Tuesday, December 08, 2009

KALAU SANG SERDADU BERSIH-BERSIH RUMAH

Ada sebuah rumah besar yang dihuni oleh seorang mantan serdadu. Layaknya penghuni baru maka semua rumah dibersihkan, debu disapu, sampah terenyah. Semua dilakukan agar rumah itu enak ditempati. Penghuni lain yang tidak bersahabat diusirnya ya nyamuk, ya lalat, ya tidur, ya kecoa. Lumayan bersihlah rumah itu ketika dihuni sang mantan serdadu. Padahal bukankah dia itu cuma mengontrak selama 5 tahun saja?

Lima tahun sudah berlalu dan masa kontrak sudah harus selesai. Sang pemilik merasa bangga karena rumahnya dirawat dengan baik. Maka demi kelangsungan perawatan rumah selanjutnya akhirnya sang pemilik mempercayakannya kepada sang mantan serdadu. Dia memutuskan untuk memperpanjang masa kontrak untuk 5 tahun kedua. Sang serdadu merasa cukup senang karena keputusan ini sekaligus berarti memperpanjang masa untuk menabung. Menabung? Ya menabunglah dia karena rumah yang dia tempati saat ini tergolong sangat murah. Artinya dia tidak perlu mencari rumah lagi dengan biaya yang sangat tinggi yang menguras uang tabungan.

Tapi apa lacur, belum juga 100 hari dia menempati rumah itu, tikus, kecoa, nyamuk, dan lalat, musuhnya dulu datang mengeroyok dan memasuki rumah dengan membabi buta. Harus diakui bahwa musim itu adalah musim penghujan di mana hewan-hewan itu ingin berlindung. Tetapi mengapa sang serdadu tidak memberikan kesempatan kepada mereka.

Ah, rupanya aku baru tahu kalo sang mantan serdadu kini punya hobby memelihara buaya. Buaya menjadi hewan kebanggaannya sekarang untuk menjaga rumah. Anjing sudah tidak dipakainya lagi setelah para tikus lari tunggang langgang. Dulu ada cicak yang dipakainya untuk mengusir nyamuk, tetapi begitu nyamuk lari pontang panting sekarang para cicak diusirnya pula. Cicak tetap bertahan meski pernah mendapat tantangan yang cukup besar dan tangguh dari buaya. Berkat integritasnya yang lumayan bagus cicak itu pandai menggambil hati teman-temannya. Usaha mengusir cicak tidak berhasil. Bahkan sekarang gara-gara buaya yang sok jadi penjaga rumah itu yang mengobrak abrik rumah hanya untuk menangkap cicak, seisi rumah hancur berantak. Keadaan rumah jadi porak poranda.

Aku saat ini sungguh kuatir jika pemilik rumah tahu bahwa seisi rumahnya hancur berantakan. Apa yang akan dilakukan oleh sang mantan serdadu. Harus diakui bahwa ini menjadi masalah besar tetapi setidaknya bukan salah sang serdadu. Dia harus mencari sapu untuk membersihkan rumah yang sudah pernah ditatanya rapi. Tetapi sayang, sapu yang sama dia gunakan juga untuk mengusir para tikur, kecoa, nyamuk dan lalat padahal sapunya barus saja digunakan untuk menyapu lumpur bekas jejak kaki sang buaya. Harus bagaimana memulainya???

Friday, November 27, 2009

SULITNYA MEMBANGUN KOMUNITAS YANG BERHABITUS BARU

Masih ingat istilah habitus baru?? Terus terang aja hanya Gereja Katolik yang berani mengajak umatnya secara khusus dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk memulai hidup dengan adab habitus baru. Ini bermula dari hancurnya tatanan masyarakat Indonesia yang dinilai cukup menyedihkan baik di level atas yaitu pejabat negara hingga grass root di masyarakat paling bawah. Bahaya laten korupsi dan suap menyuap atas suatu aktivitas demi kepentingan pribadi seperti sudah biasa.... biasa untuk dibiarkan. Kronis banget memang!!!


Kasus yang paling hangat adalah konspirasi suap menyuap jual beli perkara Anggodo dengan Polri dan KPK yang satu sama lain saling menjatuhkan. Sampeyan bayangkan sendiri di level paling atas saja sudah sedemikian vulgarnya kasus ini terbongkar tetapi tetap saja tidak ada kejelasan siapa salah dan siapa benar. Masyarakat kita sudah benar-benar apatis melihat keadaan seperti ini, apalagi terhadap kepolisian Indonesia yang seharusnya menggawangi hukum malah berusaha menciptakan gol bunuh diri dengan meminjam kaki orang lain. Jika sudah demikian, sosok mana yang harus dijadikan teladan?


Alih-alih berpijak pada jalur hukum, mereka seperti ditelanjangi dan dibukakan sendiri borok tahunan yang cukup kronis mengudara dan membaui kehidupan masyarakat. Baunya itu sudah ngga enak banget. Mau muntah rasanya. Jika aku seorang dokter bedah sudah aku amputasi sumber bau itu. Hehehe... presiden sudah melakukannya sebelum kuminta. Jajaran polisi dirombak demi mengamputasi sumber borok dan masuk ke peti selamanya sampai pensiun. Semoga saja tetap demikian.


Kembali ke adab habitus baru. Gereja rupanya sudah melihat habitus lama yang korup, suap, egois, hedonisme, dsb itu menjadikan manusia seperti budak duniawi sehingga lupa hakikat hidup manusia yang sebenarnya. Gereja Katolik sudah memikirkan gejala ini jauh sebelum orang lain baru memulai memikirkannya. Kalau adapun tidak seberani itu.


Ajakan Gereja ini tidaklah mudah. Apalagi membangun adab habitus baru ini di setiap komunitas di mana kita tinggal. Ambil contoh saja di tingkat lingkungan, yaitu sel terendah dalam Gereja Katolik tidaklah mudah mengajak orang itu membangun habitus baru ini. Maka bisa saja seorang ketua lingkungan akan bersikap cuek bebek karena warganya masih seperti yang dulu.


