Saturday, January 23, 2010

PASTOR (KU) KUTU KUPRET

"Jika Anda mendengarkan seorang pastor menjalani retret 40 hari tanpa sebab sebab yang jelas (bagi telinga umat) maka itu artinya 50% dia dalam kondisi bahaya panggilan..." - binoceng

Sejak dibukanya Tahun Imam oleh Bapa Suci Paus Benediktus VI pada tanggal 19 Juni 2009 hingga 19 Juni 2010, semua Gereja turut berpartisipasi mengupayakan untuk “mendorong para imam dalam menggapai kesempurnaan rohani, sebagai landasan keberhasilan pelayanan mereka.” Mgr Pujasumarta, SJ - Uskup Bandung - malah mengemukakan 3 dimensi rahmat martabat imam yaitu : imamat kodrati, imamat umum dan imamat fungsional. Selanjutnya bisa dibaca di blognya http://pujasumarta.multiply.com.

Mengapa harus ada tahun Imam? Apakah spiritualitas imam Katolik jaman ini sudah benar-benar luntur? Apakah Imam Katolik sudah amat memprihatinkan??

Memasuki era globalisasi tidak menampik banyaknya perubahan gaya hidup manusia jaman ini. Tidak terkecuali adalah manusia yang namanya Pastor/Romo (sebutan imam Katolik) karena memang mereka itu bukannya dewa atau setengah malaikat yang mati rasa terhadap nikmatnya sajian dunia. Jangan meng-konotasi sajian dunia dengan hal ihwal negatif tetapi lihatlah sisi positifnya yaitu pada kemajuan dan daya tarik dunia yang mempersempit ruang dan jarak.

Siapakah yang mampu menolak tawaran yang nikmat bin asyik ini? Ngga ada kecuali jika dia itu monyet!

Sayangnya, para serdadu uskup yang tertahbis ini memang terbuai dengan kenikmatan sehingga 'kadang' pedang dan senjatanya ditanggalkan untuk sekedar menikmati diluar pedangnya. Maka wajar juga jika para pastor ini jadi lupa daratan. Lupa apakah dia didarat atau mendarat. Semua selalu berawal dari satu kesalahan yaitu LUPA.

Siapa yang harus disalahkan kalo pastornya LUPA bahwa dia itu PASTOR? Jangan salahkan Gereja kalau seorang Pastor bisa demikian sebab Gereja ngga bisa salah. Mari diurai bareng-bareng jangan-jangan :
1. Pendidikan calon imam di seminari cuma base on target alias kurikulum minded lupa bahwa manusianya perlu dikurikulumkan
2. Ada calon pastor tidak layak tahbis karena nilai spiritualitasnya lebih jelek dari nilai akademiknya.
3. Ada calon pastor yang 'nyogok' pamongnya agar diluluskan.
4. Jadi pastor biar ngga dibilang 'pengangguran abadi.
5. Karena kekurangan pastor maka pastor abal-abal juga ditahbiskan.
6. Dan seribu jangan-jangan yang lain

Namanya juga praduga... maka yang berkepentingan jangan protes!

Beberapa pastor di suatu keuskupan yang kalo ditugaskan ke salah satu paroki di keuskupannya selalu bilang "...cilaka.... gue masuk ke kandang macan. Selamat ngga ya gue?"

Mereka rata-rata mengetahui dengan baik bahwa paroki tersebut punya banyak prestasi merontokkan pastor menjadi awam. Sejak paroki itu didirikan sudah merontokkan 3 pastor menjadi awam, 3 pastor bermasalah, 5 frater gagal meneruskan panggilan imamatnya. Maka kalau uskupnya kepingin menguji tingkat spiritualitas dan ketangguhan pastornya, paroki ini menjadi begitu favorit sekaligus menakutkan.

Itu sekedar ilustrasi bagaimana seorang pastor melihat Gereja sebagai lawan atau musuh imamatnya. Tugas utamanya adalah sebagai gembala, tetapi jika cara berpikirnya menjadi demikian maka tugas itu sudah selesai ditangannya sendiri bukan karena Gereja. Phobia yang berlebihan ini mengakibatkan mutu pelayanan kepada umat menjadi tidak sempurna.

Pembinaan pastor purna tahbisan menjadi penting. Ini masukan buat Uskup agar para pastornya tidak menjadi 'kutu kupret' untuk menghasilkan manusia-manusia pastor yang pelayanannya juga kutu kupret.

Kutu kupret karena :
1. dia lupa bahwa dia itu gembala
2. dia lupa bahwa hidupnya 100% harus melayani.
3. dia lupa bahwa dia itu manusia yang bisa salah.
4. dia lupa bahwa dia telah menghabiskan uang umat untuk jadi pastor
5. dia lupa bahwa umat itu bukan musuh panggilannya.
6. dia lupa bahwa dia pernah mengucapkan kaul kekal imamat.

Semoga di tahun imam ini tidak banyak imam yang rontok di tengah-tengah jalan. Senantiasa memegang senjata dan pedang spiritulitas panggilan agar aman.

Thursday, January 21, 2010

HILANGNYA KESAKRALAN MISA KUDUS - MENCARI BENANG MERAH

Berawal dari catatan Romo Franz Magnis Suseno yang curhat di sebuah majalah HIDUP dan selanjutnya beredar di dunia maya tentang ketidak hormatan umat Katolik saat ini terhadap misa kudus. Beliau beranggapan bahwa umat sudah tidak mampu lagi melihat kesakralan misa yang adalah puncak dari perayaan iman sebagai akibat pengalamannya dalam misa malam Natal 2009 di salah satu paroki. Ketika itu umat bertepuk tangan pada saat pembagian hosti hanya karena seorang penyanyi solis dan paduan suara menyanyikan sebuah lagu yang menggugah mereka untuk tidak bertepuk tangan. Siapa yang salah??

Dalam dunia maya berkembang diskusi hangat membahas hal itu hingga berkembang pada sebab-sebab lain yang senada dengan keprihatinan Romo Franz Magnis Suseno.

Milis Apikatolik-lah yang akhirnya mencoba mencari benah merah itu melalui oret-oretan Romo Yohanes Samiran, SCJ. Berikut ini adalah petikan kesimpulannya :

Para Apikers,
Tampaknya pembicaraan kita sekitar perayaan ekaristi, baik menyangkut sikap anak-anak maupun sikap orang dewasa saat mengikuti perayaan ekaristi, pelan-pelan menuju titik terang. Bahwa semua masalah tadi pasti ada akar masalahnya. Dan salah satu akar masalah dari hal itu adalah soal "disiplin orang tua" baik terhadap anaknya mau pun terhadap dirinya sendiri. Contoh:
a. Kebiasaan datang terlambat ke gereja. Ini juga artinya banyak dari antara umat kurang disiplin terhadap waktu. Kalau seharusnya kita datang sebelum perayaan mulai, agar masih memiliki saat hening untuk mempersiapkan batin sebelum perayaan mulai, maka orang tidak disiplin ini justru kebalikannya. Keterlambatan itu menghambat banyak hal baik seperti ketertiban umum dalam gedung gereja, kesempatan anak untuk berbaur dengan sesama anak lain, dll.

b. Kurang terbiasa mendidik atau melatih anak untuk tertib, tidak peduli untuk menegur, tidak peduli bahwa anak atau kebiasaannya mengganggu orang lain, dll. Padahal ada banyak anak menjadi bandel, karena sebenarnya hanya "haus perhatian", lack of attenttion, lack of love. Maka anak mencari perhatian dengan bertingkah, dan senjata akhir adalah dengan berteriak dan membuat ulah sampai orang tuanya memberi waktu dan perhatian terhadap "tuntutannya". Semakin sering anak hanya mendapatkan perhatian dengan cara "berulah" ini, maka menjadi semacam habitus anak untuk menggunakan pola ini yakni mengganggu konsentrasi orang tuanya, maka kalau di tempat umum termasuk orang lain juga dengan ulahnya. Yang paling buruk adalah kalau orangtuanya menjadi kebal dan bebal, dan anaknya juga menjadi terbiasa berulah. Nanti sampai tua pun dia akan berpikir "oooo begitu toh cara mendidik anak itu ...."

c. Orang tua tidak mempunyai waktu untuk memberi waktu dan perhatian kepada anak: "momong" anak, mendongeng, menemani anak "belajar" dan bermain, bermain bersama anak, bahkan termasuk menemani anak makan, dan menghantarkannya tidur. Kekurang dekatan ini membuat orang tua tidak terampil bercerita, mendongeng, dan sekaligus akhirnya komunikasi dengan anak menjadi miskin atau tipis saja. Anak lebih banyak dibiarkan mencari "sahabat" menghabiskan waktu dan kebutuhan dasarnya dengan "yang lain", entah itu pembantu atau media hiburan lain: TV, PS, game lain, dll. yang nilai "pendidikannya" amat rendah.

d. Kesediaan orang dewasa lain - terutama yang mempunyai hati dan bakat mendampingi anak - untuk mengumpulkan mereka dan menemani atau mendampingi mereka saat perayaan ekaristi berlangsung. Bukan memisahkan mereka dari ekaristi, tetapi menemani mereka dalam mengikuti ekaristi. Pengalaman banyak orang yang biasa ditemani saat masa kecil . entah oleh suster atau guru BIA dll - justru membuat anak bisa menikmati perayaan ekaristi saat kelak mereka dewasa.

e. Kesediaan umat atau sesama umat untuk menegur orangtua atau umat yang "mengganggu" saat perayaan ekaristi, entah karena ngobrol, sms-an, atau membiarkan anaknya 'mengganggu' keheningan dan kekhusukan orang lain. Teguran perlu disampaikan dengan tulus dan santun, dan pasti yang bersangkutan tidak akan punya alasan untuk marah. Malu atau tersinggung barangkali YA, tetapi tidak ada alasan cukup untuk marah. Dan kalau dia atau mereka adalah orang yang punya hati dan perasaan dengan ditegur - apalagi kalau sampai lebih dari sekali oleh orang orang berbeda - maka pasti akan berubah juga. Tidak apa berubah dari terpaksa ini kalau terus dengan tekun dipertahankan oleh orang kurang disiplin tadi lama-lama pasti akan membawa perubahan perasaan dan sikap yang positif juga.

Dan bahwa orang yang KURANG DISPLIN itu mengganggu kenyamanan dan ketertiban umum - itu memang demikianlah adanya di mana saja. Jalanan itu umumnya macet karena orang yang kurang disiplin, seolah ia adalah raja jalanan atau satu-satunya orang yang perlu cepat sampai tujuan. Keruwetan kasus kita terjadi karena adanya orang tidak displin dan tidak merasa itu adalah kekeliruan yang perlu dikoreksi.

