Genderang pesta rupanya sudah mulai terdengar. Seiring dengan kartu-kartu undangan yang sudah banyak dilempar ke semua orang, panitia mengingatkan… Ayo! Ikut pesta bersama di tahun 2009.
Pagi itu belum sepotong mannapun kudapat untuk mengganjal perut. Sudah berjam-jam berjalan tak juga menemukan di mana manna yang terjatuh dari langit itu berada. Matahari menaruh belas kasihan padaku ketika dipandanginya aku masih berjalan-jalan tanpa tujuan. Sepertinya dia ingin tenggelam saja di balik gedung-gedung pencakar langit menyembunyikan cahayanya yang panas itu …. agar seperti tadi malam …. tanpa sinar, tanpa panas…. Namun tetap saja aku lapar.
“… Pak! Mau ikut pawai partai kami , nggak?!
Seorang lelaki perlente berjaket hitam berikat kepala biru mengagetkan aku. Belum juga usai aku pandangi matahari yang sejak tadi berusaha untuk pamit menghilang dibalik cakrawala, orang itu mendekat dan sedikit berteriak: “…Ayo… mau ikut ngga! Mau hujan nih! Tenang aja… ada amplopnya kokh!....”
“… partai apa ini?! tanyaku.
“… Nanti juga tahu! Kami selalu memperjuangkan kaum miskin agar tetap bisa makan… makanya ayo ikut….!
Dalam sekejap, aku sudah berada di atas pick up tanpa tahu akan pergi ke mana. Bendera-bendera berkibaran di sepanjang jalan nyaris menutupi hijaunya pohon-pohon. Aku seperti berada dalam penyambutan laksana presiden yang disambut rakyatnya di kanan dan kiri jalan, tapi yang ini hanya bendera-bendera bisu yang berlenggak-lenggok.
Kelak janji itu aku minta bukan dengan selembar amplop yang kuterima ini tapi tentu setelah pawai-pawai itu usai.
Sore hari, akhirnya kudapati sepotong ‘manna’ dari sahabatku yang sama-sama gembel di pinggiran Jakarta. Potongan demi potongan kulumat dengan pasti sepasti bahwa esok hari akan ada manna baru untuk hari itu. Jangan tanya padaku apakah janji lelaki perlente di pagi hari itu juga akan sepasti manna yang kuharap esok hari. Entahlah, semoga bukan penjahat yang berjanji hari ini untuk tahun 2009
Thursday, October 09, 2008
Tuesday, September 30, 2008
PESAN UNTUK AKHIR BULAN RAMADAN ldul Fitri 1429 H. /2008 A.D. - Kota Vatikan
DEWAN KEPAUSAN UNTUK DIALOG ANTARAGAMA
Kristen dan Muslim: Bersama untuk Martabat Keluarga
Saudara-saudari Umat Muslim,
1. Dengan semakin mendekatnya akhir bulan Ramadan, dan mengikuti tradisi yang kini sudah sangat mapan, dengan senang hati saya menyampaikan ucapan selamat dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama. Selama bulan ini orang-orang Kristen yang akrab dengan Anda telah turut mengambil bagian dalam pengheningan refleksi Anda dan dalam perayaan-perayaan keluarga Anda. Dialog dan persahabatan semakin diperkokoh. Puji Tuhan!
2. Sebagaimana yang terjadi di masa lampau, perjumpaan persaudaraan ini juga memberi kita suatu kesempatan untuk mengadakan refleksi bersama tentang pokok pembicaraan timbal-balik yang akan semakin memperkaya hubungan kita satu sama lain dan semakin membantu meningkatkan saling pengenalan kita, baik menyangkut nilai-nilai yang dapat kita nikmati bersama, maupun menyangkut perbedaan-perbedaan di antara kita. Tahun ini kami ingin mengangkat ikhwal Keluarga.
3. Satu dari dokumen-dokumen Konsili Vatikan Kedua, yakni Gaudium et Spes, yang mengupas perihal keberadaan Gereja di dunia modem, menegaskan: "Keselamatan pribadi maupun masyarakat manusiawi dan Kristiani erat berhubungan dengan kesejahteraan rukun perkawinan dan keluarga. Maka umat Kristiani, bersama dengan siapa saja yang menjunjung tinggi rukun hidup itu, dengan tulus hati bergembira tentang pelbagai upaya, yang sekarang ini membantu orang-orang untuk makin mengembangkan rukun cinta-kasih itu dan menghayatinya secara nyata, dan menolong para suami-isteri serta orangtua dalam menjalankan tugas mereka yang luhur. Lagi pula mereka memang mengharapkan manfaat yang lebih besar lagi dari padanya, dan berusaha untuk meningkatkannya" (no 47).
4. Penegasan itu mengingatkan kita dengan tepat sekali, bahwa perkembangan setiap pribadi manusia dan masyarakat, sebagian besar bergantung pada sehatnya keluarga. Berapa banyak orang yang harus memikul, kadang-kadang bahkan untuk seumur hidupnya, beban berat dari luka-luka batin yang diakibatkan oleh latarbelakang keluarganya yang bermasalah atau yang penuh gejolak? Berapa banyak lelaki dan perempuan yang sekarang berada dalam jurang penderitaan karena narkoba dan kekerasan, sedang berusaha dengan sia-sia untuk sampai pada pemulihan dirinya karena trauma yang diderita pada masa kecilnya? Umat Kristiani dan Umat Muslim dapat dan harus bekerjasama untuk menjamin martabat keluarga-keluarga, baik di masa sekarang ini maupun di masa-masa yang akan datang.
5. Umat Kristiani dan Umat Muslim sama-sama menjunjung tinggi martabat keluarga-keluarga. Kita juga telah mendapat banyak kesempatan, baik di tingkat lokal maupun internasional, untuk menjalin kerjasama di bidang ini. Keluarga, di mana ada cinta dan kehidupan, di mana saling menghormati dan keramah-tamahan dijumpai dan diserahalihkan sebagai harta warisan, adalah sungguh-sungguh "sel dasar dari masyarakat".
6. Umat Kristiani dan Umat Muslim hendaknya tidak pernah boleh ragu-ragu, bukan hanya dalam hal mengulurkan tangan membantu keluarga-¬keluarga yang berada dalam kesulitan, tetapi juga bekerjasama dengan siapa saja yang mempunyai keprihatinan untuk mendukung stabilitas kedudukan keluarga sebagai sebuah lembaga dan tempat diembannya tanggungjawab orangtua, khususnya di bidang pendidikan. Kiranya hanya satu saja yang ingin saya garisbawahi untuk Anda: Keluarga adalah sekolah pertama di mana seorang belajar untuk menghormati yang lain, dengan memperhatikan sepenuhnya identitas dan perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Kiranya hal itu hanya akan membawa keuntungan bagi dialog antaragama dan penghayatan kewarganegaraan kita.
7. Sahabat-sahabat yang terkasih, menjelang berakhimya ibadat puasa Anda, saya berharap, bahwa Anda, bersama dengan keluarga Anda dan mereka semua yang karib dengan Anda, dengan mendapatkan pemurnian dan pembaharuan dari melaksanakan ibadat yang sangat dijunjung tinggi dalam agama Anda ini, sungguh akan menikmati kecerahan dan kesejahteraan dalam hidup Anda! Semoga Allah subhanahu wa taala memenuhi Anda dengan kerahiman dan kedamaianNya.
Jean-Louis Kardinal Tauran Ketua
Uskup Agung Pier Luigi Celata Sekretaris
Kristen dan Muslim: Bersama untuk Martabat Keluarga
Saudara-saudari Umat Muslim,
1. Dengan semakin mendekatnya akhir bulan Ramadan, dan mengikuti tradisi yang kini sudah sangat mapan, dengan senang hati saya menyampaikan ucapan selamat dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama. Selama bulan ini orang-orang Kristen yang akrab dengan Anda telah turut mengambil bagian dalam pengheningan refleksi Anda dan dalam perayaan-perayaan keluarga Anda. Dialog dan persahabatan semakin diperkokoh. Puji Tuhan!
2. Sebagaimana yang terjadi di masa lampau, perjumpaan persaudaraan ini juga memberi kita suatu kesempatan untuk mengadakan refleksi bersama tentang pokok pembicaraan timbal-balik yang akan semakin memperkaya hubungan kita satu sama lain dan semakin membantu meningkatkan saling pengenalan kita, baik menyangkut nilai-nilai yang dapat kita nikmati bersama, maupun menyangkut perbedaan-perbedaan di antara kita. Tahun ini kami ingin mengangkat ikhwal Keluarga.
3. Satu dari dokumen-dokumen Konsili Vatikan Kedua, yakni Gaudium et Spes, yang mengupas perihal keberadaan Gereja di dunia modem, menegaskan: "Keselamatan pribadi maupun masyarakat manusiawi dan Kristiani erat berhubungan dengan kesejahteraan rukun perkawinan dan keluarga. Maka umat Kristiani, bersama dengan siapa saja yang menjunjung tinggi rukun hidup itu, dengan tulus hati bergembira tentang pelbagai upaya, yang sekarang ini membantu orang-orang untuk makin mengembangkan rukun cinta-kasih itu dan menghayatinya secara nyata, dan menolong para suami-isteri serta orangtua dalam menjalankan tugas mereka yang luhur. Lagi pula mereka memang mengharapkan manfaat yang lebih besar lagi dari padanya, dan berusaha untuk meningkatkannya" (no 47).
4. Penegasan itu mengingatkan kita dengan tepat sekali, bahwa perkembangan setiap pribadi manusia dan masyarakat, sebagian besar bergantung pada sehatnya keluarga. Berapa banyak orang yang harus memikul, kadang-kadang bahkan untuk seumur hidupnya, beban berat dari luka-luka batin yang diakibatkan oleh latarbelakang keluarganya yang bermasalah atau yang penuh gejolak? Berapa banyak lelaki dan perempuan yang sekarang berada dalam jurang penderitaan karena narkoba dan kekerasan, sedang berusaha dengan sia-sia untuk sampai pada pemulihan dirinya karena trauma yang diderita pada masa kecilnya? Umat Kristiani dan Umat Muslim dapat dan harus bekerjasama untuk menjamin martabat keluarga-keluarga, baik di masa sekarang ini maupun di masa-masa yang akan datang.
5. Umat Kristiani dan Umat Muslim sama-sama menjunjung tinggi martabat keluarga-keluarga. Kita juga telah mendapat banyak kesempatan, baik di tingkat lokal maupun internasional, untuk menjalin kerjasama di bidang ini. Keluarga, di mana ada cinta dan kehidupan, di mana saling menghormati dan keramah-tamahan dijumpai dan diserahalihkan sebagai harta warisan, adalah sungguh-sungguh "sel dasar dari masyarakat".
6. Umat Kristiani dan Umat Muslim hendaknya tidak pernah boleh ragu-ragu, bukan hanya dalam hal mengulurkan tangan membantu keluarga-¬keluarga yang berada dalam kesulitan, tetapi juga bekerjasama dengan siapa saja yang mempunyai keprihatinan untuk mendukung stabilitas kedudukan keluarga sebagai sebuah lembaga dan tempat diembannya tanggungjawab orangtua, khususnya di bidang pendidikan. Kiranya hanya satu saja yang ingin saya garisbawahi untuk Anda: Keluarga adalah sekolah pertama di mana seorang belajar untuk menghormati yang lain, dengan memperhatikan sepenuhnya identitas dan perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Kiranya hal itu hanya akan membawa keuntungan bagi dialog antaragama dan penghayatan kewarganegaraan kita.
7. Sahabat-sahabat yang terkasih, menjelang berakhimya ibadat puasa Anda, saya berharap, bahwa Anda, bersama dengan keluarga Anda dan mereka semua yang karib dengan Anda, dengan mendapatkan pemurnian dan pembaharuan dari melaksanakan ibadat yang sangat dijunjung tinggi dalam agama Anda ini, sungguh akan menikmati kecerahan dan kesejahteraan dalam hidup Anda! Semoga Allah subhanahu wa taala memenuhi Anda dengan kerahiman dan kedamaianNya.
Jean-Louis Kardinal Tauran Ketua
Uskup Agung Pier Luigi Celata Sekretaris
Saturday, September 27, 2008
MENABUR KEKERASAN
Dua atau tiga dekade lagi, hidup di Indonesia rasanya akan jadi sangat mengerikan, khususnya buat kaum minoritas agama dan minoritas ganda (agama+ras). Betapa tidak? Bibit-bibit kekerasan atas nama agama sejak Order Baru hingga sekarang tidak kunjung padam. Kian hari kian mengerikan.
Aku adalah bagian dari minoritas itu. Andaikan aku bisa mencapai hidup 3 dekade lagi, yang kubayangkan adalah bagaimana aku harus bisa bertahan di tanah airku sendiri, di mana moyangku ikut membesarkan tanah dan air ini dengan darah dan keringatnya? Apakah mungkin aku bisa hidup di negeri orang-orang asing yang tak pernah dipijak moyangku? Ingat! Aku akan berusia 70 tahun saat itu, saat aku harus bersiap untuk menyatukan raga di tanah air ini.
