Friday, May 19, 2006

SURAT KEPADA ORANG-ORANG KUCLUK (2)
CUNGKIL SAJA MATAMU YANG KUCLUK ITU

Dari Binoceng, sahabatmu, yang karena kecintaanku padamu kutuliskan suratku yang kedua ini dengan penuh duka cita.

Dari negeri seberang kudapati berita tentang kamu semua bahwa hidupmu semakin jauh dari kasih Allah. Kamu semakin kucluk saja. Apa yang telah aku beritakan yaitu hikmat yang bukan berasal dari dunia ini telah kamu tampikkan dan memilih bersekutu dengan hikmat dunia yaitu kebenaranmu sendiri dan kemegahan dirimu. Adakah engkau merasa benar dengan daya kekuatan pikiranmu dan megah dari kelebihan akalmu? Sekali lagi kukatakan, tidak! Hanya Allah saja yang benar dan hendaknya jiwamu bermegah karena Dia.

Mengapa kamu sekalian menjadi sombong iman dan seolah Allah berada di pihakmu sementara kekejian yang engkau perbuat itu, yang [sebenarnya] berasal dari hikmat dunia yaitu hikmat atas dasar akal budimu, kamu katakan berasal dari atas? Aku yang adalah sahabatmu belum bisa mempercayai kebenaran itu sebelum aku mengujinya. Tetapi yang aku tahu adalah : jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. Apakah aku telah melihat buah yang baik dari kehidupan kuclukmu?

Karena kekuclukan akan kebenaranmu sajalah sehingga seluruh hidupmu senantiasa dirundung ketakutan akan lunturnya imanmu. Kekhawatiran akan hancurnya akhlakmu membuat semua yang tidak baik menurut hukum kuclukmu harus disingkirkan. Mengapa tidak kamu serahkan saja hidupmu pada tangan pengasihanNya atau menyandarkan bahumu pada keperkasaanNya dan membiarkan Dia memeliharamu senantiasa hingga akhir hidupmu?

Iman yang teguh adalah iman yang sudah teruji. Baik segala penyesatan maupun kegelapan tidak akan menenggelamkan iman yang sudah teruji. Bukan dengan menghindari cobaan maka imanmu sudah teruji dan bukan dengan menantang cobaan maka imanmu teguh. Tidakkah kamu ingat bahwa kegelapan itu sudah ada sebelum kamu ada tetapi mengapa kamu kurang percaya bahwa sesungguhnya kegelapan memang tidak bisa menguasai terang. Karena itu ujilah imanmu dan bukan kebenaran kuclukmu.

Jika karena matamu yang kucluk itu menyesatkan dirimu sehingga kamu jatuh kepada kegelapan, cungkil saja mata kuclukmu. Bereslah sudah! Akan tetapi kamu tidak berani melakukannya sebab mata kuclukmu lebih berharga daripada iman yang teruji.

2 komentar:

Anonymous said...

apakah iman menjadi sedemikian tidak rasional?

binoceng said...

Beriman itu memang kadang-kadang harus siap untuk hal-hal yang tidak rasional, tetapi cara berpikir dan bertindak yang tidak rasional atas dasar iman itu yang namanya double irrasional. Maka beriman itu harus kontekstual bukan melulu tekstual.