Pendeknya akibat dari kurang disiplin itu banyak menimbulkan "khaos" (chaos) dalam banyak bidang dan mengganggu kenyamanan dan kemapanan umum.
Jadi, tip pertama untuk kesimpulan pertama ini adalah: Mari kita mengembangkan semangat disiplin yang santun.

Para Apikers,
Saya coba buat oret-oretan saja untuk menyimpulkan atau menangkap apa-apa yang tampaknya terjadi di balik problematik yang kita diskusikan: Misa kudus, kekhusukan dan penghayatan yang seharusnya. Berikut lanjutan analisis saya di samping soal disiplin, rasanya juga soal pemahaman tata liturgi ekaristi yang benar menjadi soal yang melatar belakangi beberapa praktik yang kurang pas.

a. Pemahaman tentang fokus Perayaan Ekaristi.
- Dengan terbukanya sikap GK untuk partisipasi umat dalam Ekaristi (actuosa participatio) seringkali terjadi praktik yang kebablasan, karena orang kurang memahami inti Ekaristi dan lebih fokus kepada peran pribadinya. Contoh petugas koor atau nyanyian, seringkali karena ingin membawakan nyanyian atau memandu nyanyian sebaik mungkin selama Misa pun konsentrasinya pada soal nyanyiannya: si dirigen terus latihan dirigen, yang solis terus latihan melancarkan lagunya, yang organis terus latihan organ, dll. Memang bisa saja akhirnya iringan paduan suara tampil sempurna atau amat baik, tetapi praktis selama Misa mereka tidak fokus mengikuti inti ekaristi itu sendiri karena terus pikiran dan aksinya dikuasai oleh tugas-tugasnya.

- Dari pola yang sama, maka orang mengukur sukses atau tidaknya misa saat mereka bertugas diukur dari apakah mereka puas atau tidak dengan PENAMPILAN mereka dalam Misa itu. Di lain pihak ada orang atau kelompok yang kecewa karena - atau kalau lupa - diterimakasihi atau disebut saat perayaan itu usai. Sebaliknya orang akan bangga dan tanpa sadar menjadi semacam tradisi diri atau kelompok bahwa setiap tampil harus mendapatkan applaus umat, sehingga tidak jarang juga dicari lagu-lagu yang memang endingnya mengundang applaus itu.

b. Penjelasan atau katekese tentang Liturgi Ekaristi.
- Dari problematik (a) di atas, maka kita sadar perlunya penjelasan resmi tentang Liturgi Ekaristi yang benar dan baik. Sebenarnya dengan perubahan TPE 2005 – Gereja Katolik mempunyai peluang yang baik dan pas untuk mengulang kembali apa itu dan bagaimana merayakan Ekaristi yang baik dan benar. Sayang tampaknya kesempatan itu tidak sampai menjangkau semua umat. Hal itu bisa kelihatan dengan masih banyaknya praktik keliru atau pertanyaan-pertanyaan sekitar ekaristi yang sebenarnya seharusnya jelas kalau hal di atas dilakukan. Contoh lain adalah soal lagu-lagu yang tidak tepat dengan TPE dan menggantikan TPE baku.

- Semakin banyaknya orang yang bisa terlibat langsung untuk mendukung Perayaan Ekaristi sebenarnya mengandaikan bahwa semua yang terlibat itu tahu dengan baik hakekat Perayaan Ekaristi yang harus didukungnya itu.

- Dari sini rasanya di suatu paroki, entah caranya bagaimana - para gembala setempat harus memikirkan solusinya, umat harus pernah mendapatkan penjelasan tentang TPE yang seharusnya itu. Entah itu diberikan secara sistematis, misalnya dalam suatu lokakarya atau sejenisnya, ataupun melalui katekese lingkungan, wilayah atau kelompok kategorial; ataupun secara pelan-pelan, misalnya disisipkan melalui homili/khotbah, atau melalui pengumuman atau pengantar Perayaan Ekaristi.

c. Kalau (a) dan (b) tidak dilakukan, maka melihat praktik yang sekarang ada, kita bisa mengerti bahwa akhirnya memang akan banyak umat kurang mampu menghayati Misa dengan tepat. Mengapa? Pengetahuan yang dimiliki terbatas atau nol, atau malahan keliru. Tidak sedikit umat yang memiliki pengetahuan tentang Misa dari asumsinya sendiri dari pengamatan yang ia buat dan ikuti selama ia menjadi katolik dan mengikuti perayaan ekaristi. Soalnya menjadi serius kalau ternyata selama ini ia mengikuti Misa secara keliru, seperti:
- datang terlambat - karena tidak pernah ada yang menegur dan ikut antri komuni pun diberi, ya akhirnya berkesimpulan bahwa telat itu biasa, yang penting masih bisa ikut komuni.
- Atau melihat bahwa Koor Anu membawakan lagu ITU maka artinya lagu ITU boleh dipakai dalam Misa. Paling parah kalau ternyata itu adalah menyangkut bagian ordinarium dan diganti dengan lagu yang tidak sesuai dengan TPE.
- Melihat bahwa si ANU ke gereja dengan pakaian "seperti itu" - ternyata tidak ditegur ..... artinya boleh.
- Melihat bahwa banyak UMAT ngobrol selama misa, atau santai di gereja ...... artinya boleh dan biasa.

Akhirnya kalau seseorang dibesarkan dalam paham dan pengalaman salah semacam ini, tidak mustahil bahwa akhirnya respect atau hormat akan ekaristi juga kurang atau keliru. Bahkan akhirnya pemahaman tentang hakekat ekaristi dan sakramen-sakramen lain pun bisa keliru. Misa dilihat sebagai Perayaan saja, rutinitas tanpa perlu spiritualitas tertentu. Praktik itu akan kelihatan kalau ada misa khusus atau perayaan, di mana seringkali Misa dikorbankan demi perayaan khusus atau intensi khusus itu. Contoh:
- Misa perkawinan seringkali banyak hal tidak pas dan tidak menghormati Ekaristi sendiri. Mereka sibuk dengan hal remeh temeh, seperti soal pakaian, soal duduknya pengantin, soal dokumentasi, pengiring, dll. Bahkan tidak jarang koor menjadi lebih dominan daripada Liturgi Ekaristinya. Imam yang sedang mengucapkan rumus-rumus liturgis itu tenggelam dan kalah oleh kehebatan sound system, penyanyi atau koor.
- Dalam misa khusus - seringkali Misa hanya seolah tempelan saja, dan fokus lebih ke acara khusus itu: ulang tahun, pemberkatan anu, kelompok kategorial tertentu .... dlsb.

Tuesday, December 08, 2009

KALAU SANG SERDADU BERSIH-BERSIH RUMAH

Ada sebuah rumah besar yang dihuni oleh seorang mantan serdadu. Layaknya penghuni baru maka semua rumah dibersihkan, debu disapu, sampah terenyah. Semua dilakukan agar rumah itu enak ditempati. Penghuni lain yang tidak bersahabat diusirnya ya nyamuk, ya lalat, ya tidur, ya kecoa. Lumayan bersihlah rumah itu ketika dihuni sang mantan serdadu. Padahal bukankah dia itu cuma mengontrak selama 5 tahun saja?

Lima tahun sudah berlalu dan masa kontrak sudah harus selesai. Sang pemilik merasa bangga karena rumahnya dirawat dengan baik. Maka demi kelangsungan perawatan rumah selanjutnya akhirnya sang pemilik mempercayakannya kepada sang mantan serdadu. Dia memutuskan untuk memperpanjang masa kontrak untuk 5 tahun kedua. Sang serdadu merasa cukup senang karena keputusan ini sekaligus berarti memperpanjang masa untuk menabung. Menabung? Ya menabunglah dia karena rumah yang dia tempati saat ini tergolong sangat murah. Artinya dia tidak perlu mencari rumah lagi dengan biaya yang sangat tinggi yang menguras uang tabungan.

Tapi apa lacur, belum juga 100 hari dia menempati rumah itu, tikus, kecoa, nyamuk, dan lalat, musuhnya dulu datang mengeroyok dan memasuki rumah dengan membabi buta. Harus diakui bahwa musim itu adalah musim penghujan di mana hewan-hewan itu ingin berlindung. Tetapi mengapa sang serdadu tidak memberikan kesempatan kepada mereka.

Ah, rupanya aku baru tahu kalo sang mantan serdadu kini punya hobby memelihara buaya. Buaya menjadi hewan kebanggaannya sekarang untuk menjaga rumah. Anjing sudah tidak dipakainya lagi setelah para tikus lari tunggang langgang. Dulu ada cicak yang dipakainya untuk mengusir nyamuk, tetapi begitu nyamuk lari pontang panting sekarang para cicak diusirnya pula. Cicak tetap bertahan meski pernah mendapat tantangan yang cukup besar dan tangguh dari buaya. Berkat integritasnya yang lumayan bagus cicak itu pandai menggambil hati teman-temannya. Usaha mengusir cicak tidak berhasil. Bahkan sekarang gara-gara buaya yang sok jadi penjaga rumah itu yang mengobrak abrik rumah hanya untuk menangkap cicak, seisi rumah hancur berantak. Keadaan rumah jadi porak poranda.

Aku saat ini sungguh kuatir jika pemilik rumah tahu bahwa seisi rumahnya hancur berantakan. Apa yang akan dilakukan oleh sang mantan serdadu. Harus diakui bahwa ini menjadi masalah besar tetapi setidaknya bukan salah sang serdadu. Dia harus mencari sapu untuk membersihkan rumah yang sudah pernah ditatanya rapi. Tetapi sayang, sapu yang sama dia gunakan juga untuk mengusir para tikur, kecoa, nyamuk dan lalat padahal sapunya barus saja digunakan untuk menyapu lumpur bekas jejak kaki sang buaya. Harus bagaimana memulainya???

Friday, November 27, 2009

SULITNYA MEMBANGUN KOMUNITAS YANG BERHABITUS BARU

Masih ingat istilah habitus baru?? Terus terang aja hanya Gereja Katolik yang berani mengajak umatnya secara khusus dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk memulai hidup dengan adab habitus baru. Ini bermula dari hancurnya tatanan masyarakat Indonesia yang dinilai cukup menyedihkan baik di level atas yaitu pejabat negara hingga grass root di masyarakat paling bawah. Bahaya laten korupsi dan suap menyuap atas suatu aktivitas demi kepentingan pribadi seperti sudah biasa.... biasa untuk dibiarkan. Kronis banget memang!!!