Ada seoran rekan anggota Dewan Paroki Pleno bertanya kepadaku : "Mas, habitus baru yang cocok dilakukan di lingkungan apa aja sih?" Lho kokh membangun habitus baru kokh milih-milih mana yang cocok dan mana yang tidak. Wah ini pasti ada yang salah tafsir, pikirku.

Padahal adab habitus baru itu khan membangun sikap hidup baru dengan meninggalkan sikap hidup lama yang tidak sejalan dengan ajaran Gereja. Apa saja yang tidak sejalan dengan ajaran Gereja itu BANYAKKKKK...! Tidak menjual belikan perkara di pengadilan juga habitus baru, kenapa tidak?

Saturday, October 24, 2009

UT OMNES UNUM SINT

Dalam minggu ini tepatnya tanggal 21 Oktober 2009, beredar kabar dari Vatikan bahwa Gereja Anglikan Tradisional menyatakan diri mereka ingin bersatu dengan Gereja Katholik Roma yang dipimpin oleh Paus Benediktus XVI. Ini merupakan penyatuan terbesar kedua sebuah Gereja non Katholik setelah Gereja Episkopal pada tahun 1976. Dengan pernyataan ini berarti sebanyak 400.000 umat Anglikan Tradisional beserta 20 hingga 30 orang uskup akan bergabung dengan Roma.

Gereja Anglikan yang ingin bersatu dengan Roma itu merupakan golongan kanan dalam Gereja Inggris ini yang ingin tetap mempertahankan tradisi ketat Gereja sejak didirikan oleh raja Henry VIII tahun 1534. Dalam perkembangan selanjutnya, Uskup Canterburry membuat kebijakan yang benar-benar sangat menyimpang dari ajaran semula. Maka terbentuklah kelompok kanan yang masih menjaga kuat tradisi lama yang mirip dengan tradisi Roma, yaitu :
- menolak pentahbisan pastor/uskup wanita
- menolak pentahbisan pastor/uskup homoseksual
- menolak perkawinan homoseksual
- menolak penggunaan kontrasepsi
Karena sebab-sebab di atas itulah maka kaum tradisional Anglikan ini bersatu dengan Roma.
Masih akan diatur dalam kanonik baru mengenai hal ini termasuk bahwa para pastor yang sudah menikah masih boleh memimpin paroki namun tidak bisa menjadi seorang uskup.

Berita ingin semakin menguatkan kita dan selalu teringat kembali akan doa Yesus kepada Bapa untuk para rasulnya di Taman Getsemani sebelum Dia ditangkap untuk dihukum mati. "Ut omnes unum sint" demikian doa Yesus tersebut tertulis dalam Injil Yohanes 17 : 21-23 yang dalam bahasa Indonesianya berarti supaya mereka menjadi satu.

Sejak didirikan 2000 tahun yang lalu, Gereja tidak henti-hentinya diterpa badai perpecahan. Bahkan ketika Yesus masih hiduppun bibit perpecahan sudah mulai tumbuh. Ingat dengan perdebatan murid-murid Yohanes Pembaptis dengan Yesus perihal puasa di Matius 9 : 14? Padahal bukankah Yohanes Pembaptis itu bertugas memberikan jalan bagi Yesus untuk mewartakan kabar sukacita Tuhan tetapi dalam kisah itu di Injil tersebut malah memicu sebuah perbantahan.

Setelah Yesus diangkat ke surga dan pewartaan mulai dijalankan sampai ke ujung dunia, terjadi lagi pertentangan yang menyangkut masalah sunat dan tidak sunat bagi pengikut Kristus di luar Israel. Terjadi dua kelompok pengikut besar yaitu Petrus dan Paulus. Namun berkat perundingan (Konsili) di Yerusalem akhirnya ditetapkan kata sepakat agar persoalan tradisi Yahudi tidak ditanggungkan kepada pengikut Kristus di luar Yahudi. Beruntung ada kesepahaman jika tidak akan seperti apa Gereja jaman para rasul saat itu.

Setelah semua para rasul meninggal, tradisi mereka diteruskan dari generasi hingga ke generasi. Terbentuknya tahta pentarkhi yaitu Jerusalem (Palestina), Aleksandria (Mesir), Antiokhia (Syria), Roma (Italia), dan Kontanstinopel (Turki) dalam kekritenan awal dimaksudkan agar adanya persekutuan sebagai Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik demi menjaga keutuhan Gereja Purba dari rongrongan kaum bidaat yang banyak berkembang saat itu, misalnya Ebionite, Gnostik, Arianisme, Monofisit, Nestorian dsb. Namun para bidaat itu tidak mampu mendirikan Gerejanya sendiri-sendiri dan jika ada maka sudah tergilas oleh waktu.

Mengapa Gereja dalam kesatuan pentarkhi masih ada hingga saat ini? Itu semua karena berkat doa dan kuasa Yesus. Silahkan baca sendiri isi Doa Yesus ketika di taman Getsemani dalam Injil Yohanes bab 17. Betapa kuatnya pengharapan Yesus akan sebuah kesatuan sehingga muridnya sendiripun didoakannya agar tetap bersatu. Inikah jalan genapan atas doa Yesus? Semoga saja.

Vatikan masih menyisakan PR yang begitu banyak untuk menyatukan mereka dalam kesatuan kepemimpinan Petrus. Tidak hanya kaum Katolik yang menyatakan diri terpisah dari Roma tetapi juga Gereja Reformasi yang jelas-jelas membuat doktrin baru. mereka adalah :
1. Gereja Katolik Patriotik China
2. Gereja Katolik SSPX
3. Gereja Katolik Lavebre
4. Gereja The True Catholic
5. Gereja Reformasi dan denominasi lainnya.
6. Gereja Orthodox

Ut omnes unum sint akan menjadi kenyataan jika satu dengan yang lain saling membuka diri.

Monday, October 05, 2009

MENGUCAP SYUKUR DALAM SEGALA PERKARA

Suatu hari seorang teman mengajakku menonton konser Don Moen di Istora Senayan. Sungguh mati aku malas banget saat itu selain karena kurang tidur juga badan tidak fit. Tidur dengan bantal empuk mungkin pilihan terbaik. Dan lagi aku mau jujur bawa dompetku benar-benar bokek saat itu.