Jangan berharap pada negara apalagi aparat negara yang adalah manusia Indonesia juga. Karena mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika masyarakat sedang menabur bibit-bibit kekerasan. Ketika masyarakat Indonesia sedang 'sakit' maka produk-produk aparatnya juga sakit. Memangnya mereka asalnya dari mana?
Saat ini ladang-ladang sudah dibajak dan bibt sudah ditabur.
Ya..!Ladang-ladang kekerasan atas nama agama sedang ditabur di tanah air ini.
Tetapi kelak penuai pasti sudah mulai lupa apa yang ditaburnya ketika panenan itu gagal? Adakah orang yang menabur batu akan menuai padi?
Aku hanya bisa berharap lewat doa-doa kepada Sang Khalik agar aku bisa menikmati suasana hidup yang nyaman dan aman di tanah airku ini.
(Jakarta, Bom Natal 2000)
Aku adalah bagian dari minoritas itu. Andaikan aku bisa mencapai hidup 3 dekade lagi, yang kubayangkan adalah bagaimana aku harus bisa bertahan di tanah airku sendiri, di mana moyangku ikut membesarkan tanah dan air ini dengan darah dan keringatnya? Apakah mungkin aku bisa hidup di negeri orang-orang asing yang tak pernah dipijak moyangku? Ingat! Aku akan berusia 70 tahun saat itu, saat aku harus bersiap untuk menyatukan raga di tanah air ini.
Jangan berharap pada negara apalagi aparat negara yang adalah manusia Indonesia juga. Karena mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika masyarakat sedang menabur bibit-bibit kekerasan. Ketika masyarakat Indonesia sedang 'sakit' maka produk-produk aparatnya juga sakit. Memangnya mereka asalnya dari mana?
Saat ini ladang-ladang sudah dibajak dan bibt sudah ditabur.
Ya..!Ladang-ladang kekerasan atas nama agama sedang ditabur di tanah air ini.
Tetapi kelak penuai pasti sudah mulai lupa apa yang ditaburnya ketika panenan itu gagal? Adakah orang yang menabur batu akan menuai padi?
Aku hanya bisa berharap lewat doa-doa kepada Sang Khalik agar aku bisa menikmati suasana hidup yang nyaman dan aman di tanah airku ini.
(Jakarta, Bom Natal 2000)
Friday, September 26, 2008
INI ADALAH WANITA
Tuesday, September 23, 2008
HUKUMNYA HARAM MENOLAK MAKAN PANGGANG BABI
Seorang teman tertawa terbahak-bahak dalam bentuk icon manakala kami asyik chatting. Pembicaraan yang sudah ngalor-ngidul itu akhirnya tertambat pada pokok pembicaraan bagaimana seharusnya kita menjaga kesehatan, maklum usia kami sudah rawan-rawannya menampung penyakit.
Sebut saja kolestrol dan darah tinggi yang menyebabkan stroke dan jantung. Belum lagi kalau hobby makan yang enak-enak perlu jaga badan jangan sampai kena diabetes. Padahal usia kami belum terbilang tua amat, malah mungkin sedang ganas-ganasnya terhadap apa saja.
Di ujung pembicaraan yang memang udah ngalor-ngidul itu kemudian terhenti dengan icon 'gelak tawa guling-gulingan' yang ada di Yahoo! Beginilah percakapannya itu:
k4l0ng (1:52 PM) : umur 39 dah tergeletak tak berdaya di icu
binoceng (1:51 PM): musti ati-ati dech orang umurnya kayak kita-kita ini penyakit yang satu ini, selain darah tinggi sama kolesterol, wajib jag-jaga makan apalagi gw beratnya dah di atas 75kg, kalau habis makan suka ngantuk katanya gejala diabetes.... ngeri banget dengerinnya
k4l0ng (1:55 PM) : nah.. jaga men! ngeri campur sedih ngeliat kasus temen gue ini
binoceng (1:57 PM): iye seng, itu juga yang harus gw jaga bener. Cuma kadang-kadang temen2 gw pada kurang ajar juga.... mereka suka ngajak makan di Lapo terus pada makan panggang babi.... busyet dech... itu makanan yang ngga bisa gw tolak. makanya sekarang badan gw kayak ..... babi bener.... kata orang gw gemuk ! gw malah takut dibilang gemuk..... soalnya dibelakang gemuk itu banyak penyakitnya....
k4l0ng (1:59 PM) : binoceng : iye seng, itu juga yang harus gw jaga bener. Cuma kadang-kadang temen2 pada kurangajar juga.... suka ngajak makan di Lapo terus pada makan panggang babi.... busyet dech... itu makanan yang ngga bisa gw tolak.<< huahahaha
binoceng (2:01 PM): Hukumnya haram menolak makan panggang babi.. huahahaha
Aku coba mengingat-ingat lagi... di kitab mana ada hukum yang mengharamkan orang yang menolak makan daging babi?? Ada-ada aja. Narcis banget dah jadinya. Bangga banget makan daging babi mentang-mentang ngga dilarang sama Tuhan(nya gw)
Sebut saja kolestrol dan darah tinggi yang menyebabkan stroke dan jantung. Belum lagi kalau hobby makan yang enak-enak perlu jaga badan jangan sampai kena diabetes. Padahal usia kami belum terbilang tua amat, malah mungkin sedang ganas-ganasnya terhadap apa saja.
Di ujung pembicaraan yang memang udah ngalor-ngidul itu kemudian terhenti dengan icon 'gelak tawa guling-gulingan' yang ada di Yahoo! Beginilah percakapannya itu:
k4l0ng (1:52 PM) : umur 39 dah tergeletak tak berdaya di icu
binoceng (1:51 PM): musti ati-ati dech orang umurnya kayak kita-kita ini penyakit yang satu ini, selain darah tinggi sama kolesterol, wajib jag-jaga makan apalagi gw beratnya dah di atas 75kg, kalau habis makan suka ngantuk katanya gejala diabetes.... ngeri banget dengerinnya
k4l0ng (1:55 PM) : nah.. jaga men! ngeri campur sedih ngeliat kasus temen gue ini
binoceng (1:57 PM): iye seng, itu juga yang harus gw jaga bener. Cuma kadang-kadang temen2 gw pada kurang ajar juga.... mereka suka ngajak makan di Lapo terus pada makan panggang babi.... busyet dech... itu makanan yang ngga bisa gw tolak. makanya sekarang badan gw kayak ..... babi bener.... kata orang gw gemuk ! gw malah takut dibilang gemuk..... soalnya dibelakang gemuk itu banyak penyakitnya....
k4l0ng (1:59 PM) : binoceng : iye seng, itu juga yang harus gw jaga bener. Cuma kadang-kadang temen2 pada kurangajar juga.... suka ngajak makan di Lapo terus pada makan panggang babi.... busyet dech... itu makanan yang ngga bisa gw tolak.<< huahahaha
binoceng (2:01 PM): Hukumnya haram menolak makan panggang babi.. huahahaha
Aku coba mengingat-ingat lagi... di kitab mana ada hukum yang mengharamkan orang yang menolak makan daging babi?? Ada-ada aja. Narcis banget dah jadinya. Bangga banget makan daging babi mentang-mentang ngga dilarang sama Tuhan(nya gw)
Thursday, September 04, 2008
AVOONAN DBISHMAYA
Avoonan dbishmaya
Yetqadash shmakh
Titeh malkoutakh
Yehee sevyonakh
Heykama dbishmaya af bra-aa
Hab lan lahma dsoonqanan
Yaomana Washvooqlan
Hoveynan heykama daf hnan
Shbaqnan lhayoveynan
Wla t-eelan linissyoona
Ella passyan min beeshta
Mittol dilakh-hee
malkoota w-heyla
w-teshboohta
l-aalam aalmin
Amin
Versi lain yang masih dalam bahasa Aramic juga ada. Ini mungkin terjadi karena adanya perkembangan bahasa tetapi lafalnya tida jauh beda. Berikut adalah kutipannya yang disertai terjemahan dalam bahasa Indonesia.
Avoon deveshmaya
Bapa kami yang ada di surga
Nithkadash smakh
Dimuliakanlah namaMu
Taithai malkoothakh
Datanglah kerajaanMu
Nehwey sevyanakh
Jadilah kehendakMu
Aikenna deveshmaya up ber'ah
di atas bumi seperti di surga
Havlan Lakhma desoonkanan
Beri kami makanan untuk kebutuhan kami setiap hari
Yomana wushvoklan
Ampuni kesalahan kami
khoebaine aikenna deup
seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami
khnan shvakn elkhayaven
Jangan biarkan kami masuk
Ula taelun elnisyoena
di dalam pencobaan
Illa peson minbeesha
Tetapi bebaskan kami dari yang jahat
Mitthil dedelakhee Maikootha
Sebab Engkau adalah raja
Ookhayla
Yang berkuasa
Ootishboakhta
Yang mulia
Elalum allmeen
sekarang dan selamanya
Amen
Amin
Ini adalah doa Bapa kami dengan bahasa asli Aram yaitu bahasa yang dipergunakan oleh Yesus pada 2000 tahun yang lalu.
Mau tahu sebagian lirik lagunya? Silahkan klik Avoonan Dbishmaya dan dengarkan.
Yetqadash shmakh
Titeh malkoutakh
Yehee sevyonakh
Heykama dbishmaya af bra-aa
Hab lan lahma dsoonqanan
Yaomana Washvooqlan
Hoveynan heykama daf hnan
Shbaqnan lhayoveynan
Wla t-eelan linissyoona
Ella passyan min beeshta
Mittol dilakh-hee
malkoota w-heyla
w-teshboohta
l-aalam aalmin
Amin
Versi lain yang masih dalam bahasa Aramic juga ada. Ini mungkin terjadi karena adanya perkembangan bahasa tetapi lafalnya tida jauh beda. Berikut adalah kutipannya yang disertai terjemahan dalam bahasa Indonesia.
Avoon deveshmaya
Bapa kami yang ada di surga
Nithkadash smakh
Dimuliakanlah namaMu
Taithai malkoothakh
Datanglah kerajaanMu
Nehwey sevyanakh
Jadilah kehendakMu
Aikenna deveshmaya up ber'ah
di atas bumi seperti di surga
Havlan Lakhma desoonkanan
Beri kami makanan untuk kebutuhan kami setiap hari
Yomana wushvoklan
Ampuni kesalahan kami
khoebaine aikenna deup
seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami
khnan shvakn elkhayaven
Jangan biarkan kami masuk
Ula taelun elnisyoena
di dalam pencobaan
Illa peson minbeesha
Tetapi bebaskan kami dari yang jahat
Mitthil dedelakhee Maikootha
Sebab Engkau adalah raja
Ookhayla
Yang berkuasa
Ootishboakhta
Yang mulia
Elalum allmeen
sekarang dan selamanya
Amen
Amin
Ini adalah doa Bapa kami dengan bahasa asli Aram yaitu bahasa yang dipergunakan oleh Yesus pada 2000 tahun yang lalu.
Mau tahu sebagian lirik lagunya? Silahkan klik Avoonan Dbishmaya dan dengarkan.
Monday, August 25, 2008
MURID KRISTUS ATAU BUKAN ?
Masih ingat dengan ayat Mat 28:19 yang berbunyi : “…Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,…”
Kita sudah dibaptis dan menjadi seorang Katolik. Baptis memang menandai seseorang menjadi orang Kristen Tidak mungkin seseorang menjadi Katolik tetapi tidak dibaptis secara Katolik. Sesungguhnya ketika kita dibaptis, kita ini sudah menjadi murid Kristus karena seharusnya menjadi murid dahulu baru dibaptis. Namun kadang perjalanan iman seseorang tidaklah mulus. Ibarat murid di sekolah, ada murid yang setia, ada murid yang tidak setia bahkan ada juga murid yang berkhianat kepada gurunya.
Mari sekarang kita mengenali diri kita itu murid atau bukan murid.
1. Ada banyak orang yang mempelajari Kitab Suci dan mendalami kehidupan sebagai seorang murid hingga menjadi ahli Kitab tetapi dia belum dapat disebut murid karena belum mengalami kehidupan sebagai murid itu sendiri.
2. Ada pula orang yang percaya kepada Gereja tetapi masih juga percaya dan mengandalkan hidupnya kepada yang lain dengan melakukan praktek hidup yang tidak kristiani. Meskipun dia melakukan kewajiban pergi misa setiap minggu, menerima sakramen dan berdoa setiap hari namun mereka bukanlah seorang murid karena Yesus bukan menjadi satu-satunya pusat hidupnya.
3. Ada pula orang yang hanya melulu sebagai anggota Gereja. Dia memang memenuhi kewajiban di parokinya, membayar iuran amplop merah atau kolekte tetapi ia juga menuntut paroki agar memperhatikan setiap kebutuhan-nya, minta baptis anaknya sesudah itu selesai karena sudah impas. Mereka memandangnya sebagai sebuah transaksi dagang ketika dia memberi kepada Gereja, maka Gereja wajib memperhatikan kebutuhannya. Orang ini hanya melulu sebagai anggota Gereja tetapi bukan sebagai murid karena Yesus belum menjadi pusat hidupnya.