Kasus yang paling hangat adalah konspirasi suap menyuap jual beli perkara Anggodo dengan Polri dan KPK yang satu sama lain saling menjatuhkan. Sampeyan bayangkan sendiri di level paling atas saja sudah sedemikian vulgarnya kasus ini terbongkar tetapi tetap saja tidak ada kejelasan siapa salah dan siapa benar. Masyarakat kita sudah benar-benar apatis melihat keadaan seperti ini, apalagi terhadap kepolisian Indonesia yang seharusnya menggawangi hukum malah berusaha menciptakan gol bunuh diri dengan meminjam kaki orang lain. Jika sudah demikian, sosok mana yang harus dijadikan teladan?


Alih-alih berpijak pada jalur hukum, mereka seperti ditelanjangi dan dibukakan sendiri borok tahunan yang cukup kronis mengudara dan membaui kehidupan masyarakat. Baunya itu sudah ngga enak banget. Mau muntah rasanya. Jika aku seorang dokter bedah sudah aku amputasi sumber bau itu. Hehehe... presiden sudah melakukannya sebelum kuminta. Jajaran polisi dirombak demi mengamputasi sumber borok dan masuk ke peti selamanya sampai pensiun. Semoga saja tetap demikian.


Kembali ke adab habitus baru. Gereja rupanya sudah melihat habitus lama yang korup, suap, egois, hedonisme, dsb itu menjadikan manusia seperti budak duniawi sehingga lupa hakikat hidup manusia yang sebenarnya. Gereja Katolik sudah memikirkan gejala ini jauh sebelum orang lain baru memulai memikirkannya. Kalau adapun tidak seberani itu.


Ajakan Gereja ini tidaklah mudah. Apalagi membangun adab habitus baru ini di setiap komunitas di mana kita tinggal. Ambil contoh saja di tingkat lingkungan, yaitu sel terendah dalam Gereja Katolik tidaklah mudah mengajak orang itu membangun habitus baru ini. Maka bisa saja seorang ketua lingkungan akan bersikap cuek bebek karena warganya masih seperti yang dulu.


Ada seoran rekan anggota Dewan Paroki Pleno bertanya kepadaku : "Mas, habitus baru yang cocok dilakukan di lingkungan apa aja sih?" Lho kokh membangun habitus baru kokh milih-milih mana yang cocok dan mana yang tidak. Wah ini pasti ada yang salah tafsir, pikirku.

Padahal adab habitus baru itu khan membangun sikap hidup baru dengan meninggalkan sikap hidup lama yang tidak sejalan dengan ajaran Gereja. Apa saja yang tidak sejalan dengan ajaran Gereja itu BANYAKKKKK...! Tidak menjual belikan perkara di pengadilan juga habitus baru, kenapa tidak?

Saturday, October 24, 2009

UT OMNES UNUM SINT

Dalam minggu ini tepatnya tanggal 21 Oktober 2009, beredar kabar dari Vatikan bahwa Gereja Anglikan Tradisional menyatakan diri mereka ingin bersatu dengan Gereja Katholik Roma yang dipimpin oleh Paus Benediktus XVI. Ini merupakan penyatuan terbesar kedua sebuah Gereja non Katholik setelah Gereja Episkopal pada tahun 1976. Dengan pernyataan ini berarti sebanyak 400.000 umat Anglikan Tradisional beserta 20 hingga 30 orang uskup akan bergabung dengan Roma.

Gereja Anglikan yang ingin bersatu dengan Roma itu merupakan golongan kanan dalam Gereja Inggris ini yang ingin tetap mempertahankan tradisi ketat Gereja sejak didirikan oleh raja Henry VIII tahun 1534. Dalam perkembangan selanjutnya, Uskup Canterburry membuat kebijakan yang benar-benar sangat menyimpang dari ajaran semula. Maka terbentuklah kelompok kanan yang masih menjaga kuat tradisi lama yang mirip dengan tradisi Roma, yaitu :
- menolak pentahbisan pastor/uskup wanita
- menolak pentahbisan pastor/uskup homoseksual
- menolak perkawinan homoseksual
- menolak penggunaan kontrasepsi
Karena sebab-sebab di atas itulah maka kaum tradisional Anglikan ini bersatu dengan Roma.
Masih akan diatur dalam kanonik baru mengenai hal ini termasuk bahwa para pastor yang sudah menikah masih boleh memimpin paroki namun tidak bisa menjadi seorang uskup.

Berita ingin semakin menguatkan kita dan selalu teringat kembali akan doa Yesus kepada Bapa untuk para rasulnya di Taman Getsemani sebelum Dia ditangkap untuk dihukum mati. "Ut omnes unum sint" demikian doa Yesus tersebut tertulis dalam Injil Yohanes 17 : 21-23 yang dalam bahasa Indonesianya berarti supaya mereka menjadi satu.

Sejak didirikan 2000 tahun yang lalu, Gereja tidak henti-hentinya diterpa badai perpecahan. Bahkan ketika Yesus masih hiduppun bibit perpecahan sudah mulai tumbuh. Ingat dengan perdebatan murid-murid Yohanes Pembaptis dengan Yesus perihal puasa di Matius 9 : 14? Padahal bukankah Yohanes Pembaptis itu bertugas memberikan jalan bagi Yesus untuk mewartakan kabar sukacita Tuhan tetapi dalam kisah itu di Injil tersebut malah memicu sebuah perbantahan.

Setelah Yesus diangkat ke surga dan pewartaan mulai dijalankan sampai ke ujung dunia, terjadi lagi pertentangan yang menyangkut masalah sunat dan tidak sunat bagi pengikut Kristus di luar Israel. Terjadi dua kelompok pengikut besar yaitu Petrus dan Paulus. Namun berkat perundingan (Konsili) di Yerusalem akhirnya ditetapkan kata sepakat agar persoalan tradisi Yahudi tidak ditanggungkan kepada pengikut Kristus di luar Yahudi. Beruntung ada kesepahaman jika tidak akan seperti apa Gereja jaman para rasul saat itu.

Setelah semua para rasul meninggal, tradisi mereka diteruskan dari generasi hingga ke generasi. Terbentuknya tahta pentarkhi yaitu Jerusalem (Palestina), Aleksandria (Mesir), Antiokhia (Syria), Roma (Italia), dan Kontanstinopel (Turki) dalam kekritenan awal dimaksudkan agar adanya persekutuan sebagai Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik demi menjaga keutuhan Gereja Purba dari rongrongan kaum bidaat yang banyak berkembang saat itu, misalnya Ebionite, Gnostik, Arianisme, Monofisit, Nestorian dsb. Namun para bidaat itu tidak mampu mendirikan Gerejanya sendiri-sendiri dan jika ada maka sudah tergilas oleh waktu.

Mengapa Gereja dalam kesatuan pentarkhi masih ada hingga saat ini? Itu semua karena berkat doa dan kuasa Yesus. Silahkan baca sendiri isi Doa Yesus ketika di taman Getsemani dalam Injil Yohanes bab 17. Betapa kuatnya pengharapan Yesus akan sebuah kesatuan sehingga muridnya sendiripun didoakannya agar tetap bersatu. Inikah jalan genapan atas doa Yesus? Semoga saja.

Vatikan masih menyisakan PR yang begitu banyak untuk menyatukan mereka dalam kesatuan kepemimpinan Petrus. Tidak hanya kaum Katolik yang menyatakan diri terpisah dari Roma tetapi juga Gereja Reformasi yang jelas-jelas membuat doktrin baru. mereka adalah :
1. Gereja Katolik Patriotik China
2. Gereja Katolik SSPX
3. Gereja Katolik Lavebre
4. Gereja The True Catholic
5. Gereja Reformasi dan denominasi lainnya.
6. Gereja Orthodox

Ut omnes unum sint akan menjadi kenyataan jika satu dengan yang lain saling membuka diri.

Monday, October 05, 2009

MENGUCAP SYUKUR DALAM SEGALA PERKARA

Suatu hari seorang teman mengajakku menonton konser Don Moen di Istora Senayan. Sungguh mati aku malas banget saat itu selain karena kurang tidur juga badan tidak fit. Tidur dengan bantal empuk mungkin pilihan terbaik. Dan lagi aku mau jujur bawa dompetku benar-benar bokek saat itu.

Dengan berbekal sedikit nekad dan pengetahuan arah jalan yang cukup seadanya atau boleh dibilang memprihatinkan, aku langkahkan kakiku untuk pergi juga menonton konser itu dengan berharap aku tidak tersesat. Kopaja jurusan Blok M mengawali keberanianku untuk pergi ke suatu tempat yang belum pernah aku datangi. Oret-oretan peta seadanya rupanya belum membuatku nyaman, apalagi ancer-ancer (tanda jalan – bahasa Jawa) yang diberikan sungguh membuat aku benar-benar mengalami kebingungan. Hanya dengan bermodalkan nekad dan malu, aku mencoba bertanya pada seorang ibu yang duduk disebelahku.

Shelter di mana Kopaja ini berhenti menjadi tempat kedua bagiku untuk terus melanjutkan perjalananku menuju Senayan. Di shelter inilah Ibu itu memberitahuku untuk berhenti dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Dengan setengah ragu-ragu aku berjalan menuju suatu arah yang diberikan oleh tanda jalan yang terlihat di ujung jalan di mana aku turun dari Kopaja tadi. Tak ada manusia di depanku. Sepertinya memang jalan ini tidak dilalui oleh pejalan kaki. Tapi beruntung ada seorang bapak yang sedang berolah raga jalan kaki berada tepat dibelakangku. Aku coba perlambat langkahku agar aku bisa berbarengan dengannya untuk sekedar bertanya.

“Mau kemana, dik?” tanyanya sebelum aku sempat menyapanya.
“Ke istora Senayan, Pak! Lewat mana yach?” sahutku.
“Oo.. lurus jalan ini saja, ayo kita jalan aja sama-sama. Kita ke arah yang sama” jawabnya lagi.

Kami berjalan berdua di sepanjang jalan menuju arah yang dimaksud. Selama perjalanan itu, kusempatkan bercakap-cakap seperlunya. Keraguanku sedikit luntur saat bertemu dengan Bapak ini walaupun aku baru mengenalnya saat ini. Aku tak sempat menanyakan namanya. Yang kuketahui Bapak ini adalah tetangga Bpk Sudarmono di Widya Chandra, entah apakah yang dimaksud adalah mantan wapres RI jaman Soeharto. Aku hanya merasakan adanya perlindungan di tempat di mana aku belum pernah menginjak suatu tempat.

Aku jadi ingat dengan ayahku yang selalu memberikan perlindungan kepadaku sekecil apapun. Tapi sayang, kini aku hanya bisa mengingatnya saja karena sudah lama aku kehilangan sosok ayah sejak aku kecil dahulu. Kangen juga sama ayahku. Andaikan dia ada di sini aku pasti tidak akan pernah ragu ke manapun aku pergi. Oh… kenapa tiba-tiba aku benar-benar merindukan kehadirannya saat seperti ini, yach?