Dengan berbekal sedikit nekad dan pengetahuan arah jalan yang cukup seadanya atau boleh dibilang memprihatinkan, aku langkahkan kakiku untuk pergi juga menonton konser itu dengan berharap aku tidak tersesat. Kopaja jurusan Blok M mengawali keberanianku untuk pergi ke suatu tempat yang belum pernah aku datangi. Oret-oretan peta seadanya rupanya belum membuatku nyaman, apalagi ancer-ancer (tanda jalan – bahasa Jawa) yang diberikan sungguh membuat aku benar-benar mengalami kebingungan. Hanya dengan bermodalkan nekad dan malu, aku mencoba bertanya pada seorang ibu yang duduk disebelahku.

Shelter di mana Kopaja ini berhenti menjadi tempat kedua bagiku untuk terus melanjutkan perjalananku menuju Senayan. Di shelter inilah Ibu itu memberitahuku untuk berhenti dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Dengan setengah ragu-ragu aku berjalan menuju suatu arah yang diberikan oleh tanda jalan yang terlihat di ujung jalan di mana aku turun dari Kopaja tadi. Tak ada manusia di depanku. Sepertinya memang jalan ini tidak dilalui oleh pejalan kaki. Tapi beruntung ada seorang bapak yang sedang berolah raga jalan kaki berada tepat dibelakangku. Aku coba perlambat langkahku agar aku bisa berbarengan dengannya untuk sekedar bertanya.

“Mau kemana, dik?” tanyanya sebelum aku sempat menyapanya.
“Ke istora Senayan, Pak! Lewat mana yach?” sahutku.
“Oo.. lurus jalan ini saja, ayo kita jalan aja sama-sama. Kita ke arah yang sama” jawabnya lagi.

Kami berjalan berdua di sepanjang jalan menuju arah yang dimaksud. Selama perjalanan itu, kusempatkan bercakap-cakap seperlunya. Keraguanku sedikit luntur saat bertemu dengan Bapak ini walaupun aku baru mengenalnya saat ini. Aku tak sempat menanyakan namanya. Yang kuketahui Bapak ini adalah tetangga Bpk Sudarmono di Widya Chandra, entah apakah yang dimaksud adalah mantan wapres RI jaman Soeharto. Aku hanya merasakan adanya perlindungan di tempat di mana aku belum pernah menginjak suatu tempat.

Aku jadi ingat dengan ayahku yang selalu memberikan perlindungan kepadaku sekecil apapun. Tapi sayang, kini aku hanya bisa mengingatnya saja karena sudah lama aku kehilangan sosok ayah sejak aku kecil dahulu. Kangen juga sama ayahku. Andaikan dia ada di sini aku pasti tidak akan pernah ragu ke manapun aku pergi. Oh… kenapa tiba-tiba aku benar-benar merindukan kehadirannya saat seperti ini, yach?

“Nanti kamu terus belok kanan yach!” suara sang Bapak memecah lamunanku.
“Oo.. iya, Pak! Terima kasih telah membantu. Selamat jalan-jalan sore,” sahutku.

Kami lalu berpisah di belokan itu. Aku terus berjalan seperti yang diperintahkan sang Bapak. Lumayan juga aku berjalan hingga tiba pada sebuah persimpangan kembali aku terdiam. Ke kiri atau ke kanan, pikirku. Tiba-tiba :

“Plok-plok-plok”

Terdengar suara seseorang bertepuk tangan. Suara itu tepat dibelakangku. Kupaling kepalaku mencari sumber suara itu, ternyata sang Bapak masih berdiri di mana kami berpisah. Aku mengira dia sudah berjalan meninggalkan aku, rupanya ketika aku berbelok ke kanan itu, dia tetap memperhatikanku dari jauh.

Sang Bapak memberi isyarat dengan melambaikan tangan menuju arah yang harus ku lalui ke mana aku harus berjalan. Sedikit terheran-heran aku menganggukkan kapala. Dan setelah memastikan bahwa aku sudah tidak salah jalan lagi Bapak itu kemudian menghilang di tikungan jalan melanjutkan jalan-jalan sorenya.

Sesampai di istora aku bertemu dengan teman-teman lain yang membuatku happy. Sepanjang konser berjalan, tak henti-hentinya aku bersyukur kepada Tuhan betapa cintaNya begitu besar terhadap diriku, sampai hal terkecilpun DIA siapkan buatku. Siapa yang menyangka aku yang buta arah menuju Istora Senayan pergi sendiri tanpa teman tetapi dengan mudahnya aku sampai di tempat ini. Siapakah yang pernah menyangka orang asing yang tidak pernah kukenal sebelumnya menjadi penolongku?

Satu pelajaran penting buatku adalah bersyukur kepada Tuhan meski kita mendapat pengalaman sekecil apapun. Setiap orang pasti pernah mengalami suatu pengalaman kecil dalam hidup sehari-hari. Satu hal yang masih belum mampu dirasakan oleh kebanyakan orang adalah bersyukur. Mungkin karena kecil dan lumrahnya pengalaman kecil itu sehingga kita tidak mampu mengenalinya bahkan menyadarinya bahwa Tuhan turut campur di dalamnya. Kemampuan merasakan kehadiran Tuhan dalam perkara kecil tergantung dari hubungan personal kita terhadap Tuhan. Kita boleh menyebutkannya sebagai “the colorfull of life”.
(catatan harian Theresia Endah Susanto)

Sunday, June 28, 2009

INDOMIE.... PRESIDENKU

Dari Sabang sampai Merauke.......
Dari Timor sampai ke Talaud......
Indonesia.. tanah airku....
Indomie.... presidenku....

What!!
Indomie presidenku....?!
Elu aja kali yach... gue kagak.....!!!

Thursday, March 12, 2009

KATOLIK KUTU KUPRET

Membangun kehidupan menggereja di lingkungan menjadi acara yang tidak menarik di jaman ini. Banyak umat Katolik justru meninggalkan pertemuan doa lingkungan dengan berbagai alasan. Ada yang merasa bahwa kegiatan di lingkungan tidak ada gunanya. Ada juga yang merasa sakit hati; ada yang sudah aktif di tempat lain, merasa terbebani pekerjaan sehingga tidak ada waktu, sudah punya komunitas lain, sering berpindah-pindah, dan ada juga yang tidak peduli.