4. Ada orang yang menjadi anggota Gereja dan aktif di organisasi. Dia masuk Gereja karena tertarik pada ideology orang Katolik, namun tidak menghendaki ideology itu mencampuri urusan pribadinya. Dia hanya bermaksud mencari keuntungan dari ideology itu. Dia tidak bermaksud menjadikan Yesus sebagai pusat hidupnya, maka dia bukanlah murid.
5. Ada orang yang menjadi anggota Gereja karena mau meniru sikap hidup Yesus; karena Yesus mencintai orang-orang miskin, maka dia juga akan memberikan seluruh hidupnya untuk orang-orang miskin. Lalu ia melakukan berbagai aktivitas dalam mana seluruh perhatiannya ditujukan kepada kaum miskin, tetapi Yesus tida ada di dalamnya. Orang seperti ini bukanlah murid. Mengapa? Karena ia hanya mau seperti Yesus, tetapi tidak mau menjadi Yesus. Menjadi seperti Yesus berbeda dengan menjadi Yesus.
6. Ada pula kelompok orang yang disebut pelaku-pelaku Katolik. Mereka rajin melakukan aksi-aksi sosial dan menolong banyak orang terlantar. Perbuatannya memang baik, namun apakah itu dikerjakan demi Yesus atau demi kepuasan batinnya sendiri? Dia adalah pelaku-pelaku yang baik tetapi bukanlah seorang murid.
Dengan contoh-contoh di atas, kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri,” Termasuk kelompok manakah saya ini?” Jika demikian, siapakah yang disebut murid?
Murid adalah orang yang mengikuti pimpinannya, yaitu Yesus. Mengikuti Yesus berarti mengikuti jejakNya sebagai Sang Guru. Mengikuti jejak Yesus di sini tidak boleh diartikan secara harafiah, bukan juga berarti menjadi seperti Yesus karena ini berarti menjadi imitasi Yesus.
Menjadi murid berarti menjadi Yesus dalam arti pandangannya adalah pandangan Yesus, pikirannya adalah pikiran Yesus, hatinya adalah hati Yesus. Seorang murid yang memiliki pikiran Yesus berarti ia hidup dalam Yesus, hidup melalui Yesus, hidup dengan Yesus, dan hidup untuk Yesus. Yesus adalah pusat hidupnya. Dan karena itu ia mempunyai pikiran Yesus.
Bagaimanakah pikiran kita bisa menjadi pikiran Yesus? Rasul Paulus mengatakan bahwa Yesus telah memberikan segala-galanya. Ia memberikan ke-AllahanNya untuk menjadi manusia. Dan ia memberikan kemanusiaanNya dengan membiarkan orang-orang membunuhNya. Ia memberikan diri dan mengosongkan diriNya. Itulah pikiran Yesus yang harus dimiliki oleh seorang murid. Pikiran itu tidak berhenti sebatas ide tetapi nyata dalam perbuatan. Seorang murid melakukan segala sesuatu di dalam Yesus, lewat Yesus, dengan Yesus, dan untuk Yesus. Inilah pola hidup seorang murid yang harus nampak dan dapat dilihat oleh orang lain.
Sumber : PEMURIDAN (Sr. Eligia, CB) dengan penyesuaian seperlunya.
Kita sudah dibaptis dan menjadi seorang Katolik. Baptis memang menandai seseorang menjadi orang Kristen Tidak mungkin seseorang menjadi Katolik tetapi tidak dibaptis secara Katolik. Sesungguhnya ketika kita dibaptis, kita ini sudah menjadi murid Kristus karena seharusnya menjadi murid dahulu baru dibaptis. Namun kadang perjalanan iman seseorang tidaklah mulus. Ibarat murid di sekolah, ada murid yang setia, ada murid yang tidak setia bahkan ada juga murid yang berkhianat kepada gurunya.
Mari sekarang kita mengenali diri kita itu murid atau bukan murid.
1. Ada banyak orang yang mempelajari Kitab Suci dan mendalami kehidupan sebagai seorang murid hingga menjadi ahli Kitab tetapi dia belum dapat disebut murid karena belum mengalami kehidupan sebagai murid itu sendiri.
2. Ada pula orang yang percaya kepada Gereja tetapi masih juga percaya dan mengandalkan hidupnya kepada yang lain dengan melakukan praktek hidup yang tidak kristiani. Meskipun dia melakukan kewajiban pergi misa setiap minggu, menerima sakramen dan berdoa setiap hari namun mereka bukanlah seorang murid karena Yesus bukan menjadi satu-satunya pusat hidupnya.
3. Ada pula orang yang hanya melulu sebagai anggota Gereja. Dia memang memenuhi kewajiban di parokinya, membayar iuran amplop merah atau kolekte tetapi ia juga menuntut paroki agar memperhatikan setiap kebutuhan-nya, minta baptis anaknya sesudah itu selesai karena sudah impas. Mereka memandangnya sebagai sebuah transaksi dagang ketika dia memberi kepada Gereja, maka Gereja wajib memperhatikan kebutuhannya. Orang ini hanya melulu sebagai anggota Gereja tetapi bukan sebagai murid karena Yesus belum menjadi pusat hidupnya.
4. Ada orang yang menjadi anggota Gereja dan aktif di organisasi. Dia masuk Gereja karena tertarik pada ideology orang Katolik, namun tidak menghendaki ideology itu mencampuri urusan pribadinya. Dia hanya bermaksud mencari keuntungan dari ideology itu. Dia tidak bermaksud menjadikan Yesus sebagai pusat hidupnya, maka dia bukanlah murid.
5. Ada orang yang menjadi anggota Gereja karena mau meniru sikap hidup Yesus; karena Yesus mencintai orang-orang miskin, maka dia juga akan memberikan seluruh hidupnya untuk orang-orang miskin. Lalu ia melakukan berbagai aktivitas dalam mana seluruh perhatiannya ditujukan kepada kaum miskin, tetapi Yesus tida ada di dalamnya. Orang seperti ini bukanlah murid. Mengapa? Karena ia hanya mau seperti Yesus, tetapi tidak mau menjadi Yesus. Menjadi seperti Yesus berbeda dengan menjadi Yesus.
6. Ada pula kelompok orang yang disebut pelaku-pelaku Katolik. Mereka rajin melakukan aksi-aksi sosial dan menolong banyak orang terlantar. Perbuatannya memang baik, namun apakah itu dikerjakan demi Yesus atau demi kepuasan batinnya sendiri? Dia adalah pelaku-pelaku yang baik tetapi bukanlah seorang murid.
Dengan contoh-contoh di atas, kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri,” Termasuk kelompok manakah saya ini?” Jika demikian, siapakah yang disebut murid?
Murid adalah orang yang mengikuti pimpinannya, yaitu Yesus. Mengikuti Yesus berarti mengikuti jejakNya sebagai Sang Guru. Mengikuti jejak Yesus di sini tidak boleh diartikan secara harafiah, bukan juga berarti menjadi seperti Yesus karena ini berarti menjadi imitasi Yesus.
Menjadi murid berarti menjadi Yesus dalam arti pandangannya adalah pandangan Yesus, pikirannya adalah pikiran Yesus, hatinya adalah hati Yesus. Seorang murid yang memiliki pikiran Yesus berarti ia hidup dalam Yesus, hidup melalui Yesus, hidup dengan Yesus, dan hidup untuk Yesus. Yesus adalah pusat hidupnya. Dan karena itu ia mempunyai pikiran Yesus.
Bagaimanakah pikiran kita bisa menjadi pikiran Yesus? Rasul Paulus mengatakan bahwa Yesus telah memberikan segala-galanya. Ia memberikan ke-AllahanNya untuk menjadi manusia. Dan ia memberikan kemanusiaanNya dengan membiarkan orang-orang membunuhNya. Ia memberikan diri dan mengosongkan diriNya. Itulah pikiran Yesus yang harus dimiliki oleh seorang murid. Pikiran itu tidak berhenti sebatas ide tetapi nyata dalam perbuatan. Seorang murid melakukan segala sesuatu di dalam Yesus, lewat Yesus, dengan Yesus, dan untuk Yesus. Inilah pola hidup seorang murid yang harus nampak dan dapat dilihat oleh orang lain.
Sumber : PEMURIDAN (Sr. Eligia, CB) dengan penyesuaian seperlunya.
Tuesday, August 19, 2008
KAISAR MEMAKAN PAJAK KITA
Injil tentang membayar pajak kepada Kaisar sering dikutip pada setiap perayaan 17 Agustusan. Orang kagum pada kejelian Yesus menghindarkan diri dari jebakan kaum Farisi. Jika Ia menjawab bahwa kepada kaisar orang boleh membayar pajak, maka Ia dianggap melawan hukum Taurat yang mengajarkan bahwa hanya kepada Allah orang boleh menjalankan kewajibannya. Tetapi jika Ia mengatakan tidak boleh membayar pajak kepada kaisar maka Ia berhadapan dengan penguasa Romawi. Karena itu Yesus secara diplomatis menjawab, ”berikan kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.”
Jika merenung lebih jauh, kita akan menemukan betapa ironisnya pemisahan kekuasaan yang tidak berimbang itu. Berapa sih kekuasaan seorang kaisar? Dan apakah kewajiban kita terhadap kaisar sama pentingnya dengan kewajiban kita kepada Allah? Seorang kaisar membuat mata uang dengan gambar dirinya sebagai penguasa wilayah di mana uang itu berlaku. Suatu keterbatasan teritorial yang langsung menunjukkan betapa kecilnya kekuasaan seorang penguasa dunia. Kaisar bisa membeli kekuasaan tetapi tidak sanggup membayar kehormatan. Sebaliknya kekuasaan Allah melampaui segalanya dan dihormati di mana-mana. Dan Allah tidak perlu membeli semuanya itu.
Maka, perayaan 17 Agustusan menjadi moment untuk meletakkan kekuasaan Allah pada tempatnya. Dewasa ini manusia merasa lebih berkuasa dari Tuhan. Kewajiban-kewajiban kita terhadap Tuhan menjadi longgar. Kita lebih takut pada atasan yang menjadi kaisar atas hidup kita, yang kita diamkan tindakan korupsinya karena takut kehilangan pekerjaan. Kita lupa bahwa utang budi kita pada Allah jauh lebih besar melebihi pimpinan di kantor. Pajak hutang budi kita menumpuk-numpuk, karena kita lupa membayarnya. Lupa membayar rekening udara, matahari, hujan, musim, dan hal-hal baik lain yang kita alami dari Tuhan.
Mungkin kita berpikir bahwa Allah Mahabaik tak pernah menuntut balas jasa. Tapi apakah kita tidak tersinggung ketika orang mengatakan bahwa kita adalah orang yang tak tahu berterima kasih? Cara kita berterima kasih kepada Allah adalah dengan mengurus tanah air kita secara baik-baik. Kita tidak ingin merusaknya dengan eksploitasi yang tidak ”berperikemanusiaan, tidak berperi kebinatangan, tidak berperikelingkungan”. Namun dari hasil yang kita lihat, tanah air kita semakin merana. Ini bukanlah karena rakyatnya tidak pernah membayar pajak kepada kaisar tetapi karena kaisar telah memakan uang pajak rakyatnya.
Bukti bahwa kaisar telah memakan uang pajak dapat kita lihat dari maraknya pejabat yang korup dan merosotnya tingkat kemakmuran rakyat. Bencana datang silih berganti. Kita telah memberi kuasa penuh kepada para pimpinan negara ini, tetapi tak ada yang becus mengurus rakyatnya. Kita menjadi seperti anak ayam yang mati di lumbung padi.
(SVD Jakarta)
Jika merenung lebih jauh, kita akan menemukan betapa ironisnya pemisahan kekuasaan yang tidak berimbang itu. Berapa sih kekuasaan seorang kaisar? Dan apakah kewajiban kita terhadap kaisar sama pentingnya dengan kewajiban kita kepada Allah? Seorang kaisar membuat mata uang dengan gambar dirinya sebagai penguasa wilayah di mana uang itu berlaku. Suatu keterbatasan teritorial yang langsung menunjukkan betapa kecilnya kekuasaan seorang penguasa dunia. Kaisar bisa membeli kekuasaan tetapi tidak sanggup membayar kehormatan. Sebaliknya kekuasaan Allah melampaui segalanya dan dihormati di mana-mana. Dan Allah tidak perlu membeli semuanya itu.
Maka, perayaan 17 Agustusan menjadi moment untuk meletakkan kekuasaan Allah pada tempatnya. Dewasa ini manusia merasa lebih berkuasa dari Tuhan. Kewajiban-kewajiban kita terhadap Tuhan menjadi longgar. Kita lebih takut pada atasan yang menjadi kaisar atas hidup kita, yang kita diamkan tindakan korupsinya karena takut kehilangan pekerjaan. Kita lupa bahwa utang budi kita pada Allah jauh lebih besar melebihi pimpinan di kantor. Pajak hutang budi kita menumpuk-numpuk, karena kita lupa membayarnya. Lupa membayar rekening udara, matahari, hujan, musim, dan hal-hal baik lain yang kita alami dari Tuhan.