“Nanti kamu terus belok kanan yach!” suara sang Bapak memecah lamunanku.
“Oo.. iya, Pak! Terima kasih telah membantu. Selamat jalan-jalan sore,” sahutku.

Kami lalu berpisah di belokan itu. Aku terus berjalan seperti yang diperintahkan sang Bapak. Lumayan juga aku berjalan hingga tiba pada sebuah persimpangan kembali aku terdiam. Ke kiri atau ke kanan, pikirku. Tiba-tiba :

“Plok-plok-plok”

Terdengar suara seseorang bertepuk tangan. Suara itu tepat dibelakangku. Kupaling kepalaku mencari sumber suara itu, ternyata sang Bapak masih berdiri di mana kami berpisah. Aku mengira dia sudah berjalan meninggalkan aku, rupanya ketika aku berbelok ke kanan itu, dia tetap memperhatikanku dari jauh.

Sang Bapak memberi isyarat dengan melambaikan tangan menuju arah yang harus ku lalui ke mana aku harus berjalan. Sedikit terheran-heran aku menganggukkan kapala. Dan setelah memastikan bahwa aku sudah tidak salah jalan lagi Bapak itu kemudian menghilang di tikungan jalan melanjutkan jalan-jalan sorenya.

Sesampai di istora aku bertemu dengan teman-teman lain yang membuatku happy. Sepanjang konser berjalan, tak henti-hentinya aku bersyukur kepada Tuhan betapa cintaNya begitu besar terhadap diriku, sampai hal terkecilpun DIA siapkan buatku. Siapa yang menyangka aku yang buta arah menuju Istora Senayan pergi sendiri tanpa teman tetapi dengan mudahnya aku sampai di tempat ini. Siapakah yang pernah menyangka orang asing yang tidak pernah kukenal sebelumnya menjadi penolongku?

Satu pelajaran penting buatku adalah bersyukur kepada Tuhan meski kita mendapat pengalaman sekecil apapun. Setiap orang pasti pernah mengalami suatu pengalaman kecil dalam hidup sehari-hari. Satu hal yang masih belum mampu dirasakan oleh kebanyakan orang adalah bersyukur. Mungkin karena kecil dan lumrahnya pengalaman kecil itu sehingga kita tidak mampu mengenalinya bahkan menyadarinya bahwa Tuhan turut campur di dalamnya. Kemampuan merasakan kehadiran Tuhan dalam perkara kecil tergantung dari hubungan personal kita terhadap Tuhan. Kita boleh menyebutkannya sebagai “the colorfull of life”.
(catatan harian Theresia Endah Susanto)

Sunday, June 28, 2009

INDOMIE.... PRESIDENKU

Dari Sabang sampai Merauke.......
Dari Timor sampai ke Talaud......
Indonesia.. tanah airku....
Indomie.... presidenku....

What!!
Indomie presidenku....?!
Elu aja kali yach... gue kagak.....!!!

Thursday, March 12, 2009

KATOLIK KUTU KUPRET

Membangun kehidupan menggereja di lingkungan menjadi acara yang tidak menarik di jaman ini. Banyak umat Katolik justru meninggalkan pertemuan doa lingkungan dengan berbagai alasan. Ada yang merasa bahwa kegiatan di lingkungan tidak ada gunanya. Ada juga yang merasa sakit hati; ada yang sudah aktif di tempat lain, merasa terbebani pekerjaan sehingga tidak ada waktu, sudah punya komunitas lain, sering berpindah-pindah, dan ada juga yang tidak peduli.

Pandangan umat yang demikian cenderung defensif dan tidak mudah terbuka. Merasa nyaman dengan keadaan seperti ini mungkin lebih baik daripada harus terlibat aktif tetapi malah akhirnya bermasalah. Maka kegiatan rohani yang bisa dilakukannya adalah pergi ke gereja, mengikuti misa, mendengarkan sabda Allah, menerima ekaristi, pulang, selesai! Dia sudah tidak peduli lagi dengan tetangga seimannya yang sedang sekarat, atau dia sudah tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mengenali saudara seimannya di lingkungan. Yang cukup memprihatinkan adalah mungkin dia juga tidak peduli lagi dengan pembinaan iman anak-anaknya sebab kebutuhan rohaninya hanya sampai pada misa dan pulang ke rumah. Kita dengan mudahnya mengatakan kegiatan lingkungan tidak menarik ya selamanya akan seperti itu sebab diri kitalah sebenarnya yang membuat tidak menarik. Kita merasa malu untuk berkumpul dan tidak mengenal orang lain, akan selamanya seperti itu karena diri kitalah yang cenderung menutup diri untuk tidak ingin disapa. Jika komunitas ini dihidupi dengan situasi seperti di atas maka jangan salahkan Gereja masa depan karena ternyata Gereja kutu kupretlah yang sedang membangunnya untuk masa depan.

Rupanya situasi saat ini tidak begitu jauh berbeda dengan situasi jemaat Galatia di jaman Rasul Paulus. Hal ini menjadi begitu menarik ketika situasi semacam ini dengan gamblangnya diungkap oleh Rasul Paulus yang menulis nasehatnya kepada jemaat di sana dalam Gal 6 : 1-10 dan menantang kita untuk merefleksikan diri apa yang bisa kita berbuat terhadap saudara seiman?

Lingkungan sebagai komunitas basis menjadi focus pemberdayaan Gereja. Strategi yang digunakan untuk memberdayakan komunitas basis ini adalah gembala baik. Artinya setiap anggota diajak untuk mencari dan menemukan yang hilang dari dalam komunitasnya dan mengajak untuk terlibat aktif. Persoalannya akan menjadi lain jika kita tidak siap menjadi gembala baik.

Ciri utama seorang gembala baik yang dituntut oleh Rasul Paulus adalah :
1. mau bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan menguji pekerjaannya. Adalah suatu sikap sombong diri dan menipu diri sendiri ketika kita berpikir bahwa diri kita dengan talenta yang kita miliki merasa sangat berarti bagi komunitas padahal tidak apalagi kehadirannya tidak membawa berkat.
2. mau bertanggung jawab terhadap orang lain. Dibutuhkan sikap kesabaran yang luar biasa ketika kita hendak mengajak saudara kita untuk kembali ‘pulang’.
3. saling memperhatikan atau saling membangun sikap peduli. Ini menjadi begitu indah dilihat ketika satu dengan yang lain memiliki sikap peduli yang sama sehingga tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan.
4. mau bertanggung jawab terhadap kehidupan menggereja di lingkungan. Nasehat terakhir dalam perikop ini ada pada ayat 10 yang bunyinya : “..Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman…”

Itulah ciri gembala baik yang diharapkan oleh Gereja untuk menghidupi kegiatan di komunitas basis. Hanya kita yang bisa menghidupi diri kita dan tidak bisa menyerahkannya kepada orang lain (komunitas lain) untuk mengurusi diri kita, bukan?

Wajah kita pada masa yang akan datang ditentukan oleh cara kita mewarnainya saat ini. Jika kita benar-benar menjadi Katolik yang Kutu Kupret, yang mau enaknya sendiri dan tidak memikirkan saudara seimannya, yang suka pilih-pilih peduli yang tidak suka tidak dipedulikan, yang merasa saya tidak butuh lingkungan, yang punya sikap masa bodoh terhadap lingkungan, maka Katolik Kutu Kupretlah Gereja masa yang akan datang.

Karenanya nasehat Paulus yang satu ini : Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah menjadi motivasi bagi kita untuk tidak menjadikan diri kita sebagai seorang Katolik Kutu Kupret yang lemah di saat kita harus menuai hasil yang kita tabur.

Monday, March 09, 2009

ORANG KOTA DAN SOPIR ANGKOT

Kalau mau lihat karakter orang kota lihatlah sopir angkotnya.

Setelah hampir 30 tahun sejak pencanangan Indonesia memasuki era pembangunan fisik sejak jaman Soeharto, Indonesia sudah berhasil membangun manusianya dari bangsa kuli menjadi sopir angkot. Ini sebuah prestasi? Tidak juga karena hanya beda tipis antara kuli dengan sopir angkot. Bangsa kuli selalu mengandalkan ototnya ketimbang otaknya. Porsi penggunaan otot 90% dan otak hanya 10%. Sopir angkot hanya menggunakan 60% kekuatannya dan 40% otaknya. Dari 40% itupun setengahnya dipakai untuk menghitung untung rugi setoran dan setengahnya lagi untuk mencari selamat sendiri.

Mau lihat ciri-ciri sopir angkot Indonesia?
1. Cenderung tidak tertib
2. Tidak punya rasa peduli
3. Memikirkan diri sendiri
4. Tidak punya santun di jalan
5. Idiot dalam pengelola pekerjaan
6. Cepat puas dengan keterbatasan
7. Malas

Seperti inilah manusia kota Indonesia "saat ini".

Karena bentuk pencitraan yang demikian membuat bangsa ini sangat jauh dari sikap normatif manusia yang tertib, punya rasa, santun, memikirkan orang lain.

Hare..gene.. mikirin orang lain.... makan aja susah?? Ya... seperti inilah manusia kota di Indonesia mencitrakan dirinya sendiri. Anda puas???

Saturday, March 07, 2009

JANJI SANG CALEG

Indonesia memasuki tahun pemilu, tahunnya kampanye dan tahunnya janji-janji muluk sang politisi. Lebih dari separuh tahun ini diisi dengan macam-macam kampanye caleg yang lucu, norak, gombal, narsis, ngga masuk akal hingga kehilangan akal. Lihat saja di http://www.calegindonesia.com

Aku jadi berpikir, seberapa besar pengorbanan yang akan dialaminya mengingat persaingan sudah semakin ketat. Jika mereka melenggang ke gedung rakyat apakah masih ingat dengan janji-janji mereka. Apakah tidak mungkin yang pertama kali dipikirkannya adalah bagaimana bisa menarik modal apa yang sudah dikorbankan demi mengumbar janji untuk duduk di kursi selebriti dewan yang terhormat.

Entahlah.... bahkan aku sendiri juga sangsi dengan integritas mereka. Persetan dech caleg mau ngomong apa kalau mereka sendiri 'sebenarnya' tidak paham dengan Indonesia.

Aku jadi inget dengan kalimat janji ini : ".... Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu..." .

Indonesia sudah terlalu lama menanggung letih dan lesu apalagi beban beratnya semakin hari semakin bertambah. Apakah caleg-caleg yang gambarnya terpampang di sudut-sudut jalan itu mampu memberikan kelegaan untuk Indonesia. Jika tidak dan malah menambah beban saja sebaiknya copot saja gambar-gambar itu dan ganti dengan gambar monyet sebab barangkali dia bisa memberikan kelegaan itu. .... Kepada siapa sebenarnya kuk yang terpasang itu akan dipikul??

