalau di Katolik namanya Benih Sabda Allah) yang mana benih-benih itu tersebar di seluruh ciptaan Allah dalam budaya dan tradisi agama. Sehingga "Gereja' yang dalam pengertiannya adalah paguyuban umat yang disatukan dalam iman kepada Kristus itu, dapat pula hadir tanpa kita sadari dalam agama-agama lain , sehingga jika ada orang yang secara lahiriah bukan Kristen, namun karena taat kepada LOGOS SPERMATIKOS ini mereka kelak diselamatkan dan menerima kemuliaan Kristus dan dalam makna tertentu telah berada di dalam Gereja dan diselamatkan oleh Kristus. Keselamatan bagi mereka selalu ada apabila mereka dengan tulus mencari dan taat pada kebenaran, namun belum sempat menemukan Kristus secara penuh dan sadar.

Karena itu dalam Gereja Katolik, jika Extra Ecclesia Nulla Salus Est dipandang sama seperti kemunculannya diawal saat St. Siprianus mengatakan demikian, memang tidak jamani. Tetapi Extra Ecclesia Nulla Salus Est itu tetap ada dan hidup jika kita juga mau memahami Benih Sabda Allah yang tersebar di seluruh ciptaan Allah dalam budaya dan tradisi bangsa lain dalam makna tetap taat dan tulus mencari Allah. Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, Gereja dipandang sebagai persiapan Injil.

Extra Ecclesiam Nulla Salus Est tetap ada dan diyakini dalam Gereja Katolik tetapi tidak bersifat eksklusivisme dengan mengatakan di luar kami kamu tidak punya apa-apa. Yang jelas kehendak universal Allah tidak bisa dibatasi oleh kemampuan berpikir manusia.

Thursday, August 23, 2007

BERJUMPA TUHAN, CAPEKKAH??

Suatu ketika di sebuah chat room ada sebuah percakapan. Ini aku copy paste dari aslinya

My friend : kamu paroki mana?
Jeng : Paroki St. Mikael..njenengan?
My friend : aku di St. Anna
Jeng : kalo misa yang jam berapa pak
My friend : aku mah jarang misa, biasanya diwakili anak istri
Jeng : kenapa? Minggu, kerja juga?
My friend : udahlah...biar gereja ga sesak
Jeng : gak sesak juga kok. Yang sesak itu malah mall je, pak
My friend : heheheh sibuk n capek
Jeng : nyari duit..gak cape..nyari Tuhan kog cape ya..
My friend : @#$!%!

Ini mungkin saja merupakan percakapan yang sangat biasa atau karena sudah menjadi kebiasaan maka akhirnya jadi biasa-biasa saja. Dan bukan tidak mungkin itu juga terjadi pada kita yang setiap hari dari Senin hingga Jumat kerja keras selama 8 jam lebih hanya demi uang yang akan kita dapat begitu angka 25 dalam tiap bulan sudah dipenghujung hari. Lalu terbayang betapa enaknya Sabtu dan Minggu bisa istirahat di rumah.

Konon katanya Tuhan memang sudah tidak bekerja lagi dalam arti mencipta ketika penciptaan dunia sudah terjadi. Entahlah jika Dia masih juga bekerja setiap hari hingga kini karena Dia bertanggung jawab terhadap ciptaanNya maka Dia bekerja untuk memeliharanya tanpa istirahat. Bahkan Dia tidak merasa lelah menunggu kita untuk hadir menjumpainya di mezbahNya dalam suasana yang penuh ceria penuh bakti.

Kenapa kita merasa capek pergi ke rumahNya sementara Dia tidak pernah lelah menunggu kita di mezbahNya, di rumahNya yang kudus. Contributor : Jeng Diana (Sunter)