Pandangan umat yang demikian cenderung defensif dan tidak mudah terbuka. Merasa nyaman dengan keadaan seperti ini mungkin lebih baik daripada harus terlibat aktif tetapi malah akhirnya bermasalah. Maka kegiatan rohani yang bisa dilakukannya adalah pergi ke gereja, mengikuti misa, mendengarkan sabda Allah, menerima ekaristi, pulang, selesai! Dia sudah tidak peduli lagi dengan tetangga seimannya yang sedang sekarat, atau dia sudah tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mengenali saudara seimannya di lingkungan. Yang cukup memprihatinkan adalah mungkin dia juga tidak peduli lagi dengan pembinaan iman anak-anaknya sebab kebutuhan rohaninya hanya sampai pada misa dan pulang ke rumah. Kita dengan mudahnya mengatakan kegiatan lingkungan tidak menarik ya selamanya akan seperti itu sebab diri kitalah sebenarnya yang membuat tidak menarik. Kita merasa malu untuk berkumpul dan tidak mengenal orang lain, akan selamanya seperti itu karena diri kitalah yang cenderung menutup diri untuk tidak ingin disapa. Jika komunitas ini dihidupi dengan situasi seperti di atas maka jangan salahkan Gereja masa depan karena ternyata Gereja kutu kupretlah yang sedang membangunnya untuk masa depan.

Rupanya situasi saat ini tidak begitu jauh berbeda dengan situasi jemaat Galatia di jaman Rasul Paulus. Hal ini menjadi begitu menarik ketika situasi semacam ini dengan gamblangnya diungkap oleh Rasul Paulus yang menulis nasehatnya kepada jemaat di sana dalam Gal 6 : 1-10 dan menantang kita untuk merefleksikan diri apa yang bisa kita berbuat terhadap saudara seiman?

Lingkungan sebagai komunitas basis menjadi focus pemberdayaan Gereja. Strategi yang digunakan untuk memberdayakan komunitas basis ini adalah gembala baik. Artinya setiap anggota diajak untuk mencari dan menemukan yang hilang dari dalam komunitasnya dan mengajak untuk terlibat aktif. Persoalannya akan menjadi lain jika kita tidak siap menjadi gembala baik.

Ciri utama seorang gembala baik yang dituntut oleh Rasul Paulus adalah :
1. mau bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan menguji pekerjaannya. Adalah suatu sikap sombong diri dan menipu diri sendiri ketika kita berpikir bahwa diri kita dengan talenta yang kita miliki merasa sangat berarti bagi komunitas padahal tidak apalagi kehadirannya tidak membawa berkat.
2. mau bertanggung jawab terhadap orang lain. Dibutuhkan sikap kesabaran yang luar biasa ketika kita hendak mengajak saudara kita untuk kembali ‘pulang’.
3. saling memperhatikan atau saling membangun sikap peduli. Ini menjadi begitu indah dilihat ketika satu dengan yang lain memiliki sikap peduli yang sama sehingga tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan.
4. mau bertanggung jawab terhadap kehidupan menggereja di lingkungan. Nasehat terakhir dalam perikop ini ada pada ayat 10 yang bunyinya : “..Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman…”

Itulah ciri gembala baik yang diharapkan oleh Gereja untuk menghidupi kegiatan di komunitas basis. Hanya kita yang bisa menghidupi diri kita dan tidak bisa menyerahkannya kepada orang lain (komunitas lain) untuk mengurusi diri kita, bukan?

Wajah kita pada masa yang akan datang ditentukan oleh cara kita mewarnainya saat ini. Jika kita benar-benar menjadi Katolik yang Kutu Kupret, yang mau enaknya sendiri dan tidak memikirkan saudara seimannya, yang suka pilih-pilih peduli yang tidak suka tidak dipedulikan, yang merasa saya tidak butuh lingkungan, yang punya sikap masa bodoh terhadap lingkungan, maka Katolik Kutu Kupretlah Gereja masa yang akan datang.

Karenanya nasehat Paulus yang satu ini : Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah menjadi motivasi bagi kita untuk tidak menjadikan diri kita sebagai seorang Katolik Kutu Kupret yang lemah di saat kita harus menuai hasil yang kita tabur.

Monday, March 09, 2009

ORANG KOTA DAN SOPIR ANGKOT

Kalau mau lihat karakter orang kota lihatlah sopir angkotnya.

Setelah hampir 30 tahun sejak pencanangan Indonesia memasuki era pembangunan fisik sejak jaman Soeharto, Indonesia sudah berhasil membangun manusianya dari bangsa kuli menjadi sopir angkot. Ini sebuah prestasi? Tidak juga karena hanya beda tipis antara kuli dengan sopir angkot. Bangsa kuli selalu mengandalkan ototnya ketimbang otaknya. Porsi penggunaan otot 90% dan otak hanya 10%. Sopir angkot hanya menggunakan 60% kekuatannya dan 40% otaknya. Dari 40% itupun setengahnya dipakai untuk menghitung untung rugi setoran dan setengahnya lagi untuk mencari selamat sendiri.

Mau lihat ciri-ciri sopir angkot Indonesia?
1. Cenderung tidak tertib
2. Tidak punya rasa peduli
3. Memikirkan diri sendiri
4. Tidak punya santun di jalan
5. Idiot dalam pengelola pekerjaan
6. Cepat puas dengan keterbatasan
7. Malas

Seperti inilah manusia kota Indonesia "saat ini".

Karena bentuk pencitraan yang demikian membuat bangsa ini sangat jauh dari sikap normatif manusia yang tertib, punya rasa, santun, memikirkan orang lain.

Hare..gene.. mikirin orang lain.... makan aja susah?? Ya... seperti inilah manusia kota di Indonesia mencitrakan dirinya sendiri. Anda puas???