Andaikan pelantun kalimat itu ada di sini, di Indonesia ini, seharusnya aku menyerahkan Indonesia kepadanya, tidak kepada caleg-caleg itu yang paling kerjanya cuma bisa tidur di kursi dewan. Mungkin tidak juga kepada presiden sebab musuhnya terlalu banyak. Sanggupkah dia??

Entahlah.... sementara itu waktu terus berjalan menuju hari penyerahan diri Indonesia. Ke pundak siapa beban itu akan dipikul?

Tuesday, January 27, 2009

Mungkinkah Damai Dibangun Antara Israel dan Palestina?

Berikut ini adalah tulisan Dr. Martino Sardi mengenai konflik Israel dan Palestina serta bagaimana sikap kita terhadap konflik tersebut. Judul tulisan ini adalah : Mungkinkah Damai Dibangun Antara Israel dan Palestina?

Bertahun-tahun dan seluruh hidup Yasser Arafat dengan PLOnya bagaikan dipersembahkan demi berdirinya negara Palestina kembali. Boleh dikatakan Yasser Arafat berhasil membangun kembali kepercayaan bahwa Palestina akan terbentuk dan menjadi utuh. Kepercayaan itu didukung dari seluruh penjuru dunia. Dan profil Yasser Arafat sangat mengagumkan. Sayang Yasser Arafat hanyalah satu, dan menjelang akhir hidupnya, apa yang dimpikan belumlah terealisasi seluruhnya. Baru beberapa titik saja, itupun masih menyisakan berbagai benturan.

Sepeninggal Yasser Arafat, Palestina pun tetap tercabik-cabik. Baik dari dalam kelompok partai maupun kelompok keagamaan tak mampu menggalang satu tujuan, mendirikan kembali Palestina yang utuh. Perang sesungguhnya dan perang gagasan di dalam kelompok-kelompok Palestina pun terjadi dan menelan begitu banyak korban. Sampai saat ini, Palestina masih menangis dan tidak mampu berdamai di dalam negerinya sendiri. Sulit atau boleh dikatakan tidak mungkin menyatukan berbagai kelompok yang mempunyai wacana dan prinsip yang bertentangan satu sama lain serta tidak ada yang mau mengalah demi perjuangan menjadikan suatu negara yang berdaulat.

Apakah Palestina sekarang ini sudah sebuah negara? Berbagai negara telah mengakuinya dan menerimanya sebagai fakta sejarah. Akan tetapi tidak ada negara lain, selain Palestina yang selalu dirundung pertikaian, konflik dan bahkan perang di dalam negerinya sendiri. Belum lagi menghadapi Israel, yang dianggapnya sebagai musuh yang harus dimusnahkannya. Palestina tidak mampu, namun tidak mau mengakui fakta itu, dan selalu memulai tindakan kekerasan untuk melawan Israel. Dan Israel baru akan melawan sungguh-sungguh bila warganya ada yang mati. Musuhnya bahkan akan dihajar benar-benar, kalau perlu segala kekuatan digunakan untuk menindak orang yang menyebabkan kematian itu.

Mungkin baik kalau kita ajukan suatu pertanyaan penting: Apa yang seharusnya diperlukan sekarang oleh rakyat Palestina? Hidup tenang dan damai. Mereka menginginkan perdamaian. Oleh karena itu tindakan Hamas tidaklah sepenuhnya disetujui oleh rakyat Palestina, bahkan Presiden Abbas pun tidak menyetujui, apalagi Fatah pasti akan menolaknya. Juga berbagai kelompok lain tidak menyetujui tindak kekerasan Hamas. Orang Palestina, dari perjumpaan saya dengan mereka, kebanyakan sudah bosan perang. Mereka ingin damai, dan memiliki negeri yang damai. Apakah itu mungkin? Tampaknya jalan damai masih panjang di Palestina sendiri. Kelompok Palestina tidak bersatu. Ada yang menginginkan damai, tetapi ada yang selalu mau berperang terus.

Kalau kita mengamati Peta Israel, sebenarnya banyak daerah yang siap dikembalikan ke Palestina untuk menjadi negara merdeka. Dalam peta ada warna ungu, sebenarnya sudah siap dan sebagian sudah diserahkan ke Palestina tetapi sebagian besar masih dikuasi Israel. Sebuah contoh yang sangat unik, menarik tetapi sekaligus memelas alias kasihan, ialah kasus kota Betlehem. Kota Betlehem, tempat kelahiran Tuhan Yesus, adalah kota yang diserahkan kembali ke Palestina. Juga kota Ramalah. Ketika ada gerakan intifadah, banyak warga Yahudi atau keturunan Arab berwarganegara Israel yang menjadi korban. Kota Betlehem diancam akan dikurung dan dibentengi oleh Israel, kalau masih terjadi tindak kekerasan. Dan benar, gertakan Israel tidak main-main. Kota Betlehem sejak tahun 2004 dibentengi oleh Israel.
Jalur keluar masuk Betlehem dikontrol dan diperiksa polisi dan tentara Israel. Akibat yang lebih parah ialah: hotel-hotel atau kota Betlehem semakin sepi, semakin miskin dan terkurung. Mereka yang biasanya hidup dari turis, kini harus menderita. Setelah ditembok, warga negara Israel, menurut penuturan mereka sendiri, sungguh merasa aman.

Cukup lama saya menyaksikan dan merenungkan: Betlehem dikurung dan ditembok kokoh kuat dan atasnya dipasangi kawat berduri beraliran listrik tegangan tinggi. Mataku menatapnya, menyaksikan tembok yang digranatpun tidak akan roboh. Sungguh kuat sekali. Tembok Berlin pun belum apa-apanya bila dibandingkan tembok kota Betlehem buatan Israel untuk membetengi diri melawan tindak kekerasan dan kejahatan dari pihak Palestina. Tinggi tembok itu hampir enam meter, kota kelahiran Yesus dikurung dan penduduk sekitarnya mulai merasakan akibat tindak kakerasan yang mau melawan orang Israel. Di jaman globalpun Israel dan Palestina membatasi diri dengan tembok kokoh kuat tak tergoncangkan. Entahlah siapa yang mampu membongkar tembok itu kelak, lambang Israel dan Palestina tidak bermusuhan lagi? Rupanya kekuatan damailah yang akan membongkar tembok itu. Kekuatan perang dan permusuhan hanya akan menciptakan tembok atau pembatas yang lebih mengerikan lagi.

Berbagai daerah dan kota sebenarnya siap diserahkan kepada Palestina kembali, tetapi sayang Palestaina rupanya tidak mampu memenuhi syaratnya untuk melaksanakan damai di daerah itu. Jalur Gaza merupakan tempat yang paling luas negara Palestina. Wilayah-wilayah Palestina lainnya tidak berdekatan, tetapi tersebar jauh-jauh, "pating slebar ora karuwan angel didadek-ake' siji". Wilayah yang paling luas, ialah tepi barat sungai Yordan. Daerah itu luas sekali, membentang dari Laut Mati sampai ke Mesir. Daerah yang masih dikuasi Israel ini sangat strategis, tetapi berupa padang gurun saja. Kecuali tepi sungai Yordan yang memang subur, selebihnya yang ada hanyalah batu, wadas dan pasir saja. Di sepanjang jalan itu tampaklah pemandangan yang terkadang tidak diperhatikan orang. Mataku mengamati jalan raya yang dilalui kendaraan yang menghantarku ke arah Mesir, di sebelah kiri jalan, yang mengarah ke Yordania, kira-kira 12 meter terdapat pagar kawat berduri dua lapis berjarak sekitar satu setengah meter. Kawat berduri itu beraliran listrik tegangan tinggi. Wilayah itu wilayah yang masih rawan. Wilayah yang dikehendaki Palestina, tetapi belum diserahkan ke Palestina. Alasannnya sederhana: bila damai tidak terjadi dan tindak kekerasan tetap berlangsung, tepi barat itu tidak bakal kembali ke Palestina.

Gaza pun dibentengi oleh Israel. Jalan keluar dari Gaza, selain ke Israel, sangat terbatas. Jalan laut sangat tidak nyaman. Dapat diamati Israel dari segala arah. Jalan darat hanya melalui Mesir saja. Jalan itu pun sudah rusak di ujung ke Gaza. Jarak tanah yang lowong ke arah Mesir itu tidak lebih dari empat puluh delapan meter. Itu pun sudah nyaris hancur. Orang-orang di Gaza sulit keluar, selain ke arah daerah yang dikuasi Israel. Gaza sebenarnya telah dikurung Israel. Mau mengungsi ke Mesir, betapa beratnya jalan itu. Padang gurun beratus-ratus km yang hanya ditumbuhi batu-batuan, karang dan pasir, serta tidak ada pohon-pohonan, tidak akan mendukung pejalan kaki. Sungguh akses ke Gaza sangatlah sulit, baik dari luar maupun dalam, kecuali dibuka oleh Israel.

Kalau ada para pejuang yang akan ke Gaza membela Hamas, mau masuk melalui jalan mana? Dan mau berperang melawan siapa? Perang di Gaza bukanlah seperti yang dilukiskan berbagai koran di manan kita seperti perang berhadap-hadapan. Saya tercenung membaca bagaimana koran Kedauluatan Rakyat serta Kompas melukiskan Hamas yang berperang melawan tentara Israel, seperti perang dalam wayang saja. Sungguh fiksi berita itu. Yang selalu membandingkan dengan perang Hesbolah di Lebanon, dan Israel dianggapnya kalah. Bagaimana Israel dapat dikatakan kalah, kalau infra struktur di Lebanon dan banyak korban dari pihak Hesbolah. Perang sungguh tidak manusiawi. Dalam perang semuanya kalah, karena korban berjatuhan dan mati. Perang di Gaza sekarang ini lebih banyak perang media, perang info palsu dan perang mempengaruhi opini publik. Korban perang haruslah menjadi perhatian kita semua

Persoalan Palestina sebenarnya bukanlah hanya persoalan Hamas saja. Memang Hamas berkuasa, tetapi kalau caranya tidak kompromi, saya yakin Palestina yang dicita-citakan oleh Yasser Arafat tidak terlaksana. Rakyat Palestina sekarang ini membutuhkan ketenteraman dan damai: damai di hati dan damai di buminya. Gerakan atau partai Palestina yang suka akan keonaran dan perang, kiranya tidak akan disukai oleh rakyatnya. Rakyat Palestina bosan perang, sekalipun sejak kecil banyak yang meniru melempari batu tentara dan polisi Israel. Lha sejak kecil saja sudah dilatih bertindak kekerasan, apalagi kalau nanti dewasa. Perang pun akan mereka lakukan, sekalupun menyadari bahwa dirinya tidak bakal mampu menundukkan lawan. Namun yakin bahwa Allah dipihaknya dan kalau mati, surga sudah disediakan baginya. Surga apa itu? Keyakinan yang fatal dan konyol bagi pihak lain yang harus menanggung kesengsaraan dan derita.