Mungkin kita berpikir bahwa Allah Mahabaik tak pernah menuntut balas jasa. Tapi apakah kita tidak tersinggung ketika orang mengatakan bahwa kita adalah orang yang tak tahu berterima kasih? Cara kita berterima kasih kepada Allah adalah dengan mengurus tanah air kita secara baik-baik. Kita tidak ingin merusaknya dengan eksploitasi yang tidak ”berperikemanusiaan, tidak berperi kebinatangan, tidak berperikelingkungan”. Namun dari hasil yang kita lihat, tanah air kita semakin merana. Ini bukanlah karena rakyatnya tidak pernah membayar pajak kepada kaisar tetapi karena kaisar telah memakan uang pajak rakyatnya.
Bukti bahwa kaisar telah memakan uang pajak dapat kita lihat dari maraknya pejabat yang korup dan merosotnya tingkat kemakmuran rakyat. Bencana datang silih berganti. Kita telah memberi kuasa penuh kepada para pimpinan negara ini, tetapi tak ada yang becus mengurus rakyatnya. Kita menjadi seperti anak ayam yang mati di lumbung padi.
(SVD Jakarta)
Wednesday, August 06, 2008
HANYA ALKITAB-KAH SUMBER IMAN KITA?
-Tradisi dan Alkitab -
Sering ditanyakan oleh orang-orang kristen fundamentalis: "Mengapa Gereja Katolik percaya kepada kenaikkan Maria ke surga, kepada Maria yang mengandung tanpa noda?", dan sebagainya. Kesukaran yang mereka ajukan ialah: "Bukanlah semuanya itu tidak tertulis dalam Alkitab?" Jadi, banyak hal yang menurut mereka tidak tertulis secara jelas dalam Alkitab tidak dapat dibenarkan atau bahkan bertentangan dengan Alkitab. Bagaimana jawaban Gereja Katolik?
Hanya Alkitabkah sumber iman kita?
Kadang-kadang kaum fundamentalis mengutip dua ayat berikut ini sebagai "bukti" untuk menunjukkan kekeliruan Gereja Katolik yang mengajarkan bahwa selain Alkitab ada juga tradisi yang dihormati sebagai sumber imannya:
1. Yoh 5 :39 yang berbunyi : "Kamu menyelidiki Kitab Suci …"
2. Kis 17:11 yang berbunyi: "Mereka itu orang-orang Yahudi di Berea menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian."
Bagaimana jawaban kita?
Pertama, Yoh5:39 dikutip lepas dari konteksnya. Di situ Yesus mengecam orang-orang Yahudi yang mau menyelidiki Kitab Suci untuk mendapatkan kehidupan, tetapi nyatanya mereka tidak mampu percaya kepada Yesus, yang adalah "Jalan, Kebenaran dan Kehidupan." Jadi ayat itu tidak bermaksud mengatakan bahwa segala ajaran kristen harus diselidiki kebenarannya dalam Alkitab. Sekali lagi, konteks Yoh 5:39 harus diperhatikan.
Kedua, Sepintas lalu ayat Kis 17:11 nampaknya segera membenarkan paham bahwa satu-satunya pedoman iman kita adalah Kitab Suci, sebab di situ dikatakan bahwa firman (atau kebenaran agama kristen) yang diterima oleh orang-orang Berea diteliti kebenarannya dengan menyelidiki Kitab Suci. Namun, benarkah bahwa ayat itu bermaksud mengatakan bahwa setiap dan semua pengajaran iman kristen harus dapat dibuktikan dari Kitab Suci? Seandainya memang demikian, itu berarti bahwa agama Yesus Kristus tidak mempunyai kelebihan apapun dibandingkan agama Israel lama. Mengapa kita dapat berkesimpulan demikian? Sebab kalau Perjanjian Baru sendiri berbicara tentang tulisan suci atau kitab suci, maka yang dimaksud di situ adalah kitab Perjanjian Lama (sebab tulisan-tulisan Perjanjian Baru sendiri waktu itu praktis belum ada). Jadi kalau orang mengatakan bahwa Kis 17:11 merupakan bukti bahwa semua kebenaran kristen harus dapat dibuktikan dalam Kitab Suci (yang - perhatikan sekali lagi - sama dengan Perjanjian Lama saja), maka itu berarti bahwa semua ajaran Kristen harus dapat dikukuhkan oleh Perjanjian Lama. Jadi, Perjanjian Baru sendiri tidak perlu atau hanya penjabaran belaka dari Perjanjian Lama, tidak lebih dari itu. Jelas hal ini tidak dapat kita terima. Perjanjian Baru jelas mengandung ajaran-ajaran yang tidak termuat dalam Perjanjian Lama. Bukankah Perjanjian Baru juga mengkoreksi dan melengkapi Perjanjian Lama? (bdk Mat 6:21 dst). Dengan keberatan sangat serius ini maka Kis 17:11 tidak dapat kita pakai sebagai bukti bahwa sumber iman kita hanyalah Alkitab. Dari Kis 17:11 kita hanya dapat mengetahui bahwa kebenaran-kebenaran agama kristen yang diterima oleh orang-orang Yahudi di Berea terbukti sesuai dengan Perjanjian Lama, dan bukan bahwa semua kebenaran agama kristen harus dapat dibuktikan dalam Perjanjian Lama.
Ayat-ayat yang mengandung gagasan tradisi
Untuk mendukung ajaran Katolik megenai pentingnya Tradisi, biasanya di kemukakan ayat-ayat berikut ini:
1. Kis 2:42 dimana dikatakan bahwa jemaah Kristen perdana bertekun dalam pengajaran para rasul, jauh sebelum tulisan-tulisan Perjanjian Baru sendiri lahir. Jadi kehidupan iman gereja tidak terbatas pada buku saja, tatapi juga pada ajaran lisan para pemimpin suci yang ditetapkan oleh Tuhan.
2. 1 Kor 15:3 dimana dikatakan oleh Paulus bahwa kebenaran tentang Yesus Kristus dia terima sendiri (jelas secara lisan).
3. 2 Tes 2:15 dimana Paulus menasehati umatnya: "Berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan maupun secara tertulis." Ajaran-ajaran yang tidak tertulis semacam itulah yang kita sebut tradisi.
4. Yoh 21:25 yang berbunyi: "masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat Yesus, tetapi jikalau semua itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak memuat semua kitab yang harus di tulis itu." Ayat ini menunjukan bahwa tujuan penulisan injilnya bukanlah untuk mendaftar semua ajaran Kristen atau membuat daftar lengkap dari ucapan dan perbuatan Yesus. Yang dia tulis hanyalah hal- hal yang paling mendasar untuk keselamatan manusia. Hal yang sama kiranya berlaku untuk kitab- kitab Perjanjian Baru lainnya.
Tradisi dan Alkitab
Salah satu hal yang menbedakan Gereja Katolik dari Gereja Protestan adalah paham mengenai wahyu Allah dissimpan dan diteruskan kepada umat manusia disegala tempat dan jaman. Menurut Gereja Katolik: melalui Tradisi dan Alkitab! Apakah Tradisi itu? Bagaimana hubungannya dengan Alkitab? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu kita bahas ajaran Gereja Katolik mengenai terjadinya Alkitab.
Pertama-tama, ada Allah yang mewahyukan Diri-Nya melalui para nabi, utusan-Nya. Para nabi itulah yang mewartakan Sabda-sabda Allah. Tetapi Allah bersabda juga melalui karya-karya-Nya yang agung dan melalui peristiwa-peristiwa hidup. Jadi dengan kata dan perbuatan Allah mewahyukan Diri-Nya, artinya Ia memperkenalkan siapakah Diri-Nya dan apakah rencana-Nya untuk keselamatan manusia. Dengan wahyu illahi ini Allah menyapa kita sebagai sahabat-Nya (Konstitusi Dei Verbum paragrap 2), mengadakan kontak batin dengan kita dan ingin bersatu dengan kita. Wahyu Allah inilah yang diterima oleh sekelompok umat manusia yang kita sebut gereja (baik dalam bentuk permulannya, yakni bangsa Israel, maupun dalam bentuk yang sudah tetap, yakni Gereja Yesus Kristus). Wahyu Allah itu bergema dan dihayati oleh Gereja dalam ibarat, ajaran dan seluruh kehidupan mereka. Inilah yang disebut Tradisi. Tradisi adalah Sabda Allah sejauh diterima dan dihayati Gereja dalam hidupnya, ajarannya dan ibaratnya. Atau dapat dikatakan juga bahwa Tradisi adalah iman Gereja terhadap Wahyu Allah/Sabda Allah.
Lama kelamaan, ketika para rasul Yesus mulai wafat satu persatu, timbul kebutuhan untuk menuliskan ajaran-ajaran yang mereka wariskan secara lisan itu, agar Gereja mempunyai pegangan. Untuk tujuan ini Roh Allah mengilihami orang-orang tertentu dalam Gereja untuk menuliskan apa yang dihayati dalam Tradisi itu dalam Alkitab. Jadi, dalam arti tertentu, Alkitab itu adalah bagian dari Tradisi atau bentuk tertulis dari Tradisi. Tetapi berkat ilham Roh Kudus, Alkitab mempunyai nilai istimewa sebab Allah sungguh-sungguh berkenan bersabda melalui kata-kata manusia dalam Alkitab.
Dari uraian diatas nampak betapa eratnya hubungan Tradisi dan Alkitab. Oleh karena itu Alkitab harus ditafsirkan dalam konteks dan dalam kesatuan dengan Tradisi. Sulit membayangkan penafsiran Alkitab lepas dari Tradisi, sebab sebelum Alkitab ditulis, Sabda Allah itu sudah lebih dahulu dihayati dalam Tradisi. Sebaliknya, karena penulisan Alkitab itu ada dibawah pengaruh Roh Kudus sendiri, maka Tradisi yang dihayati Gereja disegala jaman itu harus dikontrol dalam terang Alkitab.
Untuk sedikit mempermudah pemahaman kita tetang proses penulisan Alkitab dan kaitannya dengan Tradisi, baiklah kita ambil contoh kongkrit ini. Bagaimana garis besar terjadinya ayat-ayat Perjanjian Baru yang mewartakan bahwa Yesus Kristus adalah penyelamat dunia ? Pertama-tama Allah mewahyukan bahwa Yesus Kristus adalah juru selamat umat manusia; lalu Gereja menerima wahyu tersebut dalam iman dan menghayatinya dalam ibadat-ibadatnya, dalam ajaran-ajarannya dan dalam seluruh kehidupannya. Inilah Tradisi. Akhirnya, berkat ilham Roh Kudus iman itu dirumuskan secara tertulis dalam ayat-ayat Alkitab. Sebagai konsekuensinya, ayat-ayat semacam itu akan dapat dipahami sepenuhnya bila ditafsirkan dalam terang Tradisi.
Dengan uraian singkat diatas kita dapat memahami dengan lebih mudah apa yang diajarkan oleh Konsili Vatikan II mengenai hubungan Tradisi dan Alkitab berikut ini:
"Jadi Tradisi Suci dan kitab Suci erat hubungannya satu sama lain dan saling berkomunikasi. Sebab keduanya, yang berasal dari sumber illahi yang sama, bagaimanapun bergabung menjadi satu dan mengarah ke tujuan yang sama. Karena kitab Suci adalah penuturan Allah sejauh dituangkan kedalam tulisan dengan ilham Roh Illahi; sedangkan Tradisi Suci, meneruskan secara utuh Sabda Allah, yang dipercayakan Kristus kepada para Rasul dan para pengganti mereka, agar dipelihara dengan setia, dijelaskan dan disebarluaskan didalam pewartaan mereka sampai diterangi Roh Kebenaran. Maka Gereja menimba kepastiannya mengenai segala sesuatu yang diwahyukan tidak hanya dari Kitab Suci. Oleh karena itu kedua-duanya harus diterima dan dijunjung tinggi dengan perasaan saleh dan hormat yang sama."
Tradisi (yang lisan itu) ada sebelum Alkitab. Kemudian Tradisi lisan itu dituangkan dalam bentuk tertulis oleh penulis-penulis suci yang adalah anggota Gereja. Kemudian Gereja (melalui pimpinan suci yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri) meneguhkan mana yang adalah bagian Alkitab dan mana yang bukan. Jadi, sejauh mengenai penulisan Alkitab sendiri, Gereja ada sebelum Alkitab. Dalam arti inilah Alkitab kita sebut juga buku Gereja. Namun ini bukan berarti bahwa Gereja mengatasi atau lebih tinggi daripada Alkitab. TIDAK! Gereja tetap harus mendengarkan dan menaati Sabda Allah dalam Alkitab. Akan tetapi, seperti sudah diterangkan didepan, Gereja Yesus Kristuslah yang mendapat wewenang untuk mengajar kita bahwa kitab-kitab tertentu adalah benar-benar Sabda Allah. Dan wewenang untuk mengajar soal-soal iman dan susila ada ditangan para uskup sebagai pewaris sah para rasul dengan Paus sebagai pemimpin, yakni peringgati Petrus. Nah, Gereja yang sama itulah yang megajar kita juga bahwa Tradisi itu harus dihormati dengan "perasaan saleh dan hormat yang sama."