Saturday, March 07, 2009

JANJI SANG CALEG

Indonesia memasuki tahun pemilu, tahunnya kampanye dan tahunnya janji-janji muluk sang politisi. Lebih dari separuh tahun ini diisi dengan macam-macam kampanye caleg yang lucu, norak, gombal, narsis, ngga masuk akal hingga kehilangan akal. Lihat saja di http://www.calegindonesia.com

Aku jadi berpikir, seberapa besar pengorbanan yang akan dialaminya mengingat persaingan sudah semakin ketat. Jika mereka melenggang ke gedung rakyat apakah masih ingat dengan janji-janji mereka. Apakah tidak mungkin yang pertama kali dipikirkannya adalah bagaimana bisa menarik modal apa yang sudah dikorbankan demi mengumbar janji untuk duduk di kursi selebriti dewan yang terhormat.

Entahlah.... bahkan aku sendiri juga sangsi dengan integritas mereka. Persetan dech caleg mau ngomong apa kalau mereka sendiri 'sebenarnya' tidak paham dengan Indonesia.

Aku jadi inget dengan kalimat janji ini : ".... Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu..." .

Indonesia sudah terlalu lama menanggung letih dan lesu apalagi beban beratnya semakin hari semakin bertambah. Apakah caleg-caleg yang gambarnya terpampang di sudut-sudut jalan itu mampu memberikan kelegaan untuk Indonesia. Jika tidak dan malah menambah beban saja sebaiknya copot saja gambar-gambar itu dan ganti dengan gambar monyet sebab barangkali dia bisa memberikan kelegaan itu. .... Kepada siapa sebenarnya kuk yang terpasang itu akan dipikul??

Andaikan pelantun kalimat itu ada di sini, di Indonesia ini, seharusnya aku menyerahkan Indonesia kepadanya, tidak kepada caleg-caleg itu yang paling kerjanya cuma bisa tidur di kursi dewan. Mungkin tidak juga kepada presiden sebab musuhnya terlalu banyak. Sanggupkah dia??

Entahlah.... sementara itu waktu terus berjalan menuju hari penyerahan diri Indonesia. Ke pundak siapa beban itu akan dipikul?

Tuesday, January 27, 2009

Mungkinkah Damai Dibangun Antara Israel dan Palestina?

Berikut ini adalah tulisan Dr. Martino Sardi mengenai konflik Israel dan Palestina serta bagaimana sikap kita terhadap konflik tersebut. Judul tulisan ini adalah : Mungkinkah Damai Dibangun Antara Israel dan Palestina?

Bertahun-tahun dan seluruh hidup Yasser Arafat dengan PLOnya bagaikan dipersembahkan demi berdirinya negara Palestina kembali. Boleh dikatakan Yasser Arafat berhasil membangun kembali kepercayaan bahwa Palestina akan terbentuk dan menjadi utuh. Kepercayaan itu didukung dari seluruh penjuru dunia. Dan profil Yasser Arafat sangat mengagumkan. Sayang Yasser Arafat hanyalah satu, dan menjelang akhir hidupnya, apa yang dimpikan belumlah terealisasi seluruhnya. Baru beberapa titik saja, itupun masih menyisakan berbagai benturan.

Sepeninggal Yasser Arafat, Palestina pun tetap tercabik-cabik. Baik dari dalam kelompok partai maupun kelompok keagamaan tak mampu menggalang satu tujuan, mendirikan kembali Palestina yang utuh. Perang sesungguhnya dan perang gagasan di dalam kelompok-kelompok Palestina pun terjadi dan menelan begitu banyak korban. Sampai saat ini, Palestina masih menangis dan tidak mampu berdamai di dalam negerinya sendiri. Sulit atau boleh dikatakan tidak mungkin menyatukan berbagai kelompok yang mempunyai wacana dan prinsip yang bertentangan satu sama lain serta tidak ada yang mau mengalah demi perjuangan menjadikan suatu negara yang berdaulat.

Apakah Palestina sekarang ini sudah sebuah negara? Berbagai negara telah mengakuinya dan menerimanya sebagai fakta sejarah. Akan tetapi tidak ada negara lain, selain Palestina yang selalu dirundung pertikaian, konflik dan bahkan perang di dalam negerinya sendiri. Belum lagi menghadapi Israel, yang dianggapnya sebagai musuh yang harus dimusnahkannya. Palestina tidak mampu, namun tidak mau mengakui fakta itu, dan selalu memulai tindakan kekerasan untuk melawan Israel. Dan Israel baru akan melawan sungguh-sungguh bila warganya ada yang mati. Musuhnya bahkan akan dihajar benar-benar, kalau perlu segala kekuatan digunakan untuk menindak orang yang menyebabkan kematian itu.

Mungkin baik kalau kita ajukan suatu pertanyaan penting: Apa yang seharusnya diperlukan sekarang oleh rakyat Palestina? Hidup tenang dan damai. Mereka menginginkan perdamaian. Oleh karena itu tindakan Hamas tidaklah sepenuhnya disetujui oleh rakyat Palestina, bahkan Presiden Abbas pun tidak menyetujui, apalagi Fatah pasti akan menolaknya. Juga berbagai kelompok lain tidak menyetujui tindak kekerasan Hamas. Orang Palestina, dari perjumpaan saya dengan mereka, kebanyakan sudah bosan perang. Mereka ingin damai, dan memiliki negeri yang damai. Apakah itu mungkin? Tampaknya jalan damai masih panjang di Palestina sendiri. Kelompok Palestina tidak bersatu. Ada yang menginginkan damai, tetapi ada yang selalu mau berperang terus.

Kalau kita mengamati Peta Israel, sebenarnya banyak daerah yang siap dikembalikan ke Palestina untuk menjadi negara merdeka. Dalam peta ada warna ungu, sebenarnya sudah siap dan sebagian sudah diserahkan ke Palestina tetapi sebagian besar masih dikuasi Israel. Sebuah contoh yang sangat unik, menarik tetapi sekaligus memelas alias kasihan, ialah kasus kota Betlehem. Kota Betlehem, tempat kelahiran Tuhan Yesus, adalah kota yang diserahkan kembali ke Palestina. Juga kota Ramalah. Ketika ada gerakan intifadah, banyak warga Yahudi atau keturunan Arab berwarganegara Israel yang menjadi korban. Kota Betlehem diancam akan dikurung dan dibentengi oleh Israel, kalau masih terjadi tindak kekerasan. Dan benar, gertakan Israel tidak main-main. Kota Betlehem sejak tahun 2004 dibentengi oleh Israel.
Jalur keluar masuk Betlehem dikontrol dan diperiksa polisi dan tentara Israel. Akibat yang lebih parah ialah: hotel-hotel atau kota Betlehem semakin sepi, semakin miskin dan terkurung. Mereka yang biasanya hidup dari turis, kini harus menderita. Setelah ditembok, warga negara Israel, menurut penuturan mereka sendiri, sungguh merasa aman.