Para pejuang dan relawan yang siap ke Gaza, ternyata telah banyak sekali. Apakah mereka tahu medannya? Saya teringat ketika saya bertugas di Bosnia-Herzegovina. Orang tidak tahu bahwa perang di Bosnia itu perang suku : Serbia, Croazia dan Bosnia. Perang segitiga yang seru dan hancur-hancuran. Serbia yang berkuasa merasa kuat dan di atas angin. Tetapi ketika pasukan Bosnia (yang muslim) dan Croazia (yang Katolik) bersatu menggempur Serbia (yang Ortodoks), sang penguasa terdesak dan hampir kalah. Sayang ada seruan muslim diserang kristen. Maka ketika pasukan mujahidin yang kebanyakan dari Afganistan masuk, sasaran yang diserang pertama adalah gereja Katolik dan orang Katolik. Padahal mereka itu bersatu sebelumnya. Dan saat itulah Bosnia benar-benar menjadi lautan perang segita yang sesungguhnya.

Tragedi di Gaza bukanlah persoalan agama. Hamas memang muslim, tetapi orang Palestina itu tidak semuanya muslim, banyak yang Kristen dan agama lainnya juga. Palestina tidaklah sama dengan muslim. Orang Palestina itu beragama macam-macam. Para Hamas dan Fatah memang muslim. Dan kalau para pejuang mau ke Gaza itu mau membantu Palestina atau membantu Hamas, karena muslim? Ingatlah Fatah yang dihancurkan oleh Hamas juga muslim. Perang di Gaza bukanlah segampang gerakan tindak kekerasan yang menyerang kelompok berbagai agama seperti kejadian di Monas pertengahan tahun 2008 yang lalu.

Orang Palestina memerlukan persatuan, damai dan kerukunan. Tanpa itu negara Palestina akan tetap kacau, seperti sekarang ini.

Martino Sardi

Thursday, January 22, 2009

Membangun Sikap Bijak Terhadap Issue Israel dan Palestina


Ini mungkin sekedar informasi yang tidak pernah kita jumpai di media sebab musababnya Israel menggempur Gaza. Berikut petikan cerita dari Dr. Martino Sardi :


Sebelum umat Yahudi di Israel dan di luar Israel merayakan Hari Raya Hannukka, Pesta cahaya, yang berlangsung 10 hari dalam minggu terakhir bulan Desember 2008 ini, saya sudah merasakan akan ada serangan Hamas ke wilayah Israel di Jalur Gaza. Persis ketika lilin yang ketujuh dinyalakan, dan masih menyusul tiga lilin lagi yang harus dinyalakan berikutnya, dugaan saya menjadi kenyataan. Televisi Israel 1 menyiarkan tragedi bagaimana sengsaranya warga negara Israel menjadi korban akibat hantaman roket yang diluncurkan oleh Hamas. Pihak Israel masih sabar. Tidak langsung membalas.

Orang Yahudi pada umumnya taat akan hukum Taurat Musa, tidak boleh melakukan pembunuhan terhadap siapapun, kecuali untuk membela diri dan melindungi warganya. Berbagai peringatan diserukan, agar tindakan Hamas meluncurkan Roket itu dihentikan. Dan ancaman pun diserukan: “Kalau ada warga negara Israel sampai mati, maka tindakan itu tidak dapat ditolerir lagi, dan pasukan Israel akan siap meminta pertanggungjawabannya”.

Benarlah tragedi berikutnya terjadi. Lontaran roket menghantam warga sipil, empat orang berkebangsaan Israel mati sangat mengerikan. Kematian warganya, bagi orang Yahudi merupakan suatu yang harus diperhitungkan. Prinsip yang selalu dipakai oleh tentara Israel benar-benar diterapkan: warganya dibunuh, maka yang membunuh harus berani menanggung risiko.

Dan Israel mulai mengadakan tindakan militer. Dua pesawat dikirim untuk melumpuhkan pusat Hamas. Dan akibatnya terjadi banyak korban. Korban jatuh bukan hanya pasukan Hamas saja, tetapi juga penduduki sipil. Kedua belah pihak sudah menderita dan banyak korban berjatuhan.



Kita dapat bertanya: Siapakah yang salah dalam konflik ini? Semuanya salah, karena semuanya telah mengorbankan sesama manusia. Banyak manusia mati, akibat tindak kejahatan kedua belah pihak.

Awal tragedi dan pertikaian ini tidak banyak yang meliput secara internasional. Saya yang berada di Yerusalem dan selanjutnya ke daerah tepi Barat, sungguh merasakan betapa nyawa manusia dikorbankan dengan gampangnya. Hentakan roket dari pihak Hamas selanjutnya tampak tak terarah, dan banyak yang dapat ditangkis oleh pihak Israel, apalagi setelah ada kapal yang benderanya tidak jelas, tenggelam di laut internasional. Mungkin kapal itu milik Hamas dan tenggelam, karena mengarah ke Gaza.

Tindakan yang sulit diterima oleh orang Yahudi ialah hari Raya Hannukka dikotori dengan tembakan roket dari pihak Hamas. Dan kalau kita meneliti dari seluruh perang melawan Israel, perang selalu dimulai dengan mengadakan serangan ke pihak Israel pada saat orang-orang Israel yang beragama Yahudi mengadakan hari raya atau pesta keagamaannya. Pesta keagamaan yang dianggap suci dikotori oleh pihak lain dengan memprovokasi serangan senjata berat atau roket. Orang Yahudi tidak akan bereaksi, bila belum ada yang mati. Baru setelah ada yang mati, reaksi tentara Israel tidak dapat dicegah lagi.

Kita mengenal perang 6 hari. Tentara Israel baru menyerang, ketika dari pihaknya telah terbunuh dua orang warga sipil dan seorang polisi. Pembalasan Israel tidak tanggung-tanggung, dan Mesir pun kalah. Daratannya dikuasi sampai mendekati terusan Suez.

Orang akan ingat nama Mose Dayan, seorang pimpinan bermata satu, yang sanggup mengalahkan musuhnya dalam waktu cepat. Seluruh perang dengan Israel selalu berawal dari tindakan menodai hari suci orang Yahudi itu, dan serangan dari pihak Israel baru dilaksanakan bila sudah ada yang mati dari pihak Yahudi. Hal itulah yang biasanya dikatakan sebagai tindakan membela diri, membela warganya, dan pihak yang membunuh haruslah bertanggungjawab.

Bagaimanakah menyikapi tragedi tanggal 27 Desember 2008 sampai saat ini? Kedua-duanya salah dan jahat, karena adanya korban! Kita menyaksikan adanya banyak orang yang marah terhadap Israel yang dinilainya biadab (Baca Kompas tulisan Hamid Awaludin, Dubes RI untuk Russia) dan bahkan telah banyak orang yang mau ke jalur Gaza untuk berjihad melawan tentara Israel.

Bagaimanapun juga harus kita katakan bahwa perang itu tidak beradab. Kedua belah pihak, Hamas dan tentara Israel, keduanya tidak beradab. Hamas memang merasa hebat, karena telah melumpuhkan sesama muslim, yakni Fatah. Dan Hamas tidak mau menempuh jalan damai. Prinsip Hamas: Tiada damai, sampai Israel dikalahkan. Bagaimana kekuatan kecil itu mampu mengalahkan tentara Israel? Keyakinannya ialah Allah dipihaknya dan akan membantunya dan mati melawan Israel jaminannya surga.
Sikap kritis kita harus kita bangun dalam menyaksikan berita-berita sekarang ini.

Media tampaknya tidak lagi menjadi media yang berprinsip para peace journalism lagi, tetapi lebih provokatif yang membangkitkan konflik. Perhatikanlah berita-berita yang ditayangkan itu, apakah gambar dan filmnya itu benar-benar dari Gaza? Ataukah lebih banyak hanya arsip film perang dari daerah lain. Sekarang ini di daerah Gaza dan Israel itu musim dingin. Daun-daun yang ada hanyalah daun cemara. pinus dan kurma (sejenis kelapa). Bagaimana tampak banyak tanaman di daerah perang itu, yang menandakan musim panas. korban-korban tampak di rerumputan hijau atau di bangunan yang ada bukan khas Gaza, tetapi di Libanon? Kalau Anda pernah ke Gaza akan terasa aneh sungguh berbagai tampilan siaran itu. Banyak yang bukan dari Gaza, alias banyak yang dipalsukan. Sungguh suatu perang media. Sayang, kalau opini publik justru dibangun dari berbagai berita, tayangan gambar, flim palsu, bukan fakta dari Gaza itu sendiri. Inilah suatu kejahatan baru.

Martino Sardi

SECUIL PIDATO OBAMA - Sebuah refleksi untuk kita.


"....Bagi para pemimpin dunia yang berusaha menanam bibit konflik, atau menyalahkan dunia Barat atas kesulitan-kesulitan yang dialami masyarakatnya, ketahuilah bahwa rakyat Anda akan menilai Anda pada apa yang Anda bangun, bukan pada apa yang Anda musnahkan. Bagi mereka yang hendak menggenggam kekuasaan melalui korupsi dan kekejian dan membungkam orang yang tidak setuju pada kebijakan mereka, yakinlah bahwa kalian berada pada sisi yang keliru, tapi kami akan mengulurkan tangan jika kalian tidak lagi mengepalkan tinju..."

Ini adalah sepenggal paragraf pidato Obama dalam inagurasi pelantikannya sebagai Presiden Amerika ke-44 tanggal 20 Januari 2009. Cukup menarik untuk dikaji karena selama ini kita yang paling gencar untuk berusaha menantang kebijakan AS terhadap dunia (Islam, khususnya) manakala ada pergesekan yang berujung merugikan kelompok yang kita perjuangkan.

Belum lama ini ketika agresi militer Israel menggempur Gaza selama hampir sebulan (sejak 27 Desember 2008 hingga 19 Januari 2009), Indonesia paling ngotot untuk urusan tantang-menantang. Banyak macamnya, misalnya : memboikot produk AS, memboikot produk Israel, membakar bendera, demo di kedutaan, dsb. Cukup baik pula jika tidak diakhiri dengan sikap anarkis.