Auto-kritik
Akhir-akhir ini banyak disebarluaskan di Indonesia terjemahan buku atau artikel yang menyerang Gereja Katolik. Banyak kelompok fundamentalis yang tidak segan-segan menuduh Gereja Katolik sebagai Gereja Iblis, ilmu tenung, dan sebagainya. Mereka begitu yakin bahwa orang-orang Katolik pasti masuk neraka sebab Gereja Katolik itu begitu sesat.
Setelah kita melihat bagaimana terjadinya Alkitab dalam sejarah, dan bagaimana perasaan Gereja dalam penentuan kanon Alkitab, maka mengkritik Gereja Katolik sebagai Gereja yang begitu rapuh dan mudah sesat berarti mengkritik diri sendiri (auto-kritik). Mengapa? Sebab Alkitab yang mereka pakai sebagai senjata untuk menyerang Gereja Katolik adalah Alkitab yang hampir seluruhnya sama dengan Alkitab yang dahulu ditetapkan sebagai Sabda Allah oleh Gereja Katolik, yakni Gereja yang mempunyai struktur pimpinan yang sama dari dulu hingga sekarang. Bagaimanapun juga kaum fundamentalis yang merupakan sekte-sekte Kristen itu sudah mengambil-bagian dalam iman dasar Gereja Katolik, yakni bahwa minimum 39 kitab Perjanjian Lama dan ke-27 kitab Perjanjian Baru itu adalah Sabda Allah. Jadi kalau kaum fundamentalis itu percaya bahwa Gereja Katolik itu Gereja yang begitu rapuh, yang sesat dan sebagainya, maka bagaimana mungkin mereka menerima juga Alkitab yang diwariskan oleh Gereja yang begitu rapuh semacam itu? Tidakkah Alkitab yang diwariskan oleh Gereja semacam itu tidak bisa dipercaya juga? Pohon yang tidak baik tidak bisa menghasilkan buah yang baik. (Tetapi harap pepatah ini diartikan dengan tepat! Bukan berarti Alkitab adalah Sabda Gereja). Tidak bisa disangkal bahwa kanon Alkitab kaum fundamentalis sebelum ditetapkan oleh Gereja Reformasi sudah lebih dahulu ditetapkan sebagai Sabda Allah oleh Gereja Katolik.
Perbedaan antara Tradisi dan tradisi-tradisi:
Tradisi (dengan huruf T besar) harus dibedakan dari tradisi (dengan huruf t kecil) atau dari tradisi-tradisi. Kita percaya bahwa Tradisi itu berasal dari para rasul dan merupakan wahyu Tuhan. Sedangkan tradisi-tradisi berarti kebiasaan-kebiasaan Gereja yang manusiawi, dan karenanya tidaklah hakiki, artinya bisa diganti dengan kebiasaan lain yang sesuai dengan tuntutan jaman dan kebudayaan. Penggunaan organ dalam ibadat, penggunaan lonceng dan sebagainya adalah tradisi Gereja yang manusiawi, jadi boleh dihapuskan dan diganti dengan hal lain. Tetapi penggunaan roti dan anggur sebagai bahan untuk Misa, misalnya, adalah bagian dari Tradisi yang tidak bisa diubah.
Sering ditanyakan oleh orang-orang kristen fundamentalis: "Mengapa Gereja Katolik percaya kepada kenaikkan Maria ke surga, kepada Maria yang mengandung tanpa noda?", dan sebagainya. Kesukaran yang mereka ajukan ialah: "Bukanlah semuanya itu tidak tertulis dalam Alkitab?" Jadi, banyak hal yang menurut mereka tidak tertulis secara jelas dalam Alkitab tidak dapat dibenarkan atau bahkan bertentangan dengan Alkitab. Bagaimana jawaban Gereja Katolik?
Hanya Alkitabkah sumber iman kita?
Kadang-kadang kaum fundamentalis mengutip dua ayat berikut ini sebagai "bukti" untuk menunjukkan kekeliruan Gereja Katolik yang mengajarkan bahwa selain Alkitab ada juga tradisi yang dihormati sebagai sumber imannya:
1. Yoh 5 :39 yang berbunyi : "Kamu menyelidiki Kitab Suci …"
2. Kis 17:11 yang berbunyi: "Mereka itu orang-orang Yahudi di Berea menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian."
Bagaimana jawaban kita?
Pertama, Yoh5:39 dikutip lepas dari konteksnya. Di situ Yesus mengecam orang-orang Yahudi yang mau menyelidiki Kitab Suci untuk mendapatkan kehidupan, tetapi nyatanya mereka tidak mampu percaya kepada Yesus, yang adalah "Jalan, Kebenaran dan Kehidupan." Jadi ayat itu tidak bermaksud mengatakan bahwa segala ajaran kristen harus diselidiki kebenarannya dalam Alkitab. Sekali lagi, konteks Yoh 5:39 harus diperhatikan.
Kedua, Sepintas lalu ayat Kis 17:11 nampaknya segera membenarkan paham bahwa satu-satunya pedoman iman kita adalah Kitab Suci, sebab di situ dikatakan bahwa firman (atau kebenaran agama kristen) yang diterima oleh orang-orang Berea diteliti kebenarannya dengan menyelidiki Kitab Suci. Namun, benarkah bahwa ayat itu bermaksud mengatakan bahwa setiap dan semua pengajaran iman kristen harus dapat dibuktikan dari Kitab Suci? Seandainya memang demikian, itu berarti bahwa agama Yesus Kristus tidak mempunyai kelebihan apapun dibandingkan agama Israel lama. Mengapa kita dapat berkesimpulan demikian? Sebab kalau Perjanjian Baru sendiri berbicara tentang tulisan suci atau kitab suci, maka yang dimaksud di situ adalah kitab Perjanjian Lama (sebab tulisan-tulisan Perjanjian Baru sendiri waktu itu praktis belum ada). Jadi kalau orang mengatakan bahwa Kis 17:11 merupakan bukti bahwa semua kebenaran kristen harus dapat dibuktikan dalam Kitab Suci (yang - perhatikan sekali lagi - sama dengan Perjanjian Lama saja), maka itu berarti bahwa semua ajaran Kristen harus dapat dikukuhkan oleh Perjanjian Lama. Jadi, Perjanjian Baru sendiri tidak perlu atau hanya penjabaran belaka dari Perjanjian Lama, tidak lebih dari itu. Jelas hal ini tidak dapat kita terima. Perjanjian Baru jelas mengandung ajaran-ajaran yang tidak termuat dalam Perjanjian Lama. Bukankah Perjanjian Baru juga mengkoreksi dan melengkapi Perjanjian Lama? (bdk Mat 6:21 dst). Dengan keberatan sangat serius ini maka Kis 17:11 tidak dapat kita pakai sebagai bukti bahwa sumber iman kita hanyalah Alkitab. Dari Kis 17:11 kita hanya dapat mengetahui bahwa kebenaran-kebenaran agama kristen yang diterima oleh orang-orang Yahudi di Berea terbukti sesuai dengan Perjanjian Lama, dan bukan bahwa semua kebenaran agama kristen harus dapat dibuktikan dalam Perjanjian Lama.
Ayat-ayat yang mengandung gagasan tradisi
Untuk mendukung ajaran Katolik megenai pentingnya Tradisi, biasanya di kemukakan ayat-ayat berikut ini:
1. Kis 2:42 dimana dikatakan bahwa jemaah Kristen perdana bertekun dalam pengajaran para rasul, jauh sebelum tulisan-tulisan Perjanjian Baru sendiri lahir. Jadi kehidupan iman gereja tidak terbatas pada buku saja, tatapi juga pada ajaran lisan para pemimpin suci yang ditetapkan oleh Tuhan.
2. 1 Kor 15:3 dimana dikatakan oleh Paulus bahwa kebenaran tentang Yesus Kristus dia terima sendiri (jelas secara lisan).
3. 2 Tes 2:15 dimana Paulus menasehati umatnya: "Berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan maupun secara tertulis." Ajaran-ajaran yang tidak tertulis semacam itulah yang kita sebut tradisi.
4. Yoh 21:25 yang berbunyi: "masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat Yesus, tetapi jikalau semua itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak memuat semua kitab yang harus di tulis itu." Ayat ini menunjukan bahwa tujuan penulisan injilnya bukanlah untuk mendaftar semua ajaran Kristen atau membuat daftar lengkap dari ucapan dan perbuatan Yesus. Yang dia tulis hanyalah hal- hal yang paling mendasar untuk keselamatan manusia. Hal yang sama kiranya berlaku untuk kitab- kitab Perjanjian Baru lainnya.
Tradisi dan Alkitab
Salah satu hal yang menbedakan Gereja Katolik dari Gereja Protestan adalah paham mengenai wahyu Allah dissimpan dan diteruskan kepada umat manusia disegala tempat dan jaman. Menurut Gereja Katolik: melalui Tradisi dan Alkitab! Apakah Tradisi itu? Bagaimana hubungannya dengan Alkitab? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu kita bahas ajaran Gereja Katolik mengenai terjadinya Alkitab.
Pertama-tama, ada Allah yang mewahyukan Diri-Nya melalui para nabi, utusan-Nya. Para nabi itulah yang mewartakan Sabda-sabda Allah. Tetapi Allah bersabda juga melalui karya-karya-Nya yang agung dan melalui peristiwa-peristiwa hidup. Jadi dengan kata dan perbuatan Allah mewahyukan Diri-Nya, artinya Ia memperkenalkan siapakah Diri-Nya dan apakah rencana-Nya untuk keselamatan manusia. Dengan wahyu illahi ini Allah menyapa kita sebagai sahabat-Nya (Konstitusi Dei Verbum paragrap 2), mengadakan kontak batin dengan kita dan ingin bersatu dengan kita. Wahyu Allah inilah yang diterima oleh sekelompok umat manusia yang kita sebut gereja (baik dalam bentuk permulannya, yakni bangsa Israel, maupun dalam bentuk yang sudah tetap, yakni Gereja Yesus Kristus). Wahyu Allah itu bergema dan dihayati oleh Gereja dalam ibarat, ajaran dan seluruh kehidupan mereka. Inilah yang disebut Tradisi. Tradisi adalah Sabda Allah sejauh diterima dan dihayati Gereja dalam hidupnya, ajarannya dan ibaratnya. Atau dapat dikatakan juga bahwa Tradisi adalah iman Gereja terhadap Wahyu Allah/Sabda Allah.
Lama kelamaan, ketika para rasul Yesus mulai wafat satu persatu, timbul kebutuhan untuk menuliskan ajaran-ajaran yang mereka wariskan secara lisan itu, agar Gereja mempunyai pegangan. Untuk tujuan ini Roh Allah mengilihami orang-orang tertentu dalam Gereja untuk menuliskan apa yang dihayati dalam Tradisi itu dalam Alkitab. Jadi, dalam arti tertentu, Alkitab itu adalah bagian dari Tradisi atau bentuk tertulis dari Tradisi. Tetapi berkat ilham Roh Kudus, Alkitab mempunyai nilai istimewa sebab Allah sungguh-sungguh berkenan bersabda melalui kata-kata manusia dalam Alkitab.
Dari uraian diatas nampak betapa eratnya hubungan Tradisi dan Alkitab. Oleh karena itu Alkitab harus ditafsirkan dalam konteks dan dalam kesatuan dengan Tradisi. Sulit membayangkan penafsiran Alkitab lepas dari Tradisi, sebab sebelum Alkitab ditulis, Sabda Allah itu sudah lebih dahulu dihayati dalam Tradisi. Sebaliknya, karena penulisan Alkitab itu ada dibawah pengaruh Roh Kudus sendiri, maka Tradisi yang dihayati Gereja disegala jaman itu harus dikontrol dalam terang Alkitab.
Untuk sedikit mempermudah pemahaman kita tetang proses penulisan Alkitab dan kaitannya dengan Tradisi, baiklah kita ambil contoh kongkrit ini. Bagaimana garis besar terjadinya ayat-ayat Perjanjian Baru yang mewartakan bahwa Yesus Kristus adalah penyelamat dunia ? Pertama-tama Allah mewahyukan bahwa Yesus Kristus adalah juru selamat umat manusia; lalu Gereja menerima wahyu tersebut dalam iman dan menghayatinya dalam ibadat-ibadatnya, dalam ajaran-ajarannya dan dalam seluruh kehidupannya. Inilah Tradisi. Akhirnya, berkat ilham Roh Kudus iman itu dirumuskan secara tertulis dalam ayat-ayat Alkitab. Sebagai konsekuensinya, ayat-ayat semacam itu akan dapat dipahami sepenuhnya bila ditafsirkan dalam terang Tradisi.