Cukup lama saya menyaksikan dan merenungkan: Betlehem dikurung dan ditembok kokoh kuat dan atasnya dipasangi kawat berduri beraliran listrik tegangan tinggi. Mataku menatapnya, menyaksikan tembok yang digranatpun tidak akan roboh. Sungguh kuat sekali. Tembok Berlin pun belum apa-apanya bila dibandingkan tembok kota Betlehem buatan Israel untuk membetengi diri melawan tindak kekerasan dan kejahatan dari pihak Palestina. Tinggi tembok itu hampir enam meter, kota kelahiran Yesus dikurung dan penduduk sekitarnya mulai merasakan akibat tindak kakerasan yang mau melawan orang Israel. Di jaman globalpun Israel dan Palestina membatasi diri dengan tembok kokoh kuat tak tergoncangkan. Entahlah siapa yang mampu membongkar tembok itu kelak, lambang Israel dan Palestina tidak bermusuhan lagi? Rupanya kekuatan damailah yang akan membongkar tembok itu. Kekuatan perang dan permusuhan hanya akan menciptakan tembok atau pembatas yang lebih mengerikan lagi.

Berbagai daerah dan kota sebenarnya siap diserahkan kepada Palestina kembali, tetapi sayang Palestaina rupanya tidak mampu memenuhi syaratnya untuk melaksanakan damai di daerah itu. Jalur Gaza merupakan tempat yang paling luas negara Palestina. Wilayah-wilayah Palestina lainnya tidak berdekatan, tetapi tersebar jauh-jauh, "pating slebar ora karuwan angel didadek-ake' siji". Wilayah yang paling luas, ialah tepi barat sungai Yordan. Daerah itu luas sekali, membentang dari Laut Mati sampai ke Mesir. Daerah yang masih dikuasi Israel ini sangat strategis, tetapi berupa padang gurun saja. Kecuali tepi sungai Yordan yang memang subur, selebihnya yang ada hanyalah batu, wadas dan pasir saja. Di sepanjang jalan itu tampaklah pemandangan yang terkadang tidak diperhatikan orang. Mataku mengamati jalan raya yang dilalui kendaraan yang menghantarku ke arah Mesir, di sebelah kiri jalan, yang mengarah ke Yordania, kira-kira 12 meter terdapat pagar kawat berduri dua lapis berjarak sekitar satu setengah meter. Kawat berduri itu beraliran listrik tegangan tinggi. Wilayah itu wilayah yang masih rawan. Wilayah yang dikehendaki Palestina, tetapi belum diserahkan ke Palestina. Alasannnya sederhana: bila damai tidak terjadi dan tindak kekerasan tetap berlangsung, tepi barat itu tidak bakal kembali ke Palestina.

Gaza pun dibentengi oleh Israel. Jalan keluar dari Gaza, selain ke Israel, sangat terbatas. Jalan laut sangat tidak nyaman. Dapat diamati Israel dari segala arah. Jalan darat hanya melalui Mesir saja. Jalan itu pun sudah rusak di ujung ke Gaza. Jarak tanah yang lowong ke arah Mesir itu tidak lebih dari empat puluh delapan meter. Itu pun sudah nyaris hancur. Orang-orang di Gaza sulit keluar, selain ke arah daerah yang dikuasi Israel. Gaza sebenarnya telah dikurung Israel. Mau mengungsi ke Mesir, betapa beratnya jalan itu. Padang gurun beratus-ratus km yang hanya ditumbuhi batu-batuan, karang dan pasir, serta tidak ada pohon-pohonan, tidak akan mendukung pejalan kaki. Sungguh akses ke Gaza sangatlah sulit, baik dari luar maupun dalam, kecuali dibuka oleh Israel.

Kalau ada para pejuang yang akan ke Gaza membela Hamas, mau masuk melalui jalan mana? Dan mau berperang melawan siapa? Perang di Gaza bukanlah seperti yang dilukiskan berbagai koran di manan kita seperti perang berhadap-hadapan. Saya tercenung membaca bagaimana koran Kedauluatan Rakyat serta Kompas melukiskan Hamas yang berperang melawan tentara Israel, seperti perang dalam wayang saja. Sungguh fiksi berita itu. Yang selalu membandingkan dengan perang Hesbolah di Lebanon, dan Israel dianggapnya kalah. Bagaimana Israel dapat dikatakan kalah, kalau infra struktur di Lebanon dan banyak korban dari pihak Hesbolah. Perang sungguh tidak manusiawi. Dalam perang semuanya kalah, karena korban berjatuhan dan mati. Perang di Gaza sekarang ini lebih banyak perang media, perang info palsu dan perang mempengaruhi opini publik. Korban perang haruslah menjadi perhatian kita semua

Persoalan Palestina sebenarnya bukanlah hanya persoalan Hamas saja. Memang Hamas berkuasa, tetapi kalau caranya tidak kompromi, saya yakin Palestina yang dicita-citakan oleh Yasser Arafat tidak terlaksana. Rakyat Palestina sekarang ini membutuhkan ketenteraman dan damai: damai di hati dan damai di buminya. Gerakan atau partai Palestina yang suka akan keonaran dan perang, kiranya tidak akan disukai oleh rakyatnya. Rakyat Palestina bosan perang, sekalipun sejak kecil banyak yang meniru melempari batu tentara dan polisi Israel. Lha sejak kecil saja sudah dilatih bertindak kekerasan, apalagi kalau nanti dewasa. Perang pun akan mereka lakukan, sekalupun menyadari bahwa dirinya tidak bakal mampu menundukkan lawan. Namun yakin bahwa Allah dipihaknya dan kalau mati, surga sudah disediakan baginya. Surga apa itu? Keyakinan yang fatal dan konyol bagi pihak lain yang harus menanggung kesengsaraan dan derita.