Kita menjadi seperti bangsa yang (sudah) tidak memiliki budi pekerti atau mungkin sudah kehilangan sama sekali sikap ramah yang dulu pernah disandang selama berabad-abad. Jika mau bercermin diri, kita ini seperti bangsa yang tidak memiliki karakter yang patut disejajarkan dengan bangsa lain manakala kita kehilangan daya berpikir logis dan lebih mengedepankan emosi yang meluap-luap. Inikah bangsa yang disebut 'macan tidur?"

Mari segera bercermin diri mengapa kita menjadi demikian berubah? Kita memang bangsa besar (karena wilayahnya), tetapi bukan bangsa yang (bersedia) berbesar hati menerima atas segala keterbatasan kita.

Kembali ke petikan pidato Obama di atas bahwa konflik terhadap barat (AS/Eropa) adalah cermin ketidakmampuan pemimpin dunia terhadap apa yang dibangunnya. Nah lho! Bagaimana nih dengan Indonesia? Ada benarnya juga sih. Lihat aja! Kita ini bisa sedemikian berubahnya karena kita tidak berhasil membangun manusia Indonesia yang baik. Setiap kekurangan adalah kesalahan orang lain bukannya berusaha berbenah diri. Ini adalah sebuah refleksi yang bagus untuk kita. Tinggal bagaimana kita mau menanggapinya. Jika penuh emosi, boikot sana boikot sini, bakar sana bakat sini maka akan selamanya kita menjadi bangsa yang 'termehek-mehek' walau hanya sekedar duduk berdampingan dengan mereka.

Karenanya Anda akan tahu harus memilih siapa untuk memimpin bangsa yang sudah termehek-mehek untuk bersikap kritis tetapi tidak urakan. Memilih partai mana yang punya sikap kritis tetapi bukan tarzan yang ikut boikot-boikotan.

Siapa saja mereka, itu bukan urusan saya!

Thursday, October 09, 2008

JANJI SANG PENJAHAT DI PESTA TAHUN 2009

Genderang pesta rupanya sudah mulai terdengar. Seiring dengan kartu-kartu undangan yang sudah banyak dilempar ke semua orang, panitia mengingatkan… Ayo! Ikut pesta bersama di tahun 2009.

Pagi itu belum sepotong mannapun kudapat untuk mengganjal perut. Sudah berjam-jam berjalan tak juga menemukan di mana manna yang terjatuh dari langit itu berada. Matahari menaruh belas kasihan padaku ketika dipandanginya aku masih berjalan-jalan tanpa tujuan. Sepertinya dia ingin tenggelam saja di balik gedung-gedung pencakar langit menyembunyikan cahayanya yang panas itu …. agar seperti tadi malam …. tanpa sinar, tanpa panas…. Namun tetap saja aku lapar.

“… Pak! Mau ikut pawai partai kami , nggak?!
Seorang lelaki perlente berjaket hitam berikat kepala biru mengagetkan aku. Belum juga usai aku pandangi matahari yang sejak tadi berusaha untuk pamit menghilang dibalik cakrawala, orang itu mendekat dan sedikit berteriak: “…Ayo… mau ikut ngga! Mau hujan nih! Tenang aja… ada amplopnya kokh!....”

“… partai apa ini?! tanyaku.

“… Nanti juga tahu! Kami selalu memperjuangkan kaum miskin agar tetap bisa makan… makanya ayo ikut….!

Dalam sekejap, aku sudah berada di atas pick up tanpa tahu akan pergi ke mana. Bendera-bendera berkibaran di sepanjang jalan nyaris menutupi hijaunya pohon-pohon. Aku seperti berada dalam penyambutan laksana presiden yang disambut rakyatnya di kanan dan kiri jalan, tapi yang ini hanya bendera-bendera bisu yang berlenggak-lenggok.

Kelak janji itu aku minta bukan dengan selembar amplop yang kuterima ini tapi tentu setelah pawai-pawai itu usai.

Sore hari, akhirnya kudapati sepotong ‘manna’ dari sahabatku yang sama-sama gembel di pinggiran Jakarta. Potongan demi potongan kulumat dengan pasti sepasti bahwa esok hari akan ada manna baru untuk hari itu. Jangan tanya padaku apakah janji lelaki perlente di pagi hari itu juga akan sepasti manna yang kuharap esok hari. Entahlah, semoga bukan penjahat yang berjanji hari ini untuk tahun 2009

Tuesday, September 30, 2008

PESAN UNTUK AKHIR BULAN RAMADAN ldul Fitri 1429 H. /2008 A.D. - Kota Vatikan

DEWAN KEPAUSAN UNTUK DIALOG ANTARAGAMA
Kristen dan Muslim: Bersama untuk Martabat Keluarga

Saudara-saudari Umat Muslim,
1. Dengan semakin mendekatnya akhir bulan Ramadan, dan mengikuti tradisi yang kini sudah sangat mapan, dengan senang hati saya menyampaikan ucapan selamat dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama. Selama bulan ini orang-orang Kristen yang akrab dengan Anda telah turut mengambil bagian dalam pengheningan refleksi Anda dan dalam perayaan-perayaan keluarga Anda. Dialog dan persahabatan semakin diperkokoh. Puji Tuhan!

2. Sebagaimana yang terjadi di masa lampau, perjumpaan persaudaraan ini juga memberi kita suatu kesempatan untuk mengadakan refleksi bersama tentang pokok pembicaraan timbal-balik yang akan semakin memperkaya hubungan kita satu sama lain dan semakin membantu meningkatkan saling pengenalan kita, baik menyangkut nilai-nilai yang dapat kita nikmati bersama, maupun menyangkut perbedaan-perbedaan di antara kita. Tahun ini kami ingin mengangkat ikhwal Keluarga.

3. Satu dari dokumen-dokumen Konsili Vatikan Kedua, yakni Gaudium et Spes, yang mengupas perihal keberadaan Gereja di dunia modem, menegaskan: "Keselamatan pribadi maupun masyarakat manusiawi dan Kristiani erat berhubungan dengan kesejahteraan rukun perkawinan dan keluarga. Maka umat Kristiani, bersama dengan siapa saja yang menjunjung tinggi rukun hidup itu, dengan tulus hati bergembira tentang pelbagai upaya, yang sekarang ini membantu orang-orang untuk makin mengembangkan rukun cinta-kasih itu dan menghayatinya secara nyata, dan menolong para suami-isteri serta orangtua dalam menjalankan tugas mereka yang luhur. Lagi pula mereka memang mengharapkan manfaat yang lebih besar lagi dari padanya, dan berusaha untuk meningkatkannya" (no 47).

4. Penegasan itu mengingatkan kita dengan tepat sekali, bahwa perkembangan setiap pribadi manusia dan masyarakat, sebagian besar bergantung pada sehatnya keluarga. Berapa banyak orang yang harus memikul, kadang-kadang bahkan untuk seumur hidupnya, beban berat dari luka-luka batin yang diakibatkan oleh latarbelakang keluarganya yang bermasalah atau yang penuh gejolak? Berapa banyak lelaki dan perempuan yang sekarang berada dalam jurang penderitaan karena narkoba dan kekerasan, sedang berusaha dengan sia-sia untuk sampai pada pemulihan dirinya karena trauma yang diderita pada masa kecilnya? Umat Kristiani dan Umat Muslim dapat dan harus bekerjasama untuk menjamin martabat keluarga-keluarga, baik di masa sekarang ini maupun di masa-masa yang akan datang.

5. Umat Kristiani dan Umat Muslim sama-sama menjunjung tinggi martabat keluarga-keluarga. Kita juga telah mendapat banyak kesempatan, baik di tingkat lokal maupun internasional, untuk menjalin kerjasama di bidang ini. Keluarga, di mana ada cinta dan kehidupan, di mana saling menghormati dan keramah-tamahan dijumpai dan diserahalihkan sebagai harta warisan, adalah sungguh-sungguh "sel dasar dari masyarakat".

6. Umat Kristiani dan Umat Muslim hendaknya tidak pernah boleh ragu-ragu, bukan hanya dalam hal mengulurkan tangan membantu keluarga-¬keluarga yang berada dalam kesulitan, tetapi juga bekerjasama dengan siapa saja yang mempunyai keprihatinan untuk mendukung stabilitas kedudukan keluarga sebagai sebuah lembaga dan tempat diembannya tanggungjawab orangtua, khususnya di bidang pendidikan. Kiranya hanya satu saja yang ingin saya garisbawahi untuk Anda: Keluarga adalah sekolah pertama di mana seorang belajar untuk menghormati yang lain, dengan memperhatikan sepenuhnya identitas dan perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Kiranya hal itu hanya akan membawa keuntungan bagi dialog antaragama dan penghayatan kewarganegaraan kita.

7. Sahabat-sahabat yang terkasih, menjelang berakhimya ibadat puasa Anda, saya berharap, bahwa Anda, bersama dengan keluarga Anda dan mereka semua yang karib dengan Anda, dengan mendapatkan pemurnian dan pembaharuan dari melaksanakan ibadat yang sangat dijunjung tinggi dalam agama Anda ini, sungguh akan menikmati kecerahan dan kesejahteraan dalam hidup Anda! Semoga Allah subhanahu wa taala memenuhi Anda dengan kerahiman dan kedamaianNya.

Jean-Louis Kardinal Tauran Ketua
Uskup Agung Pier Luigi Celata Sekretaris

Saturday, September 27, 2008

MENABUR KEKERASAN

Dua atau tiga dekade lagi, hidup di Indonesia rasanya akan jadi sangat mengerikan, khususnya buat kaum minoritas agama dan minoritas ganda (agama+ras). Betapa tidak? Bibit-bibit kekerasan atas nama agama sejak Order Baru hingga sekarang tidak kunjung padam. Kian hari kian mengerikan.

Aku adalah bagian dari minoritas itu. Andaikan aku bisa mencapai hidup 3 dekade lagi, yang kubayangkan adalah bagaimana aku harus bisa bertahan di tanah airku sendiri, di mana moyangku ikut membesarkan tanah dan air ini dengan darah dan keringatnya? Apakah mungkin aku bisa hidup di negeri orang-orang asing yang tak pernah dipijak moyangku? Ingat! Aku akan berusia 70 tahun saat itu, saat aku harus bersiap untuk menyatukan raga di tanah air ini.

Jangan berharap pada negara apalagi aparat negara yang adalah manusia Indonesia juga. Karena mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika masyarakat sedang menabur bibit-bibit kekerasan. Ketika masyarakat Indonesia sedang 'sakit' maka produk-produk aparatnya juga sakit. Memangnya mereka asalnya dari mana?

Saat ini ladang-ladang sudah dibajak dan bibt sudah ditabur.
Ya..!Ladang-ladang kekerasan atas nama agama sedang ditabur di tanah air ini.
Tetapi kelak penuai pasti sudah mulai lupa apa yang ditaburnya ketika panenan itu gagal? Adakah orang yang menabur batu akan menuai padi?