Dengan uraian singkat diatas kita dapat memahami dengan lebih mudah apa yang diajarkan oleh Konsili Vatikan II mengenai hubungan Tradisi dan Alkitab berikut ini:
"Jadi Tradisi Suci dan kitab Suci erat hubungannya satu sama lain dan saling berkomunikasi. Sebab keduanya, yang berasal dari sumber illahi yang sama, bagaimanapun bergabung menjadi satu dan mengarah ke tujuan yang sama. Karena kitab Suci adalah penuturan Allah sejauh dituangkan kedalam tulisan dengan ilham Roh Illahi; sedangkan Tradisi Suci, meneruskan secara utuh Sabda Allah, yang dipercayakan Kristus kepada para Rasul dan para pengganti mereka, agar dipelihara dengan setia, dijelaskan dan disebarluaskan didalam pewartaan mereka sampai diterangi Roh Kebenaran. Maka Gereja menimba kepastiannya mengenai segala sesuatu yang diwahyukan tidak hanya dari Kitab Suci. Oleh karena itu kedua-duanya harus diterima dan dijunjung tinggi dengan perasaan saleh dan hormat yang sama."
Tradisi (yang lisan itu) ada sebelum Alkitab. Kemudian Tradisi lisan itu dituangkan dalam bentuk tertulis oleh penulis-penulis suci yang adalah anggota Gereja. Kemudian Gereja (melalui pimpinan suci yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri) meneguhkan mana yang adalah bagian Alkitab dan mana yang bukan. Jadi, sejauh mengenai penulisan Alkitab sendiri, Gereja ada sebelum Alkitab. Dalam arti inilah Alkitab kita sebut juga buku Gereja. Namun ini bukan berarti bahwa Gereja mengatasi atau lebih tinggi daripada Alkitab. TIDAK! Gereja tetap harus mendengarkan dan menaati Sabda Allah dalam Alkitab. Akan tetapi, seperti sudah diterangkan didepan, Gereja Yesus Kristuslah yang mendapat wewenang untuk mengajar kita bahwa kitab-kitab tertentu adalah benar-benar Sabda Allah. Dan wewenang untuk mengajar soal-soal iman dan susila ada ditangan para uskup sebagai pewaris sah para rasul dengan Paus sebagai pemimpin, yakni peringgati Petrus. Nah, Gereja yang sama itulah yang megajar kita juga bahwa Tradisi itu harus dihormati dengan "perasaan saleh dan hormat yang sama."
Auto-kritik
Akhir-akhir ini banyak disebarluaskan di Indonesia terjemahan buku atau artikel yang menyerang Gereja Katolik. Banyak kelompok fundamentalis yang tidak segan-segan menuduh Gereja Katolik sebagai Gereja Iblis, ilmu tenung, dan sebagainya. Mereka begitu yakin bahwa orang-orang Katolik pasti masuk neraka sebab Gereja Katolik itu begitu sesat.
Setelah kita melihat bagaimana terjadinya Alkitab dalam sejarah, dan bagaimana perasaan Gereja dalam penentuan kanon Alkitab, maka mengkritik Gereja Katolik sebagai Gereja yang begitu rapuh dan mudah sesat berarti mengkritik diri sendiri (auto-kritik). Mengapa? Sebab Alkitab yang mereka pakai sebagai senjata untuk menyerang Gereja Katolik adalah Alkitab yang hampir seluruhnya sama dengan Alkitab yang dahulu ditetapkan sebagai Sabda Allah oleh Gereja Katolik, yakni Gereja yang mempunyai struktur pimpinan yang sama dari dulu hingga sekarang. Bagaimanapun juga kaum fundamentalis yang merupakan sekte-sekte Kristen itu sudah mengambil-bagian dalam iman dasar Gereja Katolik, yakni bahwa minimum 39 kitab Perjanjian Lama dan ke-27 kitab Perjanjian Baru itu adalah Sabda Allah. Jadi kalau kaum fundamentalis itu percaya bahwa Gereja Katolik itu Gereja yang begitu rapuh, yang sesat dan sebagainya, maka bagaimana mungkin mereka menerima juga Alkitab yang diwariskan oleh Gereja yang begitu rapuh semacam itu? Tidakkah Alkitab yang diwariskan oleh Gereja semacam itu tidak bisa dipercaya juga? Pohon yang tidak baik tidak bisa menghasilkan buah yang baik. (Tetapi harap pepatah ini diartikan dengan tepat! Bukan berarti Alkitab adalah Sabda Gereja). Tidak bisa disangkal bahwa kanon Alkitab kaum fundamentalis sebelum ditetapkan oleh Gereja Reformasi sudah lebih dahulu ditetapkan sebagai Sabda Allah oleh Gereja Katolik.
Perbedaan antara Tradisi dan tradisi-tradisi:
Tradisi (dengan huruf T besar) harus dibedakan dari tradisi (dengan huruf t kecil) atau dari tradisi-tradisi. Kita percaya bahwa Tradisi itu berasal dari para rasul dan merupakan wahyu Tuhan. Sedangkan tradisi-tradisi berarti kebiasaan-kebiasaan Gereja yang manusiawi, dan karenanya tidaklah hakiki, artinya bisa diganti dengan kebiasaan lain yang sesuai dengan tuntutan jaman dan kebudayaan. Penggunaan organ dalam ibadat, penggunaan lonceng dan sebagainya adalah tradisi Gereja yang manusiawi, jadi boleh dihapuskan dan diganti dengan hal lain. Tetapi penggunaan roti dan anggur sebagai bahan untuk Misa, misalnya, adalah bagian dari Tradisi yang tidak bisa diubah.
Monday, July 07, 2008
SONTOLOYO
Memasuki usia uzur bangsa ini tak ada satupun warisan yang bisa diteruskan ke anak cucu selain sejarah patriotik dan hutang. Dulu masih ada nilai ekonomis bangsa yang patut diacungi jempol sebagai lumbung padi asia tapi kini sudah tidak lagi mempunyai lumbung setelah 'pengerat' berambut hitam dan berdasi itu mulai sedikit demi sedikit mencurinya sebagai pemilik lumbung.
Rakyat terus saja dijadikan kambing hitam ketika pengerat mulai satu-satu hilang atau tertangkap dengan mengatakan : "Jadilah anak bangsa yang bisa membawa nama baik negara di tingkat dunia!!!" Nyatanya, mereka hanya selalu dituntut tapi tidak pernah diperdayakan.
Pejabat boleh saja bicara ini itu untuk mencari pembelaan diri.
Membela diri dihadapan rakyat???
"SONTOLOYO!!
Hanya kata-kata itu yang kami mampu dengar setelah semua orang mulai bosan mendengar keluh kesah. Sontoloyo, inilah bukti pembelaan negara karena tak mampu lagi mendengar suara hati rakyat.
Rakyat terus saja dijadikan kambing hitam ketika pengerat mulai satu-satu hilang atau tertangkap dengan mengatakan : "Jadilah anak bangsa yang bisa membawa nama baik negara di tingkat dunia!!!" Nyatanya, mereka hanya selalu dituntut tapi tidak pernah diperdayakan.
Pejabat boleh saja bicara ini itu untuk mencari pembelaan diri.
Membela diri dihadapan rakyat???
"SONTOLOYO!!
Hanya kata-kata itu yang kami mampu dengar setelah semua orang mulai bosan mendengar keluh kesah. Sontoloyo, inilah bukti pembelaan negara karena tak mampu lagi mendengar suara hati rakyat.
Thursday, June 12, 2008
APAKAH ENGKAU TANAH AIRKU, INDONESIA
"...Indonesia tanah airku..."
Sepenggal kalimat dari lagu Indonesia Raya ini tentu tak akan pernah lupa jika kita menyanyikannya. Jika di negeri orang dan kita mendengar lagu ini, spontan bibir kita akan mengucap kalimat demi kalimat dalam bait-bait lagu tersebut. Terkadang jika penghayatan lagu ini sudah sampai pada titik patriotik yang tinggi, jangan salahkan lagunya jika air mata mengalir karena rasa haru. Siapa yang tidak bangga menjadi putra pertiwi tatkala lagu itu terdengar nun jauh di sana di tempat di mana kita jauh dari ibu pertiwi.
Aku mencoba memaknai kalimat ini lebih dalam lagi dalam sanubariku dan tentunya dengan caraku sendiri. Rasanya ada yang salah dengan kalimat itu tapi entah apanya yang salah.
Jauh memandang negeri ini dari ujung Sabang hingga batas Merauke, Indonesia memang sungguh kaya dan luas. Dulu konon kata orang tua kita, bangsa Indonesia itu terkenal dengan keramahtamahannya dan halus tutur bahasanya. Konon pula, kata orang yang sama, Indonesia itu negara maritim yang mampu menjajah bangsa lain hingga tepi timur Afrika (Madagaskar), Asia Tenggara, Campa, hingga Papua.
Dibandingkan dengan kerajaan Malaysia waktu itu, Indonesia masih terlalu kuat hingga Malaysia bisa digagahi selangkangannya lewat pendudukan Majapahit pada abad 15M. Kalau hanya sekedar ingin 'mengencingi' Malaysia pada jaman Sukarno di tahun 1960an, pada jaman Majapahit malah sudah 'berak' di Malaysia tanpa mampu menghapus bekas tahinya.
Itu dulu yang cuma tinggal sejarah. Indonesia rupanya bukan Majapahit meski semua simbol Majapahit numpuk digunakan untuk membangun rasa patriotik Indonesia. Masih ingat dengan pepatah : "Gemah ripah Loh jinawi"?. Saat ini, di tahun 2008 ini, ketika semua anak bangsa kehilangan identitas diri, pepatah itu bisa akan menjadi :"Gemah Ripah Kokh Mateni". Yuk kita lihat bedanya dengan jaman dulu :
1. Bangsa ini sudah tidak ramah lagi ketika inkulturasi budaya asing, entah barat entah timur tengah, mulai mengikis keramahtamahan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
2. Welas asih yang jadi ciri masyarakat Indonesia sudah hilang dengan besarnya Ego dan tak peduli dengan orang lain
3. Manusia Indonesia sudah tidak saling menghargai satu sama lain hingga atas nama SARA boleh menghancurkan yang lemah.
4. Masih banyak
5. Terlalu banyak.
Anehnya, negara tidak melihat itu sebagai indikasi akan hilangnya jati diri bangsa dengan membiarkan semuanya terjadi.
Aneh.... aku yang ada dalam kelompok kecil dan minoritas ini terus mengkaji ulang akan makna "Indonesia Tanah Airku".
Apakah engkau sungguh-sungguh tanah airku, Indonesia??
Apakah engkau bisa menjadi tanah airku, Indonesia??
Apakah engkau memang Indonesia bagiku???
Sepenggal kalimat dari lagu Indonesia Raya ini tentu tak akan pernah lupa jika kita menyanyikannya. Jika di negeri orang dan kita mendengar lagu ini, spontan bibir kita akan mengucap kalimat demi kalimat dalam bait-bait lagu tersebut. Terkadang jika penghayatan lagu ini sudah sampai pada titik patriotik yang tinggi, jangan salahkan lagunya jika air mata mengalir karena rasa haru. Siapa yang tidak bangga menjadi putra pertiwi tatkala lagu itu terdengar nun jauh di sana di tempat di mana kita jauh dari ibu pertiwi.
Aku mencoba memaknai kalimat ini lebih dalam lagi dalam sanubariku dan tentunya dengan caraku sendiri. Rasanya ada yang salah dengan kalimat itu tapi entah apanya yang salah.
Jauh memandang negeri ini dari ujung Sabang hingga batas Merauke, Indonesia memang sungguh kaya dan luas. Dulu konon kata orang tua kita, bangsa Indonesia itu terkenal dengan keramahtamahannya dan halus tutur bahasanya. Konon pula, kata orang yang sama, Indonesia itu negara maritim yang mampu menjajah bangsa lain hingga tepi timur Afrika (Madagaskar), Asia Tenggara, Campa, hingga Papua.
Dibandingkan dengan kerajaan Malaysia waktu itu, Indonesia masih terlalu kuat hingga Malaysia bisa digagahi selangkangannya lewat pendudukan Majapahit pada abad 15M. Kalau hanya sekedar ingin 'mengencingi' Malaysia pada jaman Sukarno di tahun 1960an, pada jaman Majapahit malah sudah 'berak' di Malaysia tanpa mampu menghapus bekas tahinya.
Itu dulu yang cuma tinggal sejarah. Indonesia rupanya bukan Majapahit meski semua simbol Majapahit numpuk digunakan untuk membangun rasa patriotik Indonesia. Masih ingat dengan pepatah : "Gemah ripah Loh jinawi"?. Saat ini, di tahun 2008 ini, ketika semua anak bangsa kehilangan identitas diri, pepatah itu bisa akan menjadi :"Gemah Ripah Kokh Mateni". Yuk kita lihat bedanya dengan jaman dulu :
1. Bangsa ini sudah tidak ramah lagi ketika inkulturasi budaya asing, entah barat entah timur tengah, mulai mengikis keramahtamahan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
2. Welas asih yang jadi ciri masyarakat Indonesia sudah hilang dengan besarnya Ego dan tak peduli dengan orang lain
3. Manusia Indonesia sudah tidak saling menghargai satu sama lain hingga atas nama SARA boleh menghancurkan yang lemah.
4. Masih banyak
5. Terlalu banyak.
Anehnya, negara tidak melihat itu sebagai indikasi akan hilangnya jati diri bangsa dengan membiarkan semuanya terjadi.