Para pejuang dan relawan yang siap ke Gaza, ternyata telah banyak sekali. Apakah mereka tahu medannya? Saya teringat ketika saya bertugas di Bosnia-Herzegovina. Orang tidak tahu bahwa perang di Bosnia itu perang suku : Serbia, Croazia dan Bosnia. Perang segitiga yang seru dan hancur-hancuran. Serbia yang berkuasa merasa kuat dan di atas angin. Tetapi ketika pasukan Bosnia (yang muslim) dan Croazia (yang Katolik) bersatu menggempur Serbia (yang Ortodoks), sang penguasa terdesak dan hampir kalah. Sayang ada seruan muslim diserang kristen. Maka ketika pasukan mujahidin yang kebanyakan dari Afganistan masuk, sasaran yang diserang pertama adalah gereja Katolik dan orang Katolik. Padahal mereka itu bersatu sebelumnya. Dan saat itulah Bosnia benar-benar menjadi lautan perang segita yang sesungguhnya.

Tragedi di Gaza bukanlah persoalan agama. Hamas memang muslim, tetapi orang Palestina itu tidak semuanya muslim, banyak yang Kristen dan agama lainnya juga. Palestina tidaklah sama dengan muslim. Orang Palestina itu beragama macam-macam. Para Hamas dan Fatah memang muslim. Dan kalau para pejuang mau ke Gaza itu mau membantu Palestina atau membantu Hamas, karena muslim? Ingatlah Fatah yang dihancurkan oleh Hamas juga muslim. Perang di Gaza bukanlah segampang gerakan tindak kekerasan yang menyerang kelompok berbagai agama seperti kejadian di Monas pertengahan tahun 2008 yang lalu.

Orang Palestina memerlukan persatuan, damai dan kerukunan. Tanpa itu negara Palestina akan tetap kacau, seperti sekarang ini.

Martino Sardi

Thursday, January 22, 2009

Membangun Sikap Bijak Terhadap Issue Israel dan Palestina


Ini mungkin sekedar informasi yang tidak pernah kita jumpai di media sebab musababnya Israel menggempur Gaza. Berikut petikan cerita dari Dr. Martino Sardi :


Sebelum umat Yahudi di Israel dan di luar Israel merayakan Hari Raya Hannukka, Pesta cahaya, yang berlangsung 10 hari dalam minggu terakhir bulan Desember 2008 ini, saya sudah merasakan akan ada serangan Hamas ke wilayah Israel di Jalur Gaza. Persis ketika lilin yang ketujuh dinyalakan, dan masih menyusul tiga lilin lagi yang harus dinyalakan berikutnya, dugaan saya menjadi kenyataan. Televisi Israel 1 menyiarkan tragedi bagaimana sengsaranya warga negara Israel menjadi korban akibat hantaman roket yang diluncurkan oleh Hamas. Pihak Israel masih sabar. Tidak langsung membalas.

Orang Yahudi pada umumnya taat akan hukum Taurat Musa, tidak boleh melakukan pembunuhan terhadap siapapun, kecuali untuk membela diri dan melindungi warganya. Berbagai peringatan diserukan, agar tindakan Hamas meluncurkan Roket itu dihentikan. Dan ancaman pun diserukan: “Kalau ada warga negara Israel sampai mati, maka tindakan itu tidak dapat ditolerir lagi, dan pasukan Israel akan siap meminta pertanggungjawabannya”.

Benarlah tragedi berikutnya terjadi. Lontaran roket menghantam warga sipil, empat orang berkebangsaan Israel mati sangat mengerikan. Kematian warganya, bagi orang Yahudi merupakan suatu yang harus diperhitungkan. Prinsip yang selalu dipakai oleh tentara Israel benar-benar diterapkan: warganya dibunuh, maka yang membunuh harus berani menanggung risiko.

Dan Israel mulai mengadakan tindakan militer. Dua pesawat dikirim untuk melumpuhkan pusat Hamas. Dan akibatnya terjadi banyak korban. Korban jatuh bukan hanya pasukan Hamas saja, tetapi juga penduduki sipil. Kedua belah pihak sudah menderita dan banyak korban berjatuhan.



Kita dapat bertanya: Siapakah yang salah dalam konflik ini? Semuanya salah, karena semuanya telah mengorbankan sesama manusia. Banyak manusia mati, akibat tindak kejahatan kedua belah pihak.

Awal tragedi dan pertikaian ini tidak banyak yang meliput secara internasional. Saya yang berada di Yerusalem dan selanjutnya ke daerah tepi Barat, sungguh merasakan betapa nyawa manusia dikorbankan dengan gampangnya. Hentakan roket dari pihak Hamas selanjutnya tampak tak terarah, dan banyak yang dapat ditangkis oleh pihak Israel, apalagi setelah ada kapal yang benderanya tidak jelas, tenggelam di laut internasional. Mungkin kapal itu milik Hamas dan tenggelam, karena mengarah ke Gaza.

Tindakan yang sulit diterima oleh orang Yahudi ialah hari Raya Hannukka dikotori dengan tembakan roket dari pihak Hamas. Dan kalau kita meneliti dari seluruh perang melawan Israel, perang selalu dimulai dengan mengadakan serangan ke pihak Israel pada saat orang-orang Israel yang beragama Yahudi mengadakan hari raya atau pesta keagamaannya. Pesta keagamaan yang dianggap suci dikotori oleh pihak lain dengan memprovokasi serangan senjata berat atau roket. Orang Yahudi tidak akan bereaksi, bila belum ada yang mati. Baru setelah ada yang mati, reaksi tentara Israel tidak dapat dicegah lagi.

Kita mengenal perang 6 hari. Tentara Israel baru menyerang, ketika dari pihaknya telah terbunuh dua orang warga sipil dan seorang polisi. Pembalasan Israel tidak tanggung-tanggung, dan Mesir pun kalah. Daratannya dikuasi sampai mendekati terusan Suez.