Aku hanya bisa berharap lewat doa-doa kepada Sang Khalik agar aku bisa menikmati suasana hidup yang nyaman dan aman di tanah airku ini.

(Jakarta, Bom Natal 2000)

Friday, September 26, 2008

INI ADALAH WANITA

Ini adalah wanita,
sejuta perasaan ada karena sejuta pemahaman,
yang pasti asli bukan palsu
yang pasti jelas tidak setengah-setengah,
karena memang ...bukan waria,

Wanita bukanlah waria
Karena waria.... aku jadi ngga punya rasa
walaupun kamu kasih aku sejuta.

(Tamanlawang, catatan pinggir jalan, Juli 1989)








Tuesday, September 23, 2008

HUKUMNYA HARAM MENOLAK MAKAN PANGGANG BABI

Seorang teman tertawa terbahak-bahak dalam bentuk icon manakala kami asyik chatting. Pembicaraan yang sudah ngalor-ngidul itu akhirnya tertambat pada pokok pembicaraan bagaimana seharusnya kita menjaga kesehatan, maklum usia kami sudah rawan-rawannya menampung penyakit.

Sebut saja kolestrol dan darah tinggi yang menyebabkan stroke dan jantung. Belum lagi kalau hobby makan yang enak-enak perlu jaga badan jangan sampai kena diabetes. Padahal usia kami belum terbilang tua amat, malah mungkin sedang ganas-ganasnya terhadap apa saja.

Di ujung pembicaraan yang memang udah ngalor-ngidul itu kemudian terhenti dengan icon 'gelak tawa guling-gulingan' yang ada di Yahoo! Beginilah percakapannya itu:

k4l0ng (1:52 PM) : umur 39 dah tergeletak tak berdaya di icu

binoceng (1:51 PM): musti ati-ati dech orang umurnya kayak kita-kita ini penyakit yang satu ini, selain darah tinggi sama kolesterol, wajib jag-jaga makan apalagi gw beratnya dah di atas 75kg, kalau habis makan suka ngantuk katanya gejala diabetes.... ngeri banget dengerinnya

k4l0ng (1:55 PM) : nah.. jaga men! ngeri campur sedih ngeliat kasus temen gue ini

binoceng (1:57 PM): iye seng, itu juga yang harus gw jaga bener. Cuma kadang-kadang temen2 gw pada kurang ajar juga.... mereka suka ngajak makan di Lapo terus pada makan panggang babi.... busyet dech... itu makanan yang ngga bisa gw tolak. makanya sekarang badan gw kayak ..... babi bener.... kata orang gw gemuk ! gw malah takut dibilang gemuk..... soalnya dibelakang gemuk itu banyak penyakitnya....

k4l0ng (1:59 PM) : binoceng : iye seng, itu juga yang harus gw jaga bener. Cuma kadang-kadang temen2 pada kurangajar juga.... suka ngajak makan di Lapo terus pada makan panggang babi.... busyet dech... itu makanan yang ngga bisa gw tolak.<< huahahaha

binoceng (2:01 PM): Hukumnya haram menolak makan panggang babi.. huahahaha


Aku coba mengingat-ingat lagi... di kitab mana ada hukum yang mengharamkan orang yang menolak makan daging babi?? Ada-ada aja. Narcis banget dah jadinya. Bangga banget makan daging babi mentang-mentang ngga dilarang sama Tuhan(nya gw)

Thursday, September 04, 2008

AVOONAN DBISHMAYA

Avoonan dbishmaya
Yetqadash shmakh
Titeh malkoutakh
Yehee sevyonakh
Heykama dbishmaya af bra-aa

Hab lan lahma dsoonqanan
Yaomana Washvooqlan
Hoveynan heykama daf hnan
Shbaqnan lhayoveynan
Wla t-eelan linissyoona
Ella passyan min beeshta
Mittol dilakh-hee
malkoota w-heyla
w-teshboohta
l-aalam aalmin
Amin

Versi lain yang masih dalam bahasa Aramic juga ada. Ini mungkin terjadi karena adanya perkembangan bahasa tetapi lafalnya tida jauh beda. Berikut adalah kutipannya yang disertai terjemahan dalam bahasa Indonesia.

Avoon deveshmaya
Bapa kami yang ada di surga
Nithkadash smakh
Dimuliakanlah namaMu
Taithai malkoothakh
Datanglah kerajaanMu
Nehwey sevyanakh
Jadilah kehendakMu
Aikenna deveshmaya up ber'ah
di atas bumi seperti di surga

Havlan Lakhma desoonkanan
Beri kami makanan untuk kebutuhan kami setiap hari
Yomana wushvoklan
Ampuni kesalahan kami
khoebaine aikenna deup
seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami
khnan shvakn elkhayaven
Jangan biarkan kami masuk
Ula taelun elnisyoena
di dalam pencobaan
Illa peson minbeesha
Tetapi bebaskan kami dari yang jahat

Mitthil dedelakhee Maikootha
Sebab Engkau adalah raja
Ookhayla
Yang berkuasa
Ootishboakhta
Yang mulia
Elalum allmeen
sekarang dan selamanya
Amen
Amin

Ini adalah doa Bapa kami dengan bahasa asli Aram yaitu bahasa yang dipergunakan oleh Yesus pada 2000 tahun yang lalu.

Mau tahu sebagian lirik lagunya? Silahkan klik Avoonan Dbishmaya dan dengarkan.

Monday, August 25, 2008

MURID KRISTUS ATAU BUKAN ?

Masih ingat dengan ayat Mat 28:19 yang berbunyi : “…Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,…”

Kita sudah dibaptis dan menjadi seorang Katolik. Baptis memang menandai seseorang menjadi orang Kristen Tidak mungkin seseorang menjadi Katolik tetapi tidak dibaptis secara Katolik. Sesungguhnya ketika kita dibaptis, kita ini sudah menjadi murid Kristus karena seharusnya menjadi murid dahulu baru dibaptis. Namun kadang perjalanan iman seseorang tidaklah mulus. Ibarat murid di sekolah, ada murid yang setia, ada murid yang tidak setia bahkan ada juga murid yang berkhianat kepada gurunya.

Mari sekarang kita mengenali diri kita itu murid atau bukan murid.
1. Ada banyak orang yang mempelajari Kitab Suci dan mendalami kehidupan sebagai seorang murid hingga menjadi ahli Kitab tetapi dia belum dapat disebut murid karena belum mengalami kehidupan sebagai murid itu sendiri.
2. Ada pula orang yang percaya kepada Gereja tetapi masih juga percaya dan mengandalkan hidupnya kepada yang lain dengan melakukan praktek hidup yang tidak kristiani. Meskipun dia melakukan kewajiban pergi misa setiap minggu, menerima sakramen dan berdoa setiap hari namun mereka bukanlah seorang murid karena Yesus bukan menjadi satu-satunya pusat hidupnya.
3. Ada pula orang yang hanya melulu sebagai anggota Gereja. Dia memang memenuhi kewajiban di parokinya, membayar iuran amplop merah atau kolekte tetapi ia juga menuntut paroki agar memperhatikan setiap kebutuhan-nya, minta baptis anaknya sesudah itu selesai karena sudah impas. Mereka memandangnya sebagai sebuah transaksi dagang ketika dia memberi kepada Gereja, maka Gereja wajib memperhatikan kebutuhannya. Orang ini hanya melulu sebagai anggota Gereja tetapi bukan sebagai murid karena Yesus belum menjadi pusat hidupnya.
4. Ada orang yang menjadi anggota Gereja dan aktif di organisasi. Dia masuk Gereja karena tertarik pada ideology orang Katolik, namun tidak menghendaki ideology itu mencampuri urusan pribadinya. Dia hanya bermaksud mencari keuntungan dari ideology itu. Dia tidak bermaksud menjadikan Yesus sebagai pusat hidupnya, maka dia bukanlah murid.
5. Ada orang yang menjadi anggota Gereja karena mau meniru sikap hidup Yesus; karena Yesus mencintai orang-orang miskin, maka dia juga akan memberikan seluruh hidupnya untuk orang-orang miskin. Lalu ia melakukan berbagai aktivitas dalam mana seluruh perhatiannya ditujukan kepada kaum miskin, tetapi Yesus tida ada di dalamnya. Orang seperti ini bukanlah murid. Mengapa? Karena ia hanya mau seperti Yesus, tetapi tidak mau menjadi Yesus. Menjadi seperti Yesus berbeda dengan menjadi Yesus.
6. Ada pula kelompok orang yang disebut pelaku-pelaku Katolik. Mereka rajin melakukan aksi-aksi sosial dan menolong banyak orang terlantar. Perbuatannya memang baik, namun apakah itu dikerjakan demi Yesus atau demi kepuasan batinnya sendiri? Dia adalah pelaku-pelaku yang baik tetapi bukanlah seorang murid.

Dengan contoh-contoh di atas, kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri,” Termasuk kelompok manakah saya ini?” Jika demikian, siapakah yang disebut murid?

Murid adalah orang yang mengikuti pimpinannya, yaitu Yesus. Mengikuti Yesus berarti mengikuti jejakNya sebagai Sang Guru. Mengikuti jejak Yesus di sini tidak boleh diartikan secara harafiah, bukan juga berarti menjadi seperti Yesus karena ini berarti menjadi imitasi Yesus.

Menjadi murid berarti menjadi Yesus dalam arti pandangannya adalah pandangan Yesus, pikirannya adalah pikiran Yesus, hatinya adalah hati Yesus. Seorang murid yang memiliki pikiran Yesus berarti ia hidup dalam Yesus, hidup melalui Yesus, hidup dengan Yesus, dan hidup untuk Yesus. Yesus adalah pusat hidupnya. Dan karena itu ia mempunyai pikiran Yesus.

Bagaimanakah pikiran kita bisa menjadi pikiran Yesus? Rasul Paulus mengatakan bahwa Yesus telah memberikan segala-galanya. Ia memberikan ke-AllahanNya untuk menjadi manusia. Dan ia memberikan kemanusiaanNya dengan membiarkan orang-orang membunuhNya. Ia memberikan diri dan mengosongkan diriNya. Itulah pikiran Yesus yang harus dimiliki oleh seorang murid. Pikiran itu tidak berhenti sebatas ide tetapi nyata dalam perbuatan. Seorang murid melakukan segala sesuatu di dalam Yesus, lewat Yesus, dengan Yesus, dan untuk Yesus. Inilah pola hidup seorang murid yang harus nampak dan dapat dilihat oleh orang lain.

Sumber : PEMURIDAN (Sr. Eligia, CB) dengan penyesuaian seperlunya.