Aneh.... aku yang ada dalam kelompok kecil dan minoritas ini terus mengkaji ulang akan makna "Indonesia Tanah Airku".
Apakah engkau sungguh-sungguh tanah airku, Indonesia??
Apakah engkau bisa menjadi tanah airku, Indonesia??
Apakah engkau memang Indonesia bagiku???
Monday, June 09, 2008
YESUS JANGAN TURUN-TURUN DULU YACH
Memandang salib corpus Yesus yang 'ngglantungan' di setiap dinding tembok property-nya orang Katolik mengingatkan aku akan kisah dua penjahat Dismas dan Gesmas. Gesmas ini benar-benar 100% penjahat tulen yang sampai mampus aja masih bangga jadi penjahat. Berbeda dengan Dismas yang kapok setengah mati di ujung salibnya. Dia tobat jadi penjahat karena dia pikir, udah usaha ke sana ke sini jadi penjahat tetap aja nasibnya jelek terus maka daripada nasib paling akhirnya juga jelek mending tobat aja dech. Duduk di emperan surga mungkin lebih baik daripada masuk neraka, pikirnya.
Terus apanya yang bisa diingat dari kisah itu???
Dismas dan Gesmas adalah gambaran manusia di dunia yang serba hitam dan putih, dosa dan suci, salah dan benar, kafir dan agamis, dsb. Bos besarnya sudah jelas, Lucifer di sisi hitam dan Tuhan di sisi putih. Terserah mau ditafsirkan seperti apa. Kenyataannya adalah dua geng ini sudah ada sejak penciptaan dunia. Tinggal kita-kita ini mau pilih geng mana??? Semua pilihan akan mendapat rewardnya.
Hitam - putih dan dosa - suci ibarat sebuah pertandingan dalam pemilu. Sayangnya kita ngga bisa menghitung berapa hasil sementara hingga umur bumi ini sudah uzur. Kalau nanti pengikut Lucifer mendominasi perolehan suara maka akan dipastikan terjadi perluasan area neraka karena daya tampung neraka sangat minim sementara surga akan kosong melompong. Di pihak lain Tuhan juga ngga mau kalah. Dia harus menang donk. Dia tidak ingin kerajaanNya kosong dengan rakyat yang sedikit.
Kalau posisi perolehan masih bisa dimenangkan Tuhan, maka Yesus ngga perlu turun dulu. Tapi kalau Lucifer bisa menyusul di tingkungan dengan akal bulusnya sehingga posisinya hampir menyamai perolehan suara Tuhan maka saat itulah Yesus bersiap-siap terjun payung dan inilah akhir dunia itu.
Jika demikian, apakah saat ini dunia sedang akan dihancurkan karena posisi orang berdosa semakin meningkat hampir menyamai jumlah penghuni surga? Jika ini adalah tanda-tandanya sebaiknya kita cepat-cepat ganti surat suara dan memilih Tuhan biar Yesus ngga turun-turun dulu. Kalaupun sudah terlanjur diterjunkan setidaknya kita masih bisa duduk diemperan surga nemenin Dismas.
Terus apanya yang bisa diingat dari kisah itu???
Dismas dan Gesmas adalah gambaran manusia di dunia yang serba hitam dan putih, dosa dan suci, salah dan benar, kafir dan agamis, dsb. Bos besarnya sudah jelas, Lucifer di sisi hitam dan Tuhan di sisi putih. Terserah mau ditafsirkan seperti apa. Kenyataannya adalah dua geng ini sudah ada sejak penciptaan dunia. Tinggal kita-kita ini mau pilih geng mana??? Semua pilihan akan mendapat rewardnya.
Hitam - putih dan dosa - suci ibarat sebuah pertandingan dalam pemilu. Sayangnya kita ngga bisa menghitung berapa hasil sementara hingga umur bumi ini sudah uzur. Kalau nanti pengikut Lucifer mendominasi perolehan suara maka akan dipastikan terjadi perluasan area neraka karena daya tampung neraka sangat minim sementara surga akan kosong melompong. Di pihak lain Tuhan juga ngga mau kalah. Dia harus menang donk. Dia tidak ingin kerajaanNya kosong dengan rakyat yang sedikit.
Kalau posisi perolehan masih bisa dimenangkan Tuhan, maka Yesus ngga perlu turun dulu. Tapi kalau Lucifer bisa menyusul di tingkungan dengan akal bulusnya sehingga posisinya hampir menyamai perolehan suara Tuhan maka saat itulah Yesus bersiap-siap terjun payung dan inilah akhir dunia itu.
Jika demikian, apakah saat ini dunia sedang akan dihancurkan karena posisi orang berdosa semakin meningkat hampir menyamai jumlah penghuni surga? Jika ini adalah tanda-tandanya sebaiknya kita cepat-cepat ganti surat suara dan memilih Tuhan biar Yesus ngga turun-turun dulu. Kalaupun sudah terlanjur diterjunkan setidaknya kita masih bisa duduk diemperan surga nemenin Dismas.
Wednesday, May 28, 2008
AIR DI JAKARTA

Sehari-harinya, Jakarta selalu kekurangan air di musim kemarau dan banjir di musim penghujan. Dalam lima tahun terakhir, Jakarta dilanda banjir besar sebanyak dua kali yaitu tahun 2002 dan 2007
Baik kekurangan air maupun banjir dianggap masalah air. Solusi yang dicari juga terbatas pada penanganan masalah air, seperti membuat bendungan dan banjir kanal. Padahal masalah air hanyalah sebuah gejala dalam sindrom terlampauinya daya dukung lingkungan hidup.
Untuk hidupnya, makhluk hidup membutuhkan air, udara, pangan dan ruang hidup. Bagi manusia, air tidak hanya untuk minum, melainkan juga untuk mandi, mencuci, dan produksi pangan, kertas, pakaian, dll. Makin “modern” seseorang, makin besar kebutuhan airnya.
Di Jakarta air PAM tidak mencukupi. Airpun pompa dari dalam tanah. Dan Jakarta mengalami keamblesan tanah. Kelebihan air di musim hujan makin sulit untuk dibuang ke laut. Jakarta yang landai dan sebagian wilayahnya terletak di bawah permukaan laut, makin rentan terhadap banjir. Kemablesan tanah merusak riul Jakarta. Terjadilah pencemaran air tanah. Air PAM pun tercemar.
Penggunaan air telah melampaui daya dukung
Ruang hidup diperlukan oleh semua makhluk hidup. Jakarta mengalami pertumbuhan eksponensial. Jakarta menjadi penuh sesak. Bantaran sungai dipenuhi perumahan. Sungai menyempit. Ruang Hijau Terbuka (RTH) makin berkurang. Produksi sampah meningkat. Sungai di Jakarta tersumbat sampah dan eceng gondok yang tumbuh subur. Banjir meningkat. Limbah MCK juga merupakan sumber penyakit muntah berak.
Rumah-rumah tangga di Jakarta berusaha memperluas rumahnya akibat kebutuhan ruang tinggal yang semakin besar karena semakin banyaknya penghuni. Maka halaman rumah dikorbankan, menciut sampai minimal, bahkan habis sama sekali. Kalau toh masih ada, biasanya diperkeras dengan semen atau beton sehingga tanah terbuka hilang. Yang tersisa pelataran semen tak ubahnya bangunan tanpa atap. Muncullah problem besar yaitu berkurangnya (dan hilangnya) lahan untuk peresapan air hujan.
Maka banjir menjadi tak terelakkan karena semua air hujan dialirkan (tidak sengaja) ke tempat-tempat yang lebih rendah, bukan diresapkan ke dalam tanah. Air hujan berkumpul membentuk genangan besar yang perlu waktu untuk pergi menuju badan-badan air yang alamiah (sungai, danau, laut) maupun buatan (banjir kanal, waduk buatan). Genangan besar yang tidak pada tempatnya, itulah banjir. Tidak perlu dikatakan lagi seberapa merugikannya banjir yang melanda kota kita. Ikut diterjang banjir atau tidak, seluruh warga kota merasakan penderitaan dalam berbagai bentuk. Tidak terkecuali, bahkan Presidenpun terlihat kerepotan dalam suatu perjalanan menembus banjir menuju istana kepresidenan.
Tertutupnya lahan untuk resapan air hujan tidak hanya itu. Jakarta defisit (kekurangan/tekor) air tanah. Itulah yang terjadi, karena jumlah air yang diresapkan ke dalam tanah begitu sedikit dibandingkan dengan jumlah air yang terus menerus disedot dari dalam tanah melalui pompa air/pompa bor/ sumur. Ibarat rekening kita di bank yang tidak pernah diisi melalui setoran, tapi dananya ditarik terus, dikurang terus. Tidak mengherankan jika suatu hari ketika menarik dana di ATM, yang muncul dilayar ATM : ”Maaf dana anda tidak mencukupi untuk penarikan ini”
Kebutuhan akan air bersih untuk berbagai kehidupan kota Jakarta yang dipenuhi oleh PDAM hanya sekitar 50% saja. Sisanya disedot masyarakat langsung dari perut bumi. Kurangnya pasokan air hujan yang meresap ke dalam tanah, membuat masyarakat harus menggali sumurnya lebih dalam lagi setiap musim kemarau. Dari rata-rata belasan meter kedalaman sumur pada tahun 1970an, sekarang sudah mencapai rata-rata 40an meter untuk memperoleh air bersih. Artinya diperlukan pompa yang lebih besar, lebihmahalm dengan daya listrik yang lebih tinggi. Itulah sebabnya biaya hidup di Jakarta semakin terasa mencekik karena untuk mendapatkan air yang begitu vital untuk kehidupan kita, harus dikeluarkan ongkos yang kian hari kian mahal saja.
Kurangnya air dalam tanah meninggalkan banyak jalur dan rongga melompong dalam tanah. Kekosongan ini mengundang masukknya air laut (interusi) yang asin dalam tanah kita. Maka sumur menjadi berair asin padahal sebelumnya tawar. Kecuali itu, rongga-rongga mengeroposkan kekuatan tanah dalam mendukung struktur tanah dan abngunan di atasnya. Di semua tempat di Jakarta terjadilah keamblesan tanah dengan berbagai kedalaman. Dari tahun 1983 tercatat 40cm s/d 180cm tanah yang ambles (data Dinas Pertambangan DKI Jakarta). Sudah barang tentu keamblesan merusakkan bangunan, menambah resiko ambruknya bangunan berikut instalasi yang tertanam dalam tanah. (Berita terbaru adalah amblesannya Gedung Sarinah, Jakarta)
Air menjadi masalah serius di Jakarta. Bagaimana mengatasinya? Dapatkah masyarakat turut ambil bagian di dalam mengatasi malasah air di Jakarta ini? Jawabnya singkat : “Masyarakat dapat dan harus melakukan langkah nyata untuk menyelamatkan Jakarta dari masalah air ini” Mengharapkan hanya pada penanganan oleh Pemda DKI sungguh sikap yang tidak bijaksana bahkan sikap yang salah, karena kemampuan pemerintah daerah sangat terbatas untuk menangani penduduk yang berjumlah 10 juta orang.
Berikut langkah-langkah nyata yang harus dilakukan masyarakat setiap rumah :
1. Buat saluran resapan sebanyak mungkin.
Lubang Resapan Biopori dapat dibuat untuk memulai pembuatan saluran resapan ke dalam tanah jika sulit untuk membangun sumur resapan.
2. Terapkan prinsip 4 R pengelolaan air
- REDUCE (hemat air). Gunakan air sehemat mungkin. Cegah kebocoran saluran air.
- REUSE (gunakan air) Air bekas mandi dapat dikumpulkan untuk mengelontor WC. Tampung air hujan dalam sumur tendon, gunakan sebagai cadangan air di musim kemarau.
- RECYCLE (daur ulang air) Air bekas mandi dengan pengolahan sederhan dapat digunakan untuk menyiram tanaman, mencuci mobil, dsb. Gunakan filter untuk menyaring atau tumbuhan/ikan untuk memperbaiki kondisi kandungan biologis atau kimiawi air.
- RECHARGE (resapkan air hujan ke dalam tanah). Air hujan yang melalui talang langsung dialirkan ke dalam sumur resapan. Dan tanam pohon sebanyak-banyaknya karena pohon dengan sendirinya memperbaiki lingkungan (air, tanah, udara) , termasuk menambah cadangan air di permukaan.