Orang akan ingat nama Mose Dayan, seorang pimpinan bermata satu, yang sanggup mengalahkan musuhnya dalam waktu cepat. Seluruh perang dengan Israel selalu berawal dari tindakan menodai hari suci orang Yahudi itu, dan serangan dari pihak Israel baru dilaksanakan bila sudah ada yang mati dari pihak Yahudi. Hal itulah yang biasanya dikatakan sebagai tindakan membela diri, membela warganya, dan pihak yang membunuh haruslah bertanggungjawab.

Bagaimanakah menyikapi tragedi tanggal 27 Desember 2008 sampai saat ini? Kedua-duanya salah dan jahat, karena adanya korban! Kita menyaksikan adanya banyak orang yang marah terhadap Israel yang dinilainya biadab (Baca Kompas tulisan Hamid Awaludin, Dubes RI untuk Russia) dan bahkan telah banyak orang yang mau ke jalur Gaza untuk berjihad melawan tentara Israel.

Bagaimanapun juga harus kita katakan bahwa perang itu tidak beradab. Kedua belah pihak, Hamas dan tentara Israel, keduanya tidak beradab. Hamas memang merasa hebat, karena telah melumpuhkan sesama muslim, yakni Fatah. Dan Hamas tidak mau menempuh jalan damai. Prinsip Hamas: Tiada damai, sampai Israel dikalahkan. Bagaimana kekuatan kecil itu mampu mengalahkan tentara Israel? Keyakinannya ialah Allah dipihaknya dan akan membantunya dan mati melawan Israel jaminannya surga.
Sikap kritis kita harus kita bangun dalam menyaksikan berita-berita sekarang ini.

Media tampaknya tidak lagi menjadi media yang berprinsip para peace journalism lagi, tetapi lebih provokatif yang membangkitkan konflik. Perhatikanlah berita-berita yang ditayangkan itu, apakah gambar dan filmnya itu benar-benar dari Gaza? Ataukah lebih banyak hanya arsip film perang dari daerah lain. Sekarang ini di daerah Gaza dan Israel itu musim dingin. Daun-daun yang ada hanyalah daun cemara. pinus dan kurma (sejenis kelapa). Bagaimana tampak banyak tanaman di daerah perang itu, yang menandakan musim panas. korban-korban tampak di rerumputan hijau atau di bangunan yang ada bukan khas Gaza, tetapi di Libanon? Kalau Anda pernah ke Gaza akan terasa aneh sungguh berbagai tampilan siaran itu. Banyak yang bukan dari Gaza, alias banyak yang dipalsukan. Sungguh suatu perang media. Sayang, kalau opini publik justru dibangun dari berbagai berita, tayangan gambar, flim palsu, bukan fakta dari Gaza itu sendiri. Inilah suatu kejahatan baru.

Martino Sardi

SECUIL PIDATO OBAMA - Sebuah refleksi untuk kita.


"....Bagi para pemimpin dunia yang berusaha menanam bibit konflik, atau menyalahkan dunia Barat atas kesulitan-kesulitan yang dialami masyarakatnya, ketahuilah bahwa rakyat Anda akan menilai Anda pada apa yang Anda bangun, bukan pada apa yang Anda musnahkan. Bagi mereka yang hendak menggenggam kekuasaan melalui korupsi dan kekejian dan membungkam orang yang tidak setuju pada kebijakan mereka, yakinlah bahwa kalian berada pada sisi yang keliru, tapi kami akan mengulurkan tangan jika kalian tidak lagi mengepalkan tinju..."

Ini adalah sepenggal paragraf pidato Obama dalam inagurasi pelantikannya sebagai Presiden Amerika ke-44 tanggal 20 Januari 2009. Cukup menarik untuk dikaji karena selama ini kita yang paling gencar untuk berusaha menantang kebijakan AS terhadap dunia (Islam, khususnya) manakala ada pergesekan yang berujung merugikan kelompok yang kita perjuangkan.

Belum lama ini ketika agresi militer Israel menggempur Gaza selama hampir sebulan (sejak 27 Desember 2008 hingga 19 Januari 2009), Indonesia paling ngotot untuk urusan tantang-menantang. Banyak macamnya, misalnya : memboikot produk AS, memboikot produk Israel, membakar bendera, demo di kedutaan, dsb. Cukup baik pula jika tidak diakhiri dengan sikap anarkis.


Kita menjadi seperti bangsa yang (sudah) tidak memiliki budi pekerti atau mungkin sudah kehilangan sama sekali sikap ramah yang dulu pernah disandang selama berabad-abad. Jika mau bercermin diri, kita ini seperti bangsa yang tidak memiliki karakter yang patut disejajarkan dengan bangsa lain manakala kita kehilangan daya berpikir logis dan lebih mengedepankan emosi yang meluap-luap. Inikah bangsa yang disebut 'macan tidur?"

Mari segera bercermin diri mengapa kita menjadi demikian berubah? Kita memang bangsa besar (karena wilayahnya), tetapi bukan bangsa yang (bersedia) berbesar hati menerima atas segala keterbatasan kita.

Kembali ke petikan pidato Obama di atas bahwa konflik terhadap barat (AS/Eropa) adalah cermin ketidakmampuan pemimpin dunia terhadap apa yang dibangunnya. Nah lho! Bagaimana nih dengan Indonesia? Ada benarnya juga sih. Lihat aja! Kita ini bisa sedemikian berubahnya karena kita tidak berhasil membangun manusia Indonesia yang baik. Setiap kekurangan adalah kesalahan orang lain bukannya berusaha berbenah diri. Ini adalah sebuah refleksi yang bagus untuk kita. Tinggal bagaimana kita mau menanggapinya. Jika penuh emosi, boikot sana boikot sini, bakar sana bakat sini maka akan selamanya kita menjadi bangsa yang 'termehek-mehek' walau hanya sekedar duduk berdampingan dengan mereka.

Karenanya Anda akan tahu harus memilih siapa untuk memimpin bangsa yang sudah termehek-mehek untuk bersikap kritis tetapi tidak urakan. Memilih partai mana yang punya sikap kritis tetapi bukan tarzan yang ikut boikot-boikotan.

Siapa saja mereka, itu bukan urusan saya!