
HOMINES SUMUS, NON DEI
(Kita ini manusia, bukan Allah)
Aku sempat tertegun menyaksikan serombongan orang mirip orang Farisi tiba-tiba datang sambil berteriak-teriak. Mereka mengambil batu pertama yang diberikan Kristus dan melempari seorang anak muda berparas ganteng nan menawan dengan teriakan : “Kami halalkan darah manusia ini. Dia layak mati atas perbuatannya!!.”
Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong anak muda ini karena suara kelompok manusia yang cuma segelintir itu laksana suara satu kampung, membela anak muda inipun seperti menantang mereka.
Kristus hanya diam saja seolah memang tidak mau tahu. Bahkan BapaNya saja juga cuma saling pandang dan tak punya niat untuk menghardik gerombolan itu agar bubar dan tidak mencederai anak muda ini.
Entah sudah berapa banyak celaan dan hujatan harus diterima anak muda ini. Dia hanya duduk terdiam tak tahu harus berkata apa. Baginya diam itu mungkin lebih baik daripada membela diri karena tidak memberi keuntungan apapun. Hancur sudah perasaan hatinya, luluh lantah sudah bangunan hidup yang dia tata sejak masih anak-anak. Kalau memang sudah saatnya, biarlah mati sekarang saja dengan sedikit tobat buat bekal perjalanannya. Tapi bagi mereka tak ada gunanya bertobat karena vonis mati sudah dijatuhkan.
Aku masih tertegun tak mampu memandangi anak muda ini. Hatiku berontak karena semua orang cuma membisu tak juga membantu. Lalu kutanya pada Bapa yang sejak dari tadi cuma memandangi peristiwa itu.
“Bapa, mengapa Engkau diam saja tanpa berbuat sesuatu untuk membantu anak muda ini?”
Bapa hanya tersenyum lalu dia menjawab.
“Anakku, sesudah Aku bekerja menciptakan alam semesta dan segala isinya selama 6 hari, Aku istirahat dan tidak menciptakan apapun.”
“Tetapi tidakkah Engkau sudi merasuki hati sekelompok manusia itu dengan sabdaMu agar hati nuraninya tergugah?” pintaku
“Sepertinya sia-sia saja, jawabNya. Bahkan kuasa menjatuhkan dosa dan kematian yang menjadi hakKu sejak dulu sudah mereka ambil. Kini Aku benar-benar dibuatnya menganggur.”
Dia pergi dengan senyum tetapi aku masih belum bisa menangkap maknanya.
(Kita ini manusia, bukan Allah)
Aku sempat tertegun menyaksikan serombongan orang mirip orang Farisi tiba-tiba datang sambil berteriak-teriak. Mereka mengambil batu pertama yang diberikan Kristus dan melempari seorang anak muda berparas ganteng nan menawan dengan teriakan : “Kami halalkan darah manusia ini. Dia layak mati atas perbuatannya!!.”
Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong anak muda ini karena suara kelompok manusia yang cuma segelintir itu laksana suara satu kampung, membela anak muda inipun seperti menantang mereka.
Kristus hanya diam saja seolah memang tidak mau tahu. Bahkan BapaNya saja juga cuma saling pandang dan tak punya niat untuk menghardik gerombolan itu agar bubar dan tidak mencederai anak muda ini.
Entah sudah berapa banyak celaan dan hujatan harus diterima anak muda ini. Dia hanya duduk terdiam tak tahu harus berkata apa. Baginya diam itu mungkin lebih baik daripada membela diri karena tidak memberi keuntungan apapun. Hancur sudah perasaan hatinya, luluh lantah sudah bangunan hidup yang dia tata sejak masih anak-anak. Kalau memang sudah saatnya, biarlah mati sekarang saja dengan sedikit tobat buat bekal perjalanannya. Tapi bagi mereka tak ada gunanya bertobat karena vonis mati sudah dijatuhkan.
Aku masih tertegun tak mampu memandangi anak muda ini. Hatiku berontak karena semua orang cuma membisu tak juga membantu. Lalu kutanya pada Bapa yang sejak dari tadi cuma memandangi peristiwa itu.
“Bapa, mengapa Engkau diam saja tanpa berbuat sesuatu untuk membantu anak muda ini?”
Bapa hanya tersenyum lalu dia menjawab.
“Anakku, sesudah Aku bekerja menciptakan alam semesta dan segala isinya selama 6 hari, Aku istirahat dan tidak menciptakan apapun.”
“Tetapi tidakkah Engkau sudi merasuki hati sekelompok manusia itu dengan sabdaMu agar hati nuraninya tergugah?” pintaku
“Sepertinya sia-sia saja, jawabNya. Bahkan kuasa menjatuhkan dosa dan kematian yang menjadi hakKu sejak dulu sudah mereka ambil. Kini Aku benar-benar dibuatnya menganggur.”
Dia pergi dengan senyum tetapi aku masih belum bisa menangkap maknanya.

0 komentar:
Post a Comment