Demikianlah catatan ringkas mengenai situasi di Jakarta yang sangat memprihatinkan, dan yang lebih penting, cara yang dapat kita lakukan untuk mengatasinya. Mari mengubah cara pandang kita kepada air. CEgah kekurangan air dan cegah banjir, melalui satu cara yang sama : RESAPKAN AIR KE DALAM TANAH SEBANYAK MUNGKIN
Nara Sumber :
- Workshop Gerakan Habitus Bersih dan Sehat : “Mengubah Sampah jadi rupiah” Paroki St. Aloysius Gonzaga Cijantung - oleh Bintang A. Nugroho (Ketua Pepulih – Perkumpulan Pemerhati dan Peduli Lingkungan Hidup), 20 April 2008
- Air Jakarta : Sebuah sindrom terlampauinya daya dukung – oleh Prof Otto Sumarwoto, 2007
Friday, May 09, 2008
NICODEMUS, ORANG KUDUS DARI KAUM YAHUDI
Santo Nicodemus adalah orang Yahudi dari golongan Farisi yang tinggal dan hidup di kota Yerusalem pada abad pertama. Ia juga adalah anggota Sanhedrin yaitu lembaga Mahkamah Agama Yahudi, yang sangat terkemuka pada masa Kristus. Dalam kapasitasnya di Sanhedrin, ia adalah pemimpin Yahudi. Dalam kitab Injil, ia hanya disebut dalam Injil Yohanes saja. Encyclopedia Yahudi dan beberapa sejarawan Injil memperkirakan bahwa ia bernama lengkap Nicodemus ben Gurion di mana dalam kitab Talmud dikisahkan sebagai orang kudus yang populer dan kaya yang dianggap mempunyai kuasa-kuasa yang ajaib.
Tidak ada sumber informasi yang jelas tentang Nicodemus ini di luar Injil Yohanes, namun Josephus Flavius, sejarahwan Yahudi, mencatat bahwa Nicodemus ternyata seorang yang kaya dan merupakan figur orang terhormat. Ia dikenal karena kedermawanan dan kekudusannya. Josephus Flavius juga mencatat bahwa Nicodemus pernah menjadi duta besar yang dikirim Aristobulus ke Pompey. Hal ini diduga karena format nama Ibrani dari Nicodemus yaitu Naqdimon, ditemukan dalam Kitab Talmud Yahudi.
Dunia politik yang digeluti semenjak menjadi anggota Sanhedrin dari faksi Farisi terbilang cukup meyakinkan. Ia adalah musuh orang Zealot, yaitu kaum Yahudi fanatik, dan pemberontak melawan kekaisaran Roma yang akhirnya mendorong pada penghancuran Jerusalem.
Ketika Vespasianus menjadi kaisar Roma, Nicodemus berdamai dengan Titus, putra kaisar, yang melaksanakan peperangan itu. Ia justru menghasut terhadap tuntutan perang orang Zealots. Dalam suatu pembalasan, Nicodemus dan teman-temannya membinasakan gudang perbekalan di mana mereka dikumpulkan untuk dikubur.
Ada 4 hal yang menjadi catatan khusus tentang Nicodemus ini adalah :
1. dia adalah wakil dari "penguasa bangsa Yahudi" yang belajar dari Yesus apa yang dimaksud dengan “kelahiran kembali oleh baptis", seolah-olah sebuah ajaran nabi yang sama sekali tidak diketahuinya. Beberapa penulis dan sejarahwan menduga bahwa Nicodemus ini orang yang cukup berumur, dari pertanyaannya: "Bagaimana mungkin seorang manusia dilahirkan kembali ketika ia sudah tua?". Ia muncul dalam percakapan ini sebagai orang percaya yang cerdas dan terpelajar, tetapi takut dan tidak mudah menjalankan misteri iman yang baru.
2. bagaimana ia melakukan kunjungannya kepada Yesus di waktu malam hari, supaya ia tidak dikenali sebagai salah satu murid. Kitab Suci tidak mengatakan mengapa ia pergi pada malam hari, tetapi kita mengetahui bahwa para pemimpin Yahudi marah terhadap Yesus dan mereka sedang mencari suatu cara untuk menangkap dia. Barangkali Nicodemus takut untuk pergi kepada Yesus di muka umum pada siang hari.
3. dia tampil di Sanhedrin untuk menawarkan suatu pembelaan terhadap Yesus ketika para imam berencana akan menangkap Yesus; dan kita boleh menyimpulkan dari perjalanan ini bahwa ia telah memeluk kebenaran ini secara penuh secepat yang diberitahukan kepadanya.
4. ketika ia dan Joseph Arimathea diuraikan seperti bertanggung jawab atas jenazah Yesus dalam rangka menyiapkan penguburan yang pantas. Mereka meminta jenazah Yesus kepada Pilatus untuk disemayamkan dan Pilatus menyetujuinya. Jelaslah bahwa hanya sosok orang yang memiliki keunggulan seperti itu setidaknya seorang figur yang terkenal di masyarakat Yahudi saat itu yang berani memintanya kepada Pilatus mengingat penyaliban Yesus ini menggemparkan kota Yerusalem karena dianggap musuh utama Yahudi.
Ketika Nicodemus berdiskusi dengan Yesus, ia mengatakan kepada Yesus bahwa Tuhan sungguh ada bersama dia, ia tidak akan mampu melakukan semua yang bagus yang Yesus lakukan. Kemudian Yesus mulai mengajarnya. Ia menceritakan kepada Nicodemus bahwa jika seseorang ingin melihat kerajaan Allah, ia harus dilahirkan lagi. Nicodemus hanya bisa membayangkan dirinya menjadi suatu bayi lagi. Bagaimana ini bisa? Itu nampak seperti suatu hal yang mustahil untuk seorang yang sudah besar untuk dilahirkan lagi!
Diskusinya dengan Yesus adalah sumber inspirasi dari beberapa ungkapan umum Kekristenan jaman ini, khususnya, ungkapan kata ‘dilahirkan kembali’ digunakan untuk menjelaskan pengalaman iman akan sang Penolong, dan digunakan untuk menguraikan Rencana Keselamatan Tuhan.
Ketika proses penyaliban Yesus sudah mencapai titik akhir, selain keluarga Yesus dan Yohanes, satu diantara para rasul, menyaksikan peristiwa itu, hadir juga Nicodemus dan Joseph Arimathea. Namun hanya Nicodemus dan Joseph Arimathea sebagai murid Yesus yang tersembunyi yang berani meminta jenazah Yesus kepada Pilatus dan berinisiatif untuk mengurus jenazah itu dari mengurapiNya dengan rempah-rempah, minyak mur dan minyak gaharu hingga menguburkannya di tempat yang layak.
Tak ada yang mencatat kapan saat kematian Nicodemus. Gereja Katolik Roma dan Gereja Orthodox Timur menyatakan Nicodemus sebagai orang kudus. Martyrology Gereja Katolik Roma memperingati temuan jenazahnya, bersama-sama dengan jenazah St. Stephanus, Gamaliel, dan Abibo, pada tanggal 3 Agustus sementara Gereja Orthodox merayakannya pada Minggu Myrrhbearing, yaitu minggu ketiga sesudah Paska dan juga pada tanggal 2 Agustus, di mana tradisi Gereja menyatakan saat jenazahnya telah ditemukan. Catatan Ensiklopedia orang kudus menyatakan bahwa tanggal 27 Maret adalah pesta St. Nicodemus. Kemungkinan pada tanggal itulah pesta peringatan itu dirayakan bersamaan dengan Minggu Myrrhbearing Gereja Orthodox.
Sumber :
1. situs http://en.wikipedia.org
2. situs http://www.newadvent.org
3. situs http://jewishencyclopedia.com
4. ensiklopedi orang kudus
Tidak ada sumber informasi yang jelas tentang Nicodemus ini di luar Injil Yohanes, namun Josephus Flavius, sejarahwan Yahudi, mencatat bahwa Nicodemus ternyata seorang yang kaya dan merupakan figur orang terhormat. Ia dikenal karena kedermawanan dan kekudusannya. Josephus Flavius juga mencatat bahwa Nicodemus pernah menjadi duta besar yang dikirim Aristobulus ke Pompey. Hal ini diduga karena format nama Ibrani dari Nicodemus yaitu Naqdimon, ditemukan dalam Kitab Talmud Yahudi.
Dunia politik yang digeluti semenjak menjadi anggota Sanhedrin dari faksi Farisi terbilang cukup meyakinkan. Ia adalah musuh orang Zealot, yaitu kaum Yahudi fanatik, dan pemberontak melawan kekaisaran Roma yang akhirnya mendorong pada penghancuran Jerusalem.
Ketika Vespasianus menjadi kaisar Roma, Nicodemus berdamai dengan Titus, putra kaisar, yang melaksanakan peperangan itu. Ia justru menghasut terhadap tuntutan perang orang Zealots. Dalam suatu pembalasan, Nicodemus dan teman-temannya membinasakan gudang perbekalan di mana mereka dikumpulkan untuk dikubur.
Ada 4 hal yang menjadi catatan khusus tentang Nicodemus ini adalah :
1. dia adalah wakil dari "penguasa bangsa Yahudi" yang belajar dari Yesus apa yang dimaksud dengan “kelahiran kembali oleh baptis", seolah-olah sebuah ajaran nabi yang sama sekali tidak diketahuinya. Beberapa penulis dan sejarahwan menduga bahwa Nicodemus ini orang yang cukup berumur, dari pertanyaannya: "Bagaimana mungkin seorang manusia dilahirkan kembali ketika ia sudah tua?". Ia muncul dalam percakapan ini sebagai orang percaya yang cerdas dan terpelajar, tetapi takut dan tidak mudah menjalankan misteri iman yang baru.
2. bagaimana ia melakukan kunjungannya kepada Yesus di waktu malam hari, supaya ia tidak dikenali sebagai salah satu murid. Kitab Suci tidak mengatakan mengapa ia pergi pada malam hari, tetapi kita mengetahui bahwa para pemimpin Yahudi marah terhadap Yesus dan mereka sedang mencari suatu cara untuk menangkap dia. Barangkali Nicodemus takut untuk pergi kepada Yesus di muka umum pada siang hari.
3. dia tampil di Sanhedrin untuk menawarkan suatu pembelaan terhadap Yesus ketika para imam berencana akan menangkap Yesus; dan kita boleh menyimpulkan dari perjalanan ini bahwa ia telah memeluk kebenaran ini secara penuh secepat yang diberitahukan kepadanya.
4. ketika ia dan Joseph Arimathea diuraikan seperti bertanggung jawab atas jenazah Yesus dalam rangka menyiapkan penguburan yang pantas. Mereka meminta jenazah Yesus kepada Pilatus untuk disemayamkan dan Pilatus menyetujuinya. Jelaslah bahwa hanya sosok orang yang memiliki keunggulan seperti itu setidaknya seorang figur yang terkenal di masyarakat Yahudi saat itu yang berani memintanya kepada Pilatus mengingat penyaliban Yesus ini menggemparkan kota Yerusalem karena dianggap musuh utama Yahudi.
Ketika Nicodemus berdiskusi dengan Yesus, ia mengatakan kepada Yesus bahwa Tuhan sungguh ada bersama dia, ia tidak akan mampu melakukan semua yang bagus yang Yesus lakukan. Kemudian Yesus mulai mengajarnya. Ia menceritakan kepada Nicodemus bahwa jika seseorang ingin melihat kerajaan Allah, ia harus dilahirkan lagi. Nicodemus hanya bisa membayangkan dirinya menjadi suatu bayi lagi. Bagaimana ini bisa? Itu nampak seperti suatu hal yang mustahil untuk seorang yang sudah besar untuk dilahirkan lagi!
Diskusinya dengan Yesus adalah sumber inspirasi dari beberapa ungkapan umum Kekristenan jaman ini, khususnya, ungkapan kata ‘dilahirkan kembali’ digunakan untuk menjelaskan pengalaman iman akan sang Penolong, dan digunakan untuk menguraikan Rencana Keselamatan Tuhan.
Ketika proses penyaliban Yesus sudah mencapai titik akhir, selain keluarga Yesus dan Yohanes, satu diantara para rasul, menyaksikan peristiwa itu, hadir juga Nicodemus dan Joseph Arimathea. Namun hanya Nicodemus dan Joseph Arimathea sebagai murid Yesus yang tersembunyi yang berani meminta jenazah Yesus kepada Pilatus dan berinisiatif untuk mengurus jenazah itu dari mengurapiNya dengan rempah-rempah, minyak mur dan minyak gaharu hingga menguburkannya di tempat yang layak.
Tak ada yang mencatat kapan saat kematian Nicodemus. Gereja Katolik Roma dan Gereja Orthodox Timur menyatakan Nicodemus sebagai orang kudus. Martyrology Gereja Katolik Roma memperingati temuan jenazahnya, bersama-sama dengan jenazah St. Stephanus, Gamaliel, dan Abibo, pada tanggal 3 Agustus sementara Gereja Orthodox merayakannya pada Minggu Myrrhbearing, yaitu minggu ketiga sesudah Paska dan juga pada tanggal 2 Agustus, di mana tradisi Gereja menyatakan saat jenazahnya telah ditemukan. Catatan Ensiklopedia orang kudus menyatakan bahwa tanggal 27 Maret adalah pesta St. Nicodemus. Kemungkinan pada tanggal itulah pesta peringatan itu dirayakan bersamaan dengan Minggu Myrrhbearing Gereja Orthodox.
Sumber :
1. situs http://en.wikipedia.org
2. situs http://www.newadvent.org
3. situs http://jewishencyclopedia.com
4. ensiklopedi orang kudus
Subscribe to:
Comments (Atom)




